Ad Placeholder Image

FIP Kucing: Kenali Ciri, Sebab, Solusi Penyakitnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 22 Juni 2026

**FIP Kucing: Wajib Tahu Gejala dan Cara Mengatasinya Kini**

FIP Kucing: Kenali Ciri, Sebab, Solusi PenyakitnyaFIP Kucing: Kenali Ciri, Sebab, Solusi Penyakitnya

DAFTAR ISI


Sebagai pemilik hewan peliharaan (pet owner), menjaga kesehatan anabul kesayangan tentu menjadi prioritas utama. Sayangnya, ada beberapa penyakit mematikan yang kerap mengintai kucing, salah satunya adalah FIP atau Feline Infectious Peritonitis. Penyakit ini sering menjadi mimpi buruk karena gejalanya yang terkadang samar pada fase awal, namun berkembang sangat progresif hingga berakibat fatal.

Mengenali ciri kucing terkena FIP sejak dini sangatlah penting agar anabul bisa mendapatkan perawatan suportif dan paliatif secepat mungkin. Penyakit ini disebabkan oleh mutasi dari Feline Enteric Coronavirus (FeCV), sebuah virus yang sebenarnya sangat umum dan biasanya hanya memicu diare ringan. Namun, ketika bermutasi di dalam tubuh kucing menjadi Feline Infectious Peritonitis Virus (FIPV), virus tersebut akan menyerang sel darah putih dan menyebar ke seluruh organ tubuh, memicu peradangan hebat.

Mengingat berbahayanya kondisi ini, kamu tidak boleh menyepelekan perubahan sekecil apa pun pada perilaku atau fisik kucing peliharaanmu. Jika kamu menyadari adanya kejanggalan, jangan ragu untuk segera konsultasi ke dokter hewan di Halodoc guna mendapatkan arahan medis awal. Selain itu, pastikan juga kamu mendukung daya tahan tubuh mereka dengan asupan yang tepat; kamu bisa beli suplemen dan vitamin kucing online di Halodoc untuk membantu menjaga vitalitasnya.

Lantas, apa saja ciri-ciri spesifik yang menunjukkan seekor kucing terkena FIP? Mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini!

Apa itu FIP pada Kucing?

Feline Infectious Peritonitis (FIP) adalah penyakit virus yang sangat fatal yang menyerang kucing. Penyakit ini sering ditemukan pada kucing yang berusia kurang dari dua tahun, meskipun kucing dewasa dan senior juga bisa terkena. FIP terjadi akibat reaksi sistem kekebalan tubuh yang tidak wajar terhadap infeksi virus corona kucing (FCoV).

Penting untuk dicatat bahwa FCoV pada kucing tidak sama dengan virus corona yang menyebabkan COVID-19 pada manusia. Virus FCoV ini hanya menular antar kucing, biasanya melalui feses yang terinfeksi di kotak pasir (litter box). Kucing yang imunitasnya rendah, mengalami stres (misalnya karena pindah rumah atau operasi), atau tinggal di lingkungan padat (seperti penampungan), memiliki risiko lebih tinggi mengalami mutasi virus ini menjadi FIP.

Ciri Kucing Terkena FIP Tipe Basah (Effusive)

FIP pada kucing dibagi menjadi dua bentuk utama, yaitu tipe basah (effusive) dan tipe kering (non-effusive). FIP basah adalah jenis yang paling sering terjadi dan berkembang dengan sangat cepat. Ciri khas utamanya adalah penumpukan cairan pada rongga tubuh.

1. Perut Buncit dan Keras (Asites)

Ciri paling menonjol dari FIP basah adalah perut kucing yang membesar secara tidak wajar. Hal ini terjadi karena cairan eksudat (cairan yang mengandung protein tinggi) menumpuk di rongga perut (abdomen). Jika ditekan perlahan, perutnya akan terasa kencang namun berisi cairan, seperti balon air.

