Hikikomori: Fenomena Menarik Diri dari Kehidupan Sosial
Hikikomori adalah kondisi saat seseorang mengurung diri dan menarik diri dari kehidupan sosial dalam waktu lama.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Hikikomori?
- Asal Usul Istilah Hikikomori
- Ciri-Ciri dan Gejala Hikikomori
- Apa Penyebab Hikikomori?
- Dampak Hikikomori bagi Individu dan Lingkungan
- Apakah Hikikomori Bisa Disembuhkan?
- Hikikomori di Indonesia
- Cara Mencegah Hikikomori
Hikikomori adalah istilah dari Jepang yang menggambarkan kondisi ketika seseorang memilih untuk menarik diri secara ekstrem dari kehidupan sosial dan mengisolasi diri di rumah selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Meskipun awalnya dikenal sebagai fenomena sosial khas Jepang, kasus hikikomori kini mulai ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Fenomena ini menjadi perhatian karena bukan hanya berdampak pada kesehatan mental individu, tapi juga menimbulkan beban bagi keluarga dan sistem sosial secara keseluruhan.
Pahami lebih jauh apa itu hikikomori, penyebab, gejala, dampak, dan langkah penanganannya.
Apa Itu Hikikomori?
Hikikomori adalah kondisi di mana seseorang menarik diri dari interaksi sosial secara ekstrem dan memilih untuk mengurung diri di rumah, bahkan di dalam kamar, selama lebih dari enam bulan.
Mereka menolak sekolah, pekerjaan, pergaulan, dan segala bentuk kontak sosial lainnya.
Kondisi ini bukan sekadar introvert atau pemalu biasa, tetapi sudah masuk dalam tahap yang mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Bahkan, dalam banyak kasus, pengidap hikikomori tidak hanya menghindari dunia luar, tapi juga enggan berinteraksi dengan anggota keluarganya sendiri.
Asal Usul Istilah Hikikomori
Istilah hikikomori berasal dari bahasa Jepang yang berarti “menarik diri” atau “menyendiri.”
Kata ini pertama kali populer pada akhir 1990-an oleh psikiater Jepang, Tamaki Saito, yang mengamati lonjakan remaja dan dewasa muda di Jepang yang mengisolasi diri dari masyarakat.
Seiring waktu, fenomena ini diakui sebagai masalah psikososial serius dan telah dimasukkan dalam laporan WHO sebagai salah satu bentuk gangguan kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian khusus, meski belum diklasifikasikan secara resmi sebagai diagnosis dalam DSM-5 atau ICD-11.
Ciri-Ciri dan Gejala Hikikomori
Ada beberapa tanda umum yang menunjukkan seseorang mengalami hikikomori. Berikut beberapa di antaranya:
- Menghindari kontak sosial secara total, bahkan dengan keluarga dekat.
- Tidak pergi keluar rumah atau hanya keluar saat malam hari untuk menghindari orang lain.
- Tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti kegiatan sosial apapun.
- Menghabiskan sebagian besar waktu di kamar.
- Ketergantungan pada internet atau hiburan digital sebagai pelarian.
- Penolakan jika diajak berbicara atau bersosialisasi, bahkan mengalami kecemasan jika harus bertemu orang.
Gejala ini harus berlangsung minimal enam bulan agar dapat dikategorikan sebagai hikikomori, bukan sekadar fase remaja atau stres sesaat.
Apa Penyebab Hikikomori?
Penyebab hikikomori bisa sangat kompleks dan bervariasi pada tiap individu. Namun, beberapa faktor umum yang sering ditemukan antara lain:
1. Tekanan sosial dan akademik
Di negara seperti Jepang, tekanan untuk sukses sangat tinggi. Remaja atau dewasa muda yang merasa gagal bisa memilih untuk mundur sepenuhnya dari dunia luar.
2. Bullying dan trauma masa kecil
Korban perundungan atau kekerasan di masa lalu sering kali kehilangan kepercayaan terhadap dunia sosial.
3. Kondisi keluarga
Keluarga yang terlalu protektif atau sebaliknya, kurang memberikan perhatian bisa memicu perilaku menarik diri.
4. Gangguan mental
Beberapa kasus hikikomori terkait dengan gangguan seperti depresi, kecemasan sosial, fobia sosial, atau gangguan kepribadian menghindar (avoidant personality disorder).
