Ad Placeholder Image

ICD 10 Sindrom Nefrotik: Kode, Jenis, dan Penjelasan Lengkap

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

ICD 10 Sindrom Nefrotik: Kode, Jenis, & Diagnosis

ICD 10 Sindrom Nefrotik: Kode, Jenis, dan Penjelasan LengkapICD 10 Sindrom Nefrotik: Kode, Jenis, dan Penjelasan Lengkap

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa ingin buang air kecil, tetapi urine sulit keluar atau tidak bisa keluar sama sekali? Kondisi medis ini dikenal sebagai retensi urine. Dalam dunia medis, setiap penyakit memiliki kode klasifikasi internasional yang disebut ICD-10. Mengetahui kode icd 10 retensi urine sangat penting bagi tenaga medis untuk menentukan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat bagi pasien.

Retensi urine bukan sekadar gangguan kenyamanan saat di toilet. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memicu komplikasi serius, mulai dari infeksi saluran kemih (ISK) hingga kerusakan ginjal permanen. Oleh karena itu, memahami penyebab di balik kode diagnosa ini menjadi langkah awal yang krusial untuk pemulihan kamu.

Banyak faktor yang bisa memicu terjadinya retensi urine, baik yang bersifat akut maupun kronis. Mulai dari masalah pada kelenjar prostat pada pria, gangguan saraf, hingga efek samping penggunaan obat-obatan tertentu. Penanganan yang cepat dan tepat sangat menentukan tingkat kesembuhan pasien.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai kode ICD-10 untuk kondisi ini serta bagaimana cara penanganannya? Berikut ulasannya!

Mengenal Kode ICD 10 Retensi Urine

ICD-10 (International Classification of Diseases, 10th Revision) adalah standar global untuk melaporkan penyakit dan kondisi kesehatan. Untuk retensi urine, kode utamanya berada di kategori R33. Namun, kode ini memiliki beberapa spesifikasi lebih lanjut tergantung pada penyebab atau kondisi penyertanya.

Beberapa klasifikasi yang sering digunakan antara lain:

  • R33.0: Drug-induced retention of urine (Retensi urine yang disebabkan oleh induksi obat-obatan).
  • R33.8: Other retention of urine (Retensi urine jenis lainnya).
  • R33.9: Retention of urine, unspecified (Retensi urine yang tidak dispesifikasikan).

Penggunaan kode ini memudahkan fasilitas kesehatan dalam mengelompokkan data pasien dan membantu proses administrasi asuransi. Jika kamu melihat kode ini di lembar resume medis, artinya dokter mendiagnosis adanya gangguan pengosongan kandung kemih.

Gejala Retensi Urine yang Perlu Diwaspadai

Retensi urine terbagi menjadi dua jenis utama, yakni akut dan kronis. Gejala yang muncul pada keduanya bisa sangat berbeda. Retensi urine akut merupakan keadaan darurat medis yang ditandai dengan ketidakmampuan tiba-tiba untuk buang air kecil, disertai nyeri hebat di perut bagian bawah.

Sementara itu, retensi urine kronis berkembang secara perlahan. Kamu mungkin masih bisa buang air kecil, namun kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong. Gejala retensi urine kronis meliputi frekuensi buang air kecil yang meningkat (lebih dari 8 kali sehari), aliran urine yang lemah atau terputus-putus, serta perasaan ingin buang air kecil lagi segera setelah selesai dari toilet.

Tanda Bahaya Retensi Urine Akut
  1. Ketidakmampuan total untuk mengeluarkan urine.
  2. Nyeri hebat dan mendadak di area panggul atau perut bawah.
  3. Perut bagian bawah terasa keras atau bengkak saat diraba.

Penyebab Umum Retensi Urine

Mengapa seseorang bisa mengalami retensi urine? Secara farmakologis dan fisiologis, ada beberapa mekanisme utama yang menghambat keluarnya urine dari tubuh:

1. Obstruksi atau Sumbatan

Pada pria, penyebab paling umum adalah Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. Prostat yang membesar akan menekan uretra (saluran kencing), sehingga aliran urine terhambat. Selain itu, batu kandung kemih atau striktur uretra (penyempitan saluran) juga bisa menjadi penyebabnya.

2. Masalah Saraf (Neurogenik)

Proses buang air kecil melibatkan koordinasi antara otak, saraf tulang belakang, dan otot kandung kemih. Jika terjadi kerusakan saraf akibat stroke, diabetes, cedera tulang belakang, atau persalinan vagina yang sulit, sinyal untuk berkemih mungkin tidak sampai dengan baik ke otak.

3. Efek Samping Obat-obatan

Beberapa jenis obat dapat mengganggu kontraksi otot kandung kemih. Obat-obatan golongan antikolinergik, antidepresan, serta beberapa obat flu yang mengandung dekongestan dapat memicu kesulitan buang air kecil pada individu yang rentan.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Jika kamu mengalami kesulitan buang air kecil secara terus-menerus, jangan tunda untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen pada sistem urinaria.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, tes urine, hingga pemeriksaan penunjang seperti USG kandung kemih untuk mengukur volume urine sisa (residual urine). Jika ditemukan adanya infeksi, dokter mungkin akan menyarankan kamu untuk beli obat online di Halodoc sesuai dengan resep yang diberikan.

Studi Mengenai Retensi Urine

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi di tahun 2022 yang menjelaskan bahwa angka kejadian retensi urine akut meningkat signifikan seiring bertambahnya usia, terutama pada pria di atas 60 tahun akibat perkembangan BPH.

Studi tersebut menekankan bahwa intervensi medis tepat waktu, seperti kateterisasi atau pemberian obat penghambat alfa, dapat menurunkan risiko gagal ginjal akut pada pasien dengan kode R33. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi masyarakat mengenai gejala awal gangguan berkemih.

Penting bagi setiap individu untuk menjaga kesehatan saluran kemih dengan cukup minum air putih dan tidak sering menahan kencing. Jika gejala muncul, segera cari bantuan medis profesional.

Kamu bisa mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai masalah kesehatan ini dan memesan layanan kesehatan dengan praktis melalui aplikasi Halodoc.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. ICD-10 Version:2019 – R33 Retention of urine.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Urinary Retention: Symptoms and Causes.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2026. Urinary Retention.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Acute and Chronic Urinary Retention.

FAQ

1. Apa bedanya retensi urine akut dan kronis?

Retensi urine akut terjadi tiba-tiba, terasa sangat nyeri, dan merupakan darurat medis. Retensi urine kronis berlangsung lama, seringkali tidak nyeri di awal, namun pasien tidak bisa mengosongkan kandung kemih sepenuhnya.

2. Apakah wanita bisa mengalami retensi urine?

Ya, meskipun lebih sering terjadi pada pria karena masalah prostat, wanita bisa mengalami retensi urine akibat kista, prolaps organ panggul, atau gangguan saraf setelah persalinan.

3. Apakah menahan kencing bisa menyebabkan retensi urine?

Sering menahan kencing dalam jangka panjang dapat melemahkan otot kandung kemih, yang pada akhirnya bisa meningkatkan risiko terjadinya retensi urine kronis.

4. Bagaimana cara menangani retensi urine secara darurat?

Penanganan utama di rumah sakit biasanya melibatkan pemasangan kateter untuk mengeluarkan urine yang tertahan guna meredakan tekanan dan nyeri pada kandung kemih.


## Punya Masalah Berkemih tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan terkait sulit buang air kecil atau gejala retensi urine, tapi bingung harus melakukan apa? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

HILDA ([Halodoc Intelligent Digital Assistant](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.