• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gangguan Disosiatif Bisa Mendorong Pikiran Menyakiti Diri

Gangguan Disosiatif Bisa Mendorong Pikiran Menyakiti Diri

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Health Service, disebutkan kalau gangguan disosiatif adalah gangguan kepribadian yang kerap dipicu oleh pengalaman traumatis. 

Orang-orang dengan kondisi gangguan disosiatif terkadang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Karena itu, mereka yang didiagnosis terkena gangguan disosiatif butuh penanganan profesional medis. Informasi selengkapnya mengenai gangguan disosiatif bisa dibaca di bawah ini!

Mengenal Gangguan Disosiatif

Gangguan disosiatif mengacu pada kondisi ketika seseorang merasa terputus dengan lingkungannya. Kondisi ini bervariasi tingkat keparahannya tergantung gangguan stres pascatrauma yang dialami. 

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, pengalaman traumatis bisa menjadi pemicu terjadinya gangguan disosiatif. Mulai dari kekerasan ekstrem, perang, penculikan, atau pelecehan anak-anak.

Dalam kasus-kasus ini, gangguan disosiatif terjadi sebagai reaksi alami terhadap perasaan tentang pengalaman yang tidak dapat dikendalikan individu tersebut. Dan ini adalah cara untuk melepaskan diri dari kengerian pengalaman masa lalu.

Baca juga: Heboh Dekrarasi Keraton Agung Sejagat, Mungkinkah Tanda Delusi?

Malah, kondisi disosiatif ini bisa dibilang strategi untuk menenangkan diri dan membantu seseorang mengatasi saat-saat stresnya. Kalau dilihat dari sisi neurologis, kondisi gangguan disosiatif bisa jadi melibatkan ketidakseimbangan dalam bahan kimia otak.

Menurut National Alliance on Mental Illness (NAMI),  gangguan disosiatif dapat diturunkan ke dalam beberapa bentuk:

  1. Amnesia disosiatif

Orang yang lupa informasi tentang diri mereka sendiri atau hal-hal yang terjadi pada mereka.

  1. Gangguan depersonalisasi-derealization

Ini dapat melibatkan pengalaman di luar tubuh, perasaan tidak nyata, dan ketidakmampuan untuk mengenali citra seseorang di cermin. Mungkin juga ada perubahan dalam sensasi tubuh dan berkurangnya kemampuan untuk bertindak pada tingkat emosional.

  1. Gangguan identitas disosiatif

Seseorang menjadi bingung tentang siapa mereka dan merasa seperti orang asing bagi diri mereka sendiri. Mereka mungkin berperilaku berbeda pada waktu yang berbeda atau menulis dengan tulisan tangan yang berbeda. Ini kadang-kadang dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda.

Baca juga: Ini Dampak yang Terjadi pada Anak yang Terpisah dari Orangtua

Uniknya, dalam beberapa budaya, orang berusaha mencapai depersonalisasi melalui praktik keagamaan atau meditasi. Dan ini dinilai bukan gangguan. Jika kamu butuh informasi lebih jelas mengenai gangguan disosiatif, bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc.   

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk bumil.  Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor bumil bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Gejala Gangguan Disosiatif

Ada beberapa tanda yang menjadi gejala awal seseorang mengalami gangguan disosiatif. Beberapa adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan suasana hati yang cepat.
  2. Kesulitan mengingat detail pribadi.
  3. Pelupa tentang hal-hal yang telah dikatakan atau lakukan.
  4. Perilaku atau kemampuan yang berubah (identitas yang berubah).
  5. Depresi, kecemasan, atau serangan panik.
  6. Pikiran bunuh diri atau melukai diri sendiri.
  7. Penyalahgunaan obat-obatan.

Untuk anak-anak beberapa gejalanya bisa jadi sedikit berbeda, mulai dari tampak tenang, sering menatap ke luar jendela, punya teman imajiner, lupa kalau sudah mengatakan atau melakukan sesuatu, memiliki ADHD. atau ketidakmampuan belajar lainnya.

Diagnosis gangguan disosiatif harus dilakukan oleh profesional medis. Orang yang diduga mengidap kondisi ini perlu menginformasikan riwayat kesehatannya secara detail. Profesional medis mungkin perlu memeriksa sampel darah untuk menyingkirkan penyakit atau kondisi medis lainnya sebagai penyebab gangguan disosiatif tersebut. 

Kemudian, akan ada pemeriksaan EEG untuk mengukur gelombang otak, untuk menyingkirkan beberapa jenis gangguan kejang yang kadang-kadang dapat menyebabkan disosiatif. Dokter kemudian dapat merujuk ke spesialis kesehatan mental, bertemu psikiater atau psikolog. Dari ahli kejiwaan iniakan diketahui peristiwa apa yang memicu kamu mengalami kondisi-kondisi seperti ini. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. What Is Dissociation?
National Health Service. Diakses pada 2020. Dissociative disorders.