
Ini Ciri-Ciri ISK pada Bayi yang Perlu Diwaspadai
Ciri-ciri infeksi saluran kemih (ISK) pada bayi bisa berupa demam, urine berbau tak sedap, hingga nyeri saat buang air kecil.

DAFTAR ISI
- Ciri-Ciri ISK pada Bayi yang Perlu Diwaspadai
- Penyebab dan Faktor Risiko ISK pada Bayi
- Cara Efektif Mencegah ISK pada Bayi
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah kondisi di mana terjadi infeksi bakteri pada organ saluran kemih, yang meliputi ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Meski sering dianggap sebagai penyakit yang umum terjadi pada orang dewasa, nyatanya ISK juga bisa menyerang bayi dan anak-anak. Sayangnya, mendeteksi ISK pada bayi sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang tua.
Hal ini disebabkan karena bayi belum bisa berbicara dan mengungkapkan rasa sakit yang mereka alami. Berbeda dengan anak yang lebih besar atau orang dewasa yang bisa mengeluhkan rasa perih saat buang air kecil atau nyeri pada perut bagian bawah, bayi hanya bisa merespons ketidaknyamanan tersebut melalui tangisan, rewel, atau perubahan pola makan. Oleh karena itu, mengenali ciri ciri isk pada bayi merupakan langkah awal yang sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Jika ISK pada bayi tidak segera ditangani, infeksi yang awalnya hanya berada di saluran kemih bagian bawah (kandung kemih dan uretra) dapat menjalar naik ke saluran kemih bagian atas, yaitu ginjal. Infeksi pada ginjal (pielonefritis) sangat berbahaya bagi bayi karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen, pembentukan jaringan parut pada ginjal, tekanan darah tinggi di kemudian hari, hingga infeksi darah (sepsis) yang mengancam jiwa. Karena itu, kewaspadaan orang tua sangat dibutuhkan.
Mengingat penanganan ISK membutuhkan observasi medis dan antibiotik yang harus diresepkan oleh dokter, sangat penting bagi kamu untuk tidak mencoba mengobatinya sendiri. Namun, sebagai pertolongan pertama pada gejalanya, kamu bisa beli obat pereda demam khusus bayi yang aman setelah berkonsultasi dengan tenaga medis. Lantas, apa saja tanda-tanda spesifik yang harus diwaspadai? Berikut ulasan lengkapnya!
Ciri-Ciri ISK pada Bayi yang Perlu Diwaspadai
Mendeteksi ISK pada bayi memerlukan observasi yang jeli dari orang tua. Mengingat gejalanya sering kali tumpang tindih dengan penyakit anak lainnya seperti flu atau infeksi virus biasa, penting untuk mengenali tanda-tanda spesifik berikut ini:
1. Demam Tanpa Sebab yang Jelas
Demam adalah gejala paling umum dan sering kali menjadi satu-satunya tanda awal ISK pada bayi. Demam terjadi sebagai respons alami sistem kekebalan tubuh bayi saat melawan bakteri penyebab infeksi. Jika bayi kamu mengalami demam (suhu di atas 38°C) namun tidak menunjukkan gejala lain seperti batuk, pilek, atau ruam, ISK harus menjadi salah satu kondisi yang dicurigai. Pada bayi berusia di bawah 2 bulan, demam tanpa sebab yang jelas adalah indikasi kuat untuk segera dibawa ke ruang gawat darurat.
2. Urine Berbau Menyengat dan Berwarna Keruh
Pada kondisi normal, urine bayi biasanya berwarna kuning muda dan tidak memiliki bau yang terlalu tajam. Namun, jika terjadi infeksi, bakteri yang berkembang biak di dalam saluran kemih dapat mengubah komposisi urine. Kamu mungkin akan mencium bau yang sangat menyengat, amis, atau tidak sedap saat mengganti popok bayi. Selain itu, warna urine juga bisa berubah menjadi keruh, pekat, atau bahkan sedikit kemerahan jika terdapat darah (hematuria).
3. Menangis Saat Buang Air Kecil
ISK sering kali menyebabkan peradangan pada dinding uretra dan kandung kemih, yang memicu sensasi perih atau terbakar saat urine melewati saluran tersebut. Jika bayi kamu selalu menangis menjerit, meringis, atau terlihat sangat tidak nyaman setiap kali ia pipis atau saat kamu sedang mengganti popoknya yang basah, ini bisa menjadi pertanda adanya rasa sakit akibat infeksi saluran kemih.
4. Nafsu Makan Menurun dan Penurunan Berat Badan
Rasa tidak enak badan, demam, dan nyeri akan membuat bayi kehilangan selera makannya. Bayi yang biasanya menyusu dengan lahap mungkin akan menolak ASI atau susu formula. Ia mungkin hanya menyusu sebentar lalu melepaskannya sambil menangis. Jika kondisi ini dibiarkan, bayi berisiko mengalami dehidrasi dan penurunan berat badan yang signifikan, yang sangat berbahaya bagi tumbuh kembangnya.
