Ad Placeholder Image

ICD-10 SNH: Kode dan Diagnosis Gangguan Pendengaran Sensorineural

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 22 Juni 2026

Kode ICD-10 untuk gangguan pendengaran sensorineural (SNH) berada di kelompok H90.

ICD-10 SNH: Kode dan Diagnosis Gangguan Pendengaran SensorineuralICD-10 SNH: Kode dan Diagnosis Gangguan Pendengaran Sensorineural

DAFTAR ISI


Kesehatan telinga sering kali menjadi salah satu aspek kebersihan tubuh yang paling sering disalahpahami oleh banyak orang. Hampir setiap orang pernah merasa telinganya kotor atau tersumbat, lalu secara refleks mengambil korek kuping atau benda kecil lainnya untuk membersihkannya. Namun, tahukah kamu bahwa tindakan ini justru sering kali menjadi awal mula dari masalah medis yang dalam dunia kedokteran diklasifikasikan dengan kode ICD 10 serumen, atau lebih spesifiknya impaksi serumen?

Serumen, yang secara awam dikenal sebagai kotoran telinga, sebenarnya bukanlah “kotoran” dalam arti harfiah. Ini adalah zat alami yang diproduksi oleh kelenjar di dalam saluran telinga yang memiliki fungsi perlindungan sangat vital. Masalah baru akan muncul ketika serumen ini menumpuk, mengeras, dan menyumbat saluran telinga, sebuah kondisi klinis yang tercatat secara resmi dalam sistem klasifikasi penyakit internasional (ICD-10). Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas pendengaran dan aktivitas sehari-hari secara signifikan.

Penting untuk memahami kondisi ini dengan benar agar kamu tidak melakukan penanganan mandiri yang justru membahayakan gendang telinga. Mengorek telinga terlalu dalam dapat mendorong serumen semakin masuk, menyebabkan sumbatan total yang memerlukan intervensi medis oleh dokter spesialis THT. Oleh karena itu, edukasi mengenai cara kerja serumen, penyebab penumpukannya, serta bagaimana penanganan medis yang aman menjadi sangat krusial bagi masyarakat umum.

Nah, mau tahu lebih dalam tentang apa itu ICD 10 serumen, bagaimana gejalanya, serta langkah penanganan yang tepat dan aman menurut standar medis? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu ICD-10 H61.2 (Impaksi Serumen)?

Dalam dunia medis global, setiap penyakit dan kondisi kesehatan memiliki kode standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sistem ini dikenal dengan sebutan International Classification of Diseases, revisi ke-10 (ICD-10). Sistem pengkodean ini sangat penting bagi dokter, rumah sakit, dan penyedia asuransi kesehatan untuk mendokumentasikan diagnosis secara seragam di seluruh dunia.

Untuk kasus penumpukan kotoran telinga yang menyumbat, kode medis yang digunakan adalah ICD-10 H61.2, yang secara spesifik merujuk pada Impaction of cerumen (Impaksi serumen). Kode ini masuk dalam kategori yang lebih luas, yaitu “Penyakit pada telinga dan prosesus mastoideus” (H60-H95), dan subkategori “Kelainan lain pada telinga luar” (H61).

Seorang dokter akan mencatat diagnosis ICD-10 H61.2 apabila dari hasil pemeriksaan otoskopi ditemukan adanya serumen yang menutupi sebagian besar atau seluruh saluran telinga luar (kanalis akustikus eksternus), yang menyebabkan keluhan klinis pada pasien seperti penurunan pendengaran, rasa penuh di telinga, atau nyeri. Diagnosis ini membedakan sumbatan serumen dari penyebab penyumbatan telinga lainnya, seperti benda asing (kode yang berbeda) atau infeksi telinga luar (otitis eksterna).

Fungsi Alami Serumen pada Telinga

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai impaksi atau penyumbatannya, sangat penting untuk meluruskan persepsi tentang kotoran telinga. Serumen dibentuk di sepertiga bagian luar saluran telinga. Zat ini merupakan campuran dari sekresi kelenjar sebasea (kelenjar minyak), kelenjar seruminosa (kelenjar keringat yang bermodifikasi), sel-sel kulit mati yang terkelupas, dan partikel debu atau kotoran yang terperangkap.

