Ad Placeholder Image

ICD 10 Kejang Demam: Kode, Gejala, dan Penanganan

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

ICD-10 adalah singkatan dari International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems edisi ke-10.

ICD 10 Kejang Demam: Kode, Gejala, dan PenangananICD 10 Kejang Demam: Kode, Gejala, dan Penanganan

DAFTAR ISI


Kejang demam merupakan salah satu kondisi medis yang paling sering memicu kecemasan luar biasa pada orang tua. Fenomena ini biasanya terjadi pada anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh secara drastis. Dalam dunia medis global, standarisasi diagnosis sangat penting untuk memastikan penanganan yang tepat, dan di sinilah sistem ICD-10 berperan besar.

ICD-10 atau International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision adalah sistem klasifikasi yang diterbitkan oleh WHO untuk mengkodekan berbagai penyakit, tanda, gejala, hingga penyebab eksternal cedera. Mengetahui kode ICD-10 untuk kejang demam bukan hanya urusan administratif bagi tenaga kesehatan, tetapi juga membantu dalam pemetaan riwayat medis pasien secara akurat.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa kejang demam berbeda dengan epilepsi. Meskipun terlihat menakutkan, sebagian besar kejang demam bersifat jinak dan tidak menyebabkan kerusakan otak. Namun, pemahaman mendalam mengenai klasifikasi, gejala, dan prosedur penanganannya sangat dibutuhkan agar kamu tidak panik saat menghadapinya.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai kode ICD-10 untuk kejang demam, bagaimana dokter mendiagnosisnya, serta langkah-langkah medis yang perlu diambil. Jika kamu membutuhkan sediaan penurun panas sebagai langkah preventif, kamu bisa beli obat online di Halodoc dengan jaminan produk 100% asli dan diantar langsung ke rumah.

Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai klasifikasi ICD-10 untuk kejang demam? Berikut ulasannya!

Memahami ICD-10 Kejang Demam

Dalam sistem klasifikasi internasional, kejang demam dikelompokkan dalam kategori “Symptoms, signs and abnormal clinical and laboratory findings, not elsewhere classified”. Secara spesifik, kejang demam menggunakan kode utama R56.0. Penggunaan kode ini membantu dokter di seluruh dunia untuk mengidentifikasi bahwa kejang yang dialami pasien dipicu oleh demam, bukan oleh infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis atau gangguan metabolik.

Dokter akan menetapkan kode ini setelah melakukan anamnesis (tanya jawab medis) dan pemeriksaan fisik untuk memastikan tidak ada penyebab lain dari kejang tersebut. Kejang demam sendiri terbagi menjadi dua tipe utama berdasarkan durasi dan karakteristiknya, yang juga memiliki sub-kode berbeda dalam sistem ICD-10.

Klasifikasi Kode R56.0

Berikut adalah rincian sub-kode ICD-10 yang digunakan untuk mengklasifikasikan jenis kejang demam pada anak:

1. R56.00 (Simple Febrile Convulsions)

Ini adalah kode untuk kejang demam sederhana. Kejang ini bersifat umum (seluruh tubuh), berlangsung kurang dari 15 menit, dan tidak berulang dalam waktu 24 jam. Sebagian besar kasus kejang demam masuk dalam kategori ini dan biasanya memiliki prognosis yang sangat baik.

2. R56.01 (Complex Febrile Convulsions)

Kode ini digunakan untuk kejang demam kompleks. Karakteristiknya meliputi durasi kejang lebih dari 15 menit, kejang bersifat fokal (hanya pada satu bagian tubuh), atau terjadi lebih dari satu kali dalam kurun waktu 24 jam. Kondisi ini memerlukan observasi medis yang lebih ketat.

Faktor Pemicu Kejang Demam
  1. Kenaikan suhu tubuh yang terlalu cepat (biasanya di atas 38 derajat Celcius).
  2. Riwayat genetik atau keluarga yang pernah mengalami kejang demam.
  3. Infeksi virus seperti roseola, influenza, atau infeksi saluran pernapasan atas.

Gejala dan Tanda Klinis

Saat seorang anak mengalami kejang demam, ada beberapa tanda klinis yang akan dicatat oleh dokter sebagai dasar penentuan kode ICD-10. Gejala ini sering kali muncul saat suhu tubuh anak mulai meningkat tajam. Berikut adalah beberapa gejala umumnya:

  • Hilangnya kesadaran secara tiba-tiba.
  • Gerakan menyentak atau kelojotan pada tangan dan kaki.
  • Mata mendelik ke atas atau berputar.
  • Kekakuan pada otot tubuh.
  • Kesulitan bernapas atau kulit tampak pucat/kebiruan selama kejang berlangsung.

Setelah kejang berhenti, anak biasanya akan tampak mengantuk atau bingung selama beberapa menit. Ini disebut sebagai fase post-ictal. Jika kamu mendapati gejala ini pada anak, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan arahan medis yang tepat.

