• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hidup dengan Gangguan Kecemasan, Apa yang Perlu Diketahui?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hidup dengan Gangguan Kecemasan, Apa yang Perlu Diketahui?

Hidup dengan Gangguan Kecemasan, Apa yang Perlu Diketahui?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 21 September 2020
Hidup dengan Gangguan Kecemasan, Apa yang Perlu Diketahui?

Halodoc, Jakarta - Siapa yang tidak pernah merasa khawatir akan berbagai macam hal dalam hidup? Masalah pekerjaan, kesehatan, keuangan, atau masalah hubungan? Kamu perlu tahu, cemas, atau perasaan gelisah adalah respons alami tubuh terhadap pasang dan surutnya kehidupan. 

Faktanya, dari semua penyakit psikologis dan mental yang ada, gangguan kecemasan menjadi yang paling umum ditemui. Ini termasuk gangguan kecemasan umum, fobia pada hal tertentu, gangguan kecemasan sosial, hingga serangan panik dan gangguan panik. 

Apa yang Terjadi pada Otak ketika Gangguan Kecemasan Terjadi? 

Selama kecemasan terjadi, otak akan dipenuhi dengan hormon stres seperti kortisol dan neurotransmitter, contohnya norepinefrin yang dapat menyebabkan kesulitan mengatur emosi negatif, berpikir negatif berlebihan, dan kesulitan untuk merasa rileks. Pada saat yang sama, amigdala yang merupakan pusat emosi otak, menjadi terlalu aktif.

Baca juga: Mengidap Gangguan Kecemasan, Ini Dampaknya pada Tubuh

Kondisi ini dapat membuat tubuh sulit rileks atau tenang, baik secara mental maupun fisik. Amigdala secara konstan memberikan penilaian ancaman terhadap lingkungan. Ketika amigdala merasa tidak ada bahaya, ia tidak akan melakukan apapun dan kamu akan merasa tenang. Sebaliknya, ketika ia merasa ada bahaya, ia akan mengingatkan kamu dengan kecemasan. 

Apa yang Memicu Terjadinya Gangguan Kecemasan?

Setiap jenisnya ternyata dipicu oleh hal yang berbeda. Misalnya, mengalami trauma dan ternyata mengingat trauma sebelumnya, tumbuh di lingkungan yang tidak aman, hingga mengalami pengalaman hidup seperti kecelakaan. Semua hal ini bisa memicu terjadinya gangguan kecemasan. 

Kecemasan juga dapat diawali dengan adanya kebutuhan yang kuat untuk berhasil, tetapi harus memberikan banyak tekanan pada diri sendiri dengan berada dalam situasi yang tidak bisa kamu hindari. Bisa juga karena ketakutan akan hal tertentu dan serangan panik yang terjadi berulang kali sehingga berujung pada gangguan panik. Peristiwa besar dalam hidup, seperti perceraian, pekerjaan baru, kematian, atau pindah rumah juga bisa memicu kecemasan. 

Baca juga: Cemas Berlebihan, Waspadai Penyakit Gangguan Kecemasan

Keterkaitan antara Gangguan Kecemasan dan Depresi

Jika kamu memiliki gangguan kecemasan, kamu mungkin juga mengalami depresi. Meski kecemasan dan depresi dapat terjadi secara terpisah, tetapi tidak pernah menjadi hal yang aneh ketika dua masalah kejiwaan ini terjadi secara bersamaan. 

Gangguan kecemasan bisa menjadi gejala depresi klinis atau berat. Demikian pula, gejala depresi yang memburuk bisa dipicu oleh gangguan kecemasan yang tidak segera mendapatkan penanganan. Inilah mengapa, gangguan kecemasan dan depresi harus diobati sesegera mungkin. Kamu bisa meminta bantuan psikolog Halodoc untuk bisa menceritakan apa yang kamu rasakan. Tidak sulit, cukup download aplikasi Halodoc di ponselmu.

Gangguan Kecemasan dan Stres

Stres dan gangguan kecemasan bisa menjadi dua jenis masalah kejiwaan dari sumber yang sama. Stres adalah hasil dari perintah otak pada tubuh, bisa disebabkan karena suatu peristiwa atau aktivitas yang membuat kamu gugup atau cemas. Sementara itu, kecemasan adalah kekhawatiran, ketakutan, atau rasa gelisah yang tidak jauh berbeda seperti yang kamu rasakan ketika sedang merasa stres. 

Baca juga: 15 Gejala yang Timbul dari Gangguan Kecemasan

Baik gangguan kecemasan maupun stres bisa menyebabkan terjadinya gejala pada fisik dan mental. Ini termasuk sakit kepala, sakit perut, detak jantung cepat, berkeringat dingin, napas cepat, gugup, sulit berkonsentrasi, gelisah, hingga rasa mudah marah atau tersinggung.

Jangan diabaikan, karena dampak jangka panjang dari gangguan kecemasan dan stres bisa berujung pada masalah kesehatan yang buruk, seperti penyakit jantung. Jadi, segera lakukan pengobatan jika kamu mulai merasakan adanya gejala yang mengarah pada masalah mental ini. 

Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2020. Everything You Need to Know About Anxiety.
Psycom. Diakses pada 2020. Tell Me Everything I Need to Know About Anxiety.
Psycom. Diakses pada 2020. Living with Anxiety: How to Cope.