
Gejala Penyakit Malaria Berdasarkan Jenis Plasmodium yang Menginfeksi
“Secara umum, penyakit malaria dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti menggigil, demam, dan mengeluarkan keringat yang banyak. Namun, ada beberapa perbedaan gejala malaria berdasarkan plasmodium yang menginfeksi.”

DAFTAR ISI
- Mengenal Plasmodium malariae dan Karakteristiknya
- Gejala Khas Infeksi Plasmodium malariae
- Komplikasi Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
- Siklus Hidup Parasit di Dalam Tubuh
- Metode Diagnosis Medis
- Pilihan Penanganan dan Pengobatan Medis
- Langkah Pencegahan Penularan Malaria
- Studi Terkait
- Tanya HILDA Dulu!
- FAQ
Malaria adalah salah satu penyakit infeksi menular yang paling banyak disorot di dunia, terutama di negara-negara beriklim tropis dan subtropis seperti Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh parasit bersel tunggal dari genus Plasmodium, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Terdapat lima jenis spesies Plasmodium yang secara alami dapat menginfeksi manusia, yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, dan Plasmodium knowlesi. Masing-masing spesies ini memiliki karakteristik, tingkat keparahan, dan pola gejala yang berbeda-beda.
Meskipun Plasmodium falciparum dikenal sebagai penyebab malaria paling mematikan dan Plasmodium vivax merupakan yang paling tersebar luas, Plasmodium malariae memiliki keunikan biologis dan klinis yang tidak boleh diabaikan. Parasit jenis ini menyebabkan suatu kondisi yang secara medis dikenal sebagai “malaria kuartana” (quartan malaria). Hal ini merujuk pada siklus demam spesifik yang berulang setiap 72 jam atau pada hari keempat. Walaupun secara umum dianggap tidak seganas infeksi falciparum, infeksi oleh P. malariae membawa tantangan tersendiri bagi dunia medis karena kemampuannya untuk bertahan hidup di dalam tubuh penderita selama bertahun-tahun, bahkan hingga puluhan tahun, tanpa menimbulkan gejala yang disadari (asimtomatik).
Menangani penyakit malaria bukanlah perkara yang bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan ketepatan dalam diagnosis jenis parasit yang menginfeksi agar dokter dapat memberikan terapi obat antimalaria yang paling efektif. Jika dibiarkan tanpa pengobatan yang tuntas, parasit ini dapat memicu respons imun yang merusak organ tubuh, terutama ginjal. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat luas untuk memahami bagaimana penyakit ini menyerang, apa saja gejala yang ditimbulkan, serta langkah-langkah medis yang perlu diambil.
Bagi kamu yang sering bepergian ke daerah endemik malaria atau merasakan keluhan kesehatan pasca perjalanan, sangat krusial untuk segera melakukan deteksi dini. Yuk, simak ulasan mendalam mengenai Plasmodium malariae, mulai dari gejala, siklus hidup parasit, hingga penanganan medis yang tepat di bawah ini!
Mengenal Plasmodium malariae dan Karakteristiknya
Plasmodium malariae merupakan salah satu patogen penyebab malaria yang pertama kali diamati oleh ilmuwan Alphonse Laveran pada tahun 1881. Berbeda dengan spesies Plasmodium lainnya, parasit ini memiliki siklus reproduksi aseksual di dalam sel darah merah (eritrositik) yang memakan waktu paling lama, yakni sekitar 72 jam. Lamanya siklus ini berdampak langsung pada pola demam penderita, di mana puncak demam akan terjadi setiap tiga hari sekali. Sebagai perbandingan, infeksi P. falciparum atau P. vivax biasanya memicu siklus demam setiap 48 jam (malaria tertiana).
