Gizi Buruk: Penyebab, Gejala, & Dampaknya

DAFTAR ISI
- Memahami Apa Itu Gizi Buruk
- Penyebab Utama Terjadinya Gizi Buruk
- Tanda dan Gejala Gizi Buruk pada Anak
- Dampak Jangka Panjang yang Patut Diwaspadai
- Langkah Penanganan dan Pemenuhan Nutrisi
- Studi Terkait Gizi Buruk
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Gizi buruk adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan besar, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi ini tidak hanya sekadar soal tubuh yang tampak sangat kurus, melainkan sebuah krisis metabolisme dan sistem kekebalan tubuh yang terjadi akibat defisiensi makronutrien (protein, karbohidrat, lemak) serta mikronutrien (vitamin dan mineral) dalam jangka waktu yang cukup lama. Secara medis, gizi buruk atau Severe Acute Malnutrition (SAM) merupakan kondisi gawat darurat nutrisi yang dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani dengan prosedur medis yang tepat.
Penting bagi kamu untuk memahami bahwa penanganan gizi buruk tidak bisa disamakan dengan sekadar “memberi makan lebih banyak”. Saat tubuh anak mengalami defisiensi parah, sistem pencernaan dan organ vital lainnya, seperti hati dan ginjal, mengalami penurunan fungsi drastis. Pemberian asupan kalori atau makanan padat yang terlalu mendadak justru dapat memicu sindrom refeeding yang berakibat fatal. Oleh karena itu, intervensi medis, observasi ketat, dan pemberian formula terapeutik spesifik merupakan protokol wajib dalam fase stabilisasi sebelum akhirnya masuk ke fase rehabilitasi nutrisi.
Kondisi ini sering kali berkaitan erat dengan ketidaktahuan mengenai pola asuh anak, faktor ekonomi, serta kebersihan lingkungan yang memicu infeksi berulang. Seorang anak yang sering sakit diare atau infeksi pernapasan akut akibat sanitasi yang buruk, akan lebih rentan jatuh ke dalam kondisi kurang gizi yang akhirnya bermuara pada gizi buruk. Oleh sebab itu, edukasi mengenai tanda awal dan langkah pencegahannya menjadi kunci utama untuk menyelamatkan generasi masa depan dari ancaman kondisi fatal ini.
Nah, mau tahu lebih dalam mengenai gizi buruk, gejala, penyebab, dan bagaimana langkah penanganan medis yang aman? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu perhatikan!
Memahami Apa Itu Gizi Buruk
Dalam dunia medis, gizi buruk adalah tingkat paling parah dari kondisi malnutrisi (kurang gizi). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan gizi buruk pada anak balita berdasarkan indikator pengukuran antropometri, yaitu berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dengan nilai Z-score kurang dari -3 Standar Deviasi (SD), atau adanya edema (pembengkakan) nutrisional pada kedua punggung kaki, atau lingkar lengan atas (LILA) di bawah 11,5 cm pada anak usia 6-59 bulan.
Kondisi gizi buruk berbeda dengan stunting (perawakan pendek akibat kurang gizi kronis di 1000 hari pertama kehidupan) atau underweight (berat badan kurang). Gizi buruk adalah kondisi akut yang mencerminkan kehilangan massa otot dan lemak yang drastis akibat kelaparan ekstrem atau infeksi berat yang terjadi baru-baru ini. Karena sifatnya yang akut, anak dengan gizi buruk memiliki risiko kematian 9 hingga 11 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berstatus gizi baik.
Penyebab Utama Terjadinya Gizi Buruk
Terjadinya malnutrisi tingkat berat ini jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Masalah ini merupakan hasil akhir dari serangkaian faktor yang saling berkaitan, mulai dari penyebab langsung hingga akar masalah struktural di masyarakat.
1. Asupan Nutrisi yang Sangat Kurang
Penyebab langsung yang paling umum adalah anak tidak mendapatkan makanan dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Hal ini bisa berarti kekurangan sumber kalori (karbohidrat dan lemak) serta protein hewani maupun nabati yang sangat krusial untuk proses tumbuh kembang jaringan tubuh.
2. Infeksi Penyakit Berulang
Hubungan antara gizi buruk dan infeksi layaknya lingkaran setan yang sulit diputus. Kekurangan nutrisi membuat sistem kekebalan tubuh anak melemah, sehingga mereka lebih mudah terserang penyakit seperti tuberkulosis (TB) paru, campak, pneumonia, atau diare kronis. Saat anak sakit, nafsu makannya menurun drastis, sementara kebutuhan kalori tubuhnya meningkat untuk melawan infeksi. Akibatnya, cadangan lemak dan otot dipecah secara ekstrem.
3. Pola Asuh dan Praktik Pemberian Makan (PMBA) yang Kurang Tepat
Praktik pemberian ASI yang tidak eksklusif selama 6 bulan pertama, serta pengenalan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang terlambat, kurang padat gizi, atau tidak higienis, menjadi pemicu awal jatuhnya grafik pertumbuhan anak. Pemahaman yang kurang dari orang tua mengenai kebutuhan spesifik anak balita sangat berpengaruh pada kejadian ini.
Faktor Risiko yang Mempercepat Terjadinya Gizi Buruk
- Sanitasi lingkungan yang buruk dan akses air bersih yang terbatas.
- Kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah, membatasi daya beli terhadap protein hewani yang berkualitas.
- Kelahiran prematur atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang tidak mendapat tata laksana catch-up growth yang adekuat.
- Penyakit bawaan pada anak, seperti kelainan jantung bawaan, cerebral palsy, atau gangguan pencernaan kronis.
Tanda dan Gejala Gizi Buruk pada Anak
Dalam ilmu pediatri, manifestasi klinis gizi buruk umumnya terbagi menjadi tiga klasifikasi utama, yaitu Marasmus, Kwashiorkor, dan tipe campuran (Marasmik-Kwashiorkor). Masing-masing memiliki ciri fisik yang sangat khas.
1. Marasmus
Marasmus terjadi akibat defisiensi kalori (energi) secara menyeluruh. Anak dengan kondisi marasmus akan tampak sangat kurus, seperti tinggal tulang terbalut kulit. Wajahnya terlihat menua atau keriput (old man face), tulang rusuk sangat terlihat jelas (cembung), dan otot-otot di lengan dan bokong mengecil atau kendur (baggy pants). Anak biasanya terlihat rewel, cengeng, namun apatis terhadap sekitarnya.
2. Kwashiorkor
Kwashiorkor terjadi lebih spesifik karena kekurangan asupan protein ekstrem, meskipun asupan karbohidratnya mungkin mencukupi. Tanda utamanya adalah edema atau pembengkakan cairan, biasanya dimulai dari punggung kaki dan bisa menyebar ke seluruh tubuh (anasarka). Wajah anak membulat dan sembab (moon face), rambut berwarna kemerahan atau jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit. Pada kulitnya sering ditemukan ruam yang mengelupas seperti cat kering (crazy paving dermatosis).
3. Marasmik-Kwashiorkor
Ini adalah kondisi gabungan, di mana anak memiliki berat badan yang sangat rendah dan kehilangan massa otot yang parah seperti marasmus, namun pada saat yang sama juga mengalami edema (pembengkakan) seperti kwashiorkor. Ini adalah kondisi yang paling kritis.
Mengingat berbahayanya kondisi ini, jika kamu menyadari anak atau orang terdekat menunjukkan keluhan fisik yang merujuk pada gejala gizi buruk, jangan ragu untuk segera menghubungi dokter guna mendapatkan diagnosis dan penanganan secepatnya sebelum terjadi kerusakan organ permanen.
Dampak Jangka Panjang yang Patut Diwaspadai
Penanganan gizi buruk tidak hanya untuk menyelamatkan nyawa di saat krisis, tetapi juga untuk mencegah kerusakan permanen pada tumbuh kembang anak. Otak anak berkembang sangat pesat pada masa balita. Kurangnya makronutrien dan mikronutrien (seperti zat besi, iodium, dan zinc) dalam fase ini akan menyebabkan gangguan perkembangan kognitif, penurunan skor IQ, dan kesulitan belajar di masa depan.
Selain otak, gizi buruk akut yang tidak teratasi akan meningkatkan prevalensi penyakit metabolik saat anak beranjak dewasa. Berdasarkan hipotesis Barker (fetal and infant origins of adult disease), bayi dan anak yang mengalami kekurangan gizi parah akan mengalami “pemrograman ulang” metabolisme tubuh. Akibatnya, saat dewasa, mereka lebih berisiko mengalami obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit jantung koroner (kardiovaskular).
Langkah Penanganan dan Pemenuhan Nutrisi
Penanganan malnutrisi berat tidak dapat dilakukan sendiri di rumah tanpa pengawasan medis. Kementerian Kesehatan RI dan WHO merekomendasikan 10 Langkah Tatalaksana Gizi Buruk yang dibagi menjadi fase stabilisasi, transisi, dan rehabilitasi.
1. Fase Stabilisasi (Di Rumah Sakit/Fasilitas Kesehatan)
Fokus utama pada fase ini bukan untuk langsung menaikkan berat badan, melainkan memperbaiki kondisi yang mengancam jiwa. Dokter akan mengatasi hipoglikemia (gula darah rendah), hipotermia (suhu tubuh sangat rendah), dan dehidrasi. Dehidrasi pada gizi buruk tidak boleh diatasi dengan oralit biasa atau cairan infus standar secara sembarangan karena risiko gagal jantung, melainkan menggunakan cairan khusus (ReSoMal). Pada fase ini, anak diberikan susu formula terapeutik F-75 yang rendah protein dan laktosa namun cukup energi, agar organ hati dan ginjalnya tidak kelebihan beban.
