Ad Placeholder Image

Data Kemenkes: Orang Dewasa di Indonesia Ternyata Kurang Aktivitas Fisik

6 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   12 November 2025

Kemenkes ungkap 95,8% orang dewasa di Indonesia kurang aktivitas fisik

Data Kemenkes: Orang Dewasa di Indonesia Ternyata Kurang Aktivitas FisikData Kemenkes: Orang Dewasa di Indonesia Ternyata Kurang Aktivitas Fisik

DAFTAR ISI


Di tengah kesibukan kerja dan rutinitas digital yang serba cepat, banyak orang dewasa di Indonesia tanpa sadar menjalani gaya hidup yang kurang aktif. 

Duduk terlalu lama di depan layar, jarang berjalan kaki, atau minim olahraga menjadi pola umum yang kini mengancam kesehatan masyarakat produktif. 

Padahal, aktivitas fisik bukan hanya soal menjaga bentuk tubuh, tapi juga kunci utama untuk mencegah berbagai penyakit kronis.

Sayangnya, data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. 

Mayoritas orang dewasa di Indonesia ternyata kurang melakukan aktivitas fisik, bahkan jumlahnya mencapai lebih dari 90 persen populasi. 

Temuan ini bukan sekadar angka statistik, tapi alarm kesehatan nasional yang menegaskan pentingnya perubahan gaya hidup secara menyeluruh.

Latar Belakang Data Cek Kesehatan Gratis (CKG)

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) merupakan salah satu inisiatif besar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mendeteksi dini penyakit dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. 

Hingga Oktober 2025, sebanyak 50,5 juta orang di seluruh Indonesia telah berpartisipasi dalam program ini.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, program CKG bukan sekadar pemeriksaan massal, tetapi juga alat strategis untuk memperkuat kebijakan kesehatan dan promosi gaya hidup sehat. 

Dengan data berskala nasional ini, pemerintah bisa mengidentifikasi tren penyakit dan kebiasaan masyarakat, termasuk masalah serius seperti kurangnya aktivitas fisik di kalangan orang dewasa.

Fakta: 95,8% Orang Dewasa Kurang Aktivitas Fisik

Hasil survei nasional menunjukkan bahwa 95,8 persen orang dewasa di Indonesia kurang aktivitas fisik. 

Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh populasi dewasa belum memenuhi standar aktivitas fisik minimal yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu.

Temuan ini menjadi peringatan keras bahwa gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk semakin meluas di kalangan usia produktif. Kondisi ini juga disertai dengan prevalensi masalah kesehatan lain pada kelompok dewasa, seperti:

  • Karies gigi: 41,9 persen
  • Obesitas sentral: 32,9 persen
  • Kelebihan berat badan dan obesitas: 24,4 persen

Data tersebut menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik berkaitan langsung dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular (PTM), termasuk diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

Dampak Kurang Aktivitas Fisik pada Kesehatan

Kurang bergerak bukan hanya membuat tubuh terasa lemas, tapi juga berdampak jangka panjang. 

WHO memperkirakan, sekitar 5 juta kematian setiap tahun di dunia disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik. Di Indonesia, dampaknya juga signifikan:

  1. Peningkatan risiko obesitas dan penyakit metabolik.
    Ketika kamu jarang bergerak, kalori yang masuk tidak terbakar secara optimal, menyebabkan penumpukan lemak terutama di perut.
  2. Gangguan kesehatan jantung.
    Aktivitas fisik membantu menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol. Kurang bergerak meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
  3. Masalah mental dan kualitas hidup.
    Aktivitas fisik tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga membantu melepaskan hormon endorfin yang membuat kamu lebih bahagia dan fokus. Pahami informasi lebih lanjut seputar Kesehatan Mental – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya di sini.

Dengan kata lain, kurang aktivitas fisik bukan sekadar gaya hidup malas, tapi merupakan ancaman kesehatan publik yang nyata.

Kaitan Aktivitas Fisik dengan Penyakit Tidak Menular

Kemenkes menegaskan bahwa penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan stroke masih menjadi ancaman utama bagi usia produktif. Kurangnya aktivitas fisik adalah salah satu faktor risikonya.

Menariknya, pola ini juga tampak sejak usia muda. Pada kelompok remaja, 60,1 persen tercatat kurang aktivitas fisik, menunjukkan bahwa kebiasaan sedentari terbentuk sejak dini.

Sementara pada kelompok lansia, angkanya lebih tinggi lagi, mencapai 96,7 persen, diikuti dengan prevalensi hipertensi sebesar 37,7 persen. 

