• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fistula Trakea Esofagus pada Bayi Sebabkan Gizi Buruk?

Fistula Trakea Esofagus pada Bayi Sebabkan Gizi Buruk?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Trakea dan esofagus sama-sama berbentuk tabung dan berfungsi untuk menyalurkan atau menghubungkan. Bedanya, trakea menghubungkan tenggorokan ke paru-paru, sedangkan esofagus menghubungkan kerongkongan ke rongga perut atau lambung. Karena fungsinya berbeda, trakea dan esofagus haruslah terpisah dan tidak terhubung. Jika terhubung, kondisi ini disebut fistula trakea esofagus

Fistula trakea esofagus sebenarnya adalah kelainan bawaan lahir, akibat tidak terpisah sempurnanya trakea dan esofagus selama dalam kandungan. Kondisi ini tentu hal yang serius jika tidak ditangani, karena dapat menyebabkan perpindahan cairan yang tidak semestinya dan meningkatkan risiko pneumonia atau paru-paru basah.

Baca juga: 5 Kelainan Bawaan pada Bayi

Benarkah Fistula Trakea Esofagus Sebabkan Gizi Buruk?

Gejala umum yang mengganggu ketika bayi mengalami fistula trakea esofagus adalah sering tersedak ketika menyusu. Tak jarang juga hal ini membuatnya jadi muntah atau jadi kesulitan bernapas karena saluran napas dan makan menyatu. Akibatnya, selain jadi rewel, bayi dengan fistula trakea esofagus juga terancam mengalami gizi buruk. 

Selain itu, bayi yang mengidap fistula trakea esofagus juga biasanya memiliki masalah pencernaan lainnya, seperti hernia hiatus, atresia duodenum, atau anus imperforata. Bicarakan dengan dokter di aplikasi Halodoc jika bayi mengalami kesulitan menyusu atau sering tersedak. Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis.

Perlu diketahui bahwa pada beberapa kasus, fistula trakea esofagus juga dapat menyebabkan komplikasi serius. Misalnya, gangguan pernapasan akut, abses paru, bronkiektasis, kegagalan pernapasan, hingga kematian. Oleh karena itu, kondisi ini sebaiknya segera ditangani. 

Baca juga: Awas, Ini Bahaya Gangguan Menelan Pada Anak

Diagnosis dan Pengobatan untuk Fistula Trakea Esofagus

Untuk memastikan diagnosis fistula trakea esofagus, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan memasukkan selang dari mulut hingga ke dalam perut. Hal ini dapat memungkinkan dokter untuk mengetahui jenis dan lokasi fistula, melalui gambar pencitraan yang diambil.

Jika sudah dipastikan diagnosisnya, barulah dokter memutuskan tindakan pengobatan apa yang bisa dilakukan. Pada beberapa kasus yang parah, harapan hidup bayi dengan fistula trakea esofagus bisa saja sangat kecil, jika tidak segera dilakukan operasi untuk memisahkan trakea dan esofagusnya. 

Namun, meski operasi sudah dilakukan, bentuk esofagus biasanya masih perlu diperbaiki lebih lanjut agar tetap terpisah dari trakea. Di sisi lain, operasi untuk mengatasi fistula trakea esofagus ini juga dapat menimbulkan risiko komplikasi, berupa:

  • Striktur akibat erosi asam lambung esofagus yang pendek.
  • Kebocoran isi pada titik anastomosis.
  • Fistula kambuh kembali.
  • Munculnya Gastroesophageal reflux disease (GERD).
  • Disfagia atau kesulitan menelan.
  • Gejala mirip asma, seperti batuk berkepanjangan atau mengi.
  • Infeksi dada berulang.
  • Tracheomalacia.

Baca juga: Kenali 9 Tanda dan Gejala Epiglotis, Penyakit yang Sebabkan Sesak Napas

Operasi untuk menangani fistula trakea esofagus juga biasanya tidak dapat langsung dilakukan, jika bayi terlahir prematur, memiliki cacat lahir lain, atau mengalami komplikasi berupa pneumonia aspirasi. Belum lagi, operasi ini hanya bisa dilakukan di rumah sakit tertentu, yang memiliki fasilitas perawatan gawat darurat neonatal.

Namun, penanganan pertama yang bisa dilakukan untuk menghindari risiko komplikasi pneumonia aspirasi, agar bayi bisa dioperasi, adalah:

  • Sangga bagian belakang kepala bayi, agar refluks asam lambung tidak naik dan masuk ke paru-paru.
  • Gunakan kateter pengisap untuk mengeluarkan cairan dan liur yang mungkin mengalir masuk ke dalam paru-paru.
  • Beri makanan lewat selang khusus bila diperlukan.

Referensi:
The University of Chicago. Diakses pada 2020. Tracheoesophageal Fistula.
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Tracheoesophageal Fistula and Esophageal Atresia.