2. Kesulitan Bernapas (Dispnea)

Selain di perut, cairan juga bisa menumpuk di rongga dada (pleural effusion). Tumpukan cairan ini akan menekan paru-paru kucing, sehingga ia kesulitan untuk mengembangkan paru-parunya dengan sempurna. Kucing mungkin akan bernapas pendek-pendek, terengah-engah, atau bernapas dengan mulut terbuka.

3. Demam yang Hilang Timbul

Kucing dengan FIP basah sering mengalami demam yang tidak merespons obat penurun panas maupun antibiotik biasa. Suhu tubuh mereka akan berfluktuasi secara tidak menentu selama berhari-hari atau berminggu-minggu.

4. Lemas dan Kehilangan Nafsu Makan

Anabul akan tampak sangat lesu, lebih sering bersembunyi, tidur sepanjang hari, dan menolak makan (anoreksia). Akibatnya, meski perutnya tampak buncit, jika kamu meraba tulang belakang atau tulang rusuknya, kucing sebenarnya mengalami penyusutan massa otot yang drastis.

Faktor Pemicu Mutasi Virus FIP
  1. Sistem Imun Lemah: Anak kucing, kucing dengan infeksi FIV/FeLV, atau kucing senior rentan mengalami mutasi virus.
  2. Stres Tinggi: Perubahan lingkungan, suara bising, atau pasca-operasi bisa memicu stres yang menurunkan imun.
  3. Kepadatan Populasi: Kucing yang hidup di cattery atau rumah dengan terlalu banyak kucing lebih mudah terpapar FCoV.

Ciri Kucing Terkena FIP Tipe Kering (Non-Effusive)

Berbeda dengan FIP basah, FIP kering tidak menyebabkan penumpukan cairan di rongga tubuh, sehingga sering kali lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk didiagnosis. Pada kasus ini, virus menyebabkan munculnya peradangan berupa benjolan (granuloma) di berbagai organ dalam tubuh seperti ginjal, hati, mata, dan otak.

1. Penurunan Berat Badan Kronis

Karena tidak ada pembesaran perut akibat cairan, penurunan berat badan (kakeksia) pada kucing dengan FIP kering akan terlihat sangat jelas. Kucing akan menjadi kurus kering, kehilangan massa otot secara progresif meskipun mungkin ia masih mau makan sedikit-sedikit.

2. Masalah pada Mata (Lesi Okular)

Virus FIP kerap menyerang mata, menyebabkan radang pada uvea (uveitis). Ciri yang bisa terlihat adalah warna mata yang berubah menjadi keruh, pendarahan di dalam bola mata, pupil yang ukurannya tidak sama (anisokoria), atau anabul tampak kesulitan melihat (kebutaan mendadak).

3. Gangguan Saraf (Neurologis)

Jika granuloma terbentuk di otak atau sumsum tulang belakang, kucing akan menunjukkan gejala neurologis. Beberapa cirinya meliputi cara berjalan yang sempoyongan (ataksia), kejang-kejang, tremor, kelumpuhan pada kaki belakang, atau perubahan perilaku seperti mendadak agresif dan linglung.

4. Penyakit Kuning (Jaundice / Ikterus)

Jika organ hati terkena imbasnya, fungsi hati akan menurun secara drastis. Hal ini ditandai dengan kulit, bagian putih mata (sklera), dan gusi kucing yang berubah warna menjadi kekuningan.

Langkah Penanganan dan Diagnosis FIP

Diagnosis FIP sering kali menjadi tantangan bagi dokter hewan karena gejalanya tumpang tindih dengan penyakit lain, terutama pada FIP kering. Dokter biasanya akan melakukan serangkaian tes, meliputi tes darah lengkap (untuk melihat rasio albumin/globulin yang rendah), tes rivalta (jika ada cairan perut), tes antibodi FCoV, hingga USG atau X-ray.

