• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hemokromatosis Dapat Pengaruhi Kesehatan Jantung

Hemokromatosis Dapat Pengaruhi Kesehatan Jantung

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dalam tubuh tentunya membuat kesehatan tubuh lebih terjaga. Salah satu mineral yang tidak boleh terlewatkan dalam tubuh adalah zat besi. Zat besi memiliki peranan yang penting bagi tubuh, seperti menghasilkan hemoglobin, mencegah anemia, meningkatkan kekebalan tubuh, hingga meningkatkan kualitas tidur.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Tes Kadar Zat Besi

Tentu, zat besi berfungsi optimal saat jumlahnya dalam tubuh normal. Namun, jika kadar zat besi dalam tubuh berlebihan, kondisi ini memicu berbagai gangguan kesehatan. Hemokromatosis terjadi ketika kadar zat besi di dalam tubuh berlebihan. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini memengaruhi kesehatan jantung.

Kenali Hemokromatosis

Zat besi di dalam tubuh banyak didapatkan dari pengonsumsian jenis makanan tertentu. Tentunya, dalam jumlah kadar yang normal, zat besi bermanfaat bagi tubuh. Jika jumlah zat besi di dalam tubuh menjadi berlebihan, hal ini yang membahayakan karena menyebabkan penumpukan pada beberapa organ, seperti hati, pankreas, hingga jantung. Penumpukan zat besi yang diabaikan memicu gangguan kesehatan pada lokasi penumpukan.

Adanya mutasi gen yang berfungsi sebagai pengatur penyerapan zat besi dalam tubuh menjadi salah satu penyebab utama dari hemokromatosis. Mutasi gen dapat disebabkan riwayat keluarga atau faktor keturunan dengan kondisi yang serupa dalam keluarga. Selain itu, adanya penyakit autoimun disebut menjadi pemicu lain dari hemokromatosis. Zat besi juga bisa menumpuk pada bayi dalam kandungan ketika masa kehamilan, kondisi ini meningkatkan risiko kematian dini pada bayi yang dilahirkan.

Sebaiknya ibu hamil selalu mengikuti anjuran dokter kandungan saat mengonsumsi zat besi. Ketika dikonsumsi sesuai dengan anjuran, tentunya zat besi juga memiliki manfaat bagi ibu hamil untuk perkembangan dan kesehatan janin dalam kandungan. Ibu hamil juga bisa bertanya kepada dokter kandungan melalui aplikasi Halodoc untuk mengetahui anjuran zat besi yang sesuai dengan kebutuhan. 

Umumnya, wanita yang telah menopause lebih rentan mengalami hemokromatosis karena tidak dapat mengeluarkan kelebihan zat besi melalui darah menstruasi. Selain itu, gejala hemokromatosis biasanya muncul saat pengidap memasuki usia 30-50 tahun. Gejala yang dialami dialami, seperti lemas, nyeri sendi, berat badan yang menurun, kurangnya gairah seksual, hingga alami jantung berdebar.

Baca juga: Menopause Tingkatkan Risiko Hemokromatosis

Hemokromatosis dan Kesehatan Jantung

Jangan ragu untuk segera periksakan kesehatan ke rumah sakit terdekat saat mengalami beberapa gejala hemokromatosis dan memiliki riwayat keluarga dengan kondisi yang serupa. Tentunya pengobatan yang tepat membantu untuk mengatasi hemokromatosis dan terhindar dari berbagai gangguan komplikasi yang mungkin dialami.

Salah satu komplikasi yang bisa terjadi akibat hemokromatosis adalah gangguan pada jantung. Ada beberapa gangguan jantung yang dialami akibat hemokromatosis, salah satunya adalah serangan jantung

Melansir dari National Health Service UK, penumpukan zat besi yang terjadi pada jantung dapat merusak kerja dari otot jantung sehingga jantung bekerja lebih keras untuk menyalurkan darah menuju seluruh tubuh. Kondisi ini yang menyebabkan seseorang alami serangan jantung. Melansir dari Mayo Clinic, hemokromatosis yang tidak diatasi dengan baik bisa menyebabkan aritmia.

Baca juga: Begini Pola Makan Sehat untuk Pengidap Hemokromatosis

Selain itu, penumpukan zat besi pada beberapa organ lainnya, seperti hati dan pankreas juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat kerusakan organ tersebut. Jadi, sebaiknya lakukan pola makan yang sesuai bagi pengidap hemokromatosis untuk menghindari berbagai komplikasi yang mungkin terjadi.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hemochromatosis
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Haemochromatosis
Medical News Today. Diakses pada 2020. Iron Overload Disorder: All You Need to Know