
Harus Tahu, Ini 5 Penyebab KDRT yang Umum Terjadi
Tidak hanya kekerasan fisik, kekerasan dalam rumah tangga juga dapat berupa kekerasan verbal hingga seksual.

DAFTAR ISI
- Memahami Apa Itu KDRT Menurut Hukum dan Medis
- Jenis-Jenis KDRT yang Perlu Diwaspadai
- Dampak KDRT terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
- Mengenal Siklus Kekerasan dalam Rumah Tangga
- Langkah yang Harus Diambil Jika Mengalami KDRT
- Studi Terkait
- FAQ
Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT merupakan isu kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia yang sangat serius di Indonesia. Secara umum, banyak orang menganggap KDRT hanya sebatas kekerasan fisik yang meninggalkan bekas luka. Padahal, cakupan KDRT jauh lebih luas dan sering kali meninggalkan luka batin atau trauma psikis yang jauh lebih sulit untuk disembuhkan daripada luka fisik.
Memahami apa itu KDRT adalah langkah pertama yang sangat penting bagi setiap anggota keluarga untuk melindungi diri dan orang-orang tersayang. KDRT tidak memandang status sosial, ekonomi, maupun tingkat pendidikan. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, meskipun secara statistik perempuan dan anak-anak sering kali menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban.
Dampak dari KDRT tidak hanya dirasakan oleh korban secara langsung, tetapi juga berdampak buruk pada perkembangan mental anak-anak yang menyaksikannya. Jika kamu atau orang terdekat mengalami tanda-tanda trauma akibat tekanan di rumah, sangat disarankan untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan pendampingan medis dan psikologis yang tepat.
Nah, mau tahu apa saja penjelasan mendalam mengenai apa itu KDRT, jenis-jenisnya, serta bagaimana langkah penanganannya? Berikut ulasannya!
Memahami Apa Itu KDRT Menurut Hukum dan Medis
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT didefinisikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Lingkup rumah tangga dalam undang-undang ini tidak hanya terbatas pada suami, istri, dan anak, tetapi juga mencakup orang-orang yang memiliki hubungan keluarga karena darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga, bahkan termasuk orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap di sana.
Secara medis, KDRT dipandang sebagai trauma interpersonal kronis. Korban yang mengalami KDRT dalam jangka waktu lama berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Selain itu, stres kronis yang dialami korban dapat menurunkan sistem imun tubuh, sehingga mereka lebih mudah terserang penyakit fisik.
Jenis-Jenis KDRT yang Perlu Diwaspadai
Penting untuk mengenali bahwa kekerasan tidak selalu melibatkan kontak fisik. Berikut adalah empat kategori utama KDRT sesuai regulasi yang berlaku di Indonesia:
1. Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Bentuknya bisa berupa memukul, menampar, menendang, menjambak, hingga menggunakan benda tajam atau tumpul untuk melukai korban. Dampak fisik mungkin terlihat nyata, namun trauma yang menyertainya sering kali menetap lebih lama.
2. Kekerasan Psikis
Kekerasan psikis sering kali tidak terlihat oleh mata tetapi dampaknya sangat menghancurkan. Ini termasuk perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, atau penderitaan psikis berat. Contohnya adalah hinaan verbal yang terus-menerus, ancaman, intimidasi, atau sikap posesif yang berlebihan yang membatasi ruang gerak korban.
3. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual dalam rumah tangga mencakup pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut, atau pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang tidak wajar atau tidak disukai. Hal ini juga termasuk membiarkan korban mengalami pelecehan seksual oleh pihak ketiga untuk tujuan tertentu.
4. Penelantaran Rumah Tangga
Ini terjadi ketika seseorang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum atau persetujuan ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Penelantaran ekonomi, seperti tidak memberikan nafkah padahal mampu, juga termasuk dalam kategori ini.
Tanda-Tanda Awal Seseorang Mengalami KDRT
- Sering terlihat memiliki luka atau memar dengan alasan yang tidak masuk akal.
- Menjadi sangat tertutup dan menarik diri dari lingkungan sosial atau keluarga.
- Harus selalu meminta izin pasangan untuk hal-hal kecil dan terlihat sangat takut jika membuat kesalahan.
Dampak KDRT terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
Dampak dari kekerasan dalam rumah tangga bersifat sistemik dan jangka panjang. Secara fisik, korban mungkin mengalami cedera kepala, patah tulang, atau masalah kesehatan reproduksi. Namun, dampak yang paling sering terabaikan adalah dampak pada kesehatan mental dan psikosomatik.
Korban KDRT sering kali mengalami gangguan tidur kronis, sakit kepala tegang (tension headache), serta gangguan pencernaan yang dipicu oleh tingkat stres yang luar biasa. Untuk mendukung pemulihan kondisi fisik dan menjaga daya tahan tubuh yang menurun akibat stres berkepanjangan, kamu bisa beli obat online di Halodoc, seperti suplemen vitamin atau mineral yang 100% asli dan diantar langsung ke rumah.
Mengenal Siklus Kekerasan dalam Rumah Tangga
Mengapa korban KDRT sering kali sulit untuk keluar dari hubungan yang toksik? Hal ini disebabkan oleh adanya “The Cycle of Violence” atau siklus kekerasan yang terdiri dari tiga fase utama:
- Fase Ketegangan (Tension Building): Pada fase ini, komunikasi mulai menurun, dan pelaku mulai menunjukkan sikap mudah marah atau merasa terganggu oleh hal-hal sepele.
- Fase Ledakan (Acute Battering): Terjadi insiden kekerasan, baik secara fisik, verbal, maupun seksual.
- Fase Bulan Madu (Honeymoon Phase): Setelah kekerasan terjadi, pelaku biasanya akan meminta maaf secara berlebihan, memberikan hadiah, berjanji untuk berubah, atau menyalahkan korban atas tindakannya. Fase inilah yang sering kali membuat korban merasa masih ada harapan dan memilih untuk bertahan.
Langkah yang Harus Diambil Jika Mengalami KDRT
Jika kamu berada dalam situasi KDRT, keselamatan adalah prioritas utama. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:
1. Cari Tempat yang Aman
Identifikasi anggota keluarga, teman, atau tetangga yang bisa dipercaya untuk memberikan perlindungan sementara jika situasi di rumah memanas.
2. Dokumentasikan Bukti
Simpan foto luka, pesan singkat yang berisi ancaman, atau barang-barang yang rusak akibat kekerasan. Jika terjadi kekerasan fisik, segera lakukan visum di rumah sakit.
3. Hubungi Lembaga Bantuan
Di Indonesia, kamu bisa menghubungi layanan SAPA 129 dari Kementerian PPPA atau mencari bantuan ke lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak.
Studi Mengenai Dampak Psikologis KDRT
World Health Organization (WHO) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa kekerasan oleh pasangan intim memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko depresi hingga 2 kali lipat dan masalah penggunaan alkohol. Studi ini juga menyoroti bahwa dampak kesehatan mental ini tetap bertahan bahkan setelah kekerasan telah berhenti selama bertahun-tahun.
Penelitian lain menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam rumah tangga dengan KDRT memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan masalah perilaku di sekolah. Hal ini menegaskan bahwa penanganan KDRT bukan hanya soal menyelamatkan orang dewasa, tetapi juga melindungi masa depan generasi berikutnya.
KDRT adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan multidimensi, mulai dari perlindungan hukum hingga dukungan medis. Jangan memendam masalah ini sendirian karena bantuan selalu tersedia.
Kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan fisik maupun mental yang sedang dialami melalui Halodoc. Selalu ingat bahwa kesehatan dan keamananmu adalah yang utama.
Referensi:
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Diakses pada 2026. Mengenal Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Violence against women: Intimate partner and sexual violence against women.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Domestic violence: Recognizing patterns and seeking help.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2026. The Impact of Domestic Violence on Mental Health.
FAQ
1. Apa itu KDRT dan apakah hanya mencakup fisik?
KDRT adalah kekerasan dalam lingkup rumah tangga yang tidak hanya mencakup fisik, tetapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran ekonomi. Semuanya diatur dalam UU No. 23 Tahun 2004.
2. Apakah pria bisa menjadi korban KDRT?
Ya, meskipun mayoritas korban adalah perempuan, pria juga bisa menjadi korban KDRT. Hukum di Indonesia melindungi setiap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga tanpa memandang gender.
3. Bagaimana cara membantu teman yang diduga mengalami KDRT?
Dengarkan tanpa menghakimi, tawarkan bantuan praktis seperti tempat menginap, dan dorong mereka untuk menghubungi layanan profesional atau pihak berwajib jika mereka sudah siap.
4. Ke mana harus melapor jika melihat atau mengalami KDRT?
Kamu bisa melaporkan ke kepolisian setempat (Unit PPA), menghubungi layanan Call Center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) di nomor 129, atau melalui WhatsApp di 08111-129-129.
Merasa Tertekan Akibat Masalah Rumah Tangga? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu mungkin merasa bingung atau takut untuk menceritakan masalah yang terjadi di rumah? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


