• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hiperlaktasi, Apa yang Salah?

Hiperlaktasi, Apa yang Salah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Hiperlaktasi, Apa yang Salah?

Halodoc, Jakarta – Hiperlaktasi adalah satu kondisi yang sering terjadi dan dikeluhkan para ibu menyusui. Istilah ini merujuk pada seorang ibu menyusui yang memiliki jumlah ASI berlebihan. Artinya, jika dibandingkan dengan ibu lain, jumlah air susu yang bisa diproduksi cenderung lebih banyak bahkan melebihi kebutuhan bayi.

Dalam beberapa kasus, Air Susu Ibu (ASI) yang terlalu sedikit bisa menjadi masalah karena tidak bisa memenuhi kebutuhan Si Kecil. Namun sebaliknya, produksi ASI yang terlalu banyak ternyata juga menjadi tantangan sendiri bagi para ibu. Yaitu bagaimana caranya agar ASI tersalurkan secukupnya saja dan tidak membuat Si Kecil tersedak saat menyusu. Lantas apa yang menyebabkan seorang ibu bisa mengalami hiperlaktasi?

Pada dasarnya, produksi ASI pada wanita dipengaruhi oleh jumlah kelenjar susu yang dimiliki. Umumnya, seorang wanita memiliki jumlah kelenjar susu sekitar 100 sampai dengan 300 ribu. Nah, hiperlaktasi biasanya terjadi pada ibu yang memiliki jumlah kelenjar susu maksimal. Sehingga, semakin banyak jumlah kelenjar ini, semakin banyak pula susu yang dihasilkan.

Selain itu, hiperlaktasi juga bisa terjadi karena banyak faktor lain. Misalnya keseimbangan hormonal, efek samping dari konsumsi obat, hingga kondisi medis yang lainnya. Beberapa ciri yang sering menjadi gejala dari hiperlaktasi adalah payudara terasa sangat kencang atau keras dalam waktu yang lama.

(Baca juga: Ini 5 Manfaat ASI Bagi Bayi dan Ibu yang Bisa Dirasakan)

ASI yang menyemprot dan keluar secara terus menerus dari payudara juga bisa menjadi tanda ibu mengalami hiperlaktasi. Selain itu, ibu juga bisa melihat dan mengetahui tanda hiperlaktasi yang ditunjukkan bayi. Seperti tersentak atau tersedak saat sedang menyusu, bayi sering menekan puting susu.

Tips Mengatasi Hiperlaktasi selama Menyusui

Hiperlaktasi biasanya juga terjadi pada ibu yang baru pertama kali menyusui. Jika hal ini terjadi, tidak perlu terlalu khawatir. Pasalnya, stres berlebihan pada ibu menyusui malah akan memberi dampak yang bisa mengganggu kelancaran pemberian ASI.

Jika ibu mengalami hiperlaktasi, lakukanlah beberapa trik untuk mencegah bayi mengonsumsi ASI yang berlebihan pula. Hal pertama yang perlu selalu dilakukan adalah dengan menyediakan susu perah alias ASI yang sudah dipisahkan menggunakan alat pompa. Penggunaan alat ini bisa mengantisipasi ASI yang masuk ke mulut bayi terlalu banyak.

Air susu yang sudah diperah bisa dijadikan sebagai cadangan jika ASI yang keluar benar-benar tidak bisa dikontrol dan tidak memungkinkan ibu untuk menyusui langsung. Jika hal ini terjadi dan ibu memaksakan untuk memberi ASI langsung, risiko bayi tersedak dan muntah pun akan semakin meningkat.

Tersedak yang terjadi pada bayi nyatanya bisa berubah menjadi hal yang berbahaya. Sebab, bayi belum memiliki kemampuan untuk mengatur apa saja yang masuk ke tubuhnya. Alhasil, tersedak mungkin bisa menutup jalan pernapasan atau malah bisa memicu masalah lainnya.

Selain itu, ibu sebaiknya memberi ASI pada waktu yang tepat, yaitu saat bayi sedang lapar. Karena isapan saat Si Kecil menyusu bisa merangsang payudara dan meningkatkan produksi ASI. Nah, memberi susu saat bayi lapar dapat menghindari bayi tersedak dan mengalami kekenyangan.

Jika hiperlaktasi yang terjadi mulai terasa mengganggu, ada baiknya ibu segera melakukan pemeriksaan. Atau sampaikan keluhan seputar masa kehamilan dan masalah kesehatan lain pada dokter lewat aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi lewat Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan rekomendasi beli obat dan tips menjaga kesehatan dari dokter terpercaya. Ayo, download sekarang di App Store dan Google Play!