Secara medis, serumen memiliki setidaknya tiga fungsi utama yang sangat penting bagi kesehatan telinga luar:

  1. Fungsi Lubrikasi (Pelumasan): Serumen mencegah kulit di dalam saluran telinga menjadi kering, gatal, dan pecah-pecah. Tanpa serumen yang cukup, telinga luar akan terasa sangat gatal dan rentan terhadap iritasi ringan.
  2. Fungsi Perlindungan (Mekanik): Teksturnya yang lengket bertindak seperti perangkap lalat. Serumen menangkap debu, kotoran, serangga kecil, dan partikel asing lainnya sebelum mereka bisa mencapai dan merusak gendang telinga (membran timpani) yang sangat sensitif.
  3. Fungsi Antibakteri dan Antijamur: Serumen bersifat sedikit asam (pH sekitar 4 hingga 5). Lingkungan asam ini, dikombinasikan dengan enzim lisozim yang terdapat di dalamnya, menciptakan kondisi yang tidak ramah bagi pertumbuhan bakteri patogen dan jamur, sehingga mencegah terjadinya infeksi telinga luar.

Dalam kondisi normal dan ideal, telinga memiliki mekanisme pembersihan diri otomatis (self-cleaning mechanism). Gerakan rahang saat kita berbicara, mengunyah, dan menguap membantu mendorong serumen lama dari dalam saluran telinga perlahan-lahan ke arah luar. Sesampainya di muara telinga, serumen ini akan mengering, mengelupas, dan jatuh dengan sendirinya, sering kali tanpa kita sadari.

Penyebab Terjadinya Impaksi Serumen

Masalah impaksi serumen (ICD-10 H61.2) terjadi ketika mekanisme pembersihan otomatis ini terganggu, atau ketika kelenjar di telinga memproduksi serumen lebih cepat dari yang bisa dikeluarkan oleh tubuh. Ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu penumpukan dan pengerasan kotoran telinga:

1. Penggunaan Alat Pembersih Telinga yang Salah

Ini adalah penyebab nomor satu dan paling umum dari impaksi serumen. Banyak orang secara rutin membersihkan telinga menggunakan cotton bud (korek kuping berujung kapas), jepit rambut, lidi, atau bahkan jari tangan. Alih-alih mengeluarkan serumen, alat-alat ini justru mendorong mayoritas serumen semakin dalam ke arah gendang telinga. Karena bagian dalam saluran telinga tidak memiliki kelenjar serumen dan mekanisme pembersihan diri, serumen yang terdorong ke area ini akan terjebak, menumpuk, dan akhirnya mengeras seperti batu.

2. Bentuk Anatomi Saluran Telinga

Setiap orang memiliki bentuk dan ukuran saluran telinga yang berbeda. Beberapa orang terlahir dengan anatomi saluran telinga yang sempit, berkelok-kelok, atau memiliki banyak rambut halus di bagian depan saluran telinganya. Kondisi anatomi seperti ini membuat serumen alami lebih sulit untuk keluar secara otomatis, sehingga risiko penumpukan menjadi jauh lebih tinggi.

3. Faktor Usia (Penuaan)

Seiring bertambahnya usia, karakteristik kelenjar di dalam tubuh ikut berubah. Pada orang dewasa yang lebih tua atau lansia, kelenjar sebasea dan seruminosa mengalami atrofi, sehingga serumen yang diproduksi menjadi lebih kering dan keras. Serumen yang kering ini lebih sulit bergerak keluar dan sangat mudah menumpuk, menyebabkan sumbatan.

4. Penggunaan Perangkat Telinga secara Rutin

Orang-orang yang secara rutin menggunakan alat bantu dengar (hearing aids), earphone jenis in-ear, atau penyumbat telinga (earplugs) untuk tidur atau bekerja memiliki risiko tinggi mengalami impaksi serumen. Perangkat-perangkat ini secara fisik memblokir jalan keluar alami serumen dan sering kali tanpa sengaja mendorong kotoran kembali ke dalam setiap kali dimasukkan ke telinga.

