Ad Placeholder Image

Ini 5 Infeksi Menular Seksual (IMS) yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

7 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Infeksi menular seksual yang sering terjadi, mulai dari klamidia, gonore, hingga kutil kelamin.

Ini 5 Infeksi Menular Seksual (IMS) yang Paling Sering Terjadi dan Cara MengatasinyaIni 5 Infeksi Menular Seksual (IMS) yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Isu mengenai kesehatan reproduksi masih sering dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka di masyarakat Indonesia. Padahal, minimnya literasi mengenai kesehatan seksual dapat membawa dampak yang sangat fatal, salah satunya adalah tingginya risiko terkena Infeksi Menular Seksual (IMS). Banyak masyarakat, khususnya kelompok usia dewasa muda, yang belum sepenuhnya memahami mengenai apa itu ims, bagaimana cara penularannya, serta apa saja dampak medis yang bisa terjadi jika kondisi ini tidak segera ditangani.

Sebagai seorang apoteker, saya sering mendapati pasien yang merasa malu atau ragu untuk memeriksakan gejalanya, sehingga mereka mencoba mengobati sendiri keluhan di area genitalnya dengan obat-obatan yang tidak tepat. Perlu ditegaskan bahwa IMS tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat bebas, melainkan membutuhkan diagnosis pasti dan resep obat spesifik dari dokter, seperti antibiotik atau antivirus. Penanganan yang terlambat tidak hanya memperburuk gejala, tetapi juga dapat memicu komplikasi serius seperti kemandulan (infertilitas), kehamilan ektopik, hingga peningkatan risiko terkena HIV.

Oleh karena itu, edukasi mengenai definisi, jenis, gejala, hingga cara pencegahan IMS menjadi sangat krusial. Pemahaman yang benar akan menghapus stigma negatif yang sering menyertai penderita IMS, sekaligus mendorong mereka untuk segera mencari pertolongan medis profesional tanpa rasa takut.

Nah, mau tahu penjelasan medis secara menyeluruh mengenai kondisi ini? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu IMS dan Bagaimana Penularannya?

IMS atau Infeksi Menular Seksual (dalam bahasa Inggris disebut Sexually Transmitted Infections / STIs) adalah infeksi yang penularan utamanya terjadi melalui kontak seksual. Kontak seksual ini tidak hanya terbatas pada hubungan seks vaginal, tetapi juga mencakup seks anal dan seks oral. Patogen penyebab IMS dapat hidup dan berkembang biak di area tubuh yang hangat dan lembap, seperti alat kelamin, anus, serta rongga mulut dan tenggorokan.

Selain melalui hubungan seksual, beberapa jenis IMS juga dapat ditularkan melalui rute non-seksual. Contohnya adalah penularan dari ibu ke anak selama masa kehamilan atau proses persalinan (seperti pada kasus sifilis, HIV, dan herpes). Selain itu, penggunaan jarum suntik secara bergantian atau paparan darah yang terinfeksi juga bisa menjadi jalur penularan penyakit seperti HIV dan Hepatitis B.

Jenis-Jenis IMS Berdasarkan Penyebabnya

Secara medis, IMS diklasifikasikan berdasarkan mikroorganisme yang menyebabkannya. Mengetahui penyebab ini sangat penting karena menentukan jenis pengobatan yang akan diresepkan oleh dokter.

1. Infeksi Bakteri

IMS yang disebabkan oleh bakteri umumnya dapat disembuhkan total jika diobati secara dini dengan antibiotik yang tepat. Namun, perlu diingat bahwa antibiotik adalah obat keras yang wajib menggunakan resep dokter. Penggunaan antibiotik sembarangan dapat memicu resistensi bakteri. Beberapa IMS bakteri yang paling umum meliputi:

  • Klamidia (Chlamydia): Disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Ini adalah salah satu IMS yang paling sering terjadi namun jarang disadari karena seringkali tidak menimbulkan gejala (asimtomatik), terutama pada wanita. Jika dibiarkan, dapat memicu Radang Panggul (PID).
  • Gonore (Kencing Nanah): Disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gejala khasnya adalah keluarnya cairan kental berwarna kuning atau hijau dari penis atau vagina, disertai rasa perih saat buang air kecil.
  • Sifilis (Raja Singa): Disebabkan oleh Treponema pallidum. Penyakit ini memiliki beberapa stadium. Pada tahap awal, muncul luka tidak nyeri (chancre) di area kelamin. Jika tidak diobati, sifilis dapat merusak organ dalam, termasuk otak dan jantung, pada tahap tersier bertahun-tahun kemudian.