5. Muntah dan Diare
Sistem pencernaan bayi masih sangat sensitif dan sering kali ikut bereaksi ketika tubuh mengalami infeksi, meskipun infeksi tersebut berada di saluran kemih. Bayi yang mengalami ISK mungkin akan sering muntah setelah menyusu atau mengalami diare. Gejala pencernaan ini sering kali membuat ISK salah didiagnosis sebagai masalah pencernaan ringan, padahal akar masalahnya ada pada infeksi bakteri di saluran kemih.
6. Penyakit Kuning (Jaundice) pada Bayi Baru Lahir
Pada bayi yang sangat muda (neonatus atau bayi baru lahir di bawah usia 1 bulan), ISK dapat bermanifestasi sebagai penyakit kuning yang tidak kunjung sembuh atau muncul kembali setelah sempat membaik. Kulit dan bagian putih mata bayi akan tampak kekuningan. Hal ini terjadi karena infeksi memengaruhi fungsi hati sementara dalam memproses bilirubin. Jika bayi baru lahir tampak kuning disertai lesu dan tidak mau menyusu, segera periksakan ke dokter.
Tanda Bahaya (Red Flags) ISK pada Bayi
- Demam tinggi mencapai 39°C atau lebih, terutama pada bayi di bawah usia 3 bulan.
- Bayi tampak sangat lemas, pucat, dan sulit dibangunkan dari tidurnya (letargi).
- Terlihat darah segar pada popok bayi (hematuria).
- Bayi tidak memproduksi air mata saat menangis dan popok tetap kering selama lebih dari 6 jam (tanda dehidrasi berat).
Penyebab dan Faktor Risiko ISK pada Bayi
Sebagian besar kasus Infeksi Saluran Kemih pada bayi disebabkan oleh bakteri dari saluran pencernaan yang secara tidak sengaja masuk ke uretra (lubang kencing). Bakteri yang paling sering menjadi biang keladi adalah Escherichia coli (E. coli), yang normalnya hidup di usus dan feses.
Bakteri ini bisa berpindah ke saluran kemih saat feses bayi menyebar di dalam popok, atau karena teknik membersihkan area kemaluan yang kurang tepat setelah bayi buang air besar. Setelah berhasil masuk ke uretra, bakteri akan berkembang biak dan bisa bergerak naik ke kandung kemih, bahkan hingga ke ginjal.
Selain penyebab utama tersebut, ada beberapa faktor yang membuat bayi lebih rentan terkena ISK dibandingkan anak yang lebih besar:
1. Anatomi Tubuh dan Jenis Kelamin
Pada bayi berusia di bawah 1 tahun, bayi laki-laki yang belum disunat (sirkumsisi) memiliki risiko lebih tinggi terkena ISK dibandingkan bayi perempuan. Hal ini karena bakteri dapat menumpuk dan berkembang biak di bawah kulup penis (foreskin). Namun, setelah usia 1 tahun, risiko ISK menjadi jauh lebih tinggi pada anak perempuan karena letak uretra mereka lebih pendek dan lebih dekat dengan anus, sehingga bakteri lebih mudah menyeberang.
2. Kelainan Bawaan Saluran Kemih
Beberapa bayi dilahirkan dengan kelainan struktural pada saluran kemihnya yang menghambat aliran urine yang normal. Salah satu kondisi yang paling umum adalah Refluks Vesikoureter (VUR). Pada VUR, katup antara ureter dan kandung kemih tidak menutup dengan sempurna, sehingga urine yang seharusnya dibuang keluar malah mengalir kembali (refluks) naik ke arah ginjal. Kondisi ini membuat bakteri sangat mudah mencapai ginjal dan menyebabkan infeksi berulang.
3. Penggunaan Popok dan Kebersihan
Bayi memakai popok sepanjang hari, yang menciptakan lingkungan hangat dan lembap—tempat yang sangat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Jika popok yang penuh feses atau urine dibiarkan terlalu lama dan tidak segera diganti, risiko bakteri masuk ke saluran kemih akan meningkat secara drastis.
Cara Efektif Mencegah ISK pada Bayi
Walaupun ISK cukup umum terjadi, ada banyak langkah pencegahan yang bisa dilakukan orang tua untuk meminimalisir risiko bayi terkena infeksi ini. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan area genital dan memastikan asupan cairan bayi tercukupi.
1. Cara Membersihkan yang Tepat (Cebok)
Bagi bayi perempuan, aturan emas saat membersihkan area kemaluan setelah buang air besar adalah selalu mengusap dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), bukan sebaliknya. Mengusap dari belakang ke depan akan membawa bakteri dari anus langsung ke uretra. Bagi bayi laki-laki yang belum disunat, bersihkan area luar penis secara perlahan. Jangan pernah menarik paksa kulup penis ke belakang pada bayi karena dapat menyebabkan luka dan nyeri.
