
Ini Efek Positif dan Negatif Multitasking yang Perlu Diketahui
Multitasking adalah kemampuan mengerjakan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu untuk meningkatkan efisiensi.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Multitasking dan Bagaimana Otak Meresponsnya?
- Efek Positif Multitasking
- Efek Negatif Multitasking
- Cara Mengelola Multitasking agar Lebih Efektif
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- Studi Terkait
- FAQ
Di era modern yang serba cepat ini, kemampuan untuk melakukan banyak hal sekaligus sering kali dianggap sebagai sebuah keharusan. Mulai dari membalas email kerja sambil mendengarkan rapat virtual, hingga makan siang sambil menggulir layar media sosial, multi tasking (multitasking) seakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup harian kita. Banyak orang percaya bahwa cara ini dapat menghemat waktu dan meningkatkan produktivitas.
Namun, dari sudut pandang medis dan psikologis, otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses dua tugas kognitif yang berat secara bersamaan. Saat kita merasa sedang melakukan multitasking, otak kita sebenarnya hanya melakukan task-switching atau beralih dari satu tugas ke tugas lainnya dengan sangat cepat. Proses transisi yang berulang-ulang ini menuntut energi otak yang sangat besar dan membebani korteks prefrontal, yakni area otak yang mengatur fokus, pengambilan keputusan, dan perencanaan.
Kebiasaan memaksakan otak bekerja melebihi kapasitas alaminya ini dapat memicu kelelahan mental (brain fog), penurunan daya ingat jangka pendek, hingga lonjakan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika kamu mulai merasa mudah lelah secara mental dan kurang fokus, memenuhi asupan nutrisi dan suplemen vitamin khusus untuk kesehatan otak dapat membantu menjaga performa sistem saraf pusatmu.
Sementara itu, jika efek dari multitasking berlebihan ini sudah menyebabkan burnout, gangguan kecemasan, atau stres berkepanjangan, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan atau psikolog agar kamu mendapatkan penanganan yang tepat. Lalu, apa sebenarnya efek positif dan negatif dari multitasking bagi tubuh dan pikiran? Berikut ulasan lengkapnya!
Apa Itu Multitasking dan Bagaimana Otak Meresponsnya?
Secara medis, aktivitas kognitif manusia diatur oleh jaringan eksekutif otak. Saat kamu mencoba melakukan dua pekerjaan sekaligus (misalnya membaca laporan sambil berbicara di telepon), otak akan menghentikan sementara satu proses mental untuk memulai proses lainnya. Biaya dari peralihan ini dikenal dengan istilah switching cost, yaitu hilangnya sepersekian detik dan energi mental setiap kali kamu berpindah fokus.
Terlalu sering melakukan peralihan ini akan memicu tubuh melepaskan hormon stres yang membuat detak jantung sedikit lebih cepat dan otot menjadi tegang. Selain itu, kebiasaan mengecek notifikasi baru terus-menerus akan menciptakan feedback loop dopamin yang adiktif, membuat kamu merasa “produktif” padahal sebenarnya efisiensi kerja sedang menurun tajam.
Efek Positif Multitasking
Meski sering dikritik, multitasking sebenarnya memiliki beberapa sisi positif jika dilakukan pada jenis pekerjaan yang tepat (terutama yang melibatkan aktivitas motorik dan kognitif secara terpisah).
1. Meningkatkan Fleksibilitas Kognitif pada Tugas Ringan
Saat kamu melakukan tugas otomatis yang tidak membutuhkan pemikiran mendalam, seperti melipat baju sambil mendengarkan podcast informatif, multitasking bisa menjadi cara yang baik untuk mengoptimalkan waktu. Hal ini melatih fleksibilitas otak untuk membagi perhatian pada tugas fisik ringan dan penyerapan informasi santai.
2. Penanganan Situasi Darurat yang Lebih Cekatan
Orang yang terbiasa menangani beberapa arus informasi sekaligus (seperti perawat di UGD atau petugas pemadam kebakaran) cenderung memiliki waktu reaksi yang lebih cepat dalam situasi darurat. Mereka terlatih untuk memilah prioritas dalam hitungan detik ketika berbagai stimulus datang bersamaan.
Tanda Kamu Mengalami Kelelahan Akibat Multitasking
- Sering merasa kewalahan atau overwhelmed meskipun pekerjaan yang dilakukan tidak terlalu berat.
- Mudah lupa menaruh barang atau lupa instruksi yang baru saja diberikan.
- Kesulitan menyelesaikan satu proyek hingga akhir karena terlalu sering beralih ke tugas lain.
- Kualitas tidur menurun dan sering terbangun di malam hari karena otak masih “bekerja”.
Efek Negatif Multitasking
Sayangnya, ketika diterapkan pada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, multitasking membawa dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan mental dan efisiensi kerja.
