• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Idap Penyakit Sinusitis Alergika Bisa Picu Pompholyx?

Idap Penyakit Sinusitis Alergika Bisa Picu Pompholyx?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Sinusitis dan alergi terkadang punya gejala yang sama. Bahkan, kedua kondisi ini pun bisa datang secara bersamaan. Sinusitis alergika umumnya membuat hidung tersumbat dan sinus membengkak karena berusaha mengeluarkan alergen. Kondisi ini kemudian dapat menghambat lendir untuk keluar sehingga bisa memicu infeksi, rasa sakit dan tekanan. 

Sinusitis alergika dinilai juga mampu memicu pompholyx, yakni penyakit yang memengaruhi kulit akibat alergi. Benarkah demikian? Simak penjelasan berikut ini. 

Baca juga: Ketahui 3 Jenis Sinusitis dan Gejalanya

Benarkah Sinusitis Alergika Picu Pompholyx?

Melansir dari National Eczema Society, penyebab utama pompholyx sebenarnya tidak diketahui pasti. Faktor-faktor seperti stres, sensitivitas terhadap senyawa logam, cuaca panas dan berkeringat diperkirakan dapat memicunya. Pompholyx juga dapat menyebabkan dermatitis kontak,  reaksi kulit yang biasanya terjadi dalam beberapa jam atau beberapa hari setelah terpapar iritasi atau alergen. Namun, sejauh ini tidak diketahui pasti apakah alergi penyebab pompholyx sama dengan alergi yang memicu sinusitis.

Selain itu, sinusitis alergika umumnya mengganggu hidung dan sinus. Sedangkan pompholyx biasanya menyerang tangan dan kaki atau area kulit lain yang rentan terkena dermatitis. Lima puluh persen orang dengan pompholyx umumnya memiliki eksim atopik atau riwayat keluarga dengan eksim atopik. Pompholyx juga bisa muncul bersama dengan infeksi jamur, jadi dokter juga harus memeriksa adanya infeksi jamur di tangan dan kaki jika seseorang dinilai mengidap pompholyx.

Gejala Pompholyx yang Perlu Diwaspadai

Pada umumnya, kemunculan pompholyx ditandai dengan rasa gatal dengan sensasi panas terbakar. Kemudian, diikuti oleh pembentukan lepuhan-lepuhan kulit berukuran kecil dan berisi cairan. Lepuh ini dapat berubah menjadi lepuh yang lebih besar, menyebabkan kemerahan, nyeri, dan pembengkakan. Apabila lepuh ini pecah, kulit akan mengering dan mengelupas dalam beberapa minggu, kemudian kulit menjadi merah dan kering dengan retakan-retakan yang terasa nyeri.

Baca juga: Alasan Stres Emosional Berisiko Picu Pompholyx

Lepuhan kulit biasanya sering kambuh dan terkadang lepuhan kulit baru dapat muncul kembali sebelum kulit sembuh sepenuhnya dari lepuhan sebelumnya. Pada kasus yang parah, lepuhan yang muncul bisa cukup besar dan dapat menyebar ke punggung tangan, kaki, dan anggota badan lainnya. Jika kamu mengalami gejala-gejala ini, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar segera mendapat penanganan yang tepat dari dokter. 

Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit, kamu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Pengobatan untuk Tangani Pompholyx

Pemberian emolien atau pelembap medis adalah pengobatan pertama untuk pompholyx. Pompholyx dapat membuat kulit terasa sangat kering, sehingga harus ditangani dengan pelembap. Apabila kulit lepuh pecah, kulit sangat kering dan berkerak, dokter mungkin menyarankan kamu untuk merendam kulit dalam kalium permanganat yang telah diresepkan dokter sekali atau dua kali seminggu.

Baca juga: Faktor yang Tingkatkan Risiko Pompholyx

Steroid topikal kemungkinan dibutuhkan untuk mengurangi peradangan. Jika tangan dan kaki terasa nyeri, pecah-pecah dan ada kerak kuning, kamu mungkin telah mengalami infeksi bakteri. Kondisi ini memerlukan antibiotik oral yang diresepkan oleh dokter. Perawatan untuk pompholyx berat termasuk fototerapi, obat imunosupresan oral, dan pengobatan dengan obat Alitretinoin.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Is It Sinusitis or Allergies?.
National Eczema Society. Diakses pada 2020. Pompholyx (dyshidrotic) eczema.