Pada masa lalu, FIP dianggap 100% mematikan tanpa adanya pengobatan yang efektif. Penanganan medis hanya sebatas perawatan suportif seperti pengeluaran cairan di perut agar kucing bisa bernapas, pemberian anti-radang (kortikosteroid), dan terapi cairan (infus). Namun, saat ini dunia kedokteran hewan telah berkembang dengan adanya uji coba pengobatan antivirus seperti GS-441524, meskipun belum legal atau tersedia di semua negara.

Studi Mengenai Mutasi FCoV dan Penyakit FIP

Journal of Feline Medicine and Surgery menerbitkan studi di tahun 2020 yang menjelaskan bahwa deteksi mutasi genetik spesifik dari Feline Coronavirus (FCoV) dapat meningkatkan akurasi diagnosis FIP.

Studi tersebut menemukan bahwa tidak semua kucing yang terpapar virus corona kucing akan mengembangkan penyakit FIP. Mutasi yang terjadi di dalam makrofag (sel kekebalan tubuh kucing) lah yang mengubah virus jinak menjadi mematikan. Oleh karena itu, pengujian PCR pada cairan asites atau jaringan granuloma jauh lebih akurat dibandingkan sekadar tes antibodi FCoV dari darah.

Jika kamu curiga kucingmu mengalami FIP, jangan memberikan obat sembarangan, terutama obat-obatan manusia yang sangat beracun bagi kucing seperti paracetamol. Segeralah mencari pertolongan medis profesional untuk memastikan diagnosis dan menekan rasa sakit yang dialami anabul.

Konsultasi dengan Dokter Hewan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Hewan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Cornell University College of Veterinary Medicine. Diakses pada 2026. Feline Infectious Peritonitis.
NCBI. Diakses pada 2026. Feline Infectious Peritonitis: A Review of Clinicopathological Changes and Diagnosis.
MSD Veterinary Manual. Diakses pada 2026. Feline Infectious Peritonitis (FIP).
American Veterinary Medical Association (AVMA). Diakses pada 2026. FAQ about Feline Infectious Peritonitis.

FAQ

1. Apakah kucing yang terkena FIP bisa disembuhkan?

Secara tradisional, FIP dianggap sebagai penyakit fatal yang tidak dapat disembuhkan. Namun, beberapa tahun terakhir terapi menggunakan antivirus seperti GS-441524 menunjukkan tingkat kesembuhan yang tinggi dalam uji klinis, meskipun aksesibilitas dan legalitas obat ini masih terbatas di berbagai negara. Terapi suportif umumnya menjadi tindakan utama yang diambil dokter hewan saat ini.

2. Apakah penyakit FIP pada kucing menular ke manusia atau anjing?

Tidak. Virus penyebab FIP (mutasi dari Feline Coronavirus) sangat spesifik untuk spesies kucing. Virus ini tidak bersifat zoonosis, yang artinya tidak dapat menular ke manusia, anjing, atau hewan peliharaan dari spesies lain.

3. Berapa lama kucing bisa bertahan hidup setelah didiagnosis ciri kucing terkena FIP?

Harapan hidup sangat bervariasi tergantung pada jenis FIP. FIP basah sangat agresif; tanpa intervensi, kucing biasanya hanya mampu bertahan beberapa hari hingga minggu. FIP kering cenderung berkembang lebih lambat, di mana kucing bisa bertahan selama beberapa bulan, meskipun kualitas hidupnya akan terus menurun seiring berjalannya waktu.

4. Bagaimana cara memastikan diagnosis FIP?

Tidak ada satu tes tunggal yang secara pasti mendiagnosis FIP, kecuali melalui biopsi jaringan (histopatologi). Dokter hewan akan menyimpulkan diagnosis melalui gabungan temuan klinis, riwayat kucing, tes darah (tingkat globulin yang tinggi), analisis cairan dari rongga tubuh (tes rivalta), dan terkadang PCR untuk mendeteksi FCoV di dalam sel darah putih.