Ad Placeholder Image

Gaya Renang Kupu Kupu: Kuasai Renang Bak Lumba-Lumba

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Tips Belajar Gaya Renang Kupu Kupu untuk Pemula

Gaya Renang Kupu Kupu: Kuasai Renang Bak Lumba-LumbaGaya Renang Kupu Kupu: Kuasai Renang Bak Lumba-Lumba

DAFTAR ISI


Berenang merupakan salah satu olahraga kardiovaskular terbaik yang bisa kamu lakukan. Olahraga air ini melibatkan hampir seluruh otot tubuh tanpa memberikan beban atau tekanan berlebih pada persendian (low-impact), sehingga sangat aman untuk berbagai kelompok usia. Di antara semua gaya renang yang ada, gaya kupu-kupu sering kali dianggap sebagai gaya yang paling menantang, menguras energi, sekaligus paling indah untuk dilihat.

Bagi kamu yang baru mendalami dunia olahraga air, mungkin sering mendengar berbagai istilah gaya renang. Fakta menariknya, renang gaya kupu-kupu disebut juga dengan nama gaya lumba-lumba (dolphin stroke). Penamaan ini bukan tanpa alasan, melainkan sangat berkaitan erat dengan teknik gerakan tubuh bagian bawah yang menyerupai mamalia laut tersebut saat berenang membelah air.

Menguasai gaya kupu-kupu tidak hanya memberikan kepuasan tersendiri, tetapi juga membawa segudang manfaat luar biasa bagi kesehatan jantung, paru-paru, serta pembentukan postur tubuh. Tingkat kesulitan yang tinggi pada gaya ini sebanding dengan pembakaran kalori dan pembentukan massa otot yang dihasilkannya.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai asal-usul, manfaat medis, teknik dasar, hingga cara mencegah cedera saat berenang gaya kupu-kupu? Berikut ulasan lengkapnya!

Sejarah dan Asal-Usul Gaya Kupu-Kupu

Gaya kupu-kupu terbilang sebagai gaya renang yang paling “muda” dibandingkan gaya bebas, gaya punggung, maupun gaya dada. Pada awal tahun 1930-an, gaya ini sebenarnya terlahir sebagai hasil modifikasi atau inovasi dari gaya dada (gaya katak). Beberapa perenang profesional pada masa itu menyadari bahwa pemulihan lengan (arm recovery) di atas permukaan air ternyata jauh lebih cepat dan mengurangi hambatan air (drag) dibandingkan memajukan lengan di bawah air seperti pada gaya dada klasik.

Pada awalnya, gerakan lengan yang memutar di atas air ini masih dikombinasikan dengan tendangan kaki gaya dada (tendangan katak). Namun, seiring berjalannya waktu, para pelatih dan ahli biomekanik olahraga menyadari bahwa tendangan dada tidak cukup efisien untuk mengimbangi kecepatan gerakan lengan tersebut. Dari sinilah kemudian diciptakan inovasi tendangan baru yang menggerakkan kedua kaki secara bersamaan ke atas dan ke bawah.

Pada tahun 1952, Federasi Renang Internasional (FINA) akhirnya mengakui gaya kupu-kupu sebagai gaya renang kompetitif yang terpisah dari gaya dada. Sejak saat itu, gaya ini terus disempurnakan hingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang pada kompetisi Olimpiade modern.

Mengapa Renang Gaya Kupu-Kupu Disebut Juga dengan Nama Gaya Lumba-Lumba?

Banyak pemula di kolam renang yang bertanya-tanya, apa sebutan lain dari gaya ini? Dalam dunia akuatik, renang gaya kupu-kupu disebut juga dengan nama gaya lumba-lumba (dolphin stroke) atau tendangan lumba-lumba (dolphin kick).

Istilah “kupu-kupu” sendiri diambil dari gerakan kedua lengan yang diayunkan secara bersamaan keluar dari air dan masuk kembali ke depan secara simetris, mengepak menyerupai sayap kupu-kupu yang sedang terbang. Gerakan lengan ini membutuhkan mobilitas bahu dan kekuatan otot punggung (latissimus dorsi) yang sangat prima.

Sementara itu, istilah “gaya lumba-lumba” merujuk pada teknik gerakan tubuh bagian bawah. Alih-alih menendang secara bergantian seperti gaya bebas atau melebar seperti gaya dada, perenang harus merapatkan kedua kakinya dan menggerakkannya naik-turun secara bersamaan dan bergelombang. Gerakan undulasi (bergelombang) ini dimulai dari dada, mengalir ke pinggul, hingga berakhir pada lecutan ujung kaki, persis seperti cara lumba-lumba menggunakan ekornya untuk melesat cepat di dalam laut.

Manfaat Renang Gaya Kupu-Kupu bagi Kesehatan

Karena membutuhkan tenaga yang luar biasa besar, gaya lumba-lumba atau kupu-kupu ini menawarkan ragam manfaat kesehatan yang signifikan, di antaranya:

1. Membangun Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas dan Inti (Core)

Gaya kupu-kupu menuntut kedua lengan untuk menarik air secara bersamaan dan mengangkat tubuh bagian atas keluar dari air untuk mengambil napas. Hal ini secara intens melatih otot dada (pectoralis), otot punggung atas dan bawah, bahu (deltoid), serta otot lengan (bisep dan trisep). Selain itu, gerakan gelombang lumba-lumba memaksa otot perut (core) untuk bekerja ekstra keras sebagai pusat stabilisator tubuh.

2. Pembakaran Kalori yang Maksimal

Bagi kamu yang sedang dalam program manajemen berat badan, gaya ini adalah pilihan yang sempurna. Dibandingkan gaya dada atau gaya bebas santai, gaya kupu-kupu membakar kalori paling banyak. Berenang gaya kupu-kupu selama 30 menit dapat membakar sekitar 400 hingga 500 kalori, tergantung pada intensitas dan berat badan individu.

3. Meningkatkan Kapasitas Paru-paru dan Kesehatan Jantung

Pengambilan napas pada gaya kupu-kupu sangat terbatas dan harus tersinkronisasi sempurna dengan siklus ayunan lengan. Kondisi ritmis ini melatih efisiensi sistem pernapasan dan memperbesar kapasitas vital paru-paru. Jantung juga memompa darah lebih cepat untuk menyuplai oksigen ke seluruh otot yang bekerja serentak, sehingga kesehatan kardiovaskular meningkat tajam.

4. Meningkatkan Kelenturan Tubuh (Fleksibilitas)

Gerakan mengalun layaknya lumba-lumba memaksa tulang belakang, pinggul, dan persendian bahu untuk mencapai rentang gerak (Range of Motion) yang maksimal. Latihan rutin akan membuat tubuhmu lebih lentur, memperbaiki postur keseharian, serta mengurangi risiko masalah punggung atau kifosis (postur bungkuk).

Teknik Dasar Melakukan Gaya Kupu-Kupu

Agar dapat mempraktikkan gaya yang juga disebut gaya lumba-lumba ini dengan aman dan efisien, kamu perlu memahami empat fase gerakan utamanya:

  • Fase Menangkap (Catch) dan Menarik (Pull): Posisi awal lengan lurus ke depan. Telapak tangan menghadap sedikit ke luar, lalu tarik air ke bawah dan ke belakang tubuh secara bersamaan membentuk pola lubang kunci (keyhole) di bawah air.
  • Fase Mendorong (Push): Lanjutkan tarikan air hingga melewati pinggul, dorong air ke belakang dengan kuat untuk mendapatkan momentum dorongan maju.
  • Fase Pemulihan (Recovery): Angkat kedua lengan secara bersamaan keluar dari permukaan air. Lempar ke depan dengan cepat di atas air hingga tangan kembali masuk ke titik awal.
  • Fase Tendangan Lumba-Lumba (Dolphin Kick): Jaga kedua kaki tetap rapat. Lakukan gerakan cambukan dari pangkal paha, bukan dari lutut. Dalam satu siklus putaran lengan, idealnya terdapat dua kali tendangan kaki: satu tendangan kecil saat lengan masuk ke air, dan satu tendangan besar saat lengan mendorong air di fase akhir.
Tips Memulai Belajar Gaya Kupu-Kupu
  1. Latih tendangan lumba-lumba (dolphin kick) terlebih dahulu menggunakan papan pelampung (kickboard).
  2. Biasakan tubuh bergerak meliuk (undulasi) dari dada hingga ujung kaki.
  3. Latih ayunan lengan satu per satu (gaya kupu-kupu satu lengan) untuk melatih koordinasi napas sebelum menggunakan kedua lengan sekaligus.

Risiko Cedera dan Cara Mencegahnya

Mengingat intensitasnya yang sangat tinggi, berenang gaya kupu-kupu memiliki risiko cedera jika dilakukan dengan teknik yang keliru atau tanpa pemanasan yang memadai. Area yang paling rentan terkena cedera adalah bahu, punggung bawah, dan lutut.