Penyebaran parasit ini tercatat cukup luas secara global, mencakup wilayah Amerika Selatan, Asia Tenggara, sub-Sahara Afrika, hingga pulau-pulau di Pasifik bagian barat. Di Indonesia, kasus malaria akibat P. malariae umumnya ditemukan beriringan (koinfeksi) dengan spesies lain atau di daerah-daerah terpencil bagian timur Indonesia seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Walaupun persentase kasusnya jauh lebih kecil dibandingkan P. falciparum, kemampuan parasit ini untuk menyebabkan infeksi kronis menjadikannya ancaman kesehatan masyarakat yang tersembunyi. Parasit ini cenderung menginfeksi sel darah merah (eritrosit) yang sudah matang atau lebih tua, sehingga tingkat kepadatannya di dalam aliran darah (parasitemia) biasanya lebih rendah dibandingkan infeksi malaria jenis lainnya.
Gejala Khas Infeksi Plasmodium malariae
Masa inkubasi, yaitu waktu dari saat gigitan nyamuk infektif hingga munculnya gejala pertama, untuk P. malariae adalah yang paling lama di antara semua jenis malaria pada manusia, rata-rata berkisar antara 18 hingga 40 hari. Bahkan, dalam beberapa kasus, masa inkubasi bisa memakan waktu berbulan-bulan. Ketika gejala akhirnya muncul, penderita akan mengalami serangan malaria klasik yang terbagi menjadi tiga fase utama:
1. Fase Dingin (Cold Stage)
Fase ini ditandai dengan rasa kedinginan yang amat sangat, disertai dengan tubuh yang menggigil hebat. Bibir dan jari-jari mungkin tampak pucat atau kebiruan (sianosis). Fase ini umumnya berlangsung selama 15 hingga 60 menit. Penderita akan merasa butuh selimut berlapis-lapis namun tetap merasa kedinginan.
2. Fase Panas (Hot Stage)
Setelah menggigil mereda, suhu tubuh akan melonjak drastis, sering kali mencapai 40 derajat Celcius atau lebih. Kulit penderita akan terasa panas dan kering saat disentuh, wajah memerah, dan sering disertai dengan sakit kepala yang berdenyut hebat, mual, muntah, serta nyeri sendi dan otot di sekujur tubuh. Fase panas ini dapat berlangsung selama 2 hingga 6 jam.
3. Fase Berkeringat (Sweating Stage)
Puncak serangan diakhiri dengan fase di mana suhu tubuh mulai turun secara drastis kembali ke angka normal atau bahkan di bawah normal. Penderita akan mengeluarkan keringat yang sangat banyak hingga membasahi pakaian dan tempat tidur. Setelah fase ini, penderita biasanya merasa sangat kelelahan dan lemas, namun merasa kondisinya jauh lebih baik hingga siklus demam berikutnya terjadi.
Pada malaria kuartana akibat P. malariae, siklus tiga fase di atas akan berulang dengan interval waktu 72 jam secara presisi. Jika kamu mulai merasakan gejala penyakit malaria setelah bepergian dari luar kota, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri.
Faktor Pemicu dan Risiko Penularan Malaria
- Tinggal atau sering bepergian ke wilayah endemik malaria (seperti Papua, pedalaman Kalimantan, dan bagian timur Indonesia lainnya).
- Beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan pada malam hari, mengingat nyamuk Anopheles sangat aktif menggigit mulai dari senja hingga fajar.
- Kurangnya penggunaan kelambu berinsektisida saat tidur di daerah rawan malaria.
- Memiliki riwayat menerima transfusi darah yang tidak melalui proses skrining ketat (parasit ini dapat bertahan di kantong darah).
Komplikasi Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Meskipun P. malariae jarang menyebabkan malaria berat (seperti malaria serebral yang mematikan akibat P. falciparum), infeksi kronis oleh parasit ini dapat membawa dampak jangka panjang yang sangat merugikan bagi kesehatan, khususnya pada organ ginjal.
