Ad Placeholder Image

Ini Gejala Sifilis pada Wanita yang Perlu Diwaspadai

7 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Gejala sifilis perlu segera atasi agak tidak menyebabkan komplikasi.

Ini Gejala Sifilis pada Wanita yang Perlu DiwaspadaiIni Gejala Sifilis pada Wanita yang Perlu Diwaspadai

DAFTAR ISI


Mengenal Penyakit Sifilis pada Wanita

Sifilis, atau yang sering dikenal masyarakat awam sebagai penyakit “raja singa”, adalah salah satu Infeksi Menular Seksual (IMS) yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Treponema pallidum. Meskipun dapat menyerang pria maupun wanita, sifilis pada wanita sering kali menjadi kondisi yang lebih rumit untuk dideteksi pada tahap awal.

Hal ini disebabkan oleh anatomi tubuh wanita itu sendiri. Luka awal sifilis sering kali muncul di area yang tersembunyi, seperti di dalam vagina atau pada leher rahim (serviks). Karena luka ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, banyak wanita yang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi hingga penyakit ini berkembang ke tahap yang lebih serius.

Pentingnya penanganan dini tidak bisa diremehkan. Jika dibiarkan tanpa pengobatan medis yang tepat, sifilis dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan kerusakan permanen pada organ-organ vital seperti jantung, otak, dan sistem saraf. Lebih fatal lagi, bagi wanita usia subur yang sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil, sifilis yang tidak diobati dapat ditularkan kepada janin yang dikandungnya.

Oleh karena itu, mengenali gejala sifilis sedini mungkin, memahami faktor risikonya, dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan seksual adalah langkah perlindungan terbaik yang bisa dilakukan oleh setiap wanita.

Tahapan dan Gejala Sifilis pada Wanita

Perkembangan penyakit sifilis tidak terjadi dalam semalam. Infeksi ini berjalan melalui beberapa tahapan yang spesifik. Setiap tahap memiliki karakteristik dan gejala yang berbeda. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai tahapan sifilis pada wanita:

1. Sifilis Primer (Tahap Awal)

Tahap primer dimulai sekitar 3 hingga 4 minggu setelah seseorang terpapar bakteri Treponema pallidum. Tanda utama dari tahap ini adalah munculnya luka kecil yang disebut chancre. Pada wanita, luka ini biasanya muncul di bibir vagina, di dalam vagina, leher rahim, anus, atau bahkan di area mulut (jika penularan terjadi melalui seks oral). Karakteristik utama luka ini adalah bentuknya yang bulat, keras, dan sama sekali tidak terasa sakit. Karena lokasinya sering tersembunyi dan tidak nyeri, luka ini kerap terabaikan dan akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 6 minggu, meskipun bakterinya masih ada di dalam tubuh.

2. Sifilis Sekunder

Jika tahap primer tidak diobati, penyakit akan memasuki tahap sekunder dalam hitungan beberapa minggu setelah luka awal sembuh. Pada fase ini, bakteri telah menyebar melalui aliran darah. Gejala khasnya adalah munculnya ruam kulit yang tidak gatal, sering kali terlihat pada telapak tangan atau telapak kaki, namun bisa juga muncul di area tubuh lainnya. Wanita yang berada di tahap ini juga mungkin mengalami gejala mirip flu, seperti demam ringan, kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, kerontokan rambut yang tidak merata (alopesia), dan penurunan berat badan.

3. Sifilis Laten (Fase Tersembunyi)

Tahap laten adalah fase di mana tidak ada gejala klinis yang terlihat sama sekali. Semua ruam dan gejala flu dari tahap sekunder menghilang. Namun, jangan salah sangka, bakteri Treponema pallidum masih berdiam diri dan berkembang biak di dalam tubuh. Tahap laten bisa berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan belasan tahun. Penyakit ini hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan darah di laboratorium.

4. Sifilis Tersier (Tahap Lanjut)

Sekitar 15 hingga 30 persen orang yang tidak mendapatkan pengobatan sifilis akan memasuki tahap tersier. Ini adalah tahap paling berbahaya dan mematikan. Pada tahap ini, bakteri mulai merusak organ-organ internal. Wanita dapat mengalami komplikasi serius seperti kerusakan jantung dan pembuluh darah (sifilis kardiovaskular), kerusakan otak dan sistem saraf (neurosifilis), hingga kebutaan, kelumpuhan, dan demensia. Kerusakan organ pada tahap ini bersifat permanen.