5. Kondisi Kulit Tertentu

Penyakit kulit yang memengaruhi area telinga, seperti eksim, psoriasis, atau dermatitis seboroik, dapat menyebabkan peningkatan jumlah sel kulit mati yang terkelupas di dalam saluran telinga. Serpihan kulit mati ini akan bercampur dengan serumen, menciptakan massa padat yang dengan cepat menyumbat telinga.

Bahan Perhatian: Bahaya Menggunakan Cotton Bud
  1. Mendorong kotoran: Alih-alih membersihkan, kapas pada cotton bud mendorong kotoran telinga semakin dalam dan memadatkannya.
  2. Risiko infeksi: Menggesekkan kapas dapat menyebabkan luka mikro pada kulit saluran telinga yang sensitif, membuka jalan bagi bakteri untuk masuk dan menyebabkan infeksi (Otitis Eksterna).
  3. Ancaman gendang telinga: Jika didorong terlalu dalam atau tersenggol saat membersihkan telinga, cotton bud dapat merobek atau melubangi gendang telinga, yang bisa menyebabkan tuli permanen.

Gejala Impaksi Serumen yang Harus Diwaspadai

Tumpukan serumen yang sedikit mungkin tidak menimbulkan gejala apa-apa. Namun, ketika serumen sudah membentuk sumbatan (prop) yang mengisi sebagian besar atau seluruh diameter saluran telinga, berbagai gejala klinis akan mulai bermunculan. Berikut adalah tanda-tanda kamu mungkin menderita kondisi ICD-10 H61.2:

1. Penurunan Kualitas Pendengaran
Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah penurunan pendengaran secara tiba-tiba atau bertahap pada telinga yang tersumbat. Suara akan terdengar meredam, seolah-olah kamu sedang berada di bawah air atau memakai penutup telinga tebal. Jika kamu mengalami gangguan pendengaran seperti ini, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter daripada mencoba membersihkannya sendiri.

2. Sensasi Penuh di Dalam Telinga (Aural Fullness)
Telinga akan terasa sangat penuh, tersumbat, dan berat. Sensasi ini mirip dengan apa yang kamu rasakan saat pesawat sedang lepas landas atau mendarat, namun tidak hilang meskipun kamu sudah menelan ludah, menguap, atau mencoba memencet hidung sambil menghembuskan napas.

3. Telinga Berdenging (Tinnitus)
Sumbatan serumen dapat mengubah cara gelombang suara merambat di saluran telinga dan menciptakan tekanan abnormal pada gendang telinga. Hal ini sering memicu timbulnya suara dengingan, desisan, atau gemuruh di dalam telinga, yang secara medis dikenal sebagai tinnitus.

4. Nyeri Telinga (Otalgia)
Jika serumen yang mengeras menekan kulit saluran telinga yang sensitif atau menempel langsung pada gendang telinga, akan timbul rasa nyeri yang tumpul atau berdenyut. Nyeri ini bisa bertambah parah saat kamu menarik daun telinga atau saat mengunyah makanan.

5. Pusing atau Vertigo Ringan
Dalam beberapa kasus yang cukup parah, di mana sumbatan serumen memberikan tekanan kuat pada gendang telinga yang kemudian diteruskan ke struktur telinga bagian dalam (pusat keseimbangan), pasien dapat mengalami sensasi pusing, pening, atau perasaan ruangan berputar (vertigo ringan).

6. Batuk Refleks
Ini adalah gejala yang unik dan jarang disadari. Saluran telinga bagian luar dipersarafi oleh cabang saraf vagus (saraf kranial ke-10). Ketika serumen yang keras menstimulasi atau menggelitik saraf ini, hal itu bisa memicu refleks batuk kering kronis yang tidak bisa dijelaskan oleh penyakit saluran pernapasan.