2. Sering Mengganti Popok
Jangan menunggu popok sampai terlalu penuh atau bocor baru menggantinya. Segera ganti popok bayi segera setelah ia buang air besar. Feses yang menempel lama di kulit tidak hanya memicu ruam popok, tetapi juga memberi bakteri E. coli kesempatan masuk ke uretra. Untuk popok yang hanya berisi urine, ganti setiap 3 hingga 4 jam sekali untuk menjaga area kemaluan tetap kering dan bersih.
3. Berikan Cairan yang Cukup
Memastikan bayi tidak dehidrasi sangat penting. Berikan ASI atau susu formula sesuai jadwal dan kebutuhan bayi. Jika bayi sudah berusia di atas 6 bulan dan mulai MPASI, kamu bisa mulai memberikan tambahan air putih dalam jumlah sedang. Cairan yang cukup akan merangsang bayi untuk lebih sering buang air kecil, yang secara alami membantu “membilas” dan mengeluarkan bakteri dari dalam saluran kemih sebelum mereka sempat berkembang biak.
4. Hindari Sabun yang Keras atau Busa Mandi
Area kemaluan bayi sangat sensitif. Hindari penggunaan sabun yang mengandung parfum menyengat, antiseptik kuat, atau produk bubble bath (busa mandi). Bahan kimia iritan ini dapat merusak flora normal dan mengiritasi uretra, sehingga bakteri jahat lebih mudah masuk dan menyebabkan infeksi. Gunakan air bersih dan kapas lembut atau sabun bayi berbahan ringan untuk membersihkan area genital.
Studi Terkait Mengenai ISK pada Bayi
Pediatrics Journal menerbitkan studi komprehensif mengenai diagnosis dan penanganan infeksi saluran kemih pada bayi dan anak-anak. Studi tersebut menjelaskan bahwa demam adalah indikator klinis paling signifikan untuk ISK pada bayi berusia di bawah 24 bulan yang tidak menunjukkan gejala pernapasan atau gastrointestinal yang jelas.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pengambilan sampel urine yang steril (melalui kateterisasi) untuk mencegah diagnosis yang salah (positif palsu), serta merekomendasikan pemeriksaan ultrasonografi (USG) ginjal pasca-infeksi pertama untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya kelainan struktural seperti Refluks Vesikoureter (VUR).
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah ciri ciri isk pada bayi bisa hilang dengan sendirinya?
Tidak. Infeksi saluran kemih pada bayi disebabkan oleh infeksi bakteri yang membutuhkan pengobatan antibiotik dari dokter. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, infeksi dapat menyebar ke ginjal dan menyebabkan kerusakan organ yang fatal serta komplikasi serius lainnya. Segera periksakan bayi ke dokter spesialis anak jika muncul gejala ISK.
2. Bagaimana dokter mendiagnosis ISK pada bayi?
Dokter akan meminta sampel urine bayi untuk dianalisis di laboratorium (urinalisis) dan dikultur untuk melihat jenis bakteri apa yang tumbuh. Karena bayi tidak bisa pipis di wadah kecil seperti orang dewasa, dokter biasanya akan mengambil sampel menggunakan kantong urine khusus yang ditempelkan di kelamin bayi, atau untuk hasil yang paling akurat, menggunakan selang kecil (kateter) yang dimasukkan ke saluran kemih.
3. Berapa lama pengobatan ISK pada bayi biasanya berlangsung?
Pengobatan ISK pada bayi umumnya menggunakan antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Lama pengobatan biasanya berkisar antara 7 hingga 14 hari, tergantung pada tingkat keparahan infeksi dan jenis antibiotik yang diberikan. Sangat penting untuk menghabiskan seluruh antibiotik sesuai dosis yang dianjurkan, meskipun bayi sudah tampak sehat, untuk mencegah bakteri kebal terhadap obat dan infeksi berulang.
4. Apakah penggunaan popok kain lebih baik dari popok sekali pakai untuk mencegah ISK?
Tidak ada bukti medis yang kuat bahwa popok kain lebih baik daripada popok sekali pakai dalam mencegah ISK, atau sebaliknya. Kunci pencegahan bukanlah pada jenis popoknya, melainkan seberapa sering popok tersebut diganti. Popok apa pun yang dibiarkan penuh urine atau feses terlalu lama akan meningkatkan risiko bakteri berkembang biak dan menyebabkan infeksi.
ISK pada bayi bukanlah kondisi yang bisa dianggap remeh. Jika kamu melihat tanda-tanda di atas, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis agar buah hati mendapatkan penanganan antibiotik yang tepat.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