Dampak Sifilis pada Kehamilan

Salah satu alasan mengapa sifilis pada wanita sangat perlu diwaspadai adalah bahayanya terhadap kehamilan. Wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan infeksi tersebut kepada bayi di dalam kandungannya melalui plasenta. Kondisi ini dikenal dengan istilah Sifilis Kongenital.

Sifilis kongenital sangat berbahaya dan dapat memicu berbagai komplikasi kebidanan, di antaranya:

  • Keguguran (Abortus spontan): Terhentinya kehamilan sebelum usia kandungan mencapai 20 minggu.
  • Lahir mati (Stillbirth): Bayi meninggal di dalam kandungan setelah usia kehamilan 20 minggu.
  • Kelahiran prematur: Bayi lahir sebelum waktunya dengan berat badan lahir yang sangat rendah dan organ yang belum matang.
  • Cacat bawaan: Bayi yang lahir hidup dengan sifilis kongenital dapat mengalami kelainan bentuk tulang (seperti hidung pelana), gangguan pendengaran atau tuli, kebutaan, anemia berat, pembesaran hati dan limpa, serta gangguan perkembangan saraf.

Pemeriksaan skrining sifilis merupakan prosedur wajib bagi ibu hamil di trimester pertama dan sangat disarankan untuk diulang pada trimester ketiga guna mencegah terjadinya sifilis kongenital.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab tunggal dari penyakit sifilis adalah infeksi bakteri Treponema pallidum. Penularan utamanya terjadi melalui kontak langsung dengan luka sifilis selama aktivitas seksual. Ini mencakup seks vaginal, anal, maupun oral. Perlu diingat bahwa sifilis tidak dapat ditularkan melalui penggunaan toilet yang sama, kolam renang, gagang pintu, bak mandi, berbagi pakaian, atau alat makan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita terinfeksi sifilis meliputi:

  • Melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual (berganti-ganti pasangan).
  • Memiliki pasangan seksual yang diketahui menderita sifilis atau Infeksi Menular Seksual lainnya.
  • Pernah memiliki riwayat penyakit menular seksual lainnya seperti Gonore, Chlamydia, atau HIV. Peradangan pada organ intim akibat IMS lain memudahkan bakteri sifilis masuk ke dalam tubuh.
Langkah Pencegahan Sifilis pada Wanita
  1. Praktikkan Seks Aman: Selalu gunakan kondom lateks setiap kali berhubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral.
  2. Setia pada Satu Pasangan: Berhubungan intim hanya dengan satu pasangan yang telah teruji negatif dari penyakit menular seksual.
  3. Rutin Skrining Kesehatan Seksual: Terutama jika kamu aktif secara seksual atau sedang merencanakan kehamilan.
  4. Hindari Berbagi Mainan Seks: Jika menggunakan sex toys, pastikan untuk selalu mencucinya hingga bersih dan melapisinya dengan kondom baru sebelum digunakan.

Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Karena luka sifilis sering tersembunyi dan gejalanya bisa menyerupai penyakit lain, diagnosis tidak bisa dilakukan hanya melalui pengamatan fisik. Dokter akan melakukan beberapa tes laboratorium untuk memastikan keberadaan bakteri, antara lain:

1. Tes Darah (Serologi)

Tes darah adalah metode paling umum untuk mendiagnosis sifilis. Tes ini mencari antibodi yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan infeksi. Tes yang sering dilakukan meliputi VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) atau RPR (Rapid Plasma Reagin). Jika hasilnya reaktif (positif), dokter akan melakukan tes lanjutan spesifik seperti TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay) untuk konfirmasi akhir.

2. Pemeriksaan Cairan Luka

Jika pasien masih berada pada tahap primer atau sekunder dan memiliki luka (chancre) yang aktif, dokter dapat mengambil sampel cairan dari luka tersebut. Sampel ini kemudian diamati di bawah mikroskop khusus (mikroskop medan gelap) untuk melihat keberadaan bakteri Treponema pallidum secara langsung.

