Ad Placeholder Image

Cek Skrining Kesehatan, Kini Bisa Juga Pakai BPJS Kesehatan

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Skrining kesehatan penting dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala.

Cek Skrining Kesehatan, Kini Bisa Juga Pakai BPJS KesehatanCek Skrining Kesehatan, Kini Bisa Juga Pakai BPJS Kesehatan

DAFTAR ISI


Kesehatan adalah investasi jangka panjang yang nilainya tidak tergantikan oleh apapun. Di Indonesia, angka penderita Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mirisnya, banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut hingga kondisinya sudah mencapai tahap yang parah atau menimbulkan komplikasi serius. Padahal, sebagian besar penyakit tidak menular bisa dicegah dan dikendalikan jika dideteksi sejak dini.

Sebagai upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular, pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menghadirkan program deteksi dini yang bisa diakses secara gratis oleh para pesertanya. Program ini dirancang khusus untuk memetakan risiko kesehatan pesertanya sedini mungkin, sehingga langkah pencegahan dan pengobatan bisa segera dilakukan sebelum gejala klinis yang berat muncul.

Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas ini masih tergolong rendah. Banyak yang beranggapan bahwa pergi ke fasilitas kesehatan hanya diperlukan ketika tubuh sudah terasa sakit. Paradigma kuratif (mengobati) inilah yang perlahan-lahan harus diubah menjadi paradigma preventif (mencegah). Jika kamu sudah terdaftar sebagai peserta aktif, tidak ada alasan lagi untuk menunda pemeriksaan rutin ini.

Nah, mau tahu apa saja tahapan, manfaat, dan daftar penyakit yang bisa dideteksi melalui program ini? Berikut ulasan lengkap mengenai fasilitas deteksi dini BPJS yang perlu kamu ketahui!

Pengertian Screening Kesehatan BPJS

Skrining riwayat kesehatan atau yang sering dikenal dengan sebutan deteksi dini BPJS adalah sebuah layanan pemeriksaan awal yang disediakan oleh BPJS Kesehatan untuk mengetahui potensi atau risiko suatu penyakit pada pesertanya. Program ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif, yang berarti fokus utamanya adalah mempromosikan gaya hidup sehat dan mencegah datangnya penyakit parah di kemudian hari.

Pada dasarnya, proses awal skrining ini bukanlah sebuah tindakan medis yang invasif atau menyakitkan. Langkah pertamanya biasanya berupa pengisian kuesioner yang berisi puluhan pertanyaan seputar kebiasaan sehari-hari, riwayat penyakit keluarga, hingga pola makan dan pola tidur. Dari jawaban-jawaban tersebut, sistem akan menganalisis seberapa besar risiko peserta terhadap beberapa penyakit kronis utama.

Jika dari hasil screening kesehatan bpjs kamu menunjukkan hasil risiko tinggi (risiko sedang hingga berat), maka sistem akan secara otomatis menyarankan peserta untuk segera mengunjungi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat mereka terdaftar. Di sana, peserta akan mendapatkan penanganan lebih lanjut berupa konsultasi dokter, pemeriksaan fisik secara langsung, hingga tes laboratorium seperti cek gula darah, kolesterol, atau fungsi ginjal secara gratis sesuai dengan indikasi medis yang ditemukan.

Program ini sangat memudahkan masyarakat karena bisa diakses dengan berbagai cara, baik secara tatap muka dengan mendatangi langsung FKTP (Puskesmas, klinik, atau dokter keluarga), maupun secara digital melalui aplikasi resmi yang sudah disediakan. Fleksibilitas ini diharapkan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, dari yang berdomisili di perkotaan hingga pelosok daerah.

Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?

Banyak orang merasa dirinya sehat hanya karena tidak merasakan keluhan apa-apa. Namun, faktanya, banyak penyakit kronis dijuluki sebagai “silent killers” atau pembunuh diam-diam. Artinya, penyakit-penyakit ini berkembang secara perlahan di dalam tubuh, merusak organ-organ vital seperti pembuluh darah, jantung, dan ginjal, tanpa memunculkan gejala yang disadari oleh penderitanya.