2. Infeksi Virus

Berbeda dengan bakteri, IMS yang disebabkan oleh virus umumnya tidak dapat disembuhkan secara total. Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk mengendalikan gejala, menekan replikasi virus, dan mencegah komplikasi. Contohnya meliputi:

  • Human Papillomavirus (HPV): Virus ini dapat menyebabkan kutil kelamin. Beberapa strain HPV risiko tinggi bahkan dapat memicu kanker serviks pada wanita, serta kanker penis dan anus pada pria. Pencegahan terbaiknya adalah melalui vaksinasi HPV.
  • Herpes Genital: Disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (terutama HSV-2). Ditandai dengan munculnya lenting-lenting lepuh yang terasa nyeri di sekitar alat kelamin. Virus ini menetap di dalam saraf tubuh dan bisa kambuh sewaktu-waktu.
  • Human Immunodeficiency Virus (HIV): Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya. Jika tidak dikendalikan dengan obat antiretroviral (ARV), HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

3. Infeksi Parasit dan Jamur

IMS jenis ini biasanya ditangani dengan obat antiparasit atau antijamur. Contoh utamanya adalah:

  • Trikomoniasis: Disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Sering menyebabkan keputihan berbau busuk, gatal, dan rasa tidak nyaman saat buang air kecil pada wanita, sedangkan pada pria sering kali tidak bergejala.
  • Kutu Kelamin (Crabs/Pubic Lice): Parasit kecil yang hidup di rambut kemaluan dan menghisap darah, menyebabkan rasa gatal yang luar biasa hebat.
Faktor Risiko Penularan IMS
  1. Melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom pengaman.
  2. Memiliki lebih dari satu pasangan seksual (berganti-ganti pasangan).
  3. Memiliki riwayat penyakit infeksi menular seksual sebelumnya.
  4. Berhubungan intim di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang yang menurunkan kesadaran.
  5. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau dipakai secara bergantian.

Gejala IMS yang Harus Diwaspadai

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan IMS adalah banyaknya kasus yang bersifat “silent” atau tanpa gejala, khususnya pada tahap awal infeksi. Hal ini membuat seseorang bisa secara tidak sadar menularkan infeksi tersebut kepada pasangannya. Namun, jika gejala muncul, tanda-tanda yang umum dikeluhkan meliputi:

1. Gejala pada Pria

Gejala yang umumnya dirasakan pria ketika terinfeksi IMS antara lain:

  • Rasa perih, panas, atau terbakar saat buang air kecil (disuria).
  • Keluarnya cairan abnormal dari penis (bisa berwarna putih, kuning, atau kehijauan).
  • Munculnya luka, benjolan, kutil, atau lepuhan di sekitar penis, testis, atau anus.
  • Rasa gatal yang persisten di sekitar area genital.
  • Pembengkakan atau rasa nyeri pada area testis (buah zakar).

2. Gejala pada Wanita

Bagi wanita, gejalanya bisa menyerupai infeksi jamur biasa atau infeksi saluran kemih (ISK), sehingga sering diabaikan. Gejala tersebut meliputi:

  • Keputihan yang tidak normal (perubahan warna menjadi kuning/kehijauan, konsistensi menggumpal, bau tidak sedap, atau jumlah yang berlebihan).
  • Rasa sakit di perut bagian bawah atau panggul.
  • Pendarahan vagina di luar siklus menstruasi atau setelah berhubungan seksual.
  • Rasa nyeri yang tajam saat melakukan hubungan seksual (dispareunia).
  • Luka atau kutil di sekitar vagina, vulva, atau anus.

Cara Mencegah dan Menangani IMS

1. Tindakan Pencegahan

Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Dalam medis, pencegahan IMS sering diringkas dalam konsep ABCDE, yaitu:

  • A (Abstinence): Tidak melakukan hubungan seksual, terutama bagi yang belum menikah. Ini adalah cara yang paling efektif 100%.
  • B (Be Faithful): Bersikap setia pada satu pasangan yang sah dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • C (Condom): Menggunakan kondom secara benar dan konsisten setiap kali berhubungan seksual. Kondom sangat efektif mencegah penularan cairan tubuh dan mengurangi kontak kulit-ke-kulit.
  • D (Don’t use drugs): Menghindari penyalahgunaan alkohol dan narkoba yang dapat menurunkan akal sehat dan memicu perilaku seks berisiko.
  • E (Education & Equipment): Mengedukasi diri sendiri mengenai kesehatan reproduksi dan memastikan selalu menggunakan peralatan medis (seperti jarum suntik) yang steril dan baru.