Kondisi yang sering dialami oleh perenang adalah swimmer’s shoulder, yaitu peradangan pada tendon (tendinitis) di area rotator cuff akibat gerakan memutar bahu yang berulang-ulang dengan resistensi air yang berat. Gejalanya meliputi nyeri tajam saat mengangkat lengan dan pegal yang tak kunjung hilang.

Untuk mendukung performa otot dan persendian saat rutin berlatih renang, pastikan asupan nutrisi harianmu terpenuhi. Jika dirasa kurang, kamu bisa beli suplemen, beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk menjaga kesehatan sendi dan otot.

Di sisi lain, gaya lumba-lumba juga memaksa punggung bawah melengkung ekstrim (hiperekstensi) berulang kali. Jika otot inti (core) tidak cukup kuat, hal ini bisa memicu nyeri punggung bawah (low back pain). Oleh karena itu, latihan fisik di darat (dryland training) seperti plank dan latihan beban ringan sangat disarankan untuk memperkuat fondasi tubuh.

Penting untuk diingat, apabila kamu mengalami kram otot perut yang parah, nyeri bahu menetap, atau masalah tulang belakang yang tak membaik setelah beristirahat dari renang, jangan tunda untuk memeriksakan diri. Segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja agar mendapatkan diagnosis medis yang akurat serta penanganan fisioterapi yang tepat.

Studi Mengenai Aktivasi Otot pada Gaya Kupu-Kupu

Journal of Sports Sciences menerbitkan studi yang menjelaskan biomekanik dan aktivasi elektromiografi (EMG) otot selama berenang gaya kupu-kupu. Studi tersebut membuktikan bahwa gaya ini menghasilkan aktivasi puncak (peak activation) tertinggi pada otot deltoid anterior (bahu depan) dan latissimus dorsi (punggung) dibandingkan gaya renang lainnya.

Temuan ini menegaskan mengapa perenang gaya kupu-kupu rata-rata memiliki postur tubuh bagian atas yang bidang dan kuat (bentuk tubuh V). Namun, studi ini juga menekankan pentingnya fleksibilitas persendian bahu untuk mencegah penumpukan asam laktat dan robekan otot mikro selama fase pemulihan lengan (arm recovery phase) di atas permukaan air.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Federation Internationale de Natation (FINA). Diakses pada 2024. Swimming Rules.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Aerobic exercise: Top 10 reasons to get physical.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. The Best Swimming Strokes for Your Body and Health.
Journal of Sports Sciences. Diakses pada 2024. Muscle activation during the butterfly stroke.
U.S. Masters Swimming. Diakses pada 2024. Butterfly Stroke: Technique, Drills, and Benefits.

FAQ

1. Renang gaya kupu-kupu disebut juga dengan nama apa?

Dalam olahraga renang, gaya kupu-kupu (butterfly stroke) disebut juga dengan nama gaya lumba-lumba atau dolphin stroke. Hal ini karena gerakan tubuh bagian bawah saat menendang air (dolphin kick) sangat mirip dengan kibasan ekor lumba-lumba.

2. Apakah gaya kupu-kupu aman untuk pemula?

Gaya ini tidak disarankan sebagai gaya pertama yang dipelajari oleh pemula mutlak. Dibutuhkan kekuatan fisik yang baik, koordinasi pernapasan yang tepat, dan penguasaan teknik dasar air. Sebaiknya pelajari gaya bebas atau gaya dada terlebih dahulu sebelum beralih ke gaya lumba-lumba.

3. Berapa banyak kalori yang bisa dibakar dengan berenang gaya kupu-kupu?

Sebagai gaya renang yang paling intens, gaya kupu-kupu mampu membakar antara 400 hingga 500 kalori per 30 menit. Angka ini bisa lebih tinggi atau lebih rendah bergantung pada berat badan, laju metabolisme, dan seberapa cepat intensitas renang yang dilakukan.

4. Otot apa saja yang paling dominan bekerja saat menggunakan gaya ini?

Hampir seluruh otot tubuh bekerja, namun fokus utama beban berada pada otot lengan (bisep, trisep), otot bahu (deltoid), otot dada (pectoralis), otot punggung (latissimus dorsi), serta otot perut atau core yang berfungsi menjaga undulasi (gelombang tubuh) di dalam air.