Ad Placeholder Image

Ini Ciri Mata Silinder dan Cara Mengatasinya yang Tepat 

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Gejala pertama yang sering dialami oleh pengidap mata silinder adalah mata lelah. 

Ini Ciri Mata Silinder dan Cara Mengatasinya yang Tepat Ini Ciri Mata Silinder dan Cara Mengatasinya yang Tepat 

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu menyadari bahwa saat melihat lampu jalan atau lampu kendaraan di malam hari, cahayanya tampak memanjang, pecah, atau memiliki lingkaran cahaya di sekelilingnya? Jika iya, kamu tidak sendirian. Kondisi ini merupakan salah satu keluhan paling umum yang dialami oleh orang-orang yang memiliki masalah refraksi mata, khususnya mata silinder atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai astigmatisme.

Mata silinder adalah suatu kondisi di mana bentuk kornea atau lensa mata tidak bulat sempurna. Pada mata yang normal, kornea memiliki bentuk melengkung yang simetris menyerupai bola basket. Namun, pada penderita astigmatisme, kornea lebih melengkung di satu sisi dibandingkan sisi lainnya, sehingga bentuknya lebih menyerupai bola rugbi. Kelainan bentuk inilah yang membuat cahaya yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan pada satu titik di retina, melainkan tersebar menjadi beberapa titik fokus.

Kondisi ini sangat memengaruhi kualitas penglihatan, terutama saat minim cahaya atau di malam hari. Efek silau dan pendaran cahaya dari lampu sering kali membuat penderitanya merasa tidak nyaman, bahkan bisa berbahaya jika sedang mengemudikan kendaraan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali secara detail mengapa kondisi ini terjadi, bagaimana cara menguranginya, serta penanganan medis apa yang paling tepat untuk mengembalikan kenyamanan visualmu.

Nah, jika kamu penasaran dengan penjelasan medis di balik kondisi mata silinder melihat lampu yang tampak pecah dan bagaimana cara mengatasinya, berikut adalah ulasan lengkapnya!

Memahami Kondisi Mata Silinder Saat Melihat Cahaya

Untuk memahami mengapa mata silinder menyebabkan gangguan penglihatan terhadap sumber cahaya, kita perlu melihat bagaimana cara mata bekerja dalam memproses cahaya. Ketika cahaya memantul dari suatu objek atau bersumber dari lampu, cahaya tersebut masuk ke mata melalui lapisan bening di bagian depan mata yang disebut kornea. Setelah melewati kornea, cahaya menuju ke lensa mata, yang kemudian memfokuskan cahaya tersebut agar jatuh tepat pada satu titik di retina (lapisan saraf di belakang mata).

Pada mata dengan penglihatan normal (emetropia), kornea dan lensa memiliki kelengkungan yang halus dan merata ke segala arah. Lengkungan yang sempurna ini memastikan semua sinar cahaya yang masuk akan dibiaskan secara seragam dan bertemu pada titik fokus yang tajam di retina. Proses ini menghasilkan gambar atau visual yang jernih dan tajam.

Sebaliknya, pada mata silinder atau astigmatisme, kelengkungan kornea atau lensa yang tidak merata membuat cahaya yang masuk dibiaskan ke arah yang berbeda-beda. Akibatnya, cahaya tidak jatuh pada satu titik yang sama di retina. Beberapa cahaya mungkin jatuh di depan retina, sebagian lagi di belakang retina, atau menyebar di beberapa area. Ketidakmampuan mata untuk menyatukan titik cahaya inilah yang menyebabkan penglihatan menjadi berbayang, kabur, dan objek yang dilihat tampak memiliki garis-garis atau pendaran cahaya ekstra (starbursts).

Mengapa Lampu Tampak Berpendar dan Pecah?

Keluhan melihat lingkaran cahaya (halo) atau cahaya yang memancar (starburst) dari lampu kendaraan dan lampu jalan raya memang menjadi ciri khas penderita silinder, terutama pada kondisi minim cahaya atau malam hari. Secara ilmiah, ada beberapa alasan anatomis dan optik mengapa hal ini bisa terjadi secara spesifik:

1. Mekanisme Pupil di Malam Hari

Di lingkungan yang gelap atau redup, pupil mata manusia secara otomatis akan melebar (berdilatasi) untuk membiarkan lebih banyak cahaya masuk agar kita bisa melihat. Ketika pupil membesar, area tepi kornea (perifer) ikut terlibat dalam membiaskan cahaya. Pada penderita astigmatisme, area tepi kornea ini sering kali memiliki kelengkungan yang lebih tidak teratur dibandingkan bagian tengahnya. Akibatnya, cahaya yang masuk melalui bagian pinggir kornea semakin menyebar dan menciptakan efek silau yang parah atau cahaya yang memanjang.

2. Hamburan Cahaya (Light Scattering)

Karena titik fokus yang tercipta lebih dari satu, sumber cahaya yang terang di tengah kegelapan tidak diterima sebagai satu titik cahaya yang solid oleh otak. Retina menerima sinyal cahaya yang tumpang tindih, sehingga otak menerjemahkannya sebagai cahaya yang “pecah” atau dikelilingi oleh pendaran cincin bersinar.