Salah satu komplikasi paling terkenal yang secara eksklusif dikaitkan dengan infeksi Plasmodium malariae adalah Sindrom Nefrotik Kuartana (Quartan Nephropathy). Ini merupakan gangguan ginjal serius di mana tubuh mengeluarkan terlalu banyak protein melalui urine (proteinuria). Kondisi ini terjadi karena parasit yang terus berada di dalam darah merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Kompleks antigen-antibodi ini kemudian beredar di dalam darah dan tersangkut di filter kecil ginjal (glomerulus), menyebabkan peradangan dan kerusakan struktur ginjal. Jika tidak ditangani secara agresif, kondisi ini bisa berujung pada gagal ginjal kronis, terutama pada anak-anak yang hidup di daerah endemis.
Selain masalah ginjal, infeksi menahun juga dapat menyebabkan pembengkakan organ limpa (splenomegali) secara progresif dan anemia kronis. Anemia terjadi akibat penghancuran sel darah merah yang terus berlangsung secara berulang setiap kali siklus parasit selesai.
Siklus Hidup Parasit di Dalam Tubuh
Siklus hidup Plasmodium malariae sangat kompleks dan melibatkan dua inang: nyamuk Anopheles betina dan manusia. Pemahaman akan siklus hidup ini sangat penting karena target pengobatan antimalaria dirancang untuk memutus rantai pada titik-titik tertentu dari siklus tersebut.
1. Fase Eksoeritrositik (Di Hati)
Ketika nyamuk Anopheles yang terinfeksi menggigit manusia, ia melepaskan air liur yang mengandung bentuk parasit yang disebut sporozoit ke dalam aliran darah manusia. Sporozoit ini akan dengan cepat (dalam hitungan menit) bergerak menuju organ hati. Di dalam sel-sel hati (hepatosit), sporozoit berkembang biak secara aseksual membentuk skizon. Setelah sekitar dua minggu, skizon ini matang dan pecah, melepaskan puluhan ribu parasit baru yang disebut merozoit kembali ke aliran darah.
2. Fase Eritrositik (Di Darah)
Merozoit yang masuk ke darah akan segera menyerang sel darah merah (eritrosit) yang matang. Di dalam sel darah merah, merozoit berkembang menjadi bentuk cincin (trofozoit). Secara mikroskopis, P. malariae sering menampilkan bentuk “pita” (band form) yang khas melintasi sel darah merah. Parasit terus membelah diri membentuk skizon darah. Ketika sel darah merah penuh dengan parasit, sel tersebut pecah secara serentak (setiap 72 jam), melepaskan merozoit generasi baru untuk menginfeksi sel darah merah lainnya. Pecahnya sel darah merah inilah yang memicu pelepasan racun pirogenik yang merangsang tubuh menghasilkan demam ekstrem.
Metode Diagnosis Medis
Penegakan diagnosis yang akurat tidak dapat hanya mengandalkan gejala klinis semata karena gejalanya seringkali menyerupai infeksi virus atau bakteri lainnya. Dokter akan melakukan beberapa tes laboratorium untuk memastikan kehadiran dan jenis parasit, di antaranya:
1. Sediaan Apusan Darah Tepi (Mikroskopis)
Ini adalah standar emas (gold standard) untuk diagnosis malaria. Petugas laboratorium akan mengambil sampel darah, membuat apusan tebal dan tipis pada kaca preparat, lalu mewarnainya dengan pewarnaan Giemsa. Di bawah mikroskop, Plasmodium malariae dapat diidentifikasi dari ciri-ciri khasnya, seperti eritrosit yang tidak membesar, adanya parasit berbentuk pita melintang (band form), dan skizon yang membentuk konfigurasi seperti bunga (rosette) dengan 6 hingga 12 merozoit.
