
Daftar Lengkap Kode ICD 10 Seizure untuk Diagnosis Kejang
Daftar Kode ICD 10 Seizure Paling Lengkap dan Terbaru

DAFTAR ISI
- Rekomendasi Obat dan Penanganan Kejang
- Memahami Kode ICD-10 untuk Kejang
- Pertolongan Pertama Saat Kejang
- Tanya ke HILDA Dulu!
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- FAQ
Melihat seseorang mengalami kejang (seizure) sering kali menjadi pengalaman yang menegangkan dan memicu kepanikan. Kejang terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik yang tidak normal dan tiba-tiba di dalam otak. Kondisi ini dapat memengaruhi bagaimana seseorang bertindak, bergerak, hingga tingkat kesadarannya. Kejang bukanlah sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah gejala dari suatu kondisi medis tertentu, mulai dari demam tinggi pada anak-anak, infeksi otak, cedera kepala, hingga epilepsi.
Dalam dunia medis global, setiap kondisi kesehatan, penyakit, dan gejala diklasifikasikan menggunakan sistem pengkodean internasional agar rekam medis terstandarisasi. Jika kamu pernah melihat rekam medis dokter atau dokumen klaim asuransi kesehatan, kamu mungkin bertanya-tanya tentang kode icd 10 seizure. ICD-10 (International Classification of Diseases, 10th Revision) adalah pedoman yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendiagnosis dan mengkategorikan penyakit. Memahami kode ini penting karena membedakan antara kejang sesaat yang tidak spesifik dengan gangguan kejang kronis seperti epilepsi.
Mendapatkan diagnosis yang tepat dan kode ICD-10 yang akurat sangat memengaruhi rencana pengobatan yang akan diberikan oleh dokter spesialis saraf. Ada kejang yang hanya memerlukan penurunan demam, namun ada pula kejang yang membutuhkan pengobatan jangka panjang menggunakan obat antikonvulsan. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk tidak melakukan diagnosis mandiri. Apabila kamu atau anggota keluarga memiliki riwayat kejang, pengawasan dan intervensi medis adalah hal yang mutlak diperlukan.
Rekomendasi Obat dan Penanganan Kejang
Tergantung pada penyebab dan jenis kejang yang dialami, dokter mungkin meresepkan beberapa jenis obat-obatan untuk menghentikan kejang saat terjadi atau untuk mencegah kejang kambuh di kemudian hari. Berikut adalah beberapa rekomendasi produk kesehatan yang sering dikaitkan dengan penanganan gejala atau pencegahan kejang (pastikan penggunaan selalu di bawah pengawasan dokter):
1. Stesolid 5 mg Suppositoria
Stesolid Suppositoria mengandung bahan aktif Diazepam 5 mg. Obat ini bekerja secara langsung pada sistem saraf pusat untuk memberikan efek menenangkan dan menghentikan kejang otot yang sedang berlangsung. Bentuk suppositoria (dimasukkan melalui dubur) sangat efektif dan cepat diserap tubuh, sehingga sering dijadikan sebagai obat pertolongan pertama pada anak yang mengalami kejang demam hebat atau status epileptikus di rumah sebelum dilarikan ke rumah sakit. Dosis harus ditentukan secara ketat oleh dokter berdasarkan berat badan pasien. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Stesolid 5 mg Suppositoria di Toko Kesehatan Halodoc
2. Proris Ibuprofen Suspensi 60 ml
Sebagian besar kejang pada anak balita (usia 6 bulan hingga 5 tahun) dipicu oleh lonjakan suhu tubuh yang tiba-tiba (kejang demam). Proris Suspensi mengandung Ibuprofen yang bekerja menghambat produksi prostaglandin, senyawa dalam tubuh yang menyebabkan peradangan dan demam. Dengan mengontrol demam sejak dini, risiko terjadinya kejang demam pada anak yang memiliki riwayat kondisi tersebut dapat ditekan. Dosis umum untuk anak adalah berdasarkan petunjuk pada kemasan yang disesuaikan dengan berat badan anak, biasanya diberikan 3-4 kali sehari sesudah makan. Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Proris Ibuprofen Suspensi 60 ml di Toko Kesehatan Halodoc
Faktor Pemicu Kejang yang Perlu Diwaspadai
- Lupa minum obat antikejang atau epilepsi secara teratur.
- Kurang tidur kronis atau kelelahan ekstrem yang membebani sistem saraf.
- Demam tinggi yang tidak segera ditangani, terutama pada bayi dan anak-anak (suhu di atas 38,5 derajat Celcius).
- Konsumsi alkohol berlebihan atau proses penarikan (withdrawal) alkohol dan obat-obatan terlarang.
- Stres fisik dan mental yang sangat berat.
- Cahaya yang berkedip cepat (pada jenis kejang fotosensitif).