3. Faktor Penyerta: Mata Kering (Dry Eyes)

Banyak penderita astigmatisme juga mengalami kondisi mata kering akibat terlalu lama menatap layar digital tanpa berkedip (Computer Vision Syndrome). Air mata berfungsi sebagai lapisan optik pertama yang menghaluskan permukaan kornea. Jika permukaan mata kering, kornea menjadi tidak rata. Kombinasi antara kornea yang tidak simetris secara struktural dengan permukaan yang kasar akibat kurangnya lapisan air mata akan melipatgandakan efek pecahnya cahaya lampu.

Jika kamu mengalami gangguan yang signifikan dan merasa aktivitas harianmu terganggu, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan saran medis yang tepat dan rujukan penanganan lebih lanjut.

Faktor Risiko Penyebab Mata Silinder
  1. Faktor Genetik: Kondisi ini sering kali diturunkan di dalam keluarga. Jika orang tua memiliki silinder, kemungkinan besar anaknya juga memilikinya.
  2. Cedera Mata: Trauma fisik atau luka pada mata dapat mengubah bentuk kornea secara permanen.
  3. Pasca Operasi Mata: Beberapa jenis operasi mata yang melibatkan sayatan pada kornea bisa meninggalkan jaringan parut yang menyebabkan astigmatisme.
  4. Keratoconus: Penyakit degeneratif yang menyebabkan kornea secara perlahan menipis dan menonjol menyerupai kerucut.

Tanda dan Gejala Lain dari Astigmatisme

Selain melihat lampu yang tampak berpendar dan berbayang, mata silinder juga ditandai dengan berbagai gejala lain yang sering kali tidak disadari hingga penderita memeriksakan matanya ke optik atau dokter spesialis mata. Berikut adalah beberapa gejala yang patut diwaspadai:

1. Penglihatan Kabur atau Distorsi

Berbeda dengan mata minus (rabun jauh) yang hanya membuat objek jarak jauh terlihat buram, mata silinder membuat objek pada jarak dekat maupun jauh terlihat berbayang atau tidak proporsional. Tulisan mungkin tampak miring, atau huruf-huruf dengan bentuk mirip seperti ‘O’ dan ‘D’ atau ‘H’ dan ‘N’ menjadi sulit dibedakan.

2. Mata Cepat Lelah (Asthenopia)

Otot mata (otot siliaris) terus-menerus bekerja keras berusaha menyesuaikan fokus agar gambar terlihat lebih jelas. Kerja otot yang berlebihan dan terus-menerus ini menyebabkan mata terasa sangat tegang, lelah, dan pegal, terutama setelah membaca, menggunakan komputer, atau fokus pada tugas detail untuk waktu yang lama.

3. Kebiasaan Menyipitkan Mata

Tanpa disadari, penderita silinder sering menyipitkan matanya (squinting) saat mencoba melihat sesuatu. Menyipitkan mata dapat mengurangi jumlah cahaya yang tersebar yang masuk ke mata melalui bagian kornea yang tidak beraturan, sehingga dapat sedikit membantu mempertajam objek sementara waktu. Namun, kebiasaan ini justru memicu ketegangan otot wajah dan mata.

4. Sakit Kepala Berkepanjangan

Sebagai akibat langsung dari ketegangan otot mata dan ketidakmampuan otak dalam memproses gambar yang buram secara terus-menerus, penderita kerap mengalami sakit kepala. Sering kali sakit kepala ini terasa berdenyut di sekitar area dahi, pelipis, dan belakang mata.

Cara Tepat Mengatasi Keluhan Silau dan Berpendar

Kabar baiknya, mata silinder adalah kondisi refraksi yang sangat bisa dikoreksi. Tergantung pada tingkat keparahan (ukuran dioptri silinder) dan preferensi pribadimu, ada beberapa opsi penanganan untuk menghilangkan efek pendaran lampu malam hari:

1. Kacamata Berlensa Silinder (Lensa Torik)

Kacamata adalah cara paling sederhana, aman, dan paling umum untuk mengoreksi astigmatisme. Dokter atau optometris akan meresepkan lensa silinder yang dibuat secara spesifik dengan kelengkungan yang melawan bentuk tidak beraturan korneamu. Untuk mengatasi masalah pantulan lampu, sangat disarankan untuk menambahkan lapisan anti-reflektif (Anti-Reflection/AR coating) pada lensa kacamata. Lapisan AR ini berfungsi mengurangi pantulan cahaya dari dalam maupun luar permukaan lensa, sehingga silau dan lingkaran cahaya saat malam hari dapat diredam secara drastis.

2. Lensa Kontak Khusus (Toric Contact Lenses)

Jika kamu tidak nyaman menggunakan kacamata, lensa kontak bisa menjadi pilihan. Lensa kontak biasa (sferis) umumnya kurang efektif untuk silinder yang tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan lensa kontak jenis torik (Toric Lenses) yang memiliki ketebalan dan desain khusus agar tetap stabil pada posisinya di mata (tidak berputar saat kamu berkedip). Alternatif lain adalah lensa kontak RGP (Rigid Gas Permeable) yang kaku dan mampu membentuk permukaan bola mata menjadi bulat sempurna ketika dipakai.