Diagnosis dan Penanganan Medis Impaksi Serumen

Jika kamu datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan-keluhan di atas, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan fisik sederhana namun sangat penting. Diagnosis ICD-10 H61.2 dipastikan melalui pemeriksaan yang disebut otoskopi.

Dengan menggunakan alat bernama otoskop (corong berlampu kecil dan lensa pembesar), dokter akan melihat langsung ke dalam saluran telinga. Melalui otoskop, dokter dapat menilai seberapa besar sumbatan serumen, konsistensinya (lunak, lengket, atau keras seperti batu), dan apakah ada komplikasi lain seperti peradangan atau infeksi di sekitarnya.

Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan tidak boleh dilakukan sembarangan. Metode ekstraksi kotoran telinga akan disesuaikan dengan jenis serumen dan riwayat medis pasien. Berikut adalah beberapa metode penanganan standar medis yang umum dilakukan:

1. Penggunaan Agen Serumenolitik (Pelunak Serumen)

Jika serumen terlihat sangat keras dan kering, dokter biasanya tidak akan langsung mencoba mengeluarkannya secara paksa karena berisiko melukai saluran telinga. Langkah pertama sering kali melibatkan penggunaan obat tetes telinga khusus yang berfungsi sebagai serumenolitik. Cairan ini (bisa berupa hidrogen peroksida, minyak mineral, gliserin, atau obat tetes khusus) bekerja dengan cara memecah dan melunakkan struktur kotoran telinga yang mengeras. Penggunaan obat tetes telinga ini umumnya diresepkan selama 3 hingga 5 hari sebelum pasien dijadwalkan untuk prosedur pembersihan selanjutnya.

2. Irigasi Telinga (Ear Syringing)

Ini adalah salah satu prosedur klinis yang paling umum untuk mengatasi serumen. Setelah serumen melunak, dokter atau perawat terlatih akan menyemprotkan aliran air hangat (sesuai suhu tubuh) secara perlahan dan terarah ke dalam saluran telinga menggunakan alat spuit besar khusus. Tekanan air yang disemprotkan ke dinding atas saluran telinga akan mengalir ke belakang sumbatan serumen dan mendorong kotoran tersebut keluar. Prosedur ini sangat efektif, namun dikontraindikasikan (tidak boleh dilakukan) pada pasien yang memiliki riwayat gendang telinga robek, pernah menjalani operasi telinga, atau sedang mengalami otitis eksterna akut.

3. Ekstraksi Manual / Mikrosuksion

Untuk pasien yang tidak bisa menjalani irigasi telinga, dokter spesialis THT akan melakukan pengangkatan serumen secara manual di bawah panduan mikroskop (untuk visualisasi yang sangat jelas). Dokter dapat menggunakan alat penyedot mikro (microsuction) yang bekerja seperti vacuum cleaner mini bertekanan rendah untuk menyedot kotoran. Atau, dokter bisa menggunakan instrumen khusus seperti kuret serumen (alat berbentuk cincin kecil atau sendok) dan cunam buaya (alligator forceps) untuk menjepit dan menarik serumen keluar secara mekanis dengan sangat hati-hati.

Mitos dan Fakta Seputar Kebersihan Telinga

Edukasi kesehatan mengenai ICD-10 H61.2 tidak akan lengkap tanpa meluruskan berbagai mitos yang beredar luas di masyarakat terkait cara membersihkan telinga.

Mitos 1: Telinga harus dibersihkan dengan cotton bud setiap habis mandi.
Fakta: Ini sangat salah. Telinga adalah organ yang bisa membersihkan dirinya sendiri. Menggunakan cotton bud justru merusak mekanisme ini dan mendorong kotoran masuk. Cukup keringkan bagian luar telinga (daun telinga) dengan handuk lembut setelah mandi.

Mitos 2: Ear candle (lilin telinga) adalah cara alami dan efektif mengeluarkan kotoran.
Fakta: Terapi ear candle sangat berbahaya dan tidak terbukti secara medis dapat menyedot kotoran telinga. Justru, lelehan lilin panas dari alat tersebut bisa menetes ke dalam saluran telinga, membakar gendang telinga, dan menambah parah sumbatan yang sudah ada.

