
Ini Ciri-Ciri ISK pada Bayi yang Perlu Diwaspadai
Ciri-ciri infeksi saluran kemih (ISK) pada bayi bisa berupa demam, urine berbau tak sedap, hingga nyeri saat buang air kecil.

DAFTAR ISI
- Penyebab ISK pada Bayi Perempuan
- Ciri ISK pada Bayi Perempuan yang Harus Diwaspadai
- Kapan Harus Membawa Si Kecil ke Dokter?
- Cara Mencegah ISK pada Bayi Perempuan
- Studi Terkait Infeksi Saluran Kemih pada Anak
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah kondisi di mana terjadinya infeksi pada organ yang termasuk dalam sistem kemih, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Meski sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa, faktanya ISK sangat umum terjadi pada anak-anak, bahkan pada bayi yang baru lahir sekalipun.
Secara anatomis, bayi perempuan memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami ISK dibandingkan bayi laki-laki. Hal ini disebabkan oleh ukuran uretra (saluran pembuangan urine) pada bayi perempuan yang lebih pendek. Selain itu, jarak antara lubang uretra dengan anus sangat berdekatan, sehingga bakteri dari tinja (terutama Escherichia coli) sangat mudah berpindah dan masuk ke dalam saluran kemih.
Mendeteksi ISK pada bayi merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi para orang tua. Berbeda dengan anak yang lebih besar atau orang dewasa yang bisa mengeluhkan rasa perih saat buang air kecil atau nyeri pada perut bagian bawah, bayi belum memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Mereka hanya bisa mengekspresikan rasa tidak nyaman melalui tangisan, rewel, atau perubahan pola makan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu dan ayah untuk peka terhadap perubahan sekecil apa pun pada kondisi fisik maupun perilaku si Kecil. Keterlambatan dalam mendeteksi dan menangani ISK pada bayi dapat berakibat fatal, karena infeksi yang dibiarkan dapat menyebar naik ke ginjal dan menyebabkan kerusakan ginjal permanen di masa depan.
Jika kamu menyadari adanya gejala-gejala yang mencurigakan pada si Kecil dan butuh diagnosis medis secepatnya, jangan tunda untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam kapan saja dan di mana saja. Nah, agar lebih waspada, mari kita bahas secara tuntas apa saja ciri ISK pada bayi perempuan yang patut kamu ketahui!
Penyebab ISK pada Bayi Perempuan
Sebelum mengenali ciri-cirinya, penting untuk memahami bagaimana infeksi ini bisa terjadi. Hampir 80 hingga 90 persen kasus ISK pada bayi disebabkan oleh bakteri saluran pencernaan, khususnya bakteri E. coli yang hidup di dalam usus besar dan ikut keluar bersama tinja.
Pada bayi perempuan yang selalu menggunakan popok, feses yang menempel pada popok bisa dengan mudah menyentuh area vagina dan uretra jika popok tidak segera diganti. Bakteri tersebut kemudian menempel di lubang uretra, berkembang biak, dan bergerak naik menuju kandung kemih (sistitis), atau bahkan terus naik hingga ke ginjal (pielonefritis).
Selain faktor popok yang penuh, cara membersihkan area kelamin saat mengganti popok juga sangat berpengaruh. Mengusap dari arah belakang (anus) ke depan (vagina) adalah kesalahan fatal yang sering tidak disadari. Gerakan ini secara langsung “menyapu” bakteri dari feses masuk ke dalam saluran kemih bayi perempuan. Kelainan bawaan pada struktur saluran kemih, seperti Vesicoureteral reflux (VUR) di mana urine mengalir balik dari kandung kemih ke ginjal, juga menjadi penyebab medis lain yang membuat bayi rentan terkena ISK berulang.
Ciri ISK pada Bayi Perempuan yang Harus Diwaspadai
Gejala ISK pada bayi sering kali bersifat tidak spesifik dan menyerupai gejala penyakit umum lainnya. Namun, sebagai orang tua, kamu harus mewaspadai beberapa ciri ISK pada bayi perempuan berikut ini:
1. Demam Tanpa Sebab yang Jelas
Demam adalah respons alami tubuh yang sedang melawan infeksi. Pada bayi di bawah usia 2 tahun, demam (suhu di atas 38 derajat Celcius) yang muncul tiba-tiba tanpa disertai gejala batuk, pilek, atau telinga kemerahan merupakan ciri paling umum dari ISK. Demam ini terkadang bisa sangat tinggi hingga memicu risiko kejang demam. Jika si Kecil demam lebih dari 24 jam tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan urine sering kali direkomendasikan oleh dokter anak.