3. Operasi Refraksi (LASIK, PRK, dan SMILE)

Bagi mereka yang ingin bebas dari ketergantungan pada alat bantu penglihatan, operasi laser refraksi adalah solusi medis yang permanen. Prosedur seperti LASIK (Laser-Assisted in Situ Keratomileusis) menggunakan sinar laser presisi tinggi untuk membuang sedikit jaringan kornea, lalu membentuk ulang kornea agar menjadi bulat dan simetris secara permanen. Dengan kornea yang sudah kembali simetris, masalah cahaya lampu yang pecah akan teratasi sepenuhnya.

4. Terapi Orthokeratology (Ortho-K)

Bagi kamu yang belum siap melakukan operasi tetapi ingin bebas kacamata di siang hari, metode Ortho-K bisa dicoba. Terapi ini menggunakan lensa kontak kaku khusus yang hanya dipakai saat tidur di malam hari. Selama kamu tidur, lensa ini akan secara perlahan mencetak ulang bentuk permukaan kornea. Saat dilepas di pagi hari, kornea akan mempertahankan bentuk bulatnya untuk sementara waktu, sehingga kamu bisa melihat jelas sepanjang hari tanpa alat bantu apa pun.

Selain penanganan medis dan menggunakan kacamata korektif, penting untuk menjaga kesehatan struktur saraf mata secara keseluruhan. Kamu bisa merawat mata dari dalam dengan beli vitamin mata online di Halodoc yang mengandung lutein, zeaxanthin, dan vitamin A. Produk-produk ini 100% asli dan siap diantar langsung ke rumah.

Studi Terkait Mengenai Astigmatisme dan Penglihatan Malam

Journal of Refractive Surgery menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa gangguan penglihatan malam hari, termasuk halo dan starburst, berkaitan erat dengan diameter pupil dan tingginya aberasi sferis pada kornea dengan astigmatisme.

Studi ini menemukan bahwa penderita dengan derajat astigmatisme lebih dari 1.00 Dioptri mengalami penurunan sensitivitas kontras yang signifikan pada kondisi pencahayaan rendah (mesopik). Penelitian ini juga membuktikan bahwa penggunaan lensa dengan koreksi lapisan anti-reflective secara signifikan terbukti mereduksi intensitas cahaya pecah yang diterima oleh makula hingga 40 persen, sehingga meningkatkan keamanan berkendara malam hari bagi penderita secara drastis.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Astigmatism – Symptoms and causes.
American Academy of Ophthalmology (AAO). Diakses pada 2024. What Is Astigmatism?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Astigmatism: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment.
National Eye Institute (NEI). Diakses pada 2024. Astigmatism.
Journal of Refractive Surgery. Diakses pada 2024. Night Vision Disturbances and Refractive Errors.

FAQ

1. Apakah mata silinder melihat lampu yang pecah menandakan mata minus juga bertambah?

Belum tentu. Mata silinder (astigmatisme) dan mata minus (miopia) adalah dua masalah refraksi yang berbeda. Bertambahnya efek lampu pecah biasanya terjadi karena ukuran silinder yang meningkat, ketidakcocokan sumbu kacamata, atau faktor lain seperti kelelahan mata dan kondisi mata kering yang parah, bukan selalu karena minus yang bertambah.

2. Apakah kondisi mata silinder bisa disembuhkan secara total?

Secara alami, mata silinder tidak bisa kembali normal atau sembuh dengan sendirinya karena melibatkan anatomi bentuk bola mata. Namun, kondisi ini bisa dikoreksi secara penuh hingga kamu bisa melihat normal kembali menggunakan bantuan kacamata dan lensa kontak, serta bisa “disembuhkan” atau diperbaiki secara permanen melalui intervensi bedah laser refraktif seperti LASIK.

3. Berapa ukuran silinder yang masih dianggap normal atau tidak perlu kacamata?

Secara umum, silinder ringan dengan ukuran di bawah 0.50 Dioptri masih bisa ditoleransi oleh sebagian besar orang tanpa memunculkan keluhan berarti, sehingga sering kali tidak diwajibkan memakai kacamata. Namun, jika pasien mulai merasakan gejala sakit kepala, silau parah saat malam hari, atau kesulitan fokus di depan komputer, maka koreksi kacamata sudah dianjurkan meski ukurannya tergolong kecil.

4. Bisakah vitamin mata mengurangi ukuran mata silinder?

Tidak bisa. Mata silinder murni merupakan cacat pada kelengkungan fisik kornea atau lensa. Mengonsumsi suplemen mata memang sangat baik untuk kesehatan makula, menjaga kelembapan kornea, dan mencegah penyakit degenerasi, namun vitamin sama sekali tidak mampu mengubah struktur atau bentuk lekukan kornea kembali menjadi bulat sempurna.