Mitos 3: Kotoran telinga adalah tanda jorok dan kurang menjaga kebersihan badan.
Fakta: Serumen adalah zat alami yang sehat dan sangat dibutuhkan oleh tubuh, layaknya air mata untuk melumasi bola mata atau lendir hidung untuk menangkap debu. Memiliki kotoran telinga menunjukkan bahwa kelenjar di telingamu berfungsi secara normal dan sehat.

Studi Mengenai Efikasi Penanganan Impaksi Serumen

Cochrane Database of Systematic Reviews menerbitkan studi komprehensif mengenai penanganan kotoran telinga yang menyumbat. Dalam ulasan literatur medis tersebut, peneliti membandingkan penggunaan berbagai jenis tetes telinga pelunak serumen (berbasis air maupun berbasis minyak) dengan terapi tanpa pengobatan (observasi).

Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan obat tetes telinga jenis apa pun jauh lebih efektif dalam membersihkan atau memfasilitasi pengeluaran serumen dibandingkan tidak menggunakan apa-apa. Namun, studi tersebut tidak menemukan bukti kuat bahwa satu jenis tetes telinga tertentu (misalnya, yang berbasis air aktif seperti hidrogen peroksida) secara signifikan lebih unggul dibandingkan jenis lainnya (seperti minyak zaitun medis). Kunci utamanya adalah konsistensi penggunaan selama beberapa hari untuk memastikan kotoran telinga benar-benar lunak sebelum diirigasi atau diangkat oleh dokter.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika kamu sering mengalami rasa penuh di telinga, pendengaran tiba-tiba menurun, atau nyeri telinga yang tak kunjung hilang, jangan menunda untuk mencari pertolongan profesional. Penanganan mandiri dengan mengorek telinga sering kali berujung pada komplikasi yang lebih serius.

Kamu bisa mendapatkan obat-obatan dan produk perawatan telinga yang aman dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis THT terkait masalah kesehatan telinga yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc, kapan saja dan di mana saja.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. ICD-10 Version:2019 (H61.2 Impaction of cerumen).
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Earwax blockage – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Earwax Buildup & Blockage: Causes, Symptoms & Treatments.
Cochrane Library. Diakses pada 2024. Ear drops for the removal of ear wax.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Bahaya Menggunakan Cotton Bud Untuk Membersihkan Telinga.

FAQ

1. Apakah telinga bisa membersihkan dirinya sendiri tanpa perlu dikorek?

Ya, telinga memiliki mekanisme alami seperti conveyor belt. Gerakan otot saat mengunyah dan berbicara akan mendorong kotoran telinga secara perlahan dari bagian dalam ke luar, tempat ia akan mengering dan rontok secara alami.

2. Berapa kali saya harus ke dokter spesialis THT untuk membersihkan telinga?

Untuk orang dengan produksi serumen normal, membersihkan telinga di dokter tidak diwajibkan secara rutin. Namun, bagi individu yang mudah mengalami penumpukan kotoran atau menggunakan alat bantu dengar, disarankan untuk melakukan pemeriksaan dan pembersihan di dokter THT setiap 6 hingga 12 bulan sekali.

3. Apakah obat tetes telinga pelunak serumen bisa dibeli secara bebas di apotek?

Sebagian besar obat tetes pelunak serumen (seperti yang mengandung natrium docusate, hidrogen peroksida, atau fenol gliserin) termasuk dalam kategori obat bebas terbatas dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun, penggunaannya harus sesuai petunjuk dan tidak boleh digunakan jika kamu menduga gendang telingamu robek.

4. Apa yang terjadi jika kotoran telinga yang keras dibiarkan menyumbat terlalu lama?

Jika dibiarkan, impaksi serumen dapat menyebabkan iritasi kronis pada saluran telinga, infeksi sekunder (otitis eksterna akibat kelembapan yang terjebak di balik serumen), penurunan pendengaran konduktif yang parah, dan tinnitus kronis yang sangat mengganggu kenyamanan hidup sehari-hari.