Hal ini membuktikan bahwa tanpa intervensi sejak muda, kebiasaan kurang bergerak dapat berlanjut hingga tua dan memicu berbagai komplikasi.

Pola Hidup Sehat sebagai Solusi Nasional

Menteri Kesehatan menegaskan bahwa hasil CKG harus dijadikan dasar penguatan promosi kesehatan dan kebijakan publik. Artinya, data ini menjadi pedoman untuk mendorong masyarakat agar lebih aktif.

Untuk kamu, langkah kecil seperti berikut bisa menjadi awal yang efektif:

  • Berjalan kaki 30 menit setiap hari.
    Aktivitas ringan seperti jalan cepat sudah termasuk aktivitas fisik sedang.
  • Gunakan tangga daripada lift.
    Pilihan sederhana tapi efektif untuk melatih otot kaki dan meningkatkan detak jantung.
  • Kurangi waktu duduk.
    Jika kamu bekerja di depan komputer, cobalah berdiri atau meregangkan tubuh setiap satu jam.
  • Libatkan diri dalam kegiatan olahraga komunitas.
    Aktivitas fisik akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama teman atau keluarga.

Kamu tidak harus langsung berolahraga berat. Konsistensi jauh lebih penting dibanding intensitas sesekali. Ini Jenis Olahraga dan Manfaat untuk Kesehatan Tubuh yang bisa kamu coba.

Langkah Kemenkes dan Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Sebagai tindak lanjut dari temuan CKG, Kemenkes berencana memperkuat edukasi dan intervensi gaya hidup aktif di masyarakat. Fokusnya pada:

  • Integrasi promosi aktivitas fisik di puskesmas.
  • Program “Indonesia Bergerak” di tingkat daerah.
  • Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan komunitas olahraga.

Sementara itu, kamu bisa mulai dari hal kecil, seperti rutin melakukan peregangan, menjaga pola makan seimbang, dan mengatur waktu tidur yang cukup. 

Karena, aktivitas fisik yang cukup akan meningkatkan metabolisme tubuh, menjaga imunitas, dan memperpanjang harapan hidup.

Ketahui juga informasi lain mengenai, Diet dan Nutrisi Kebutuhan Tubuh – Informasi Lengkapnya berikut ini.

Temukan Cara Menurunkan Berat Badan Tepat dengan Program Klinis dan Menyeluruh dari Halofit

Sedang mencari cara menurunkan berat badan dengan cepat tapi tetap aman dan diawasi dokter? Kini kamu bisa mencapainya lewat Halofit, layanan Klinik Obesitas Digital dari Halodoc yang menawarkan pendekatan klinis, nutrisi, dan gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Halofit dirancang khusus untuk membantu kamu menemukan cara menurunkan berat badan yang benar-benar efektif, bukan sekadar diet sementara. Dengan dukungan dokter dan ahli gizi profesional, setiap program Halofit disesuaikan dengan kondisi tubuh, pola makan, dan target penurunan berat badanmu.

Berikut dua pilihan program yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan:

1. Halofit Advanced – Rp750.000/bulan

Cocok bagi kamu yang ingin memulai perjalanan sehat dengan pendampingan dokter dan ahli gizi selama 30 hari. Program Halofit Advanced mencakup meal plan personal, serta obat pendamping penurun berat badan yang diresepkan langsung oleh dokter untuk mendukung hasil yang aman dan maksimal.

2. Halofit Transform –  Mulai dari Rp3.300.000/bulan

Program Halofit Transform adalah program premium bagi kamu yang membutuhkan cara menurunkan berat badan dengan cepat dan terukur melalui terapi injeksi GLP-1. Terapi ini telah terbukti secara klinis membantu mengontrol nafsu makan dan mempercepat penurunan berat badan. Dengan pengawasan dokter, kamu akan mendapatkan dukungan medis lengkap beserta obat diet paling ampuh sesuai kebutuhan tubuhmu.

Semua layanan ini tersedia langsung di aplikasi Halodoc, mulai dari konsultasi, pemesanan paket, hingga pemantauan progres, semuanya bisa dilakukan tanpa perlu datang ke klinik.

Tunggu apa lagi?  Kamu bisa klik di sini untuk mulai coba program Halofit!

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2025. 50 Juta Warga Ikut Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ungkap Masalah Kesehatan Masyarakat.
Ayo Sehat Kemenkes. Diakses pada 2025. Cek Kesehatan Gratis: Ini Manfaat dan Jenis Pemeriksaan yang Kamu Dapatkan.
Antara News. Diakses pada 2025. Kemenkes: 95,8 Persen Peserta Dewasa CKG Kurang Aktivitas Fisik.
World Health Organization. Diakses pada 2025. Physical Activity Guidelines for Adults
.