Ad Placeholder Image

Faringitis Akut ICD 10: Gejala, Diagnosis, dan Kode

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   29 Mei 2026

Faringitis akut adalah radang tenggorokan yang bisa disebabkan virus atau bakteri.

Faringitis Akut ICD 10: Gejala, Diagnosis, dan KodeFaringitis Akut ICD 10: Gejala, Diagnosis, dan Kode

Faringitis Akut (ICD-10): Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Faringitis akut merupakan kondisi medis yang ditandai oleh peradangan mendadak pada saluran pernapasan bagian atas, tepatnya di area faring. Masalah kesehatan ini sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari dan menjadi salah satu alasan utama kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan primer. Identifikasi dini terhadap tanda klinis sangat penting untuk menentukan jenis penanganan yang tepat, baik untuk infeksi akibat virus maupun bakteri.

Apa Itu Faringitis Akut?

Faringitis akut adalah peradangan pada mukosa faring (tenggorokan) yang terjadi secara mendadak dan berlangsung dalam durasi singkat, biasanya kurang dari 14 hari. Dalam klasifikasi medis internasional, kondisi ini tercatat dengan kode ICD-10 J02. Penyakit ini melibatkan pembengkakan jaringan di bagian belakang tenggorokan yang memicu rasa tidak nyaman, nyeri menelan, serta sensasi kering pada saluran napas.

Peradangan ini dapat menyerang semua kelompok usia, namun lebih sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Berdasarkan klasifikasi ICD-10, faringitis akut dibedakan menjadi beberapa sub-kategori, seperti J02.0 untuk faringitis akibat bakteri Streptococcus dan J02.9 untuk faringitis akut yang tidak spesifik. Pemahaman mengenai kode ini memudahkan tenaga medis dalam mendokumentasikan data epidemiologi dan menentukan protokol terapi.

Secara patofisiologi, infeksi dimulai ketika patogen masuk melalui udara atau kontak langsung, kemudian menginvasi sel mukosa tenggorokan. Hal ini memicu respon imun tubuh yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan edema (penumpukan cairan) di area tersebut. Meskipun sering kali sembuh dengan sendirinya, penanganan yang tidak memadai pada kasus bakteri dapat memicu komplikasi sistemik.

“Faringitis akut merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang paling sering disebabkan oleh virus, namun pemeriksaan tetap diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi bakteri Group A Streptococcus.” — World Health Organization (WHO), 2023

Gejala Faringitis Akut

Gejala faringitis akut biasanya muncul secara tiba-tiba dalam 1 hingga 3 hari setelah terpapar infeksi. Tanda yang paling dominan adalah rasa nyeri hebat di tenggorokan (sore throat) yang memburuk saat menelan atau berbicara. Gejala lainnya meliputi demam, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, serta kemerahan yang jelas pada dinding faring saat dilakukan pemeriksaan mulut.

Selain nyeri lokal, penderita sering mengalami gejala penyerta yang bervariasi tergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh virus, gejala cenderung disertai batuk, pilek, suara serak, atau mata merah (konjungtivitis). Sebaliknya, infeksi bakteri cenderung menunjukkan gejala yang lebih terlokalisasi di tenggorokan tanpa disertai batuk, namun dengan demam tinggi yang mendadak.

Berikut adalah beberapa gejala umum yang sering ditemukan:

  • Nyeri tenggorokan yang menetap (odinofagia).
  • Kesulitan menelan makanan padat maupun cairan.
  • Demam dengan suhu di atas 38 derajat Celsius.
  • Sakit kepala dan kelelahan (malaise).
  • Munculnya bercak putih atau nanah (eksudat) pada amandel atau dinding tenggorokan.
  • Bau mulut (halitosis) akibat aktivitas mikroorganisme di area peradangan.

Apa Penyebab Faringitis Akut?

Penyebab faringitis akut dikategorikan menjadi dua kelompok besar, yaitu infeksi virus dan infeksi bakteri. Virus menyumbang sekitar 50% hingga 80% kasus pada orang dewasa, sedangkan bakteri menjadi penyebab signifikan pada anak-anak. Faktor lingkungan seperti paparan polusi, asap rokok, dan udara kering juga dapat memperburuk kondisi peradangan pada dinding faring.

Virus yang paling sering menyebabkan kondisi ini adalah Rhinovirus, Adenovirus, Influenza, dan Coronavirus. Pada beberapa kasus, virus Epstein-Barr yang menyebabkan mononukleosis juga bisa memicu peradangan tenggorokan yang berat. Infeksi virus biasanya bersifat self-limiting, yang berarti sistem imun tubuh mampu mengatasinya tanpa bantuan antibiotik dalam waktu beberapa hari.

1. Infeksi Bakteri

Penyebab bakteri yang paling umum adalah Group A Streptococcus (GAS) atau Streptococcus pyogenes. Infeksi ini dikenal dengan istilah “strep throat” dan memerlukan perhatian khusus karena berisiko menyebabkan komplikasi jika tidak diobati. Bakteri lain yang lebih jarang meliputi Neisseria gonorrhoeae dan Corynebacterium diphtheriae.

2. Faktor Non-Infeksi

Selain mikroorganisme, iritasi mekanis atau kimia juga bisa menjadi penyebab. Refluks asam lambung (GERD) yang naik hingga ke tenggorokan dapat menyebabkan iritasi kronis yang bermanifestasi sebagai faringitis. Penggunaan suara yang berlebihan atau alergi terhadap serbuk sari dan debu juga menjadi pemicu yang sering dilaporkan oleh penderita.

Bagaimana Diagnosis Faringitis Akut?

