Ad Placeholder Image

Catat, Ini Gejala TB Kelenjar yang Perlu Diwaspadai

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

TB kelenjar bisa menyebabkan munculnya benjolan di area terdapat kelenjar getah bening, yaitu leher, ketiak, atau selangkangan.

Catat, Ini Gejala TB Kelenjar yang Perlu DiwaspadaiCatat, Ini Gejala TB Kelenjar yang Perlu Diwaspadai

DAFTAR ISI


Penyakit tuberkulosis (TB) umumnya sangat lekat dengan infeksi paru-paru. Namun, tahukah kamu bahwa bakteri penyebab TB juga bisa menyerang organ tubuh lain di luar paru-paru? Salah satu bentuk TB ekstraparu yang paling sering terjadi adalah TB kelenjar getah bening, yang dalam istilah medis sering disebut sebagai limfadenitis tuberkulosis atau skrofula.

Kelenjar getah bening memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh, berfungsi sebagai saringan yang menangkap virus, bakteri, dan sel tidak normal. Saat bakteri penyebab tuberkulosis berhasil masuk dan berkembang biak di area kelenjar, khususnya di daerah leher, maka akan timbul pembengkakan yang khas. Mengenali ciri-ciri tb kelenjar di leher sejak dini sangat penting agar penanganan medis bisa segera dilakukan dan komplikasi dapat dicegah.

Kondisi ini tidak boleh disepelekan. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, benjolan dapat terus membesar, meradang, bahkan pecah dan mengeluarkan nanah secara terus-menerus. Pengobatan tuberkulosis membutuhkan waktu yang panjang dan kedisiplinan tingkat tinggi. Karena tidak ada obat bebas (OTC) yang bisa menyembuhkan infeksi ini, pasien wajib berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi antibiotik khusus. Nah, agar kamu lebih waspada, mari kenali lebih dalam terkait gejala dan tanda dari kondisi ini!

Apa Itu TB Kelenjar?

TB kelenjar adalah infeksi pada kelenjar getah bening yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kondisi ini merupakan bentuk tuberkulosis ekstraparu (di luar paru-paru) yang paling umum ditemukan. Meskipun kelenjar getah bening tersebar di seluruh tubuh seperti di ketiak dan lipatan paha, infeksi TB kelenjar paling sering menyerang kelenjar getah bening di area leher (cervical lymphadenopathy).

Bakteri penyebab TB awalnya masuk melalui saluran pernapasan saat seseorang menghirup percikan dahak (droplet) dari penderita TB paru yang batuk atau bersin. Bakteri yang masuk ke paru-paru kemudian dapat menyebar melalui aliran darah atau saluran getah bening menuju kelenjar getah bening di leher, lalu menetap dan menimbulkan infeksi di sana.

Tahapan dan Ciri-Ciri TB Kelenjar di Leher

Benjolan akibat TB kelenjar memiliki karakteristik yang berbeda dengan benjolan akibat infeksi bakteri biasa (seperti radang tenggorokan). Peradangan ini biasanya berkembang secara perlahan melalui beberapa tahapan. Berikut adalah ciri-ciri tb kelenjar di leher yang perlu kamu waspadai:

1. Benjolan Muncul Perlahan dan Tidak Nyeri

Pada tahap awal, gejala utama yang muncul adalah benjolan di leher (biasanya di satu sisi). Benjolan ini awalnya berukuran kecil, terasa kenyal saat diraba, dan yang paling membedakan adalah tidak terasa nyeri (indolen). Karena tidak sakit, banyak orang sering mengabaikan gejala awal ini.

2. Benjolan Membesar dan Menyatu (Matted)

Seiring berjalannya waktu, benjolan bisa membesar secara progresif selama beberapa minggu hingga bulan. Kelenjar getah bening yang terinfeksi di sekitarnya juga bisa ikut membengkak, saling menempel, dan menyatu satu sama lain, membentuk massa yang lebih besar dan terasa padat atau keras.

3. Perubahan pada Kulit Sekitar Benjolan

Pada tahap lanjut, peradangan akan semakin parah. Tekstur benjolan bisa berubah menjadi lebih lunak (fluktuatif) karena mulai terbentuk nanah (abses) di dalamnya. Kulit di atas benjolan mungkin akan tampak kemerahan, menipis, atau berwarna agak kebiruan akibat proses radang kronis.