Melalui skrining rutin, ada banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan, di antaranya:

  1. Mencegah Komplikasi Berbahaya: Penyakit seperti diabetes jika dibiarkan bisa berujung pada kebutaan, amputasi kaki, hingga kerusakan saraf. Dengan mengetahui kadar gula darah sejak awal, dokter bisa segera memberikan intervensi berupa perubahan pola makan atau pemberian obat-obatan sebelum komplikasi tersebut terjadi.
  2. Menghemat Biaya Pengobatan: Mengobati penyakit kronis yang sudah berada di stadium lanjut membutuhkan biaya yang sangat besar dan waktu penyembuhan yang panjang. Tindakan operasi, cuci darah, hingga perawatan intensif di rumah sakit tentu akan menguras finansial dan tenaga. Pencegahan jauh lebih murah daripada pengobatan.
  3. Meningkatkan Kualitas Hidup: Seseorang yang mengetahui kondisi kesehatannya secara utuh akan lebih termotivasi untuk memperbaiki gaya hidup. Mereka cenderung lebih berhati-hati dalam memilih makanan, lebih rajin berolahraga, dan menjaga kualitas tidur yang akhirnya berujung pada tubuh yang lebih bugar dan produktif.
  4. Mendapatkan Penanganan Tepat Waktu: Apabila terdeteksi ada kelainan, pasien akan langsung masuk ke dalam jalur pengawasan dokter di fasilitas kesehatan. Dokter akan memantau perkembangan kesehatan pasien secara berkala.
Tips Pencegahan Penyakit Tidak Menular dengan “CERDIK”
  1. Cek kesehatan secara rutin minimal satu tahun sekali.
  2. Enyahkan asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif.
  3. Rajin aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari atau 150 menit per minggu.
  4. Diet dengan nutrisi seimbang, batasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
  5. Istirahat yang cukup, idealnya 7-8 jam per malam untuk orang dewasa.
  6. Kelola stres dengan baik melalui relaksasi, hobi, atau meditasi.

Penyakit yang Dapat Dideteksi Melalui Screening

Kuesioner yang diisi dalam tahapan deteksi dini ini memang dirancang khusus untuk menyaring empat penyakit kronis dengan angka kasus tertinggi di Indonesia. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing penyakit yang menjadi fokus skrining:

1. Diabetes Mellitus Tipe 2

Diabetes tipe 2 adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah akibat tubuh tidak memproduksi cukup insulin atau tidak dapat merespons insulin dengan baik (resistensi insulin). Penyakit ini sangat terkait erat dengan faktor keturunan, obesitas, dan gaya hidup sedentari (kurang gerak). Melalui skrining ini, BPJS akan melihat pola konsumsi manis, berat badan, serta riwayat keluarga untuk memprediksi apakah kamu rentan terkena diabetes. Jika hasilnya berisiko, FKTP akan melakukan tes gula darah puasa atau gula darah sewaktu.

2. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah pada dinding arteri secara konsisten berada di angka 140/90 mmHg atau lebih tinggi. Penyakit ini sering kali tidak bergejala hingga tiba-tiba penderitanya mengalami stroke atau serangan jantung koroner. Skrining akan mengevaluasi kebiasaan merokok, tingkat stres, dan frekuensi konsumsi makanan tinggi garam. Peserta dengan risiko tinggi akan diminta datang ke klinik untuk dilakukan pemantauan tensi secara berkala oleh tenaga medis profesional.

3. Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Penyakit jantung koroner diakibatkan oleh penumpukan plak kolesterol pada pembuluh darah arteri yang menyuplai oksigen ke otot jantung. Ketika pembuluh darah ini menyempit atau tersumbat total, maka terjadilah serangan jantung yang mematikan. Selain menanyakan riwayat keluarga, kuesioner juga akan menggali soal aktivitas fisik harian dan kebiasaan merokok yang merupakan faktor pemicu utama PJK.

4. Gagal Ginjal Kronis

Ginjal adalah organ vital yang berfungsi menyaring racun dan sisa metabolisme dari dalam darah. Penyakit ginjal kronis biasanya merupakan komplikasi jangka panjang dari diabetes atau hipertensi yang tidak terkontrol. Skrining ini bertindak sebagai alat peringatan dini, terutama jika seseorang sudah memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Deteksi awal kerusakan ginjal biasanya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium untuk melihat kadar ureum dan kreatinin dalam darah.

Selain empat penyakit di atas, di tingkat FKTP tertentu, program BPJS Kesehatan juga sering kali menyertakan layanan IVA test (Inspeksi Visual Asam Asetat) atau papsmear untuk mendeteksi kanker serviks, serta pemeriksaan SADANIS (Periksa Payudara Klinis) guna mendeteksi benjolan mencurigakan yang mengarah pada kanker payudara bagi peserta wanita.

Untuk menunjang kesehatan harian dan mencegah penyakit-penyakit di atas, selain menjaga pola makan sehat, terkadang tubuh memerlukan asupan tambahan. Kamu bisa mendapatkan berbagai vitamin dan suplemen harian dengan praktis untuk mendukung imunitas tubuhmu.

Syarat dan Cara Melakukan Screening BPJS

Program skrining ini dirancang agar mudah diakses. Namun, ada beberapa persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh peserta:

  • Terdaftar sebagai peserta JKN-KIS yang status kepesertaannya aktif (tidak ada tunggakan iuran).
  • Berusia minimal 15 tahun ke atas. Hal ini karena risiko PTM umumnya mulai terlihat atau terbentuk sejak usia remaja dan dewasa.
  • Skrining sejarah kesehatan melalui kuesioner ini umumnya bisa diisi satu kali dalam setahun untuk pembaruan data kesehatan.

Adapun cara untuk melakukan skrining ini sangatlah praktis, bisa dipilih sesuai dengan kenyamanan masing-masing peserta:

1. Melalui Aplikasi Mobile JKN

Ini adalah cara yang paling direkomendasikan karena bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Kamu cukup mengunduh aplikasi Mobile JKN di ponsel pintar, login menggunakan NIK atau nomor BPJS beserta kata sandi. Setelah masuk ke halaman utama, cari menu “Skrining Riwayat Kesehatan”. Kemudian, jawab seluruh pertanyaan kuesioner dengan jujur dan sebenar-benarnya. Setelah selesai, sistem akan langsung memunculkan hasil kesimpulan risiko (Rendah, Sedang, atau Tinggi) dari keempat penyakit utama beserta saran tindakan selanjutnya.

2. Melalui Website Resmi BPJS Kesehatan

Bagi yang tidak memiliki aplikasi, skrining juga dapat dilakukan dengan mengakses situs web resmi BPJS Kesehatan. Cari menu terkait layanan skrining kesehatan, masukkan data nomor kartu jaminan kesehatan dan tanggal lahir, lalu ikuti instruksi pengisian kuesioner seperti biasa.

3. Datang Langsung ke Fasilitas Kesehatan (FKTP)

Bagi peserta lansia atau yang kurang memahami teknologi, tidak perlu khawatir. Skrining bisa dilakukan secara manual dengan datang langsung ke FKTP tempat peserta terdaftar (Puskesmas atau klinik). Di sana, petugas medis akan memberikan lembar kuesioner fisik atau membantu mewawancarai peserta untuk mengisi data di sistem. Jika diperlukan, dokter di FKTP akan langsung melakukan pemeriksaan tekanan darah atau merujuk ke laboratorium di tempat.

Studi Terkait Efektivitas Skrining Kesehatan

World Health Organization (WHO) menerbitkan berbagai publikasi kesehatan yang menjelaskan bahwa implementasi program skrining penyakit tidak menular (PTM) yang masif di tingkat layanan primer dapat secara signifikan menurunkan beban angka kesakitan (morbiditas) dan kematian prematur.

Dalam laporan-laporan studi medis terkait, intervensi dini yang dilakukan pasca skrining—baik berupa modifikasi gaya hidup maupun pemberian obat profilaksis—terbukti berhasil mencegah pemburukan fungsi ginjal pada penderita diabetes, serta mengurangi tingkat insiden serangan jantung hingga angka yang cukup substansial pada kelompok penderita hipertensi asimtomatik (tanpa gejala).

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Jangan tunggu sampai penyakit muncul dengan gejala berat. Pencegahan selalu lebih baik dan lebih bijaksana. Lakukan skrining secara rutin sebagai bentuk rasa peduli dan tanggung jawab terhadap tubuhmu sendiri.


Referensi:
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Panduan Layanan Skrining Riwayat Kesehatan Peserta JKN-KIS.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Pengendalian Penyakit Tidak Menular.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Noncommunicable diseases: Early Detection and Screening.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Preventive Healthcare and Screening Tests: What You Need to Know.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Health Screenings by Age.

FAQ

1. Apakah skrining kesehatan menggunakan BPJS dipungut biaya?

Tidak, seluruh rangkaian skrining riwayat kesehatan baik melalui aplikasi Mobile JKN maupun di Puskesmas atau klinik tingkat pertama sepenuhnya gratis dan ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) asalkan status kepesertaan kamu aktif.

2. Berapa kali saya bisa mengisi kuesioner skrining ini?

Secara umum, peserta JKN disarankan dan diperbolehkan untuk mengisi kuesioner pemantauan riwayat kesehatan ini satu kali dalam setiap tahun (1 tahun sekali) untuk memperbarui data risiko kesehatannya.

3. Apa yang harus saya lakukan jika hasil skrining menunjukkan risiko tinggi?

Jika hasilnya menunjukkan risiko sedang atau tinggi terhadap penyakit tertentu, kamu sangat dianjurkan untuk segera mendatangi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat kamu terdaftar untuk melakukan konsultasi lanjutan dan tes laboratorium fisik agar diagnosis bisa ditegakkan secara medis.

4. Apakah anak-anak juga perlu melakukan skrining ini?

Program skrining kuesioner penyakit tidak menular (seperti diabetes dan jantung) pada BPJS umumnya difokuskan untuk peserta yang sudah berusia minimal 15 tahun ke atas, di mana risiko terkait pola makan dan gaya hidup mulai terakumulasi secara signifikan.