Ad Placeholder Image

ICD-10 SNH: Kode dan Diagnosis Gangguan Pendengaran Sensorineural

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Kode ICD-10 untuk gangguan pendengaran sensorineural (SNH) berada di kelompok H90.

ICD-10 SNH: Kode dan Diagnosis Gangguan Pendengaran SensorineuralICD-10 SNH: Kode dan Diagnosis Gangguan Pendengaran Sensorineural

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasakan telinga tiba-tiba terasa penuh, berdengung, atau pendengaran terasa mendadak berkurang secara signifikan? Kondisi ini sering kali memicu kepanikan karena banyak orang langsung mengaitkannya dengan kerusakan gendang telinga atau infeksi parah. Namun, dalam banyak kasus klinis, keluhan tersebut disebabkan oleh kondisi yang sangat umum namun sering diabaikan, yaitu serumen prop.

Dalam dunia medis dan pencatatan rekam medis global, kondisi penumpukan kotoran telinga yang menyumbat ini dikenal dengan diagnosis serumen prop ICD 10. Penggunaan kode diagnosis ini sangat penting bagi tenaga medis untuk mengklasifikasikan penyakit, menentukan langkah penanganan yang tepat, serta untuk keperluan administrasi asuransi kesehatan atau BPJS di Indonesia.

Serumen prop atau impaksi serumen terjadi ketika kotoran telinga menumpuk, mengeras, dan menutupi saluran telinga secara parsial maupun total. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Jika ditangani dengan cara yang salah, seperti mengoreknya menggunakan benda tajam atau kapas pembersih (cotton bud), kotoran justru dapat terdorong semakin dalam dan berisiko merobek membran timpani (gendang telinga). Oleh karena itu, penanganan yang aman dan berbasis medis sangat diperlukan.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai apa itu diagnosis serumen prop, bagaimana kode ICD-10 mengklasifikasikannya, serta cara paling aman untuk mengatasinya? Berikut ulasan medis selengkapnya yang perlu kamu ketahui!

Memahami Serumen Prop dan Kode ICD-10

Sebelum membahas penanganannya, penting untuk memahami apa itu ICD-10. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10) adalah sistem pengkodean medis yang dirancang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sistem ini digunakan oleh dokter dan rumah sakit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk mendokumentasikan diagnosis penyakit secara seragam.

Untuk diagnosis serumen prop, kode ICD-10 yang digunakan adalah H61.2 (Impaction of cerumen). Kode ini berada di bawah kategori besar penyakit pada telinga dan prosesus mastoid (H60-H95), secara spesifik pada blok gangguan telinga luar (H60-H62).

Pencatatan menggunakan kode serumen prop ICD 10 memastikan bahwa pasien mendapatkan penanganan yang terstandarisasi. Ketika dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) atau dokter umum mendiagnosis kamu dengan H61.2, artinya secara klinis telah dipastikan bahwa sumbatan di saluran telinga murni disebabkan oleh akumulasi kotoran telinga, bukan karena benda asing (corpus alienum), tumor, atau cairan infeksi telinga tengah (otitis media).

Fungsi Alami Kotoran Telinga

Banyak orang menganggap kotoran telinga atau serumen sebagai sesuatu yang jorok dan harus dibersihkan setiap hari. Padahal secara anatomis dan fisiologis, tubuh manusia sengaja memproduksi serumen untuk tujuan perlindungan yang sangat vital. Serumen diproduksi oleh kelenjar seruminosa dan kelenjar sebasea yang terletak di sepertiga bagian luar saluran telinga.

Zat yang sering kali berwarna kekuningan, kecokelatan, atau bahkan keabu-abuan ini memiliki beberapa fungsi krusial:

  1. Perlindungan Fisik: Serumen bertindak sebagai perangkap lengket yang menangkap debu, kotoran, pasir, hingga serangga kecil agar tidak masuk lebih dalam dan merusak gendang telinga.
  2. Sifat Antibakteri dan Antijamur: Kotoran telinga memiliki tingkat keasaman (pH) yang sedikit asam. Kondisi asam ini menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab infeksi telinga luar (otitis eksterna).
  3. Pelumas Alami: Serumen melumasi kulit saluran telinga, mencegahnya menjadi kering, gatal, atau pecah-pecah yang bisa memicu iritasi.

Dalam kondisi normal, telinga memiliki mekanisme “pembersihan mandiri” (self-cleaning). Gerakan rahang saat kita berbicara, mengunyah makanan, dan menguap akan mendorong serumen lama perlahan-lahan keluar menuju liang telinga luar. Setelah mengering, serumen tersebut akan luruh dengan sendirinya saat kita mandi. Namun, ketika proses alami ini terganggu, di sinilah masalah serumen prop muncul.

Gejala Klinis Serumen Prop

Ketika serumen gagal keluar secara alami dan justru menumpuk hingga mengeras (impaksi), seseorang akan mengalami berbagai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Berdasarkan pedoman klinis, gejala umum dari serumen prop meliputi:

  • Penurunan Pendengaran (Tuli Konduktif): Ini adalah gejala paling umum. Sumbatan kotoran menghalangi gelombang suara masuk mencapai gendang telinga. Pendengaran akan terasa seperti sedang berada di dalam air atau teredam.
  • Sensasi Telinga Penuh (Aural Fullness): Pasien sering merasa ada sesuatu yang menyumbat di dalam telinga, mirip dengan sensasi saat telinga kemasukan air atau saat pesawat sedang lepas landas.
  • Tinnitus: Munculnya suara berdenging, berdesir, atau berdengung di dalam telinga yang bukan berasal dari suara eksternal.
  • Otalgia (Nyeri Telinga): Jika kotoran telinga yang mengeras menekan kulit saluran telinga yang sensitif atau menekan langsung ke arah membran timpani, hal ini akan menimbulkan rasa sakit yang cukup tajam.
  • Rasa Gatal yang Intens: Kulit saluran telinga yang teriritasi oleh kotoran yang menumpuk sering kali terasa sangat gatal.
  • Refleks Batuk (Jarang terjadi): Saluran telinga memiliki cabang saraf vagus. Pada beberapa kasus, sumbatan kotoran dapat merangsang saraf ini dan memicu refleks batuk kronis tanpa adanya masalah pada paru-paru atau tenggorokan.
Faktor Pemicu & Mitos Membersihkan Telinga
  1. Mitos Cotton Bud: Menggunakan kapas pembersih atau korek kuping justru mendorong kotoran masuk lebih dalam, melampaui area kelenjar pembuat serumen, hingga akhirnya mengeras di dekat gendang telinga.
  2. Alat Bantu Dengar: Penggunaan earphone, earbud in-ear, atau alat bantu dengar dalam waktu lama dapat menghalangi keluarnya kotoran telinga secara alami.
  3. Anatomi Telinga: Beberapa orang terlahir dengan saluran telinga yang sempit, berkelok-kelok, atau ditumbuhi banyak rambut halus, yang menyulitkan kotoran telinga untuk keluar.

Penyebab dan Faktor Risiko

Mengapa beberapa orang sangat rentan didiagnosis dengan kode ICD-10 H61.2 sementara yang lain tidak pernah mengalaminya seumur hidup? Ada beberapa faktor risiko yang mendasari pembentukan serumen prop. Yang paling utama adalah kebiasaan membersihkan telinga yang keliru. Mayoritas kasus sumbatan telinga akut di ruang gawat darurat atau poliklinik THT diakibatkan oleh penggunaan alat pembersih yang salah.

Selain kebiasaan, seiring bertambahnya usia, kelenjar di saluran telinga perlahan menyusut dan memproduksi serumen yang lebih kering dan kurang kental. Kotoran telinga yang kering ini lebih sulit bergerak keluar dan cenderung menumpuk. Inilah sebabnya mengapa prevalensi serumen prop jauh lebih tinggi pada kelompok usia lanjut (lansia).

Orang dengan disabilitas perkembangan, serta pasien dengan riwayat eksim (dermatitis atopik) di sekitar area telinga juga memproduksi tumpukan kulit mati yang dapat bercampur dengan serumen, mempercepat proses pengerasan kotoran di dalam liang telinga.

Cara Mengatasi Serumen Prop Secara Medis

Penanganan serumen prop harus dilakukan dengan hati-hati. Tujuan utama pengobatannya adalah mengeluarkan kotoran telinga yang keras tanpa melukai saluran telinga atau gendang telinga. Jika kamu mengalami gejala penyumbatan, sebaiknya hindari memasukkan jari, penjepit rambut, atau alat apa pun ke dalam telinga.

1. Penggunaan Obat Tetes Telinga Pelunak (Cerumenolytic)

Langkah pertama yang biasanya direkomendasikan adalah menggunakan zat pelunak kotoran telinga. Obat tetes ini dirancang khusus untuk memecah ikatan serumen yang mengeras sehingga bisa mengalir keluar atau setidaknya menjadi lunak agar mudah dibersihkan oleh dokter. Obat-obatan ini umumnya mengandung bahan aktif seperti hidrogen peroksida, karbamid peroksida, docusate sodium, atau gliserin.