4. Benjolan Pecah dan Mengeluarkan Nanah (Fistula)

Jika tidak kunjung diobati, abses yang berisi jaringan mati dan nanah ini dapat memecah lapisan kulit. Kondisi ini akan membentuk saluran (fistula atau sinus) yang terus-menerus mengeluarkan cairan berupa nanah yang kental, berwarna kekuningan, dan terkadang bercampur darah. Luka akibat pecahnya benjolan ini sangat sulit sembuh secara spontan.

5. Gejala Sistemik Tuberkulosis

Selain perubahan fisik pada benjolan, penderita TB kelenjar sering kali mengalami gejala sistemik khas infeksi tuberkulosis, antara lain:

  • Demam ringan yang tidak kunjung reda (Subfebris): Biasanya demam terasa lebih jelas pada sore atau malam hari.
  • Keringat malam: Penderita sering terbangun dalam keadaan basah kuyup oleh keringat di malam hari tanpa alasan yang jelas, meskipun suhu ruangan sejuk.
  • Penurunan berat badan drastis: Nafsu makan menurun secara signifikan sehingga berat badan turun tanpa disengaja.
  • Kelelahan berlebih: Tubuh terasa terus-menerus lemas, mudah lelah, dan kurang berenergi.
Faktor Pemicu dan Orang yang Berisiko Tinggi
  1. Memiliki kontak erat dan lama dengan penderita TB paru aktif yang belum diobati.
  2. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, penderita diabetes melitus, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  3. Tinggal di lingkungan yang padat penduduk, sirkulasi udara yang buruk, dan kurang mendapatkan sinar matahari.
  4. Anak-anak dan lansia, karena sistem imun mereka relatif lebih rentan dibandingkan orang dewasa sehat.

Penyebab dan Faktor Risiko

Secara medis, agen utama penyebab penyakit ini adalah Mycobacterium tuberculosis. Namun, di beberapa negara berkembang dan area pedesaan yang belum melakukan pasteurisasi susu secara ketat, bakteri Mycobacterium bovis yang berasal dari susu sapi yang tidak dimasak matang juga bisa memicu infeksi kelenjar getah bening di leher, meski kasus ini kini makin jarang ditemui.

Kuman TB termasuk kuman yang tangguh. Ketika seseorang terpapar, sistem kekebalan tubuh biasanya akan mengurung bakteri ini dalam sebuah selubung pertahanan yang disebut granuloma. Jika imunitas tubuh sedang baik, bakteri ini akan tertidur (dorman) dan tidak memicu gejala (TB Laten). Namun, ketika pertahanan tubuh melemah, kuman akan aktif kembali, berkembang biak, dan memicu kerusakan jaringan secara nyata.

Kapan Harus ke Dokter dan Bagaimana Diagnosisnya?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami benjolan di leher yang tak kunjung mengecil setelah dua minggu, terutama bila disertai demam, keringat malam, atau penurunan berat badan, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam atau dokter paru. Jangan pernah memencet, menusuk, atau membalurkan obat tradisional pada benjolan karena hal tersebut berisiko memperburuk infeksi.

1. Prosedur Diagnosis Medis

Untuk mendiagnosis TB kelenjar secara akurat, dokter tidak cukup hanya melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes penunjang yang biasanya direkomendasikan meliputi:

  • FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy): Dokter akan menggunakan jarum kecil untuk mengambil sampel jaringan atau cairan dari benjolan. Ini adalah metode yang paling umum dan efektif untuk mendiagnosis pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Tes Cepat Molekuler (TCM) atau GeneXpert: Sampel dari biopsi atau cairan nanah akan diperiksa untuk mendeteksi DNA bakteri TB sekaligus melihat apakah bakteri tersebut resisten terhadap obat Rifampisin.
  • Rontgen Dada: Mengingat TB kelenjar sering kali bermula dari paru-paru, rontgen dada diperlukan untuk melihat apakah ada infeksi TB aktif atau riwayat infeksi lama di organ paru.
  • Tes Mantoux (Tuberculin Skin Test): Untuk mendeteksi adanya paparan bakteri TB di dalam tubuh.

2. Prinsip Pengobatan TB Kelenjar

Perlu ditekankan bahwa tidak ada obat bebas, suplemen, atau obat herbal yang dapat menyembuhkan infeksi tuberkulosis. Penyakit ini merupakan infeksi bakteri spesifik yang hanya dapat disembuhkan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) resep dokter. OAT terdiri dari kombinasi beberapa antibiotik seperti Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol.

Durasi pengobatan minimal adalah 6 bulan, dan sering kali bisa berlanjut hingga 9 bulan atau lebih tergantung respons klinis pasien. Hal terpenting dalam pengobatan TB adalah kepatuhan. Jika pasien putus obat atau tidak teratur minum obat, bakteri TB dapat bermutasi menjadi kebal (resisten), sehingga memicu kondisi berbahaya yang disebut Multi-Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB).

Studi Mengenai Prevalensi dan Karakteristik TB Kelenjar

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi literatur komprehensif yang menjelaskan bahwa limfadenitis tuberkulosis mewakili sekitar 30-40% dari seluruh kasus tuberkulosis ekstraparu di seluruh dunia. Angka kejadian ini cenderung lebih tinggi di negara-negara berkembang.

Studi tersebut juga menegaskan bahwa kelompok usia yang paling sering terserang adalah individu produktif antara usia 20 hingga 40 tahun. Penemuan medis melalui Biopsi Aspirasi Jarum Halus (FNAB) dikonfirmasi memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi, berkisar hingga 88%, sehingga menjadi gold standard (standar baku emas) yang disarankan untuk mendiagnosis benjolan leher suspek tuberkulosis secara dini, minim rasa sakit, dan aman bagi pasien.

Kesehatan adalah investasi terbaik. Memerhatikan gejala-gejala kecil, termasuk benjolan abnormal di tubuh, adalah langkah awal untuk melindungi diri dan keluarga dari penyakit serius. Jika kamu curiga memiliki tanda-tanda infeksi tuberkulosis kelenjar, tindakan paling tepat adalah mencari pertolongan medis agar bisa segera menjalani tes laboratorium yang dibutuhkan.

Kamu bisa mendapatkan berbagai kebutuhan alat kesehatan atau vitamin pelengkap dari resep dokter secara praktis dan cepat melalui layanan apotek di Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter secara online terkait masalah kesehatan atau keluhan benjolan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc, kapan saja dan dari mana saja.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Tuberculosis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Tuberculosis – Symptoms and causes.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2024. Tuberculous Lymphadenitis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Swollen Lymph Nodes.

FAQ

1. Apakah TB kelenjar di leher bisa menular?

TB kelenjar secara umum tidak menular langsung dari sentuhan kulit atau cairan benjolan (kecuali cairan tersebut tersentuh langsung lalu masuk ke luka terbuka, walau ini sangat jarang). Namun, penderita TB kelenjar yang juga memiliki infeksi TB aktif di paru-paru dapat menularkan bakteri melalui percikan dahak saat batuk, bersin, atau berbicara.

2. Apakah penderita TB kelenjar pasti mengalami batuk berdarah?

Tidak selalu. Jika bakteri TB hanya menginfeksi kelenjar getah bening dan tidak menyerang paru-paru, penderita mungkin tidak akan mengalami batuk kronis maupun batuk berdarah. Keluhan utamanya murni berupa benjolan di leher dan gejala sistemik seperti demam atau berkeringat di malam hari.

3. Berapa lama pengobatan TB kelenjar harus dilakukan?

Pengobatan tuberkulosis kelenjar minimal berlangsung selama 6 bulan, menggunakan kombinasi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Dokter akan memantau perkembangan benjolan; pada beberapa kasus, jika respons tubuh lambat, pengobatan bisa diperpanjang hingga 9 bulan atau lebih, apalagi jika benjolan berukuran besar dan sulit mengecil.

4. Apakah benjolan di leher akibat TB bisa dioperasi?

Pembedahan atau operasi kelenjar umumnya bukan pengobatan utama untuk TB kelenjar. Pengobatan paling efektif adalah membasmi bakteri menggunakan obat-obatan. Namun, dokter mungkin akan merekomendasikan tindakan medis seperti insisi (penyayatan kecil) untuk membuang nanah apabila abses sudah sangat besar, terasa menyakitkan, atau terancam pecah secara tidak terkontrol.