1. Menurunkan Tingkat IQ Secara Sementara
Penelitian menunjukkan bahwa mencoba mengerjakan beberapa tugas kompleks secara bersamaan dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif sementara, yang sebanding dengan efek kurang tidur semalaman. Daya analisis, kreativitas, dan kemampuan pemecahan masalah akan menurun drastis karena otak kekurangan ruang memori kerja (working memory) yang cukup.
2. Meningkatkan Risiko Kesalahan (Human Error)
Karena otak dipaksa beralih dengan cepat, perhatian terhadap detail akan banyak terlewat. Inilah alasan mengapa menelepon atau membalas pesan saat mengemudi sangat berbahaya. Otak tidak dapat secara optimal memproses isyarat visual di jalan sambil merangkai kalimat di telepon.
3. Memicu Kecemasan dan Depresi Ringan
Sistem saraf yang terus-menerus berada dalam mode “waspada” akibat arus informasi yang bertubi-tubi akan kehabisan tenaga. Kelelahan saraf ini dalam jangka panjang dapat menurunkan suasana hati, membuat seseorang menjadi mudah marah (iritabilitas), dan meningkatkan risiko gangguan kecemasan.
Cara Mengelola Multitasking agar Lebih Efektif
Jika kamu memang memiliki beban kerja yang banyak, bukan berarti kamu harus melakukan semuanya bersamaan. Terapkan strategi berikut untuk menjaga kesehatan otak:
1. Terapkan Konsep Single-Tasking dan Time Blocking
Alokasikan waktu khusus untuk satu jenis pekerjaan saja. Misalnya, 45 menit pertama hanya untuk menulis laporan tanpa membuka email. Setelah itu, ambil jeda 5-10 menit, barulah beralih ke tugas selanjutnya. Cara ini jauh lebih ramah untuk sistem saraf dan terbukti mempercepat penyelesaian tugas secara keseluruhan.
2. Gunakan Aturan Batching
Kelompokkan tugas-tugas kecil yang serupa untuk dikerjakan dalam satu waktu, yang dikenal sebagai batching. Contohnya, tetapkan waktu khusus pada pukul 10.00 dan 15.00 untuk membalas semua pesan dan email, daripada mengecek dan membalasnya satu per satu setiap kali notifikasi berbunyi sepanjang hari.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Studi Mengenai Dampak Multitasking
American Psychological Association (APA) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa beralih di antara berbagai tugas dapat menurunkan produktivitas seseorang hingga mencapai 40 persen.
Studi klinis dalam jurnal ini mengungkapkan bahwa peralihan tugas membutuhkan keterlibatan bagian otak bernama executive control. Setiap kali kita berpindah tugas, otak mengalami fase penyesuaian aturan (rule activation) yang memakan waktu. Akumulasi dari waktu yang hilang ini tidak hanya merugikan efisiensi, tetapi juga menciptakan stres mekanis pada fungsi sel saraf, menguatkan bukti bahwa manusia pada dasarnya dirancang untuk fokus pada satu hal di satu waktu.
Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2024. Multitasking: Switching costs.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Why Multitasking Doesn’t Work.
Harvard Business Review. Diakses pada 2024. How (and Why) to Stop Multitasking.
Stanford University. Diakses pada 2024. Media multitaskers pay mental price, Stanford study shows.
FAQ
1. Apakah multi tasking bisa memicu kerusakan otak secara permanen?
Meskipun belum terbukti menyebabkan kerusakan permanen secara langsung, studi dari MRI scan menunjukkan bahwa orang yang sering melakukan multitasking secara digital cenderung memiliki kepadatan materi abu-abu (grey matter) yang lebih rendah pada bagian korteks cingulate anterior otak, yaitu area yang bertanggung jawab atas kontrol kognitif dan pengaturan emosi.
2. Apakah ada orang yang memang terlahir jago melakukan multi tasking?
Ada, namun jumlahnya sangat sedikit. Para peneliti menyebutnya sebagai “supertaskers“. Secara genetik dan neurologis, kelompok ini (hanya sekitar 2% dari populasi) dapat memproses banyak informasi tanpa mengalami penurunan efisiensi kerja. Bagi 98% orang lainnya, multitasking hanyalah ilusi dari produktivitas.
3. Bagaimana cara mengembalikan fokus otak yang sudah terbiasa multi tasking?
Kamu bisa memulainya dengan membatasi distraksi visual dan auditori saat bekerja, seperti meletakkan ponsel di ruangan lain atau mematikan seluruh notifikasi di komputer. Rutin bermeditasi dan berolahraga aerobik ringan juga sangat membantu melancarkan aliran oksigen ke otak, sehingga memulihkan plastisitas saraf untuk kembali fokus.
4. Apakah mendengarkan musik saat bekerja termasuk multi tasking yang buruk?
Tergantung jenis musik dan pekerjaannya. Jika kamu mengerjakan tugas analisis matematika sambil mendengarkan lagu berlirik yang belum pernah didengar, otak akan kesulitan dan performa menurun. Namun, mendengarkan musik instrumental (seperti musik klasik atau lo-fi) saat melakukan tugas repetitif justru dapat merangsang dopamin dan menjaga mood tetap stabil.