2. Rapid Diagnostic Test (RDT)
RDT adalah tes cepat berbasis deteksi antigen parasit dalam darah. Tes ini sangat praktis digunakan di lapangan atau fasilitas kesehatan primer. Namun, perlu dicatat bahwa RDT seringkali kurang sensitif dalam mendeteksi P. malariae murni dibandingkan dengan deteksi P. falciparum, terutama jika jumlah parasit di dalam darah sangat rendah. Oleh karena itu, hasil RDT negatif dengan gejala klinis malaria tetap memerlukan konfirmasi mikroskopis atau PCR.
3. Polymerase Chain Reaction (PCR)
Tes PCR adalah metode molekuler yang paling canggih dan akurat. Metode ini dapat mendeteksi materi genetik (DNA) parasit dengan sensitivitas yang sangat tinggi. PCR sangat berguna untuk mendeteksi koinfeksi (infeksi campuran beberapa jenis Plasmodium) dan mendeteksi infeksi kronis yang jumlah parasitnya sangat sedikit sehingga tidak terlihat di mikroskop.
Pilihan Penanganan dan Pengobatan Medis
Malaria adalah keadaan darurat medis yang memerlukan pengobatan dengan obat antimalaria (obat keras) dan di bawah pengawasan dokter ketat. Tidak ada pengobatan rumahan yang terbukti medis dapat membunuh parasit ini hingga tuntas. Karena malaria diklasifikasikan sebagai penyakit serius, obat-obatan antimalaria merupakan obat resep dokter dan tidak diperjualbelikan secara bebas (bukan golongan OTC).
Secara historis, Plasmodium malariae sangat responsif terhadap obat Klorokuin (Chloroquine). Obat ini terbukti efektif membersihkan parasit pada fase darah. Berbeda dengan P. vivax atau P. ovale, P. malariae tidak memiliki fase hipnozoit (fase tertidur di dalam hati), sehingga penderita biasanya tidak memerlukan pengobatan tambahan seperti primakuin untuk mencegah kekambuhan dari hati. Namun, karena parasit dapat menetap di aliran darah dalam jumlah kecil untuk waktu yang lama, pengobatan harus dihabiskan secara total sesuai dosis yang diinstruksikan oleh dokter.
Dalam perkembangannya, mengingat banyak daerah endemik malaria di dunia mengalami kasus infeksi campuran (mix infection) dengan P. falciparum yang resisten klorokuin, panduan medis modern dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sering merekomendasikan penggunaan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT). Terapi kombinasi ACT memberikan perlindungan ganda yang cepat membunuh parasit dan mencegah munculnya resistensi obat.
Untuk meredakan keluhan demam dan nyeri tubuh yang amat sangat, dokter biasanya akan meresepkan antipiretik dan analgesik tambahan. Setelah kamu menerima resep digital dari dokter secara online, kamu dapat menebus dan beli obat sesuai resep tersebut dengan mudah untuk mempercepat masa pemulihan.
Langkah Pencegahan Penularan Malaria
Mengingat hingga saat ini belum ada vaksin yang 100% efektif mencegah semua jenis malaria secara merata pada dewasa, pencegahan utama menitikberatkan pada perlindungan diri dari gigitan nyamuk vektor. Konsep pencegahan yang umum diajarkan adalah konsep ABCD:
1. Awareness (Kesadaran akan Risiko)
Sebelum bepergian ke daerah pedesaan, hutan, atau wilayah timur Indonesia, cari tahu tingkat endemisitas malaria di area tersebut. Sadari bahwa sekecil apapun risiko, malaria dapat mengancam keselamatan.
2. Bite Prevention (Pencegahan Gigitan)
Nyamuk Anopheles aktif dari sore hingga pagi hari. Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang berwarna terang. Aplikasikan losion antinyamuk (repellent) yang mengandung DEET, Picaridin, atau IR3535 pada area kulit yang tidak tertutup. Pastikan untuk tidur di dalam kelambu yang telah direndam cairan insektisida (Kelambu Berinsektisida/ITN), serta semprotkan insektisida ruangan sebelum tidur (Indoor Residual Spraying/IRS).
