• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hari AIDS Sedunia: Menilik HIV dan AIDS dalam Angka
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hari AIDS Sedunia: Menilik HIV dan AIDS dalam Angka

Hari AIDS Sedunia: Menilik HIV dan AIDS dalam Angka

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 02 Desember 2022

“Sebagai bentuk peringatan dan edukasi, penting untuk memahami human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) lebih mendalam. Khususnya terkait beberapa aspek seperti sejarah pertama kali ditemukan, hingga harapan hidup pengidap HIV.”

Hari AIDS Sedunia: Menilik HIV dan AIDS dalam AngkaHari AIDS Sedunia: Menilik HIV dan AIDS dalam Angka

Halodoc, Jakarta – Sudah tahu kan kalau setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia? Nah, peringatan ini tak hanya bertujuan sebagai wadah edukasi, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terkait HIV/AIDS. Karena itu, penting untuk mengetahui serba-serbi mengenai penyakit ini sebagai bentuk edukasi. 

HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia dan menghambat fungsinya. HIV dapat menyebabkan AIDS jika pengidapnya tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat. Nah, berikut beberapa fakta seputar HIV dan AIDS yang menarik untuk diketahui. 

Fakta Penting Mengenai HIV dan AIDS

Agar dapat lebih menilik HIV dan AIDS, ada beberapa fakta terkait penyakit ini yang perlu diketahui, antara lain: 

1. Mencapai 38 Juta Jiwa 

Menurut data yang diperoleh dari Joint United Nations Programme on HIV and AIDS, atau UNAIDS ada 38,4 juta (33,9 juta-43,8 juta) orang di dunia yang hidup dengan HIV pada tahun 2021. Sementara itu, di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan , hingga Juni 2022, total pengidap HIV yang tersebar di seluruh provinsi mencapai 519.158 orang. 

2. Ditemukan pada 1959

HIV diduga terjadi setelah manusia memakan daging simpanse yang membawa simian immunodeficiency virus (SIV). Hal ini membuat virus tersebut bermutasi sehingga menjadi dapat menular terhadap manusia. SIV sendiri merupakan jenis lentivirus, yang diketahui menyerang sistem kekebalan tubuh. SIV menyerang sistem kekebalan monyet dan kera dengan cara yang sangat mirip dengan HIV. Hal ini menunjukkan bahwa HIV dan SIV memiliki kaitan yang erat, dan SIV pada monyet atau kera berpindah ke manusia untuk menjadi HIV.

Kasus HIV pertama yang terdeteksi di dunia berasal dari sampel darah yang diambil pada tahun 1959. Sampel tersebut diambil dari seorang pria yang tinggal di Kinshasa, yang sekarang berada di Republik Demokratik Kongo. Para ilmuwan menggunakan sampel ini untuk membuat pohon keluarga atau skema penularan HIV. 

Dengan melakukan ini, mereka dapat melacak penularan pertama SIV ke HIV pada manusia, yang mereka simpulkan terjadi sekitar tahun 1920, juga di Kinshasa. Daerah ini dikenal memiliki keragaman genetik paling banyak pada strain HIV di dunia, yang mencerminkan jumlah waktu yang berbeda SIV ditularkan ke manusia.

Sementara itu, di Indonesia, kasus HIV pertama kali ditemukan di Bali pada tahun 1987 silam. Perkembangan kasus HIV baru pada tahun 1987 sampai dengan 1998 masih di bawah 100 kasus.

3. Pertambahan kasus per tahun

Di seluruh dunia, ada sekitar 1,5 juta kasus baru HIV pada tahun 2021 yang tercatat. Eropa Timur dan Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika Utara, serta Amerika Latin semuanya mengalami peningkatan infeksi HIV tahunan selama beberapa tahun.

Di Indonesia, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Maret 2021, HIV AIDS telah dilaporkan oleh 498 (97 persen) kabupaten/kota dari 514 kabupaten/kota di Indonesia. Jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan Maret 2021 cenderung meningkat setiap tahun. Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai Maret 2021 adalah sebanyak 427.201. 

4. Angka kematian dan tingkat harapan hidup

HIV terus menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang utama. Sampai sejauh ini HIV telah merenggut 40,1 juta [33,6–48,6 juta] nyawa secara global. Pada tahun 2021, 650.000 [510.000–860.000] orang meninggal karena penyebab terkait HIV dan 1,5 juta [1,1–2,0 juta] orang tertular HIV. 

Di sisi lain, jika diobati secara tidak tepat atau tidak diobati, infeksi HIV dapat berkembang menjadi HIV stadium 3 atau AIDS. Harapan hidup berbeda untuk setiap orang yang hidup dengan AIDS. Beberapa orang mungkin meninggal dalam beberapa bulan setelah diagnosis ini.

Kabar baiknya, mayoritas pengidap HIV dapat hidup cukup sehat dengan terapi antiretroviral secara teratur. Artinya, banyak pengidap HIV dapat memiliki harapan hidup sama lamanya dengan mereka yang tidak memiliki HIV. 

Itulah penjelasan mengenai serba-serbi tentang HIV. Jika masih memiliki seputar penyakit ini, atau mencurigai kamu terjangkit, segeralah hubungi dokter. Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa tanya dokter tepercaya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Tentunya melalui fitur chat/video call secara langsung. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi: 
Be in the know. Diakses pada 2022. Origin of HIV and AIDS. 
Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementerian kesehatan RI. Diakses pada 2022. Infodatin HIV 2020. Pdf. 
WHO. Diakses pada 2022. HIV/AIDS. 
WHO. Diakses pada 2022. Estimated number of people (all ages) living with HIV. 
Kebijakan AIDS Indonesia. Diakses pada 2022. Perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia. 
UN AIDS. Diakses pada 2022. Global HIV & AIDS statistics — Fact sheet. 
UN AIDS. Diakses pada 2022. Millions of lives at risk as progress against AIDS falters. 
WebMD. Diakses pada 2022. HIV and Life Expectancy. 
Healthline. Diakses pada 2022. Facts About HIV: Life Expectancy and Long-Term Outlook. 
Our World in Data. Diakses pada 2022. HIV / AIDS. 
Kemkes. Diakses pada 2022. Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan I tahun 2021.