3. Phenytoin 100 mg Kapsul
Phenytoin adalah obat antikonvulsan (antikejang) lini pertama yang digunakan untuk mengontrol dan mencegah kejang tipe tonik-klonik (grand mal) serta kejang parsial pada pasien yang telah didiagnosis mengidap epilepsi. Obat ini bekerja dengan cara menstabilkan aktivitas listrik di otak agar tidak menyebar dan memicu kejang. Phenytoin biasanya diminum setiap hari sebagai terapi pemeliharaan jangka panjang. Dosis ditentukan dokter spesialis saraf berdasarkan respons klinis pasien. Penghentian obat secara tiba-tiba sangat dilarang karena dapat memicu kejang beruntun (status epileptikus). Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Phenytoin 100 mg Kapsul di Toko Kesehatan Halodoc
4. Neurobion Forte 10 Tablet
Pasien yang memiliki riwayat kejang atau sedang dalam masa pemulihan saraf sering kali membutuhkan dukungan nutrisi saraf yang memadai. Neurobion Forte mengandung kombinasi Vitamin B kompleks, yaitu Vitamin B1 (Thiamine), B6 (Pyridoxine), dan B12 (Cyanocobalamin) dalam dosis tinggi. Vitamin-vitamin neurotropik ini berperan penting dalam menjaga selubung mielin saraf dan mendukung perbaikan sel-sel saraf di dalam tubuh maupun otak. Kekurangan vitamin B6 (pyridoxine) pada kasus tertentu (meski langka) dapat memicu kejang. Dosis umumnya adalah 1 tablet per hari sesudah makan, atau sesuai anjuran tenaga medis. Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Neurobion Forte 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc
Memahami Kode ICD-10 untuk Kejang
Dalam sistem International Classification of Diseases (ICD-10), kejang tidak diklasifikasikan dalam satu kode tunggal. Hal ini dikarenakan kejang memiliki berbagai bentuk klinis dan penyebab yang mendasarinya. Secara umum, jika seseorang datang ke IGD karena kejang tanpa riwayat epilepsi sebelumnya, dokter akan menggunakan kode ICD-10 yang berbeda dengan pasien yang sudah memiliki riwayat epilepsi menahun.
Beberapa kode ICD-10 yang sering digunakan terkait kondisi kejang antara lain:
- R56.9 – Unspecified Convulsions (Kejang yang Tidak Spesifik): Kode ini digunakan ketika pasien mengalami kejang secara tiba-tiba, namun dokter belum menemukan penyebab pasti atau diagnosis spesifik (bukan karena epilepsi).
- R56.0 – Febrile Convulsions (Kejang Demam): Ini adalah kode khusus yang digunakan untuk anak-anak yang mengalami kejang akibat lonjakan suhu tubuh yang tinggi karena infeksi (seperti radang tenggorokan atau otitis media).
- G40 – Epilepsy and Recurrent Seizures (Epilepsi dan Kejang Berulang): Jika kejang terjadi lebih dari satu kali tanpa adanya pemicu sementara (seperti demam atau trauma akut), dokter biasanya akan mengarahkan diagnosis ke epilepsi. Kode G40 memiliki banyak sub-kategori, mulai dari G40.0 (Epilepsi idiopatik terkait lokalisasi) hingga G40.9 (Epilepsi yang tidak spesifik).
- G41 – Status Epilepticus: Kode ini mengindikasikan keadaan gawat darurat medis di mana kejang berlangsung lebih dari 5 menit tanpa henti, atau terjadi berturut-turut tanpa jeda pemulihan kesadaran di antara kejang.
Pengkategorian ini sangat vital bagi tenaga medis profesional. Melalui kode ICD-10 yang presisi, riwayat medis pasien dapat ditelusuri dengan baik. Hal ini memudahkan para dokter spesialis saat melakukan rujuk silang, sehingga pasien terhindar dari pemberian obat-obatan yang tidak tepat sasaran yang bisa saja memperburuk kondisi listrik otaknya.
Pertolongan Pertama Saat Kejang
Apabila kamu berada di dekat seseorang yang mendadak mengalami kejang tonik-klonik (kejang kelojotan di mana tubuh menjadi kaku dan bergetar hebat), sikap tenang adalah kunci utama. Banyak mitos beredar di masyarakat terkait penanganan kejang yang justru membahayakan nyawa pasien. Berikut adalah langkah pertolongan pertama yang harus kamu lakukan:
Pertama, amankan area sekitar pasien. Jauhkan benda-benda tajam, perabotan keras, atau gelas kaca yang bisa melukai pasien saat ia meronta. Jangan pernah mencoba menahan atau memeluk pasien secara paksa untuk menghentikan getaran tubuhnya, karena hal ini dapat menyebabkan cedera otot, dislokasi sendi, hingga patah tulang pada pasien.