2. Urine Berbau Sangat Menyengat
Urine bayi normalnya memang memiliki aroma khas amonia, terutama pada popok yang sudah penuh. Namun, jika kamu mencium bau yang sangat tajam, busuk, atau amis yang tidak biasa saat mengganti popoknya, ini bisa menjadi pertanda adanya tumpukan bakteri dalam saluran kemih. Bakteri yang memecah urea dalam urine akan menghasilkan bau yang jauh lebih kuat dan menyengat dari biasanya.
3. Urine Tampak Keruh atau Berdarah
Coba perhatikan warna bercak urine pada popok bayi. Urine yang sehat berwarna kuning muda hingga jernih. Jika urine terlihat keruh, pekat, atau bahkan meninggalkan bercak kemerahan/merah muda (hematuria), ini adalah tanda bahaya. Kekeruhan terjadi akibat adanya nanah atau sel darah putih yang mati saat melawan bakteri, sedangkan darah menunjukkan adanya iritasi atau peradangan parah pada dinding saluran kemih.
4. Menangis atau Rewel Saat Buang Air Kecil
Orang dewasa merasakan sensasi terbakar atau perih saat pipis jika terkena ISK. Bayi pun merasakan hal yang sama (disuria). Karena mereka belum bisa bicara, sensasi nyeri ini ditunjukkan dengan cara menangis mendadak, meringis, menggigil kecil, atau terlihat sangat rewel sesaat sebelum atau tepat ketika mereka sedang buang air kecil. Jika kamu memperhatikan pola ini berulang kali saat bayi pipis, curigai adanya ISK.
5. Menolak Menyusu dan Muntah
Infeksi bakteri yang terjadi di dalam tubuh dapat menyebabkan bayi merasa tidak enak badan secara keseluruhan (malaise). Hal ini berdampak langsung pada nafsu makannya. Bayi dengan ISK mungkin akan menolak ASI atau susu formula, tampak lesu, mual, dan sering muntah. Akibatnya, berat badan bayi bisa sulit naik atau justru menurun jika kondisi ini tidak segera ditangani.
6. Perubahan Frekuensi Buang Air Kecil
ISK dapat mengiritasi kandung kemih, sehingga bayi seolah ingin terus buang air kecil meskipun kandung kemihnya belum penuh. Kamu mungkin menyadari bahwa popok bayi lebih sering basah, tetapi volume urinenya sedikit-sedikit. Sebaliknya, pada kasus infeksi yang lebih berat atau jika bayi dehidrasi akibat muntah, produksi urinenya justru bisa menurun drastis.
Faktor Risiko ISK pada Bayi Perempuan
- Anatomi: Uretra lebih pendek memudahkan bakteri masuk.
- Penggunaan popok: Lingkungan lembap dan hangat yang disukai bakteri.
- Sembelit (Konstipasi): Usus yang penuh tinja dapat menekan kandung kemih, sehingga urine tidak keluar sempurna dan memicu pertumbuhan bakteri.
- Kebersihan: Cara membersihkan area intim yang salah (dari belakang ke depan).
Kapan Harus Membawa Si Kecil ke Dokter?
ISK pada bayi bukanlah kondisi yang bisa diobati dengan obat-obatan bebas atau perawatan rumahan. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, sehingga penanganan utamanya adalah pemberian antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Penggunaan antibiotik harus dengan resep dokter agar jenis dan dosisnya disesuaikan dengan berat badan serta usia bayi.
Segera bawa si Kecil ke rumah sakit atau dokter spesialis anak jika ia menunjukkan ciri ISK, terlebih bila disertai dengan tanda bahaya berikut:
- Berusia di bawah 3 bulan dan mengalami demam (suhu rektal 38 derajat Celcius atau lebih).
- Tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak merespons seperti biasanya.
- Menolak menyusu sama sekali dan menunjukkan tanda dehidrasi (menangis tanpa air mata, ubun-ubun cekung).
- Muntah terus-menerus.
- Terlihat darah yang jelas pada urinenya.
Dokter biasanya akan meminta sampel urine si Kecil untuk dilakukan urinalisis dan kultur urine guna memastikan jenis bakteri penyebab infeksi, sehingga antibiotik yang diberikan tepat sasaran.