Pengobatan Sifilis

Sebagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sifilis tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan alternatif, obat herbal, atau produk bebas. Pengobatan utama dan paling efektif untuk menyembuhkan sifilis adalah dengan menggunakan antibiotik resep dokter.

Jenis antibiotik yang menjadi standar emas (gold standard) pengobatan sifilis adalah injeksi Penisilin (Penicillin G). Dosis dan durasi pengobatan akan sangat bergantung pada seberapa lama pasien telah terinfeksi dan stadium penyakitnya. Untuk sifilis tahap primer, sekunder, dan laten awal, biasanya cukup dengan satu kali suntikan Penisilin. Namun, untuk sifilis tahap laten lanjut atau tersier, pasien mungkin memerlukan serangkaian suntikan dalam beberapa minggu.

Jika pasien memiliki alergi terhadap penisilin, dokter akan meresepkan antibiotik jenis lain seperti Doxycycline, Azithromycin, atau Ceftriaxone. Sangat penting bagi pasien untuk menyelesaikan seluruh program pengobatan yang diberikan dokter, bahkan jika gejala sudah hilang sepenuhnya.

Selama masa pemulihan, tubuh memerlukan sistem imun yang optimal untuk merespons pengobatan. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan konsumsi suplemen vitamin yang mengandung Vitamin C atau Zinc untuk membantu menjaga daya tahan tubuh, namun ini bukan merupakan obat utama untuk membasmi sifilis.

Perlu dicatat bahwa meskipun pengobatan dapat membunuh bakteri dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut, pengobatan tidak dapat memperbaiki kerusakan organ yang sudah terlanjur terjadi pada sifilis tahap tersier. Selain itu, berhasil sembuh dari sifilis tidak membuat seseorang kebal; infeksi dapat terjadi kembali jika terpapar bakteri di masa depan.

Studi Terkait Sifilis pada Wanita

World Health Organization (WHO) menerbitkan data terkini yang menjelaskan bahwa sifilis maternal (sifilis pada ibu hamil) merupakan penyebab utama kedua kasus lahir mati secara global. WHO memperkirakan jutaan wanita usia subur di seluruh dunia terinfeksi setiap tahunnya.

Studi ini menekankan betapa pentingnya intervensi medis dini, khususnya skrining prenatal di trimester awal. Pengobatan ibu hamil dengan Penisilin sebelum usia kandungan 24 minggu terbukti lebih dari 98% efektif mencegah penularan sifilis kongenital pada bayi.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Syphilis.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Syphilis – CDC Basic Fact Sheet.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Syphilis – Symptoms and Causes.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Syphilis: Causes, Symptoms, Treatment & Prevention.

FAQ

1. Apa saja gejala awal penyakit sifilis pada wanita?

Gejala awal yang paling khas adalah munculnya luka kecil, bulat, dan tidak terasa nyeri (chancre) di area kelamin seperti vagina, leher rahim, atau anus. Karena tidak sakit dan tersembunyi, luka ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya.

2. Apakah sifilis pada wanita bisa sembuh total?

Ya, sifilis sangat bisa disembuhkan secara total jika dideteksi dan diobati pada tahap awal. Pengobatan standar medis yang digunakan adalah antibiotik jenis Penisilin yang harus diresepkan dan diawasi oleh dokter.

3. Bagaimana cara membedakan ruam sifilis dengan penyakit kulit lainnya?

Ruam pada sifilis sekunder memiliki ciri khas yaitu muncul di telapak tangan dan telapak kaki, berwarna merah kecoklatan, dan umumnya tidak terasa gatal. Ruam ini juga kerap disertai dengan gejala penyerta seperti demam ringan dan pembengkakan kelenjar getah bening.

4. Kapan harus periksa ke dokter jika curiga terkena sifilis?

Segera periksakan diri ke dokter jika kamu menyadari adanya luka di area genital, memiliki riwayat berhubungan seksual tanpa pengaman dengan pasangan baru, atau jika pasangan seksualmu terdiagnosis IMS. Untuk wanita hamil, skrining harus dilakukan pada pemeriksaan kehamilan pertama.