3. Chemoprophylaxis (Obat Pencegah Malaria)
Jika kamu dijadwalkan mengunjungi daerah risiko tinggi, konsultasikan dengan dokter terkait perlunya mengonsumsi obat pencegahan malaria (profilaksis) seperti Doxycycline atau Mefloquine. Obat profilaksis ini wajib diminum sebelum, selama, dan beberapa minggu setelah meninggalkan daerah endemis. Pastikan kamu mematuhinya secara ketat.
4. Diagnosis (Deteksi Segera)
Apabila kamu mengalami demam tak terjelaskan dalam kurun waktu hingga setahun pasca kembali dari wilayah endemis, sampaikan riwayat perjalananmu secara terbuka kepada tenaga medis untuk mempercepat diagnosis malaria.
Studi Terkait Infeksi Plasmodium malariae
Sebuah ulasan komprehensif yang diterbitkan dalam Malaria Journal menyoroti profil klinis dari infeksi Plasmodium malariae yang sering kali diremehkan. Studi tersebut menegaskan bahwa meskipun penyakit yang ditimbulkan cenderung memiliki angka kematian (mortalitas) yang lebih rendah, durasi infeksi kronisnya adalah yang paling panjang di antara semua parasit malaria manusia.
Studi ini lebih lanjut mengonfirmasi bahwa penumpukan parasit dalam jangka panjang secara perlahan namun pasti dapat merusak unit fungsional ginjal, menegaskan validitas hubungan antara parasit ini dengan kemunculan Sindrom Nefrotik pada kelompok masyarakat rentan. Oleh karena itu, pengobatan yang bersifat mengeradikasi parasit secara total harus menjadi standar mutlak pelayanan kesehatan tanpa kompromi.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Malaria Fact sheet.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. About Malaria – Disease.
Malaria Journal. Diakses pada 2024. The long-term chronicity of Plasmodium malariae.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Tatalaksana Malaria.
NCBI/StatPearls. Diakses pada 2024. Plasmodium malariae.
FAQ
1. Apakah infeksi Plasmodium malariae bisa disembuhkan secara total?
Ya, infeksi ini bisa disembuhkan secara total. Tidak seperti jenis P. vivax, P. malariae tidak bersembunyi di dalam organ hati dalam bentuk hipnozoit, sehingga terapi pengobatan antimalaria standar secara penuh di aliran darah dapat menuntaskan infeksi ini tanpa risiko kekambuhan dari hati di masa depan.
2. Berapa lama seseorang bisa terkena penyakit ini tanpa menyadarinya?
Parasit ini memiliki kemampuan unik untuk bertahan hidup secara diam-diam (asimtomatik) di dalam aliran darah manusia. Kasus terdokumentasi menunjukkan bahwa P. malariae bisa bertahan hingga puluhan tahun (bahkan lebih dari 40 tahun) di tubuh penderita tanpa memicu keluhan kesehatan serius hingga terdeteksi kembali melalui transfusi darah atau penurunan kekebalan tubuh.
3. Apakah anak-anak lebih rentan terhadap komplikasi akibat malaria jenis ini?
Benar. Anak-anak yang tinggal di wilayah yang sangat endemik memiliki kerentanan tinggi terhadap sindrom nefrotik (kerusakan ginjal kronis) akibat peradangan kompleks imun yang berkepanjangan oleh paparan parasit P. malariae berulang kali.
4. Apakah kelambu anti nyamuk cukup untuk mencegah penyakit ini?
Meski penggunaan kelambu berinsektisida (ITN) sangat krusial dan secara drastis menurunkan risiko gigitan nyamuk saat tertidur, kelambu saja tidaklah cukup. Pencegahan optimal butuh kombinasi, termasuk penggunaan losion penolak nyamuk di luar ruangan, memakai baju lengan panjang, dan jika disarankan, konsumsi obat profilaksis bagi pelancong.