Cara Mencegah ISK pada Bayi Perempuan
Mencegah tentu jauh lebih baik daripada mengobati, terutama untuk menjaga ginjal si Kecil yang masih dalam masa perkembangan. Berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa ibu terapkan:
1. Ganti Popok Secara Berkala
Jangan biarkan bayi memakai popok yang sudah penuh dengan urine, apalagi feses, terlalu lama. Segera ganti popok begitu bayi buang air besar untuk mencegah bakteri E. coli berpindah ke area uretra.
2. Bersihkan dari Depan ke Belakang
Ini adalah aturan emas untuk bayi perempuan. Saat membersihkan area kelamin setelah ia buang air besar maupun kecil, usaplah menggunakan kapas basah atau tisu basah dari arah depan (vagina) menuju ke belakang (anus). Jangan pernah mengusap sebaliknya atau mengusap bolak-balik.
3. Beri Asupan Cairan yang Cukup
Pastikan bayi mendapatkan ASI atau susu formula yang cukup (atau air putih jika sudah MPASI). Cairan yang cukup akan membuat bayi lebih sering buang air kecil, yang berfungsi “membilas” saluran kemih dan membuang bakteri sebelum sempat berkembang biak.
4. Cegah dan Atasi Sembelit
Sembelit dapat meningkatkan risiko ISK. Jika bayi mengejan keras saat BAB atau tinjanya keras, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan sembelit yang tepat. Pastikan juga kamu selalu sedia popok bersih dan produk perawatan bayi yang aman; kamu bisa beli perlengkapan bayi online di Halodoc, produk 100% asli dan diantar ke rumah dengan praktis.
Studi Terkait Infeksi Saluran Kemih pada Anak
Pediatrics Journal menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa bayi perempuan yang mengalami demam tanpa sumber yang jelas memiliki risiko yang signifikan mengidap infeksi saluran kemih tersembunyi.
Studi tersebut menekankan pentingnya skrining urinalisis pada bayi perempuan berusia di bawah 24 bulan yang mengalami demam tinggi lebih dari 39 derajat Celcius tanpa gejala infeksi pernapasan. Keterlambatan pemberian terapi antibiotik dalam 48 jam pertama demam dikaitkan dengan peningkatan risiko terbentuknya jaringan parut pada ginjal (renal scarring) yang dapat memicu hipertensi atau gagal ginjal di masa dewasa.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Infeksi Saluran Kemih pada Anak.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Urinary tract infection (UTI) in children.
American Academy of Pediatrics (Healthy Children). Diakses pada 2024. Detecting Urinary Tract Infections.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Urinary Tract Infections in Children.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Pediatric Urinary Tract Infection (UTI).
FAQ
1. Apakah ciri isk pada bayi perempuan selalu disertai demam?
Tidak selalu, tetapi demam adalah gejala yang paling umum dan sering kali menjadi satu-satunya ciri yang terlihat. Pada bayi yang usianya masih sangat kecil atau bayi baru lahir, suhu tubuh justru bisa lebih rendah dari normal (hipotermia) alih-alih demam saat terjadi infeksi berat.
2. Bagaimana dokter mendiagnosis ISK pada bayi yang memakai popok?
Dokter akan mengambil sampel urine si Kecil. Karena bayi belum bisa buang air kecil di wadah atas perintah, dokter biasanya memasang kantong khusus yang ditempelkan di area kelamin (urine collector) atau menggunakan selang kecil (kateter) yang dimasukkan ke saluran kemih untuk mendapatkan sampel urine steril yang bebas dari kontaminasi bakteri di kulit.
3. Apakah ISK pada bayi perempuan bisa sembuh sendiri?
Tidak. ISK disebabkan oleh infeksi bakteri yang berkembang biak di saluran kemih. Kondisi ini memerlukan intervensi medis berupa antibiotik dari dokter. Membiarkan ISK tanpa pengobatan medis sangat berbahaya karena infeksi dapat menyebar ke ginjal dan aliran darah.
4. Kenapa bayi perempuan lebih rentan kena ISK dibanding bayi laki-laki?
Alasan utamanya adalah anatomi tubuh. Bayi perempuan memiliki saluran uretra yang sangat pendek, sehingga bakteri hanya menempuh jarak yang dekat untuk mencapai kandung kemih. Selain itu, jarak anatomi antara anus (sumber bakteri E. coli) dan bukaan uretra sangat berdekatan jika dibandingkan dengan bayi laki-laki.


