DID Disorder: Gejala, Penyebab, & Cara Mengatasi

DAFTAR ISI
Pernahkah kamu mendengar tentang seseorang yang memiliki lebih dari satu kepribadian di dalam dirinya? Dalam dunia medis modern, kondisi psikologis ini dikenal dengan sebutan Dissociative Identity Disorder (DID). Sederhananya, DID adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan adanya dua atau lebih kepribadian yang berbeda dan terpisah di dalam satu tubuh individu. Di masa lalu, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan kepribadian ganda (multiple personality disorder).
Kondisi ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan sebuah bentuk mekanisme pertahanan diri yang ekstrem. Seseorang dengan DID biasanya mengalami disosiasi, yaitu terputusnya hubungan antara pikiran, ingatan, lingkungan, tindakan, dan identitas. Hal ini membuat mereka kehilangan kendali atau kesadaran akan diri mereka sendiri ketika “identitas lain” atau yang sering disebut alter mengambil alih kesadaran.
Mengingat kompleksitasnya, DID sangat penting untuk ditangani oleh tenaga profesional secara komprehensif. Tanpa diagnosis dan perawatan yang tepat, pengidapnya dapat mengalami penurunan kualitas hidup yang drastis, kesulitan mempertahankan pekerjaan, hingga berisiko tinggi menyakiti diri sendiri. Jika kamu atau orang terdekat menunjukkan gejala kebingungan identitas atau hilang ingatan yang tidak wajar, segeralah mencari bantuan medis dengan melakukan konsultasi ke dokter spesialis kejiwaan atau psikiater di Halodoc untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Lantas, apa sebenarnya yang memicu kemunculan kondisi ini dan bagaimana cara medis menanganinya? Mari kita bahas lebih dalam mengenai gejala, penyebab, hingga langkah perawatannya di bawah ini!
Gejala Utama dari Gangguan Identitas Disosiatif (DID)
Gejala DID bisa sangat bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya, tetapi ada beberapa tanda utama yang menjadi pedoman psikiater dalam menegakkan diagnosis. Gejala ini sering kali sangat mengganggu kehidupan sehari-hari pengidapnya.
1. Munculnya Dua atau Lebih Identitas (Alter)
Pengidap DID memiliki identitas utama (host) dan satu atau beberapa identitas alternatif (alters). Masing-masing alter ini memiliki nama, usia, jenis kelamin, karakteristik, suara, hingga memori yang berbeda-beda. Terkadang, satu alter mungkin membutuhkan kacamata karena penglihatannya buruk, sementara alter lainnya tidak. Proses pergantian dari satu identitas ke identitas lainnya (disebut switching) bisa terjadi dalam hitungan detik hingga hitungan hari, sering kali dipicu oleh stres atau pengingat akan trauma (trigger).
2. Amnesia Disosiatif (Hilang Ingatan)
Ini bukan sekadar lupa menaruh kunci atau lupa jadwal pertemuan. Pengidap DID sering kali mengalami kesenjangan memori (amnesia) yang parah mengenai kejadian sehari-hari, informasi pribadi yang penting, atau peristiwa traumatis di masa lalu. Ketika alter A mengambil alih kendali, identitas utama (host) sering kali tidak memiliki ingatan sama sekali tentang apa yang dilakukan tubuhnya selama masa tersebut. Mereka mungkin menemukan barang-barang yang tidak pernah mereka beli atau berada di suatu tempat tanpa tahu bagaimana cara mereka sampai di sana.
3. Depersonalisasi dan Derealisasi
Gejala lainnya adalah perasaan terlepas dari diri sendiri (depersonalisasi). Pengidap mungkin merasa seperti sedang menonton diri mereka sendiri dalam sebuah film, merasa tubuh mereka bukan milik mereka, atau merasa tidak berdaya mengendalikan tindakan mereka sendiri. Selain itu, mereka juga kerap mengalami derealisasi, yaitu perasaan bahwa lingkungan sekitar mereka tidak nyata, tampak kabur, atau seperti berada di dalam mimpi.
4. Gejala Somatik dan Emosional Lainnya
Karena DID erat kaitannya dengan trauma berat, pengidapnya sering kali mengalami gejala psikologis penyerta seperti kecemasan kronis (anxiety), depresi berat, gangguan tidur (insomnia atau teror tidur), gangguan makan, hingga kecenderungan untuk menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang. Pemikiran untuk bunuh diri (suicidal thoughts) juga merupakan risiko yang sangat tinggi pada pengidap DID.
Fakta dan Mitos Seputar DID
- Mitos: DID adalah sama dengan Skizofrenia. Fakta: Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan delusi dan halusinasi, bukan memiliki banyak kepribadian.
- Mitos: DID itu berbahaya dan identik dengan kriminal. Fakta: Sebagian besar pengidap DID tidak melakukan kekerasan; mereka justru merupakan korban kekerasan dan trauma di masa lalu.
- Mitos: DID itu tidak nyata dan hanya akting. Fakta: DID diakui secara resmi dalam panduan psikiatri DSM-5 sebagai kondisi kejiwaan yang sah.
Penyebab dan Faktor Risiko Terjadinya DID
Secara medis, tidak ada kelainan genetik atau bakteri yang menyebabkan terjadinya DID. Kondisi ini murni terbentuk sebagai respons psikologis ekstrem terhadap lingkungan dan kejadian yang dialami individu di masa pembentukan karakternya.
1. Trauma Masa Kecil yang Berulang (Severe Childhood Trauma)
Penyebab utama dari DID adalah pelecehan fisik, pelecehan seksual, atau pelecehan emosional yang ekstrem dan berulang pada masa anak-anak (biasanya sebelum usia 6-9 tahun). Pada usia ini, kepribadian seorang anak masih dalam tahap pembentukan dan belum terintegrasi menjadi satu kesatuan yang utuh.
2. Mekanisme Koping (Coping Mechanism) yang Ekstrem
Ketika seorang anak menghadapi trauma yang sangat mengerikan dan di luar kemampuannya untuk memproses rasa sakit fisik atau mental tersebut, pikiran mereka akan “memisahkan” (disosiasi) kejadian tersebut. Otak menciptakan identitas baru yang seolah-olah berfungsi sebagai “pelindung” untuk menanggung rasa sakit trauma tersebut, sehingga identitas asli anak bisa bertahan hidup seolah trauma itu tidak pernah terjadi.
3. Faktor Lingkungan Tanpa Dukungan
Risiko anak mengembangkan DID semakin besar jika tidak ada orang dewasa yang aman dan protektif untuk membantu menenangkan anak tersebut setelah kejadian traumatis terjadi. Anak yang dibesarkan di lingkungan yang menakutkan, atau oleh pelaku pelecehan (seperti anggota keluarga sendiri), terpaksa menggunakan disosiasi sebagai satu-satunya cara untuk bertahan hidup secara mental.
Cara Menangani dan Perawatan Medis untuk DID
Hingga saat ini, belum ada obat medis spesifik (pil atau sirup) yang dapat menyembuhkan Gangguan Identitas Disosiatif secara langsung. Namun, dengan perawatan dan komitmen terapi jangka panjang, pengidap DID dapat belajar mengelola gejalanya dan menyatukan kembali identitas-identitas tersebut (integrasi).
1. Psikoterapi (Terapi Bicara)
Psikoterapi adalah pengobatan utama untuk DID. Tujuan utama dari terapi ini adalah “mengintegrasikan” semua kepribadian yang terpisah menjadi satu kepribadian utama yang kohesif. Proses ini sangat memakan waktu. Terapis akan membantu pasien memproses kenangan traumatis di masa lalu dengan cara yang aman dan terkontrol. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dan Dialectical Behavior Therapy (DBT) sering digunakan untuk membantu pengidap mengelola stres dan emosi tanpa harus beralih (switching) ke alter mereka.
2. Terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing)
Terapi EMDR secara khusus dirancang untuk membantu orang pulih dari trauma emosional yang diakibatkan oleh pengalaman hidup yang mengganggu. Melalui panduan gerakan mata oleh terapis profesional, terapi ini membantu otak memproses dan melepaskan memori traumatis yang selama ini dikunci atau dialihkan ke kepribadian lain.
3. Pemberian Obat-obatan Psikiatri
Meskipun tidak ada obat untuk menghilangkan “kepribadian ganda”, psikiater mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk mengatasi gejala penyerta yang memperburuk DID. Obat antidepresan, obat anti-ansietas (anti-kecemasan), atau obat penstabil mood mungkin diresepkan untuk membantu mengelola depresi parah, serangan panik, atau gangguan tidur yang sering dialami pengidap. Perlu diingat bahwa semua obat psikiatri masuk dalam golongan obat keras merah dan mutlak membutuhkan resep, diagnosis, serta pengawasan ketat dari dokter spesialis kejiwaan.
Studi Mengenai Disosiasi dan Trauma
The American Journal of Psychiatry pernah menerbitkan studi psikiatri yang menjelaskan secara empiris bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara pelecehan seksual/fisik di masa kecil dengan perkembangan gejala disosiatif di masa dewasa awal.
Studi ini menemukan bahwa memori traumatis sering kali tidak disimpan layaknya memori biasa, melainkan disimpan sebagai fragmen-fragmen emosi dan sensasi fisik. Hal ini membenarkan teori klinis mengapa pengidap DID harus memecah kesadarannya (menciptakan alter) demi melindungi otak dari kerusakan psikologis yang diakibatkan oleh fragmentasi trauma yang begitu dahsyat.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Psychiatric Association. Diakses pada 2024. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5).
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Dissociative Identity Disorder (Multiple Personality Disorder).
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Dissociative disorders – Symptoms and causes.
National Alliance on Mental Illness (NAMI). Diakses pada 2024. Dissociative Disorders.
National Institutes of Health (PubMed). Diakses pada 2024. Dissociative Identity Disorder: A Controversial Diagnosis.
FAQ
1. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan DID adalah?
DID adalah singkatan dari Dissociative Identity Disorder. Ini adalah gangguan psikologis kronis di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian (identitas) berbeda yang mengambil alih perilakunya, biasanya muncul sebagai respons terhadap trauma berat di masa kecil.
2. Apakah pengidap DID menyadari bahwa mereka memiliki kepribadian ganda?
Pada awalnya, sebagian besar pengidap tidak menyadarinya. Mereka biasanya hanya merasa kebingungan karena sering mengalami “kehilangan waktu” atau amnesia. Mereka baru mulai menyadari keberadaan alter lain setelah mendapatkan diagnosis dari psikiater atau diberi tahu oleh orang terdekat.
3. Apakah Gangguan Identitas Disosiatif bisa disembuhkan total?
Kondisi ini tidak bisa “dihilangkan” dengan obat seperti penyakit infeksi. Namun, melalui terapi psikologis jangka panjang yang konsisten, kepribadian yang terpecah tersebut bisa disatukan kembali (diintegrasikan) sehingga pengidap bisa menjalani hidup normal dan produktif.
4. Kapan seseorang yang dicurigai mengidap DID harus dibawa ke dokter?
Segera bawa ke psikolog klinis atau psikiater jika seseorang sering mengeluh hilang ingatan tentang kejadian sehari-hari, berperilaku dengan karakter yang sama sekali berbeda dari biasanya tanpa disadari, atau menunjukkan tanda-tanda depresi berat dan keinginan menyakiti diri sendiri.