Diagnosis faringitis akut dilakukan melalui anamnesis (tanya jawab medis) dan pemeriksaan fisik secara mendalam pada area orofaring. Tenaga medis akan memeriksa keberadaan kemerahan, eksudat (nanah), serta pembengkakan kelenjar getah bening di area leher. Penentuan diagnosis yang akurat sangat penting untuk membedakan antara infeksi virus dan bakteri guna menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu.

Dalam praktik medis, kriteria Centor sering digunakan untuk memperkirakan kemungkinan infeksi bakteri Streptococcus. Kriteria ini menilai empat poin utama: adanya demam, tidak adanya batuk, pembengkakan kelenjar getah bening leher depan, dan adanya eksudat pada tonsil. Skor yang tinggi mengindikasikan perlunya pemeriksaan penunjang lebih lanjut untuk memastikan keberadaan bakteri.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi:

  • Rapid Antigen Detection Test (RADT): Tes cepat yang memberikan hasil dalam hitungan menit untuk mendeteksi antigen bakteri Streptococcus.
  • Kultur Tenggorokan (Throat Culture): Metode baku emas yang melibatkan pengambilan sampel usap tenggorokan untuk dibiakkan di laboratorium.
  • Tes Darah Lengkap: Dilakukan untuk melihat peningkatan sel darah putih (leukosit) yang menandakan adanya infeksi aktif.

Bagaimana Cara Mengobati Faringitis Akut?

Pengobatan faringitis akut bertujuan untuk meredakan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mencegah terjadinya komplikasi. Pendekatan terapi sangat bergantung pada agen penyebab yang diidentifikasi saat diagnosis. Untuk sebagian besar kasus yang disebabkan oleh virus, penanganan difokuskan pada terapi suportif dan perawatan di rumah tanpa penggunaan obat antimikroba spesifik.

Terapi suportif mencakup istirahat yang cukup, peningkatan asupan cairan untuk menjaga kelembapan tenggorokan, dan konsumsi makanan lunak. Berkumur dengan air garam hangat dapat membantu mengurangi pembengkakan dan meredakan rasa nyeri secara alami. Penggunaan pelembap udara (humidifier) di dalam ruangan juga disarankan untuk mencegah tenggorokan menjadi semakin kering dan teriritasi.

Manajemen obat-obatan yang umum diberikan meliputi:

  • Analgetik dan Antipiretik: Obat seperti Paracetamol atau Ibuprofen digunakan untuk meredakan nyeri tenggorokan dan menurunkan demam.
  • Antibiotik: Hanya diberikan jika diagnosis mengarah pada infeksi bakteri Streptococcus. Penisilin atau Amoksisilin biasanya menjadi pilihan pertama.
  • Kortikosteroid: Dalam kasus peradangan yang sangat berat hingga menyebabkan kesulitan menelan yang ekstrim, dokter mungkin memberikan dosis rendah steroid untuk mengurangi edema.
  • Lozenges (Permen Hisap): Membantu merangsang produksi air liur untuk melumasi tenggorokan yang meradang.

“Penggunaan antibiotik secara bijak hanya pada kasus faringitis bakterial sangat krusial untuk mencegah resistensi antimikroba di masyarakat.” — Kementerian Kesehatan RI, 2024

Pencegahan Faringitis Akut

Pencegahan faringitis akut berfokus pada pemutusan rantai penularan patogen yang menyebar melalui droplet atau kontak langsung. Menjaga kebersihan diri merupakan langkah paling efektif untuk melindungi sistem pernapasan dari invasi virus dan bakteri. Edukasi mengenai etika batuk dan bersin sangat penting diterapkan di lingkungan sekolah maupun tempat kerja yang padat penduduk.

Langkah-langkah pencegahan praktis meliputi:

  • Mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan.
  • Menghindari penggunaan peralatan makan, gelas, atau handuk secara bergantian dengan penderita.
  • Menggunakan masker di tempat umum jika sedang mengalami gejala pernapasan atau saat berada di area dengan polusi tinggi.
  • Menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi seimbang dan tidur yang cukup.
  • Menjauhi paparan asap rokok yang dapat mengiritasi lapisan mukosa tenggorokan dan melemahkan pertahanan lokal.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus radang tenggorokan bersifat ringan, penderita perlu waspada terhadap tanda-tanda bahaya (red flags) yang memerlukan intervensi medis segera. Gejala yang menetap lebih dari satu minggu meskipun sudah melakukan perawatan mandiri merupakan indikasi perlunya pemeriksaan dokter. Segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja jika ditemukan gejala yang mengkhawatirkan.

Beberapa kondisi yang mengharuskan pemeriksaan segera antara lain:

  • Kesulitan bernapas atau nafas yang terdengar berbunyi (stridor).
  • Ketidakmampuan untuk menelan air liur sehingga menyebabkan air liur menetes (drooling).
  • Nyeri tenggorokan yang sangat hebat hingga penderita tidak bisa membuka mulut secara maksimal (trismus).
  • Munculnya ruam kulit yang menyebar ke seluruh tubuh setelah demam.
  • Demam tinggi yang tidak turun dengan pemberian obat penurun panas biasa.

Kesimpulan

Faringitis akut adalah kondisi peradangan tenggorokan dengan kode ICD-10 J02 yang umumnya disebabkan oleh virus namun memerlukan perhatian medis jika dipicu oleh bakteri. Penanganan yang tepat meliputi terapi suportif untuk virus dan antibiotik spesifik untuk infeksi Streptococcus guna mencegah komplikasi seperti demam rematik. Segera lakukan konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat jika gejala tidak kunjung membaik atau muncul tanda bahaya.