Advertisement

Ini Alasan Penyakit Pernapasan hingga Gangguan Mental Bisa Meningkat Akibat Perubahan Iklim

9 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   27 November 2025

Perubahan iklim memicu lonjakan penyakit pernapasan dan gangguan mental di Indonesia.

Ini Alasan Penyakit Pernapasan hingga Gangguan Mental Bisa Meningkat Akibat Perubahan IklimIni Alasan Penyakit Pernapasan hingga Gangguan Mental Bisa Meningkat Akibat Perubahan Iklim

DAFTAR ISI


Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin jelas bahwa perubahan iklim adalah ancaman kesehatan global yang mampu meningkatkan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit pernapasan hingga gangguan mental.

Di Indonesia, studi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memperburuk kondisi fisik, mental, dan sosial masyarakat.

Kamu mungkin sudah sering mendengar tentang polusi, banjir, atau gelombang panas. Namun, dampaknya terhadap kesehatan ternyata jauh lebih besar dan kompleks dari yang terlihat.

Bagaimana Perubahan Iklim Memengaruhi Kesehatan?

Perubahan iklim tidak hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga memengaruhi tubuh kamu secara langsung maupun tidak langsung.

Ketika suhu bumi terus meningkat, pola cuaca menjadi tidak stabil, dan ekosistem terganggu, berbagai risiko kesehatan ikut muncul dan semakin sulit dikendalikan.

Beberapa perubahan lingkungan yang paling signifikan meliputi:

  • Kenaikan suhu ekstrem, yang meningkatkan risiko dehidrasi, heatstroke, hingga kematian akibat gelombang panas.
  • Perubahan pola curah hujan, yang membuat musim kemarau dan musim hujan semakin tidak terduga.
  • Kekeringan panjang, yang memengaruhi ketersediaan air bersih dan kualitas pangan.
  • Banjir yang lebih sering, yang dapat mencemari air, merusak sanitasi, dan memicu penyakit diare maupun infeksi kulit.
  • Kebakaran hutan, yang menghasilkan polusi udara berat dan meningkatkan kasus ISPA, asma, serta masalah paru kronis.
  • Kualitas udara yang semakin buruk, akibat kombinasi polusi industri, transportasi, dan paparan kebakaran hutan.
  • Pergeseran wilayah endemis penyakit, karena nyamuk dan vektor penyakit lain dapat hidup di area baru yang sebelumnya terlalu dingin.

Studi dari Celios menunjukkan bahwa gabungan faktor-faktor ini dapat meningkatkan penyakit menular seperti malaria, DBD, diare, dan infeksi saluran napas, sekaligus memperburuk penyakit tidak menular seperti gangguan gizi, penyakit jantung, dan asma.

Selain itu, tekanan psikologis akibat bencana alam, suhu panas ekstrem, dan ketidakpastian lingkungan juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada masyarakat.

Mengapa Penyakit Pernapasan Makin Sering Terjadi?

Lingkungan yang semakin tidak stabil bisa memengaruhi kualitas udara, suhu, serta pola musim, dan semuanya berkontribusi terhadap kerentanan saluran napas. Berikut alasan ilmiahnya:

1. Kualitas udara semakin memburuk

Perubahan iklim memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan frekuensi kebakaran hutan. Asap kebakaran menghasilkan partikel halus PM2.5 dan PM10 yang dapat masuk jauh ke alveoli paru-paru dan memicu peradangan. Kondisi ini menyebabkan naiknya kejadian:

  • Asma kambuh
  • PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
  • Infeksi saluran napas atas dan bawah
  • Pneumonia

Selain itu, suhu tinggi mendorong pembentukan ozon troposferik, gas berbahaya yang dapat mengiritasi saluran napas, menurunkan fungsi paru, dan meningkatkan risiko rawat inap, terutama pada anak dan lansia.

2. Lingkungan makin lembap memperburuk infeksi

Kelembapan udara yang meningkat akibat perubahan pola cuaca membuat jamur, bakteri, dan mikroorganisme lain berkembang lebih cepat. Akibatnya, beberapa kondisi pernapasan makin mudah muncul dan kambuh, seperti:

  • Bronkiolitis pada bayi
  • Rinitis alergi yang lebih sering kambuh
  • Infeksi saluran napas atas berulang

WHO menyatakan bahwa perubahan iklim memperburuk hampir semua indikator kualitas udara global. Artinya, tubuh kamu semakin sering terpapar udara yang tidak sehat tanpa disadari.

3. Produksi serbuk sari dan alergen meningkat

Musim panas yang lebih panjang dan hangat memicu tanaman menghasilkan lebih banyak serbuk sari (pollen). Serbuk sari mudah terbawa angin dan meningkatkan risiko:

  • Asma alergi
  • Batuk kronis
  • Sesak napas

Bagi kamu yang tinggal di kota besar, masalah ini makin parah karena polusi kendaraan membuat partikel serbuk sari lebih reaktif dan lebih mudah memicu peradangan di paru-paru.