2. Fase Rehabilitasi (Pemulihan Berat Badan)
Setelah infeksi terkontrol dan nafsu makan mulai kembali, anak memasuki fase transisi menuju rehabilitasi. Konsumsi formula akan ditingkatkan perlahan menjadi F-100 (formula tinggi kalori dan protein). Pada fase ini, barulah tujuannya adalah catch-up growth atau pengejaran pertumbuhan yang tertinggal. Secara bertahap, anak akan mulai diperkenalkan kembali pada makanan padat bergizi tinggi sesuai dengan toleransi ususnya.
3. Pemberian Suplemen dan Mikronutrien
Pemulihan sel-sel tubuh, sistem imun, dan lapisan lambung yang rusak membutuhkan lebih dari sekadar protein dan kalori. Anak yang sedang dalam masa penyembuhan biasanya diwajibkan mengonsumsi mikronutrien dosis tinggi. Selain melalui resep, di masa pemulihan lanjutan, asupan gizi harian mungkin perlu didukung oleh vitamin dan suplemen seperti sirup multivitamin yang mengandung Vitamin A, Zat Besi, Zinc, dan Asam Folat untuk merangsang nafsu makan serta meregenerasi jaringan. Pastikan untuk selalu mendiskusikan takaran dosisnya dengan apoteker atau dokter yang merawat.
Studi Terkait Gizi Buruk
World Health Organization (WHO) menerbitkan studi berkelanjutan mengenai malnutrisi yang menjelaskan bahwa secara global, gizi buruk bertanggung jawab atas hampir separuh dari seluruh kematian pada balita. Studi ini menyoroti bahwa kematian sering kali tidak disebabkan oleh kelaparannya itu sendiri, melainkan oleh infeksi sekunder seperti pneumonia dan gastroenteritis akut yang menjadi fatal karena tubuh tidak lagi memiliki sistem perlawanan imunologik (sel darah putih) yang memadai akibat ketiadaan asam amino.
Lebih lanjut, Jurnal The Lancet Maternal and Child Nutrition juga menyebutkan bahwa intervensi pencegahan harus difokuskan pada jendela kritis 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menangani malnutrisi hanya pada fase krisis akut (setelah usia 2 tahun) dinilai kurang efektif dalam mengembalikan fungsi kognitif secara penuh, sehingga pemantauan pertumbuhan rutin setiap bulan di posyandu merupakan langkah pencegahan yang mutlak diperlukan.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Kamu juga bisa mendapatkan berbagai suplemen pendukung daya tahan tubuh dan nutrisi keluarga dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selalu waspadai grafik pertumbuhan sang buah hati demi masa depan yang lebih sehat dan cerah!
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Malnutrition.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pedoman Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Deteksi Dini Malnutrisi dan Intervensi Nutrisi.
UNICEF. Diakses pada 2024. Severe Acute Malnutrition.
The Lancet. Diakses pada 2024. Maternal and Child Nutrition: Building Momentum for Impact.
FAQ
1. Apa perbedaan utama antara gizi buruk dan stunting?
Gizi buruk adalah kondisi kurang gizi akut yang ditandai dengan penurunan berat badan drastis secara tiba-tiba (wasting) dan dapat mengancam nyawa dalam waktu singkat. Sementara itu, stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kurang gizi kronis (jangka panjang) yang menyebabkan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya, namun berat badannya mungkin terlihat proporsional.
2. Apakah kondisi gizi buruk bisa disembuhkan?
Ya, gizi buruk dapat disembuhkan jika segera ditangani dengan prosedur medis yang tepat, melalui terapi nutrisi terapeutik (F-75 dan F-100) serta penanganan infeksi penyertanya. Namun, keterlambatan pengobatan dapat menyebabkan kerusakan fungsi kognitif otak secara permanen.
3. Bisakah mengatasi gizi buruk hanya dengan memberi anak makan sebanyak-banyaknya di rumah?
Sangat tidak dianjurkan. Memberikan makanan padat dalam jumlah banyak secara mendadak pada anak gizi buruk bisa memicu refeeding syndrome, yaitu gangguan keseimbangan elektrolit fatal yang dapat menyebabkan gagal jantung. Penanganan fase stabilisasi mutlak memerlukan cairan dan formula khusus di bawah pengawasan tenaga medis.
4. Nutrisi apa yang paling krusial untuk mencegah malnutrisi berat?
Protein hewani (seperti telur, ikan, daging, ayam) sangat esensial karena mengandung asam amino lengkap yang membentuk otot, antibodi, dan enzim pencernaan. Selain itu, asupan lemak sehat diperlukan sebagai sumber kalori padat, diimbangi dengan mikronutrien dari buah dan sayuran.