Penanganan Pertama di Rumah

Menghadapi anak yang kejang memang menakutkan, namun tetap tenang adalah kunci utama. Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan:

1. Pastikan Keamanan Lingkungan

Letakkan anak di permukaan yang datar dan empuk, seperti lantai beralas karpet atau tempat tidur. Jauhkan benda-benda tajam atau keras dari sekitar anak untuk mencegah cedera fisik saat terjadi hentakan otot.

2. Posisikan Miring

Miringkan tubuh anak ke salah satu sisi (posisi mantap). Hal ini bertujuan untuk mencegah anak tersedak oleh air liur atau muntahan, sehingga jalan napas tetap terbuka dengan baik.

3. Jangan Memasukkan Benda Apapun ke Mulut

Terdapat mitos bahwa memasukkan sendok atau kayu ke mulut dapat mencegah lidah tergigit. Faktanya, hal ini sangat berbahaya karena bisa mematahkan gigi anak atau menyumbat jalan napas. Lidah jarang sekali tergigit secara fatal saat kejang.

4. Catat Durasi Kejang

Gunakan jam untuk melihat berapa lama kejang berlangsung. Informasi durasi ini sangat krusial bagi dokter untuk menentukan apakah kejang termasuk dalam kategori kode R56.00 atau R56.01.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kejang demam tidak berbahaya, ada beberapa kondisi “red flag” yang mengharuskan kamu segera membawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD):

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
  • Anak mengalami kesulitan bernapas atau wajah membiru.
  • Kejang terjadi berulang dalam satu periode demam.
  • Anak tidak kunjung sadar atau tampak sangat lemas setelah kejang berhenti.
  • Kejang disertai dengan kaku kuduk, muntah menyemprot, atau ubun-ubun menonjol (indikasi infeksi otak).

Diagnosis yang akurat melalui pemeriksaan fisik dan penelusuran riwayat medis sangat penting. Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan penunjang seperti tes darah atau dalam kasus tertentu, pungsi lumbal, untuk memastikan tidak ada kondisi serius lainnya.

Studi Mengenai Kejang Demam dan Diagnosis

StatPearls / NCBI menerbitkan studi di tahun 2023 yang menjelaskan bahwa kejang demam terjadi pada 2% hingga 5% anak-anak di Amerika Serikat dan Eropa, serta angka yang lebih tinggi di beberapa populasi Asia. Studi ini menekankan pentingnya klasifikasi ICD-10 untuk membedakan antara kejang demam sederhana dan kompleks.

Penelitian tersebut juga mengonfirmasi bahwa kejang demam sederhana (R56.00) tidak meningkatkan risiko defisit neurologis di masa depan, sementara kejang kompleks (R56.01) memerlukan evaluasi lebih lanjut terhadap risiko epilepsi di kemudian hari. Hal ini memberikan ketenangan bagi orang tua bahwa mayoritas kasus adalah kondisi yang dapat dikelola dengan baik.

Selain penanganan medis, menjaga ketersediaan obat penurun panas (antipiretik) di rumah sebagai tindakan suportif sangatlah penting. Kamu bisa dengan mudah mendapatkan kebutuhan medis tersebut dengan cara beli obat online di Halodoc, agar persiapan menghadapi demam anak menjadi lebih maksimal.

Anak Mengalami Kejang saat Demam dan Bingung Langkah Pertamanya? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau kekhawatiran tentang kondisi si kecil, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant (HILDA) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika gejala anak berlanjut atau suhu tubuh tidak kunjung turun setelah pemberian obat, jangan menunda untuk mendapatkan bantuan medis profesional. Kamu bisa mendapatkan obat-obatan di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang lebih akurat sesuai dengan protokol ICD-10.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10) – R56.0.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Febrile Seizure: Symptoms and Causes.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Diakses pada 2026. Febrile Seizures Fact Sheet.
StatPearls Publishing. Diakses pada 2026. Febrile Seizure.

FAQ

1. Apakah kode ICD-10 kejang demam sama untuk semua usia?

Kode R56.0 spesifik merujuk pada kejang yang dipicu oleh demam. Meskipun secara klinis kejang demam umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, kode ini tetap digunakan dalam pendokumentasian medis untuk kondisi kejang akibat demam pada kelompok usia tersebut.

2. Apa perbedaan utama R56.00 dan R56.01?

Perbedaan utamanya terletak pada durasi dan sifat kejangnya. R56.00 digunakan untuk kejang singkat (kurang dari 15 menit) dan menyeluruh, sedangkan R56.01 untuk kejang yang lebih lama, bersifat lokal, atau berulang dalam 24 jam.

3. Apakah kejang demam bisa menyebabkan anak menjadi tidak pintar?

Studi medis menunjukkan bahwa kejang demam sederhana (R56.00) tidak memengaruhi kecerdasan, performa sekolah, maupun struktur otak anak. Otak anak tetap berkembang normal pasca kejadian tersebut.

4. Bisakah kejang demam dicegah dengan obat penurun panas?

Obat penurun panas seperti parasetamol dapat membuat anak merasa lebih nyaman saat demam, namun secara klinis obat-obatan ini tidak selalu dapat mencegah terjadinya kejang demam karena kejang sering terjadi saat suhu naik dengan sangat cepat.