• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Heboh Deklarasi Keraton Agung Sejagat, Mungkinkah Tanda Delusi?

Heboh Deklarasi Keraton Agung Sejagat, Mungkinkah Tanda Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Media sosial tengah dibuat heboh dengan sebuah deklarasi dari pasangan yang mengaku suami istri asal Purworejo, Jawa Tengah, Toto Santoso dan Fanni Aminadia. Mereka membuat heboh dan meresahkan warga Purworejo, dengan mengumumkan berdirinya kerajaan baru bernama Keraton Agung Sejagat, yang mereka pimpin.

Meski banyak warganet yang menyebut Toto dan Fanni hanya berhalusinasi, hingga saat artikel ini ditulis, deklarasi kerajaan tersebut sedang diselidiki lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Khususnya dalam aspek sejarah, legalitas, hingga motif di baliknya. Namun, jika mengesampingkan aspek-aspek tersebut dan menyoroti soal kesehatan mental, hal ini sepertinya menarik untuk dibahas.

Pasalnya, jauh sebelum kabar munculnya Keraton Agung Sejagat, Indonesia juga sempat dihebohkan dengan berbagai kasus tentang berdirinya perkumpulan mirip sekte, dengan pengikut yang jumlahnya cukup banyak. Motifnya? Bermacam-macam. Mulai dari faktor ekonomi, hingga gangguan kejiwaan.

Baca juga: Manja dan Delusional, Waspada Sindrom Cinderella Complex

Sebut saja Sensen Komara, pria asal Garut, Jawa Barat, yang pada 2012 lalu viral karena mengaku sebagai nabi. Setelah diusut, Sensen ternyata didiagnosis mengidap gangguan kejiwaan, lalu mendapat hukuman karena dianggap telah menistakan agama. Kasus lain yang mungkin masih hangat di telinga adalah munculnya Kerajaan Ubur-Ubur di Serang, Banten, pada 2018 lalu.

Kerajaan yang konon dipimpin oleh seorang ratu bernama Aisyah Tusalamah itu akhirnya terungkap sebagai delusi belaka. Setelah menjalani pemeriksaan, Aisyah didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, sehingga tidak mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Nah, berdasarkan contoh kasus yang sudah-sudah, apakah Keraton Agung Sejagat juga muncul sebagai delusi dari seseorang? Kebenarannya hingga kini belum terungkap.

Apa Itu Delusi?

Delusi adalah gangguan mental serius yang membuat pengidapnya mengalami ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi, dan emosi, dengan realita atau kenyataan yang sebenarnya. Pengidap gangguan delusi kerap meyakini hal-hal yang sebenarnya tidak nyata atau tidak ada.

Baca juga: Sering Tertukar, Inilah Bedanya Psikosis dan Skizofrenia

Mereka juga biasanya akan tetap berpegang teguh pada pemikirannya itu, meski sudah terbukti bahwa yang diyakininya berbeda dengan kenyataan. Hal inilah yang mungkin menjadi penyebab mengapa ada orang yang mengaku dan meyakini bahwa dirinya adalah nabi, raja, atau ratu. Berdasarkan gejalanya, gangguan delusi terbagi menjadi beberapa jenis atau waham, yaitu:

1. Grandiose (Waham Kebesaran)

Delusi jenis ini membuat pengidapnya merasa memiliki rasa kekuasaan, kecerdasan, kedudukan sosial yang paling tinggi, atau meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan yang spesial nan hebat. Padahal, kenyataannya tidaklah begitu. Pengidap delusi jenis ini juga kerap meyakini bahwa dirinya memiliki relasi khusus dengan sosok hebat, seperti presiden, selebriti, bahkan nabi.

2. Erotomania

Gangguan delusi jenis ini ditandai dengan keyakinan pengidapnya bahwa dirinya sangat dicintai oleh seseorang. Pada kebanyakan kasus, orang yang menjadi objek delusi mereka adalah orang-orang terkenal atau memiliki kedudukan penting. Gangguan ini juga membuat pengidapnya kerap menguntit dan berusaha melakukan kontak dengan objek delusinya itu.

3. Persecutory (Waham Kejar)

Persecutory atau waham kejar membuat pengidapnya merasa terancam dan takut berlebihan, karena meyakini bahwa ada orang yang memata-matai, menganiaya, atau berencana mencelakainya.

4. Waham Cemburu

Gangguan delusi jenis ini ditandai dengan keyakinan pengidapnya bahwa pasangannya tidak setia, bahkan tanpa ada bukti apapun. 

5. Campuran

Seperti namanya, gangguan delusi campuran merupakan gabungan dua atau lebih jenis delusi.

Baca juga: Melihat yang Tidak Nyata Bisa Jadi Tanda Psikosis

Itulah beberapa jenis delusi yang banyak terjadi. Pada beberapa kasus, gejala halusinasi juga dapat muncul. Selain itu, delusi juga dapat dipicu oleh penyakit lain seperti skizofrenia, gangguan medis, atau kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, dokter juga biasanya akan mengevaluasi kemungkinan penyakit lain, ketika memeriksa pengidap gangguan delusi.

Jadi, jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala yang mirip seperti gangguan delusi, jangan ragu untuk meminta bantuan ahli, seperti psikolog atau psikiater. Sebagai langkah awal, kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog di aplikasi Halodoc lewat chat. Namun sebaiknya, kamu buat janji saja dengan psikolog atau psikiater di rumah sakit andalanmu, agar bisa dilakukan pemeriksaan secara langsung.

Sama halnya seperti penyakit pada fisik, gangguan mental juga merupakan suatu penyakit, yang bisa disembuhkan dengan bantuan tenaga ahli. Apalagi, pengidap gangguan delusi rentan berperilaku yang membahayakan dirinya. Jadi, ketika ada orang terdekat yang menunjukkan gejala kondisi ini, rangkul dan ajak ia untuk mencari bantuan medis secepatnya.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Mental Health and Delusional Disorder.
Healthline. Diakses pada 2020. Psychosis.