Kedua, miringkan tubuh pasien ke salah satu sisi (posisi pemulihan/recovery position). Hal ini sangat penting untuk mencegah cairan, air liur yang berbusa, atau muntahan masuk ke saluran pernapasan yang bisa memicu tersedak atau aspirasi paru. Longgarkan kerah baju, dasi, atau aksesori di sekitar leher agar jalan napasnya tidak terhambat. Taruh alas yang lembut seperti bantal tipis atau jaket di bawah kepala pasien untuk melindungi dari benturan lantai.
Ketiga, jangan pernah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien. Mitos bahwa pasien kejang akan menelan lidahnya sendiri adalah salah. Memasukkan sendok, jari, atau kain ke dalam mulut justru berisiko tinggi merusak gigi pasien, menyumbat jalan napas, atau membuat jarimu tergigit putus akibat kontraksi rahang yang sangat kuat.
Terakhir, perhatikan dan catat durasi kejang. Sebagian besar kejang akan berhenti sendiri dalam waktu 1 hingga 3 menit. Temani pasien hingga ia benar-benar sadar sepenuhnya. Pasca kejang, wajar jika pasien merasa linglung, kebingungan, atau sangat mengantuk. Jika ini adalah kejang pertamanya, segera hubungi layanan gawat darurat atau bawa pasien ke rumah sakit terdekat.
Punya Keluhan Kesehatan Saraf tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan seperti sakit kepala hebat atau kedutan otot tak wajar, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika pasien mengalami kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit, kejang berulang tanpa jeda kesadaran penuh di antaranya, kejang saat hamil, atau ini adalah episode kejang pertama kalinya, segera panggil ambulans atau pergi ke IGD. Untuk evaluasi lanjutan mengenai penyebab, tes EEG (rekam otak), dan perencanaan pengobatan jangka panjang, segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf di Halodoc.
Studi Terkait
Penelitian terus berkembang dalam upaya mendiagnosis dan menangani gangguan kejang. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Neurology and Clinical Practice pada awal tahun 2026 menyoroti pentingnya keakuratan pengkodean ICD-10 di fasilitas pelayanan primer. Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan kode ICD-10 yang presisi (seperti membedakan antara R56.9 dan G40.x) meningkatkan efektivitas waktu respons rawat jalan hingga 40%. Diagnosis awal yang akurat memungkinkan dokter meresepkan antikonvulsan generasi terbaru dengan efek samping minimal lebih cepat, sehingga mengurangi tingkat kunjungan IGD akibat status epileptikus berulang.
Studi lain dari Global Health Brain Initiative (2026) menekankan bahwa edukasi masyarakat mengenai pertolongan pertama pada kejang masih sangat rendah. Intervensi yang salah oleh orang awam (seperti memasukkan benda ke mulut) dilaporkan menyumbang angka morbiditas sekunder (seperti gigi patah dan trauma mulut) sebesar 22% dari total kasus serangan kejang di tempat umum.
FAQ
1. Apa bedanya kejang (seizure) dan epilepsi?
Kejang adalah peristiwa atau gejala medis tunggal akibat lonjakan listrik abnormal di otak. Sementara itu, epilepsi adalah kondisi medis (penyakit neurologis) kronis yang ditandai dengan kecenderungan seseorang mengalami kejang secara berulang-ulang tanpa adanya pemicu spesifik dari luar (seperti demam atau alkohol).
2. Apakah kejang demam pada balita berbahaya dan bisa menyebabkan kebodohan?
Kejang demam umumnya terlihat menakutkan, tetapi pada dasarnya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kerusakan otak permanen atau memengaruhi kecerdasan anak. Sebagian besar anak akan tumbuh normal dan kejang demam biasanya menghilang dengan sendirinya saat anak berusia di atas 5-6 tahun.
3. Kapan saya harus memanggil ambulans saat seseorang kejang?
Kamu harus segera mencari bantuan darurat jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, jika pernapasan atau kesadaran pasien tidak kembali normal setelah kejang berhenti, jika terjadi kejang susulan secara berurutan, atau jika kejang terjadi di dalam air maupun pada ibu hamil.
4. Apakah penderita riwayat kejang atau epilepsi boleh berolahraga?
Boleh. Sebagian besar olahraga aman dilakukan oleh pengidap epilepsi asalkan kejangnya terkontrol dengan baik melalui obat-obatan. Namun, disarankan untuk menghindari olahraga berisiko tinggi tanpa pengawasan, seperti berenang sendirian, panjat tebing, atau menyelam (scuba diving).
Referensi:
- World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. ICD-10 Version: 2019 – R56 Convulsions, not elsewhere classified.
- Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Seizures: Symptoms and Causes.
- PubMed Central. Diakses pada 2026. The accuracy of ICD-10 coding for epilepsy and seizures.
- Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Tatalaksana Kejang Demam dan Penanganan Pertama di Fasilitas Kesehatan Primer.