5. Kecanduan dunia digital
Ketergantungan terhadap game, media sosial, dan internet bisa membuat seseorang nyaman berada di dunia maya dan menolak dunia nyata.
Dampak Hikikomori bagi Individu dan Lingkungan
Kondisi hikikomori tidak hanya membahayakan kesehatan mental pengidapnya, tapi juga memberikan dampak serius bagi orang di sekitarnya dan masyarakat luas.
1. Kesehatan fisik menurun
Kurangnya aktivitas fisik dan paparan sinar matahari bisa memicu gangguan seperti obesitas, gangguan tidur, dan defisiensi vitamin D.
2. Gangguan kesehatan mental
Isolasi berkepanjangan bisa memperburuk depresi, memperkuat fobia sosial, atau memicu perilaku ekstrem.
Pahami informasi lebih lanjut seputar Kesehatan Mental – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya di sini.
3. Ketergantungan pada orang tua
Sebagian besar kasus hikikomori terjadi pada usia produktif, namun mereka bergantung sepenuhnya pada orang tua, baik secara finansial maupun emosional.
4. Produktivitas ekonomi menurun
Hikikomori bisa berdampak secara ekonomi karena mereka tidak berkontribusi dalam dunia kerja atau pendidikan.
5. Beban psikologis keluarga
Keluarga sering kali merasa tertekan, bingung, bahkan frustrasi dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami hikikomori.
Apakah Hikikomori Bisa Disembuhkan?
Jawabannya: bisa, dengan pendekatan yang tepat. Penanganan hikikomori memerlukan kombinasi pendekatan psikologis, medis, dan dukungan sosial.
Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:
- Psikoterapi atau konseling. Terapi kognitif perilaku (CBT) sering digunakan untuk membantu penderita mengatasi rasa takut terhadap interaksi sosial.
- Pendekatan bertahap. Penderita hikikomori tidak bisa dipaksa langsung keluar. Pendekatan perlahan dan konsisten dari keluarga dan tenaga profesional sangat dibutuhkan.
- Intervensi keluarga. Pelatihan bagi anggota keluarga agar bisa berkomunikasi secara empatik dan tidak memicu tekanan tambahan sangat penting.
- Terapi kelompok atau komunitas. Bergabung dalam komunitas kecil secara online atau offline bisa jadi langkah awal untuk membangun kembali kepercayaan sosial.
- Pengobatan medis. Jika terdapat gangguan mental yang menyertai seperti depresi atau kecemasan berat, dokter bisa meresepkan obat tertentu. Pahami lebih dalam mengenai Depresi – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya berikut ini.
Hikikomori di Indonesia
Meski istilah ini berasal dari Jepang, fenomena hikikomori mulai terlihat di Indonesia, terutama di kalangan remaja perkotaan.
Gaya hidup digital, tekanan akademik, dan kurangnya edukasi tentang kesehatan mental bisa menjadi faktor pemicu.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap pengidap hikikomori hanya “malas” atau “manja”, sehingga menambah beban psikologis mereka.
Padahal, kondisi ini memerlukan pemahaman, empati, dan bantuan profesional.
Jika orang terdekat memiliki ciri-ciri kondisi ini, berikut Ini Rekomendasi Psikolog Online Berpengalaman di Halodoc yang bisa dihubungi kapan pun dan di mana pun.
Cara Mencegah Hikikomori
Pencegahan adalah kunci utama untuk mengurangi angka kasus hikikomori. Beberapa cara yang bisa kamu lakukan:
- Bangun komunikasi terbuka dalam keluarga.
- Ajarkan anak untuk mengelola stres dan tekanan sejak dini.
- Kenalkan pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan interaksi sosial langsung.
- Cari bantuan psikolog segera jika melihat tanda-tanda menarik diri yang ekstrem.
- Jangan menstigma atau mempermalukan orang yang sedang mengalami isolasi sosial.
Itulah penjelasan seputar hikikomori yang perlu kamu ketahui. Jika kamu punya pertanyaan lain terkait kondisi ini, jangan ragu untuk bicara dengan psikolog di Halodoc saja.
Jangan khawatir, psikolog di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi psikolog terpercaya:



