• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin, Benarkah?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin, Benarkah?

Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin, Benarkah?

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 29 Juni 2022

“Ibu hamil yang terinfeksi HIV berpotensi menularkan virus tersebut pada bayi dalam kandungan, baik selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV pada bayi.”

Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin, Benarkah?Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin, Benarkah?

Halodoc, Jakarta – Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus berbahaya yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan bisa menyebabkan AIDS, penyakit yang mematikan. Oleh karena itu, mengetahui cara penularan HIV penting agar bisa kamu bisa mewaspadainya.

Selama ini, HIV lebih dikenal sebagai infeksi menular seksual. Sejumlah ahli menyebut seseorang bisa tertular HIV jika memiliki kebiasaan seks yang “tidak sehat”. Seperti sering berganti-ganti pasangan atau melakukan hubungan intim dengan cara anal.

Namun, tidak hanya melalui kontak seksual saja, HIV juga bisa menyebar dengan cara lain, yaitu melalui aliran darah seperti pada ibu hamil ke janin. Lantas, apakah  seorang wanita yang terinfeksi virus saat hamil, pasti akan menularkan  HIV pada janin? 

Berpotensi Tularkan HIV pada Janin

Penularan HIV ke janin bisa terjadi bahkan sejak masa awal kehamilan hingga proses persalinan dan menyusui. Data menunjukkan bahwa kasus AIDS yang menyerang anak di bawah usia 10 tahun biasanya terjadi karena penularan selama ibu mengandung. Itulah mengapa rutin melakukan pemeriksaan darah selama masa kehamilan dapat membantu ibu mendeteksi segala masalah kesehatan sedini mungkin. Dengan begitu, pengobatan bisa segera dilakukan agar kondisi janin dalam kandungan tidak terganggu.  

Lalu bagaimanakah proses penularan HIV dari ibu hamil ke janin terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pemeriksaan perlu dilakukan. Lewat serangkaian pemeriksaan, setidaknya bisa diketahui kapan kemungkinan bayi mulai terinfeksi. Penularan HIV pada bayi dalam kandungan terjadi lewat tali plasenta.

Selain tertular dalam kandungan, biasanya bayi juga bisa tertular virus tersebut saat persalinan. Pada tahap ini, bayi dapat tertular dari darah atau cairan milik ibu yang telah terinfeksi HIV. Biasanya cairan ini mungkin sudah terminum oleh bayi, sehingga virus yang terdapat di dalamnya mulai menginfeksi.

Pada wanita yang positif terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan yang keluar dari area kewanitaannya. sekitar 21 persen dari virus tersebut juga ditemukan pada bayi yang dilahirkan. Namun, risiko penularan HIV pada bayi saat proses persalinan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti kadar HIV pada cairan vagina ibu, metode persalinan, ulkus serviks, dan permukaan dinding vagina. Selain itu, faktor infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur juga bisa memengaruhi.

Selanjutnya, penularan HIV juga bisa terjadi selama ibu menyusui bayi. Penularan lewat Air Susu Ibu (ASI) bahkan meningkat hingga dua kali lipat. Penularan HIV lewat ASI bisa mencapai 5 hingga 20 persen. ASI diketahui mengandung virus dalam jumlah cukup banyak.

Beberapa kondisi saat menyusui juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV pada bayi. Salah satunya adalah luka di sekitar puting susu, luka di mulut bayi hingga fungsi kekebalan tubuh bayi. Sebuah penelitian menyebutkan risiko penularan HIV melalui ASI terjadi pada 3 dari 100 anak per tahun.

Tips Mencegah Penularan HIV pada Bayi

Meski begitu, bukan berarti ibu hamil yang terinfeksi HIV tidak bisa melahirkan bayi yang sehat. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV pada bayi:

1. Minum Obat Antiretroviral

Sejumlah ahli menyarankan ibu hamil untuk mengonsumsi obat antiretroviral untuk mencegah penularan pada janin. Minum obat HIV ini sedini mungkin bisa mengurangi viral load (jumlah virus dalam cairan tubuh) ibu. Semakin rendah viral load, semakin kecil kemungkinan penularan HIV pada bayi. Namun, pastikan ibu membicarakannya terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat antiretroviral.

2. Melahirkan dengan Cara Caesar

Bila hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa viral load ibu hamil tinggi, maka dokter kandungan biasanya akan menyarankan metode persalinan caesar untuk mencegah penularan HIV pada bayi.

3. Memberikan Obat HIV pada Bayi

Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV biasanya akan diberikan obat HIV selama sekitar 4 minggu untuk mencegah infeksi HIV. Bayi juga akan dites HIV dalam waktu 48 jam setelah lahir, lalu dites lagi pada usia 6 dan 12 minggu. Tes terakhir juga diperlukan saat bayi berusia 18 bulan.

4. Jangan Menyusui Bayi Secara Langsung

Bila ibu mengonsumsi obat antiretroviral dan viral load sudah tidak terdeteksi lagi, ibu mungkin bisa menyusui bayi secara langsung dari payudara. Namun, ibu dianjurkan untuk memberi bayi susu formula lewat botol, karena lebih aman.

Itulah penjelasan mengenai ibu hamil yang bisa menularkan HIV pada bayi. Bila ibu termasuk orang yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, ada baiknya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sekarang ibu bisa melakukan pemeriksaan kesehatan dengan mudah melalui aplikasi Halodoc. Caranya tinggal buat janji di rumah sakit pilihan ibu lewat aplikasi. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.

Referensi:
National Health Service. Diakses pada 2022. Can HIV be passed to an unborn baby in pregnancy or through breastfeeding?.
The American College of Obstetricians and Gynecologist. Diakses pada 2022. HIV and Pregnancy.
HIV Gov. Diakses pada 2022. Preventing Perinatal Transmission of HIV
Better Health. Diakses pada 2022. HIV and women – having children.