Kombinasi polusi dan perubahan iklim ini kemudian menciptakan “lingkungan berisiko tinggi” bagi semua orang, terutama anak-anak, lansia, dan penderita asma. Pahami informasi lain seputar Infeksi Saluran Pernapasan – Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya agar kamu waspada.

Kaitan Perubahan Iklim dengan Gangguan Mental

Gangguan mental kini diakui sebagai salah satu dampak besar dari perubahan iklim. Bukan hanya tubuh yang terdampak, tetapi juga kondisi psikologis dan kesejahteraan emosional kamu.

Perubahan lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu panas, bencana alam, hingga tekanan ekonomi, menciptakan stres jangka panjang yang dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat luas.

1. Trauma akibat bencana alam

Perubahan iklim meningkatkan frekuensi bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, dan badai. Peristiwa ini bukan hanya merusak lingkungan, tetapi meninggalkan dampak psikologis yang dalam.
Dampaknya dapat berupa:

  • PTSD (post-traumatic stress disorder) akibat pengalaman mengancam jiwa
  • Kecemasan kronis, terutama pada orang yang kehilangan rumah atau anggota keluarga
  • Depresi mendalam yang muncul setelah kehilangan harta benda dan mata pencaharian

Data dari The Lancet Countdown menunjukkan bahwa risiko depresi dan kecemasan meningkat signifikan setelah masyarakat mengalami cuaca ekstrem. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang paling rentan mengalami trauma berkepanjangan.

2. Stres karena suhu panas ekstrem

Gelombang panas atau heatwave tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Suhu yang sangat panas dapat mengganggu:

  • Kualitas tidur membuat tubuh dan pikiran tidak pulih dengan optimal
  • Fungsi kognitif, termasuk konsentrasi, memori, dan kemampuan mengambil keputusan
  • Regulasi emosi, sehingga seseorang lebih mudah marah, gelisah, atau merasa tidak stabil

Studi menemukan bahwa setiap kenaikan suhu 1°C berkaitan dengan peningkatan angka bunuh diri di sejumlah negara. Ini menunjukkan bahwa panas ekstrem memiliki pengaruh kuat terhadap stabilitas emosional dan psikis seseorang.

3. Ketidakpastian sosial dan ekonomi

Perubahan iklim juga memicu ketidakpastian yang berdampak langsung pada stres psikologis masyarakat. Situasi seperti:

  • Gagal panen yang merugikan petani.
  • Harga pangan meningkat akibat pasokan berkurang.
  • Produktivitas menurun karena kondisi kerja di luar ruangan menjadi lebih berat.
  • Pendapatan tidak stabil pada sektor yang bergantung pada cuaca.

Kombinasi ini menciptakan tekanan emosional yang terus-menerus, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi adalah salah satu faktor pemicu utama stres, kecemasan, dan depresi. Pahami informasi lebih lanjut seputar Kesehatan Mental – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya di sini.

Penyakit Menular yang Meluas Akibat Perubahan Iklim

Kamu mungkin juga bertanya-tanya, apa sebenarnya hubungan antara perubahan iklim dengan meningkatnya kasus DBD, malaria, atau diare?

Hubungannya cukup kuat, karena perubahan suhu, curah hujan, dan pola iklim berpengaruh langsung terhadap perkembangan vektor penyakit seperti nyamuk, bakteri, dan parasit.

Ketika lingkungan berubah, organisme penyebab penyakit juga berpindah, berkembang, dan menyebar lebih cepat.

Berikut penjelasannya:

1. Nyamuk menyebar ke daerah yang lebih dingin

Kenaikan suhu membuat wilayah dataran tinggi atau pegunungan yang sebelumnya terlalu dingin bagi nyamuk aedes aegyptii (DBD) dan anopheles (malaria) menjadi lebih hangat dan cocok untuk berkembang biak. Akibatnya:

  • Daerah seperti Papua, NTT, dan Sulawesi mulai melaporkan perluasan area endemis DBD.
  • Malaria muncul di dataran tinggi yang dulunya dianggap aman dari penularan.

Hal ini terjadi karena nyamuk adalah organisme yang sangat sensitif terhadap suhu. Semakin hangat lingkungannya, semakin cepat mereka berkembang biak dan semakin cepat virus di dalam tubuh nyamuk bereplikasi.

Jika kamu atau keluarga terdekat Alami DBD, Ini Daftar Dokter yang Bisa Bantu Pengobatannya sehingga bisa dihubungi.

2. Peningkatan curah hujan dan banjir

Perubahan iklim membuat intensitas hujan semakin tinggi dan tidak terduga, disertai banjir yang lebih sering. Kombinasi ini menciptakan:

  • Genangan air di selokan, pot tanaman, atau wadah terbuka.
  • Lingkungan lembap yang ideal untuk telur nyamuk menetas.
  • Populasi nyamuk yang meningkat dalam waktu sangat singkat.

Semakin banyak air tergenang, semakin besar risiko penularan DBD, chikungunya, hingga malaria.

3. Peningkatan penyakit diare

Selain penyakit berbasis nyamuk, perubahan iklim juga meningkatkan penyakit yang ditularkan melalui air. Kekeringan panjang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih, sementara banjir mencemari air minum dan sanitasi. Dampaknya:

  • Diare akut meningkat terutama pada balita.
  • Kolera meluas di wilayah yang kualitas airnya menurun.
  • Infeksi cacing meningkat akibat sanitasi buruk dan tanah basah yang tercemar.

Kondisi ini berbahaya karena diare kronis dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan masalah gizi yang memperburuk kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Studi Celios mencatat bahwa perubahan iklim bukan hanya meningkatkan jumlah kasus, tetapi juga memperluas penyebaran penyakit antarwilayah.

Artinya, daerah yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit menular tertentu bisa menjadi daerah endemis baru dalam beberapa tahun ke depan.

Dampak Jangka Panjang bagi Masyarakat Indonesia

Efek perubahan iklim tidak berhenti pada meningkatnya penyakit pernapasan atau gangguan mental. Dalam jangka panjang, perubahan iklim dapat mengganggu struktur sosial dan ekonomi Indonesia secara menyeluruh.

Studi Celios menyoroti bahwa tanpa intervensi yang tepat, dampaknya dapat memburuk dari tahun ke tahun dan memengaruhi kualitas hidup jutaan orang.

Beberapa dampak jangka panjang yang perlu kamu waspadai antara lain:

1. Kenaikan angka kecelakaan kerja pada pekerja luar ruangan

Suhu ekstrem, paparan sinar UV berlebihan, dan kondisi kerja yang semakin tidak stabil meningkatkan risiko kecelakaan bagi pekerja di sektor pertanian, konstruksi, dan perikanan.

Heatstroke, dehidrasi, hingga penurunan fokus menjadi faktor yang memperbesar risiko cedera.

2. Produktivitas masyarakat menurun

Perubahan iklim membuat jam kerja efektif berkurang, terutama di sektor outdoor. Suhu panas ekstrem menurunkan stamina, mempercepat kelelahan, dan menghambat kemampuan berpikir jernih.

Dalam jangka panjang, ini memengaruhi pendapatan individu dan daya saing ekonomi nasional.

3. Kualitas udara makin buruk

Kebakaran hutan yang lebih sering terjadi, ditambah polusi industri dan transportasi, membuat kualitas udara Indonesia semakin mengkhawatirkan.

Paparan jangka panjang terhadap udara berpolusi meningkatkan risiko penyakit kronis dan menambah beban layanan kesehatan.

4. Ancaman ketahanan pangan

Gagal panen akibat kekeringan, banjir, dan perubahan pola musim pertanian bisa membuat harga pangan melonjak.

Ketika produksi pangan terganggu, akses terhadap makanan bergizi juga ikut terhambat, sehingga keluarga berpenghasilan rendah menjadi yang paling terdampak.

5. Biaya kesehatan meningkat

Semakin banyak penyakit yang dipicu perubahan iklim berarti semakin tinggi biaya pengobatan, baik untuk individu maupun negara.

Sistem kesehatan perlu bekerja lebih keras untuk menangani peningkatan kasus penyakit infeksi, penyakit kronis, hingga gangguan mental yang dipicu tekanan lingkungan.

6. Ketimpangan sosial memburuk

Kelompok rentan seperti masyarakat miskin, lansia, dan pekerja dengan pendapatan rendah adalah pihak yang paling terdampak.

Mereka memiliki akses terbatas ke air bersih, layanan kesehatan, dan perlindungan kerja, sehingga perubahan iklim memperlebar kesenjangan ekonomi dan sosial.

Tanpa adaptasi kesehatan yang berbasis data dan strategi mitigasi yang konsisten, beban ekonomi dan kesehatan ini berpotensi meningkat drastis dalam 10–20 tahun ke depan.

Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu lingkungan semata, tetapi ancaman yang memengaruhi stabilitas masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Kesimpulan

Perubahan iklim terbukti menjadi faktor yang meningkatkan penyakit pernapasan dan gangguan mental di Indonesia.

Mulai dari polusi udara yang meningkat, penyebaran penyakit menular yang meluas, hingga trauma akibat bencana, semuanya menunjukkan bahwa kesehatan manusia sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

Tanpa langkah adaptasi yang konsisten, perubahan iklim dapat menciptakan krisis kesehatan yang lebih besar di masa depan.

Karena itu, memahami risiko ini adalah langkah pertama untuk melindungi kesehatan kamu dan masyarakat luas.

Itulah penjelasan seputar dampak perubahan iklim pada kesehatan yang perlu kamu ketahui. Jika kamu mengalami keluhan pernapasan, hubungi dokter spesialis paru di Halodoc saja!

Namun, jika kamu merasa tidak baik-baik saja dan butuh bantuan profesional, jangan ragu untuk bicara dengan psikolog di Halodoc.

Jangan khawatir, dokter dan psikolog di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
Center of Economic and Law Studies (Celios). Diakses pada 2025. Potensi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Populasi di Indonesia 2025.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Diakses pada 2025. Sixth Assessment Report.
The Lancet. Diakses pada 2025. The 2025 report of the Lancet Countdown on health and climate change.
World Health Organization. Diakses pada 2025. Climate change and health.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2025. Effects of Climate Change on Health.