Ad Placeholder Image

Ciri Ciri TB Kelenjar pada Anak: Ortu Wajib Tahu!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Mengenali Ciri TB Kelenjar pada Anak: Benjolan dan Gejala

Ciri Ciri TB Kelenjar pada Anak: Ortu Wajib Tahu!Ciri Ciri TB Kelenjar pada Anak: Ortu Wajib Tahu!

DAFTAR ISI


Mendengar kata “tuberkulosis” atau TB, sebagian besar orang tua mungkin langsung terpikir tentang infeksi paru-paru yang ditandai dengan batuk berkepanjangan. Padahal, bakteri penyebab TB tidak hanya menyerang organ paru-paru saja. Pada anak-anak, bakteri ini cukup sering menyerang organ di luar paru, dan salah satu yang paling umum adalah kelenjar getah bening. Kondisi medis ini dikenal luas di masyarakat dengan istilah TB kelenjar.

Kasus TB kelenjar pada anak memerlukan perhatian dan penanganan yang sangat serius. Pasalnya, sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga mereka lebih rentan mengalami komplikasi jika infeksi tidak ditangani dengan tepat. Di Indonesia sendiri, angka kejadian tuberkulosis masih tergolong tinggi, menjadikan kewaspadaan orang tua sebagai kunci utama dalam perlindungan kesehatan anak.

Menyadari tanda-tanda awal dari penyakit ini sangat krusial. Jika anak menunjukkan benjolan di leher yang tidak kunjung kempes disertai keluhan sistemik seperti demam, segera lakukan konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut agar diagnosis dan tindakan bisa segera dilakukan.

Nah, bagi kamu yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai seluk-beluk TB kelenjar pada anak, mulai dari penyebab, ciri-ciri, hingga penanganannya, mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu TB Kelenjar pada Anak?

TB kelenjar, atau dalam istilah medis disebut sebagai Limfadenitis Tuberkulosis, adalah peradangan pada kelenjar getah bening yang disebabkan oleh infeksi bakteri tuberkulosis. Kelenjar getah bening sendiri merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi sebagai “pos penjagaan” untuk menyaring cairan limfe dan menjebak bakteri, virus, serta sel-sel abnormal.

Pada anak-anak, pembengkakan kelenjar getah bening sebenarnya bisa disebabkan oleh berbagai hal ringan, seperti radang tenggorokan, pilek, atau infeksi gigi. Namun, pada kasus TB kelenjar, pembengkakan ini terjadi akibat invasi bakteri penyebab TB secara masif. Lokasi yang paling sering terkena adalah kelenjar getah bening di area leher (servikal), ketiak (aksila), dan lipat paha (inguinal).

Penyebab dan Cara Penularan

Sama seperti TB paru, TB kelenjar disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini memiliki sifat yang sangat tangguh dan bisa bertahan lama di udara dalam bentuk droplet nuclei (percikan liur yang sangat halus).

Penularan pada anak biasanya terjadi melalui beberapa tahapan berikut:

  1. Paparan Awal: Anak menghirup udara yang mengandung bakteri TB dari orang dewasa yang menderita TB paru aktif (biasanya melalui batuk, bersin, atau berbicara dari jarak dekat).
  2. Infeksi Primer: Bakteri masuk ke paru-paru anak. Di tahap ini, anak mungkin tidak menunjukkan gejala apapun (TB laten).
  3. Penyebaran Lanjutan: Dari paru-paru, bakteri dapat menyebar melalui aliran darah atau sistem limfatik (getah bening) menuju ke berbagai kelenjar di seluruh tubuh, lalu berkembang biak dan memicu peradangan serta pembengkakan di kelenjar tersebut.
Faktor Risiko yang Memperbesar Peluang Infeksi
  1. Tinggal serumah atau sering kontak erat dengan penderita TB paru dewasa.
  2. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya karena malnutrisi atau infeksi virus penyerta).
  3. Tinggal di lingkungan dengan ventilasi dan pencahayaan sinar matahari yang buruk.
  4. Belum pernah mendapatkan vaksinasi BCG.

Ciri-Ciri dan Gejala TB Kelenjar pada Anak

Gejala TB kelenjar pada anak bisa bervariasi, namun umumnya terbagi menjadi dua kategori: gejala lokal pada area kelenjar dan gejala sistemik (seluruh tubuh).

1. Munculnya Benjolan Khas

Gejala utama yang paling mudah disadari oleh orang tua adalah munculnya benjolan (pembengkakan) di bawah kulit. Karakteristik benjolan akibat TB kelenjar antara lain:

  • Biasanya muncul di area leher, baik satu sisi maupun dua sisi.
  • Benjolan biasanya tidak terasa nyeri saat ditekan (berbeda dengan infeksi bakteri biasa).
  • Pada awalnya benjolan terasa kenyal dan bisa digerakkan dari jaringan sekitarnya.
  • Seiring berjalannya waktu, benjolan bisa saling menempel membentuk kelompok (matting).
  • Jika tidak segera diobati, benjolan dapat melunak, bernanah, pecah, dan membentuk luka (ulkus) yang sulit sembuh (skrofuloderma).

2. Demam Berkepanjangan

Anak sering mengalami demam ringan hingga sedang yang berlangsung lebih dari 2 minggu (meriang). Demam ini tidak memiliki pola yang jelas dan sering kali tidak merespons dengan baik terhadap obat penurun panas biasa.

3. Penurunan Berat Badan dan Nafsu Makan

Bakteri TB merangsang pelepasan zat peradangan dalam tubuh yang dapat menekan nafsu makan anak. Akibatnya, berat badan anak menjadi sulit naik (faltering growth) atau bahkan menurun drastis, menyebabkan anak terlihat lebih kurus dan lesu dari biasanya.

4. Keringat Malam Hari

Anak berkeringat secara berlebihan di malam hari, bahkan saat cuaca sedang tidak panas atau ruangan sudah dilengkapi dengan pendingin udara.

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Untuk mendiagnosis TB kelenjar pada anak secara akurat, dokter spesialis anak akan melakukan wawancara medis mendalam (anamnesis) mengenai riwayat kontak dengan penderita TB dewasa. Setelah itu, akan dilakukan pemeriksaan fisik dan serangkaian pemeriksaan penunjang, antara lain:

  • Tes Mantoux (Uji Tuberkulin): Penyuntikan protein kuman TB yang dilemahkan ke bawah kulit lengan bawah untuk melihat reaksi kekebalan tubuh anak terhadap bakteri TB.
  • Rontgen Dada (X-Ray): Meskipun gejalanya ada di kelenjar leher, rontgen dada tetap wajib dilakukan untuk melihat apakah infeksi asalnya dari paru-paru.
  • Biopsi Jarum Halus (FNAB): Dokter akan mengambil sedikit sampel cairan/jaringan dari kelenjar yang bengkak menggunakan jarum kecil untuk diperiksa di bawah mikroskop atau dilakukan tes cepat molekuler (TCM/GeneXpert).

Pengobatan dan Perawatan di Rumah

Berbeda dengan infeksi bakteri biasa yang mungkin sembuh dalam beberapa hari dengan antibiotik standar, TB kelenjar membutuhkan pengobatan jangka panjang menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

1. Kepatuhan Minum OAT

Pengobatan TB kelenjar pada anak umumnya berlangsung minimal selama 6 hingga 9 bulan. Pengobatan ini dibagi menjadi dua fase: fase intensif (2 bulan pertama) dan fase lanjutan (4-7 bulan berikutnya). Sangat penting bagi orang tua untuk memastikan anak meminum obat setiap hari pada jam yang sama tanpa putus. Putus obat bisa menyebabkan bakteri menjadi kebal dan memicu Multi-Drug Resistant TB (MDR-TB) yang jauh lebih berbahaya dan memakan waktu bertahun-tahun untuk sembuh.

2. Dukungan Nutrisi Optimal

Obat saja tidak cukup. Tubuh anak membutuhkan energi dan protein tinggi untuk memperbaiki jaringan yang rusak akibat infeksi dan memperkuat sistem imun. Berikan anak makanan bergizi tinggi seperti telur, ikan, daging ayam, susu, serta sayur dan buah-buahan.

Selain pengobatan dari dalam dan asupan makanan bergizi, pemberian suplemen tambahan juga sangat direkomendasikan. Memastikan kecukupan vitamin seperti Vitamin C, Vitamin D, dan Zinc dapat mempercepat proses pemulihan. Kamu bisa dengan mudah mendapatkan produk vitamin penambah imun anak di apotek tepercaya.

3. Perbaikan Lingkungan Rumah

Pastikan kamar anak memiliki ventilasi udara yang baik agar sirkulasi udara terus berganti. Biarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam rumah karena sinar ultraviolet secara alami dapat membunuh bakteri TB yang melayang di udara.

Studi Terkait TB Kelenjar Anak

World Health Organization (WHO) menerbitkan panduan komprehensif pada tahun 2022 yang menjelaskan bahwa anak-anak yang terinfeksi TB sangat berisiko mengalami perkembangan penyakit menjadi bentuk ekstraparu (seperti TB kelenjar dan meningitis TB) dibandingkan orang dewasa.

Studi ini menekankan pentingnya pelacakan kontak erat (contact tracing). Artinya, setiap anak yang tinggal bersama dengan orang dewasa yang terdiagnosis TB paru aktif harus segera diperiksakan (skrining), meskipun belum menunjukkan gejala yang nyata. Penemuan kasus secara dini terbukti secara signifikan menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak akibat komplikasi tuberkulosis.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Tuberkulosis (TB) pada Anak: Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. WHO consolidated guidelines on tuberculosis: Module 5: Management of tuberculosis in children and adolescents.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Tuberculosis – Symptoms and causes.
PubMed/NCBI. Diakses pada 2024. Tuberculous Lymphadenitis in Children: A Review of Diagnosis and Management.

FAQ

1. Apakah TB kelenjar pada anak bisa menular ke orang lain?

Berbeda dengan TB paru, TB kelenjar pada anak umumnya TIDAK menular. Bakteri terkunci di dalam kelenjar getah bening dan anak jarang bisa batuk cukup kuat untuk menyebarkan bakteri melalui udara. Penularan biasanya berasal dari orang dewasa di sekitarnya yang menderita TB paru aktif.

2. Berapa lama benjolan akibat TB kelenjar akan kempes setelah pengobatan?

Penyusutan benjolan tidak terjadi secara instan. Biasanya, ukuran kelenjar mulai mengecil setelah 2 hingga 3 bulan menjalani terapi OAT yang rutin. Namun, kadang-kadang benjolan sisa yang kecil bisa menetap dalam waktu lama meskipun bakteri sudah mati secara tuntas.

3. Apakah operasi pengangkatan kelenjar perlu dilakukan pada anak?

Secara umum, operasi pengangkatan tidak direkomendasikan dan terapi medis menggunakan OAT adalah pengobatan utama. Namun, dokter bedah mungkin melakukan tindakan sayatan kecil (insisi) hanya jika kelenjar telah membentuk abses bernanah besar yang berisiko pecah secara spontan.

4. Apakah anak yang sudah divaksin BCG masih bisa terkena TB kelenjar?

Ya, masih bisa. Vaksin BCG sangat efektif untuk mencegah bentuk tuberkulosis yang sangat berat dan mematikan pada bayi (seperti meningitis TB atau TB milier). Akan tetapi, vaksin ini tidak memberikan perlindungan 100% terhadap infeksi TB paru ringan atau TB ekstraparu seperti TB kelenjar.