Bagi kamu yang ingin menerapkan langkah pencegahan secara mandiri, kamu bisa dengan mudah beli alat kontrasepsi, multivitamin, atau produk kesehatan lainnya secara cepat dan rahasia melalui Halodoc.

2. Pemeriksaan dan Penanganan Medis

Apabila kamu mengalami gejala yang dicurigai sebagai IMS, atau mengetahui bahwa pasanganmu terdiagnosis positif IMS, hal yang wajib dilakukan adalah segera berkonsultasi dengan dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.KK/Sp.DVE). Hindari mencoba membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter.

Dokter akan melakukan wawancara medis dan merekomendasikan tes skrining yang tepat. Tes ini bisa berupa tes darah (untuk HIV, Sifilis, Hepatitis), tes urine (untuk Klamidia, Gonore), atau pengambilan sampel usapan (swab) dari cairan genital atau luka yang ada. Setelah diagnosis dipastikan, dokter akan memberikan regimen pengobatan yang sesuai, baik berupa antibiotik oral, injeksi, maupun krim antivirus.

Studi Terkait Infeksi Menular Seksual

World Health Organization (WHO) menerbitkan studi pembaruan di tahun 2024 yang menjelaskan bahwa lebih dari 1 juta kasus infeksi menular seksual (IMS) yang dapat disembuhkan (seperti klamidia, gonore, trikomoniasis, dan sifilis) didapatkan oleh masyarakat dunia setiap harinya.

Studi ini menyoroti bahwa kelompok usia 15-49 tahun memiliki beban terbesar terhadap infeksi ini. Selain itu, WHO juga menegaskan kekhawatiran global terhadap peningkatan resistensi antibiotik, terutama pada bakteri penyebab gonore (dikenal sebagai super gonorrhea), yang membuat penyakit ini semakin sulit untuk diobati. Hal ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik tanpa pengawasan dokter.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Sebenarnya, apa itu ims dan apa bedanya dengan PMS?

IMS (Infeksi Menular Seksual) adalah tahap di mana patogen (bakteri/virus) masuk dan menginfeksi tubuh lewat kontak seksual, yang seringkali belum menunjukkan gejala. Sedangkan PMS (Penyakit Menular Seksual) adalah kondisi ketika infeksi tersebut sudah berkembang dan menimbulkan kerusakan atau gejala penyakit yang nyata di dalam tubuh.

2. Jika sudah tahu apa itu ims, apakah infeksinya bisa sembuh dengan sendirinya?

Tidak. IMS tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Infeksi bakteri membutuhkan antibiotik spesifik dengan dosis yang tepat dari dokter, sementara infeksi virus membutuhkan obat antivirus untuk mengendalikan gejalanya. Membiarkannya tanpa pengobatan medis justru akan menyebabkan komplikasi permanen yang berbahaya.

3. Mengapa sangat penting bagi remaja untuk diedukasi mengenai apa itu ims?

Remaja dan dewasa muda merupakan kelompok dengan risiko paling tinggi terkena IMS karena faktor rasa ingin tahu yang besar dan kurangnya pemahaman tentang seks aman. Edukasi dini membantu mereka mengambil keputusan yang bertanggung jawab, mengenali risiko, dan menghilangkan rasa malu untuk memeriksakan diri jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

4. Saya sama sekali tidak memiliki gejala keluhan, apakah saya bebas dari IMS?

Belum tentu. Banyak kasus IMS, seperti klamidia, gonore, dan HIV pada tahap awal, bersifat asimtomatik (tanpa gejala sama sekali). Cara satu-satunya untuk mengetahui apakah kamu terinfeksi atau tidak adalah dengan melakukan tes skrining IMS (VCT/skrining darah dan urine) secara berkala, terutama jika kamu aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan.


Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sexually transmitted infections (STIs).
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Sexually Transmitted Diseases (STDs) – Basic Information.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Sexually transmitted diseases (STDs).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual.