Advertisement

Distosia Bahu: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya dengan Tepat

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Enrico Hervianto SpOG   27 November 2025

Distosia bahu adalah kondisi darurat persalinan.

Distosia Bahu: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya dengan TepatDistosia Bahu: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya dengan Tepat

DAFTAR ISI


Melahirkan seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan, namun ada kondisi darurat yang bisa terjadi secara tiba-tiba, salah satunya adalah distosia bahu.

Kondisi ini terjadi ketika bahu bayi tersangkut setelah kepala berhasil keluar, sehingga membuat proses persalinan menjadi sulit dan berisiko bagi ibu maupun bayi.

Yuk, kenali lebih dalam penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya agar kamu lebih siap menghadapi proses persalinan!

Apa Itu Distosia Bahu? 

Distosia bahu adalah kondisi darurat dalam persalinan ketika setelah kepala bayi berhasil keluar, salah satu atau kedua bahu bayi tersangkut di belakang tulang panggul ibu sehingga menghambat proses lahir sepenuhnya.

Situasi ini membuat proses persalinan menjadi sulit dan membutuhkan tindakan medis cepat untuk mencegah risiko komplikasi pada ibu maupun bayi.

Meskipun relatif jarang terjadi, distosia bahu adalah salah satu kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko cedera pada bahu, lengan, atau bahkan gangguan pernapasan pada bayi. 

Pada ibu, kondisi ini juga dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan atau robekan jalan lahir.

Sebelum persalinan Ketahui Biaya Persalinan Normal: Info Lengkap dan Estimasi Terbaru. 

Penyebab Distosia Bahu

Distosia bahu biasanya tidak bisa diprediksi sebelumnya, namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya:

  • Bayi berukuran besar (makrosomia). Bayi dengan berat lahir lebih dari 4.000–4.500 gram lebih berisiko mengalami bahu tersangkut saat persalinan.
  • Diabetes pada ibu. Ibu dengan diabetes, baik sebelum hamil maupun diabetes gestasional, cenderung melahirkan bayi besar sehingga meningkatkan kemungkinan distosia bahu.
  • Obesitas pada ibu. Kondisi obesitas dapat memengaruhi ukuran bayi dan juga memperumit proses persalinan.
  • Riwayat distosia bahu sebelumnya. Ibu yang pernah mengalami distosia bahu berisiko mengalaminya kembali pada kehamilan berikutnya.
  • Persalinan dengan bantuan instrumen. Penggunaan alat bantu seperti vakum atau forceps dalam persalinan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya distosia bahu.
  • Persalinan lama atau sulit. Proses persalinan yang berlangsung lebih lama dari biasanya dapat menyebabkan posisi bayi sulit keluar secara normal.

Meskipun begitu, distosia bahu juga dapat terjadi pada ibu tanpa faktor risiko sama sekali.

Ibu tak perlu khawatir, Lakukan 5 Tips ini untuk Menghadapi Rasa Takut Jelang Persalinan. 

Gejala dan Tanda Distosia Bahu

Distosia bahu biasanya baru terdeteksi saat proses persalinan berlangsung, karena bayi mengalami kesulitan untuk keluar sepenuhnya setelah kepala lahir. Beberapa tanda dan gejalanya antara lain:

  • Kepala bayi lahir tetapi bahu tertahan di dalam panggul ibu sehingga tubuh bayi sulit keluar.
  • “Turtle sign” atau tanda kura-kura, yaitu ketika kepala bayi keluar lalu tampak seperti tertarik kembali ke arah vagina karena bahu tersangkut.
  • Persalinan macet setelah kepala bayi lahir, meskipun ibu sudah mengejan dengan kuat.
  • Tenaga medis sulit membantu kelahiran meskipun sudah dilakukan manuver biasa.
  • Pada bayi, setelah lahir bisa ditemukan tanda cedera akibat distosia bahu, seperti lengan lemah (cedera saraf brakialis) atau memar pada bahu/lengan.

Cara Mengobati Distosia Bahu

Distosia bahu adalah kondisi darurat saat persalinan, sehingga penanganan cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah risiko cedera pada bayi maupun komplikasi pada ibu. Berikut beberapa langkah yang biasanya dilakukan tenaga medis:

  • Manuver McRoberts. Posisi ibu ditarik lututnya ke arah dada untuk memperlebar panggul, sehingga bahu bayi dapat keluar dengan lebih mudah.
  • Tekanan suprapubik. Tenaga medis memberikan tekanan di atas tulang kemaluan ibu untuk membantu memindahkan bahu bayi dan mempermudah persalinan.
  • Manuver rubin atau wood. Digunakan untuk memutar bahu bayi agar posisi bahu lebih sejajar dengan panggul ibu, memudahkan jalan lahir.
  • Episiotomi (pemotongan perineum). Kadang diperlukan untuk memberikan ruang tambahan agar bayi dapat lahir lebih lancar.
  • Persalinan vakum atau forceps. Dalam beberapa kasus, alat bantu lahir digunakan jika manuver manual tidak cukup efektif.
  • Kelahiran sesar darurat. Jika semua manuver gagal atau kondisi bayi/ibu memburuk, persalinan sesar darurat dapat dilakukan untuk menyelamatkan bayi.

Sebelum memutuskan untuk melakukan persalinan vakum, kenali Kelebihan dan Kekurangan Persalinan Vakum di artikel ini. 

Jika kamu sedang hamil atau merencanakan persalinan, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi, 

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Untuk menunjang kesehatan ibu dan bayi, kamu juga bisa mendapatkan berbagai produk kesehatan, vitamin, dan perlengkapan persalinan dengan mudah melalui Toko Kesehatan Halodoc. Praktis, aman, dan terpercaya!

Referensi: 
American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG). Diakses pada 2025. Shoulder Dystocia. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Shoulder Dystocia: Causes, Symptoms & Treatment.
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Shoulder Dystocia – Treatment.