Penting untuk diketahui bahwa obat tetes telinga pelunak serumen sebaiknya tidak digunakan jika pasien memiliki riwayat gendang telinga robek (perforasi), pernah menjalani operasi telinga, atau sedang mengalami infeksi aktif yang ditandai dengan keluarnya cairan bernanah. Jika kamu membutuhkan produk medis untuk mengatasi keluhan ringan ini, kamu bisa langsung beli obat tetes telinga pelunak serumen dengan praktis tanpa harus keluar rumah.

2. Irigasi Telinga (Ear Syringing)

Jika obat tetes tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah, tindakan medis berupa irigasi telinga mungkin diperlukan. Prosedur ini melibatkan penyemprotan aliran air hangat yang steril secara perlahan ke dalam saluran telinga. Tekanan air yang lembut akan mengalir di belakang kotoran yang menyumbat dan mendorongnya keluar. Tindakan ini harus dilakukan oleh tenaga medis profesional untuk menghindari risiko pusing (vertigo) akibat suhu air yang tidak tepat, atau kerusakan pada gendang telinga.

3. Ekstraksi Manual atau Mikro-suction

Pada kasus di mana serumen sangat keras atau pasien memiliki kontraindikasi terhadap cairan irigasi (misalnya penderita diabetes yang rentan terhadap infeksi telinga berat), dokter akan melakukan tindakan ekstraksi manual. Menggunakan alat otoskop khusus dan mikroskop, dokter akan mengeluarkan kotoran secara presisi menggunakan alat pengait kecil (serumen hook) atau alat penyedot vakum bertekanan rendah (mikro-suction).

Tindakan ini sangat aman dan tingkat keberhasilannya mencapai hampir 100 persen. Jika kamu merasakan nyeri telinga yang parah, keluar darah, atau pendengaran tidak kunjung membaik, jangan menunda untuk segera konsultasi ke dokter spesialis THT agar mendapatkan penanganan dan diagnosis yang akurat.

Studi Mengenai Dampak Serumen Prop

Otolaryngology–Head and Neck Surgery menerbitkan panduan klinis di tahun 2017 yang menjelaskan bahwa impaksi serumen mempengaruhi sekitar 1 dari 10 anak-anak, 1 dari 20 orang dewasa, dan lebih dari 30% populasi lansia serta kelompok disabilitas intelektual.

Studi ini menekankan bahwa kegagalan mendiagnosis dan mengobati serumen prop tidak hanya menyebabkan gangguan pendengaran sementara, tetapi pada populasi lanjut usia, kondisi ini berhubungan langsung dengan peningkatan risiko demensia, isolasi sosial, dan depresi ringan karena terputusnya komunikasi dengan lingkungan sekitar. Panduan ini juga dengan tegas menentang penggunaan cotton bud dan terapi lilin telinga (ear candling) karena tidak terbukti efektif dan justru berisiko tinggi menyebabkan cedera termal dan perforasi.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. ICD-10 Version:2019 – H61.2 Impaction of cerumen.
American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery. Diakses pada 2024. Clinical Practice Guideline: Cerumen Impaction.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Earwax blockage – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Earwax Blockage: Causes, Symptoms & Treatment.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Bahaya Menggunakan Cotton Bud Untuk Membersihkan Telinga.

FAQ

1. Apa itu diagnosis serumen prop icd 10?

Serumen prop ICD 10 (dengan kode H61.2) adalah diagnosis medis standar global untuk kondisi sumbatan kotoran telinga yang mengeras. Kode ini digunakan oleh dokter untuk pencatatan rekam medis yang akurat dan klaim asuransi kesehatan atau BPJS.

2. Apakah serumen prop bisa sembuh atau keluar sendiri?

Dalam kondisi normal, kotoran telinga akan keluar sendiri. Namun, jika sudah berubah menjadi serumen prop (impaksi/mengeras) dan menyumbat penuh liang telinga, ia tidak bisa keluar sendiri dan membutuhkan intervensi medis seperti obat tetes pelunak atau tindakan dokter THT.

3. Bagaimana cara dokter mendiagnosis serumen prop?

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menggunakan alat yang disebut otoskop. Alat ini berupa corong bercahaya yang dimasukkan perlahan ke liang telinga untuk melihat langsung ke dalam telinga dan menilai seberapa parah sumbatan kotoran tersebut menutupi gendang telinga.

4. Apakah aman membersihkan telinga menggunakan ear candle (lilin telinga)?

Tidak aman. Tidak ada bukti medis klinis yang menunjukkan bahwa terapi ear candle efektif menyedot kotoran telinga. Sebaliknya, terapi ini justru membawa risiko bahaya yang tinggi, seperti luka bakar di area wajah, rambut terbakar, hingga masuknya lelehan lilin panas yang dapat merusak gendang telinga.