HIV dan AIDS

Pengertian HIV dan AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan. Namun, perkembangan penyakit dapat diperlambat dengan menjalani pengobatan tertentu, sehingga pengidapnya dapat menjalani hidup dengan normal. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah tahap akhir dari infeksi HIV, yaitu ketika kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah tidak ada lagi.

 

Gejala HIV dan AIDS

Tahap Pertama:

  • Pengidap akan mengalami nyeri mirip seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan.
  • Dapat tidak menimbulkan gejala apapun selama beberapa tahun.
  • Dapat timbul demam, nyeri tenggorokan, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening, diare, kelelahan, nyeri otot, dan sendi.

Tahap Kedua:

  • Umumnya tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun.
  • Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh.
  • Pengidap sudah dapat menularkan infeksi kepada orang lain.
  • Berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.

Tahap Ketiga:

  • Pengidap mudah terserang penyakit dan dapat berlanjut menjadi AIDS.
  • Demam terus-menerus lebih dari sepuluh hari.
  • Merasa lelah setiap saat.
  • Sulit bernapas.
  • Diare yang berat dan dalam jangka waktu lama.
  • Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, dan Miss V.
  • Timbul bintik ungu pada kulit yang tidak akan hilang.
  • Hilang nafsu makan sehingga berat badan turun drastis.

 

Penyebab HIV dan AIDS

Penyebaran virus HIV yang terjadi di negara Indonesia paling banyak disebabkan melalui hubungan intim yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik saat memakai narkoba. Seseorang yang terinfeksi HIV dapat menularkannya kepada orang lain, bahkan sejak beberapa minggu sejak tertular. Semua orang berisiko terinfeksi HIV.

 

Faktor Risiko HIV dan AIDS

Beberapa kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi, antara lain:

  • Orang yang melakukan hubungan intim tanpa kondom, baik hubungan sesama jenis maupun heteroseksual.
  • Orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik.
  • Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain.
  • Pengguna narkotika suntik.
  • Orang yang berhubungan intim dengan pengguna narkotika suntik.

 

Diagnosis HIV dan AIDS

Untuk memastikan apakah pengidap terinfeksi HIV, maka harus dilakukan tes HIV. Skrining dilakukan dengan mengambil sampel darah atau urine pengidap untuk diteliti di laboratorium. Jenis skrining untuk mendeteksi HIV, antara lain:

  • Tes antibodi. Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi HIV. Meski akurat, perlu waktu 3-12 minggu agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk terdeteksi saat pemeriksaan.
  • Tes antigen. Tes antigen bertujuan mendeteksi p24, suatu protein yang menjadi bagian dari virus HIV. Tes antigen dapat dilakukan 2-6 minggu setelah pengidap terinfeksi.

Jika skrining menunjukkan pengidap terinfeksi HIV (HIV positif), pengidap perlu menjalani tes selanjutnya, untuk memastikan hasil skrining, membantu dokter mengetahui tahap infeksi yang diderita, serta menentukan metode pengobatan yang tepat. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah pengidap, untuk diteliti di laboratorium. Beberapa tes tersebut, antara lain:

  • Hitung sel CD4. CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang dihancurkan oleh HIV. Jumlah CD4 normal berada dalam rentang 500-1400 sel per milimeter kubik darah. AIDS terjadi jika hasil hitung sel CD4 di bawah 200 sel per milimeter kubik darah.
  • Pemeriksaan viral load (HIV RNA). Bertujuan untuk menghitung RNA, bagian dari virus HIV yang berfungsi menggandakan diri. Jumlah RNA yang lebih dari 100.000 kopi per mililiter darah, menandakan infeksi HIV baru saja terjadi atau tidak tertangani. Sedangkan jumlah RNA di bawah 10.000 kopi per mililiter darah, mengindikasikan perkembangan virus yang tidak terlalu cepat, tetapi tetap menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh.
  • Tes resistensi (kekebalan) terhadap obat untuk menentukan jenis obat anti HIV yang tepat bagi pengidap.

 

Pengobatan HIV dan AIDS

Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Beberapa jenis obat ARV, antara lain Efavirenz, Etravirine, Nevirapine, Lamivudin, dan Zidovudin.

Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pengidap terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3-6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA dilakukan sejak awal pengobatan, dilanjutkan tiap 3-4 bulan selama masa pengobatan.

Pengidap harus segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis mengidap HIV, agar perkembangan virus HIV dapat dikendalikan. Menunda pengobatan hanya akan membuat virus terus merusak sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko pengidap HIV terserang AIDS. Selain itu, penting bagi pengidap untuk mengonsumsi ARV sesuai petunjuk dokter. Melewatkan konsumsi obat akan membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi pengidap.

Jika pengidap melewatkan jadwal konsumsi obat, segera minum begitu ingat, dan tetap ikuti jadwal berikutnya. Namun jika dosis yang terlewat cukup banyak, segera bicarakan dengan dokter. Dokter dapat mengganti resep atau dosis obat sesuai kondisi pengidap saat itu. Pengidap HIV juga dapat mengonsumsi lebih dari 1 obat ARV dalam sehari.

 

Pencegahan HIV dan AIDS

Beberapa upaya pencegahan penularan HIV dan AIDS, antara lain:

  • Gunakan kondom yang baru setiap berhubungan intim, baik hubungan intim vaginal ataupun anal.
  • Hindari berhubungan intim dengan lebih dari satu pasangan.
  • Beri tahu pasangan jika mengidap positif HIV, agar pasangan juga menjalani tes HIV.
  • Diskusikan dengan dokter jika didiagnosis positif HIV saat hamil, mengenai penanganan selanjutnya, dan perencanaan persalinan, untuk mencegah penularan dari ibu ke janin.
  • Bersunat untuk mengurangi risiko infeksi HIV.
  • Segera ke dokter jika menduga baru saja terinfeksi virus HIV, misalnya berhubungan intim dengan pengidap HIV, untuk mendapatkan obat post-exposure prophylaxis (PEP) yang akan dikonsumsi selama 28 hari dan terdiri dari 3 obat antiretroviral.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas.