Ad Placeholder Image

Ini Jenis-Jenis Vaksin Anjing dan Jadwalnya

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 22 Juni 2026

Vaksinasi anjing memberi perlindungan dari berbagai penyakit berbahaya.

Ini Jenis-Jenis Vaksin Anjing dan JadwalnyaIni Jenis-Jenis Vaksin Anjing dan Jadwalnya

DAFTAR ISI


Memutuskan untuk merawat anjing sebagai hewan peliharaan (anabul) berarti kamu sudah siap untuk bertanggung jawab atas hidup dan kesehatannya. Seperti halnya manusia, anjing sangat rentan terhadap berbagai penyakit menular yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Beberapa di antara penyakit tersebut tidak hanya sangat menular dan mematikan bagi sesama anjing, tetapi juga bisa menular kepada manusia (zoonosis), seperti rabies dan leptospirosis.

Oleh karena itu, memberikan vaksin anjing merupakan salah satu langkah pencegahan medis yang paling fundamental. Vaksin bekerja dengan cara merangsang sistem kekebalan tubuh anjing untuk mengenali dan melawan mikroorganisme penyebab penyakit. Jika suatu saat anjing terpapar virus atau bakteri tersebut secara nyata, tubuhnya sudah memiliki “memori” dan antibodi yang cukup untuk melawannya, sehingga gejala yang timbul akan jauh lebih ringan atau bahkan tidak terjadi sama sekali.

Sebagai informasi penting, pemberian vaksin pada hewan peliharaan bukanlah prosedur mandiri yang bisa kamu lakukan di rumah. Vaksinasi hewan harus dilakukan oleh tenaga profesional, dalam hal ini adalah dokter hewan yang memiliki izin praktik. Jika anjingmu menunjukkan tanda-tanda sakit yang mengkhawatirkan, seperti muntah darah, kejang, atau lemas berkepanjangan, jangan ragu untuk segera konsultasi ke dokter hewan untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat.

Di dunia kedokteran hewan, vaksin untuk anjing terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu vaksin inti (core vaccines) yang wajib diberikan, dan vaksin non-inti (non-core vaccines) yang diberikan berdasarkan risiko lingkungan hidup anjing. Nah, mau tahu apa saja jenis-jenis vaksin anjing dan kapan jadwal pemberiannya? Berikut ulasannya secara lengkap!

Jenis-Jenis Vaksin Inti (Core Vaccines)

Vaksin inti adalah vaksin yang secara universal direkomendasikan untuk semua anjing, tanpa memandang ras, ukuran, atau lokasi geografis tempat mereka tinggal. Vaksin ini dirancang untuk melindungi anjing dari penyakit yang sangat fatal, mudah menyebar, dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Asosiasi Kedokteran Hewan Global (WSAVA) menetapkan beberapa penyakit berikut ke dalam kelompok wajib vaksin.

1. Vaksin Rabies

Rabies adalah penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Penyakit ini sangat berbahaya karena bersifat zoonosis, artinya bisa menular dari gigitan atau air liur anjing yang terinfeksi kepada manusia. Penyakit ini tidak ada obatnya dan 100% berakibat fatal jika gejala sudah muncul. Di Indonesia, pemerintah sangat mewajibkan vaksin rabies pada anjing peliharaan karena negara kita masih berjuang melawan endemik rabies di beberapa wilayah.

2. Vaksin Canine Parvovirus (CPV)

Biasa dikenal oleh kalangan dog lovers sebagai “Parvo”. Virus ini sangat menular dan menyerang saluran pencernaan anjing. Gejala parvo meliputi muntah parah, diare berdarah yang berbau sangat busuk, demam, dan dehidrasi ekstrem. Penyakit ini sangat mematikan, terutama pada anak anjing yang sistem imunnya belum terbentuk sempurna. Virus Parvo sangat tangguh dan bisa bertahan di lingkungan selama berbulan-bulan, sehingga vaksinasi adalah satu-satunya pelindung.

3. Vaksin Canine Distemper Virus (CDV)

Distemper adalah penyakit virus yang menyerang tiga sistem utama pada tubuh anjing sekaligus: sistem pernapasan, gastrointestinal (pencernaan), dan sistem saraf pusat. Gejalanya bervariasi dari batuk, keluarnya lendir tebal dari mata dan hidung, hingga kejang-kejang dan kelumpuhan permanen jika virus sudah mencapai otak. Penularannya terjadi melalui udara (airborne) saat anjing yang terinfeksi batuk atau bersin.

4. Vaksin Canine Adenovirus (CAV-2 / Hepatitis Menular)

Vaksin CAV-2 memberikan perlindungan ganda. Pertama, melindungi dari virus penyebab hepatitis menular pada anjing (CAV-1) yang merusak hati, ginjal, limpa, dan paru-paru. Kedua, melindungi anjing dari infeksi pernapasan yang menjadi salah satu komponen penyakit kennel cough (batuk kandang).

Faktor Pemicu & Tips Persiapan Sebelum Vaksin Anjing
  1. Pastikan anjing dalam kondisi sehat: Anjing yang sedang demam, diare, atau stres berat tidak boleh divaksin karena sistem imunnya sedang tidak optimal untuk membentuk antibodi.
  2. Lakukan obat cacing: Infeksi parasit (cacingan) dapat menurunkan efektivitas vaksin. Berikan obat cacing secara rutin sebelum jadwal vaksinasi tiba.
  3. Bawa rekam medis: Jika pindah dokter, selalu bawa buku vaksin sebelumnya agar dokter hewan mengetahui riwayat antibodi anabulmu.

Jenis-Jenis Vaksin Non-Inti (Non-Core Vaccines)

Berbeda dengan vaksin inti, vaksin non-inti diberikan tergantung pada gaya hidup anjing. Jika anjingmu sering diajak jalan-jalan, pergi ke taman bermain hewan, atau masuk ke penitipan hewan (pet hotel), dokter hewan umumnya akan merekomendasikan tambahan vaksin di bawah ini.

1. Vaksin Bordetella bronchiseptica

Bakteri ini adalah penyebab utama Kennel Cough atau batuk kandang, penyakit pernapasan yang sangat menular di tempat-tempat anjing berkumpul. Penyakit ini menyebabkan batuk kering yang keras seperti suara angsa berbunyi. Vaksin ini sangat disarankan jika anjingmu sering mengikuti dog show, sekolah pelatihan, atau dititipkan di klinik hewan.

2. Vaksin Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang biasa ditemukan di tanah basah atau genangan air yang terkontaminasi urine tikus atau satwa liar. Bakteri ini merusak ginjal dan hati anjing. Mengingat di Indonesia sering terjadi musim hujan dan genangan air, dokter hewan sangat merekomendasikan vaksin ini. Terlebih lagi, penyakit ini bersifat zoonosis dan dapat menular dari urine anjing ke manusia.

3. Vaksin Penyakit Lyme

Penyakit Lyme ditularkan melalui gigitan kutu rusa. Gejalanya meliputi radang sendi, pincang, pembengkakan kelenjar getah bening, dan kehilangan nafsu makan. Vaksin ini direkomendasikan jika anjing sering diajak berburu, camping, atau berjalan-jalan di area hutan yang rawan kutu.

Jadwal Pemberian Vaksin Anjing yang Tepat

Antibodi ibu (maternal antibodies) yang didapatkan anak anjing dari kolostrum (susu pertama induknya) akan menurun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, vaksinasi harus dilakukan secara bertahap untuk membangun kekebalan mereka sendiri. Umumnya, dokter hewan akan merekomendasikan jadwal berikut:

1. Fase Anak Anjing (Puppy)

Vaksin pertama (biasanya CPV, CDV, CAV-2) diberikan pada usia 6 hingga 8 minggu. Vaksin ini akan diulang kembali (booster) setiap 3 hingga 4 minggu sekali hingga anak anjing berusia sekitar 16 minggu. Hal ini penting untuk memastikan sistem imun benar-benar kebal terhadap virus inti.

2. Fase Rabies

Vaksin rabies pertama kali diberikan saat anak anjing berusia sekitar 12 hingga 16 minggu (tergantung regulasi dokter dan daerah masing-masing).

3. Fase Anjing Dewasa (Booster)

Setelah seri vaksin anak anjing selesai, anjing harus diberikan vaksin ulangan (booster) pada usia 1 tahun. Setelah itu, booster untuk vaksin inti biasanya diberikan setiap 1 hingga 3 tahun sekali, sementara vaksin non-inti (seperti leptospira atau kennel cough) memerlukan booster setiap tahun.

Efek Samping dan Perawatan Pasca Vaksin

Seperti pada manusia, vaksinasi pada anjing dapat menimbulkan reaksi ringan. Ini adalah tanda normal bahwa sistem imun sedang bekerja merespons vaksin. Beberapa efek samping ringan yang umum terjadi antara lain:

  • Lesu atau lebih banyak tidur selama 24 jam pertama.
  • Nafsu makan sedikit menurun.
  • Demam ringan (suhu tubuh anjing normal sedikit naik).
  • Nyeri atau sedikit bengkak di area bekas suntikan.

Namun, jika anjing menunjukkan reaksi alergi parah (anafilaksis) seperti wajah membengkak, muntah terus-menerus, gatal hebat, hingga kesulitan bernapas, segera bawa anjing kembali ke klinik hewan. Reaksi berat sangat jarang terjadi, tetapi membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Meskipun kamu sangat menyayangi hewan peliharaan, jangan lupa untuk menjaga kesehatan dirimu sendiri. Merawat hewan yang sakit atau aktif bermain membutuhkan stamina yang baik. Kamu bisa beli vitamin dan produk kesehatan andalanmu untuk menjaga daya tahan tubuh secara online.

Studi Terkait Vaksinasi Hewan

Journal of Veterinary Medical Science menerbitkan sebuah studi komprehensif mengenai kontrol rabies di Asia, yang menyimpulkan bahwa cakupan vaksinasi yang konsisten pada populasi anjing domestik adalah kunci utama memutus mata rantai transmisi rabies ke manusia.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan mencapai target minimal 70% populasi anjing yang divaksinasi dalam suatu wilayah, konsep kekebalan kelompok (herd immunity) akan terbentuk. Hal ini tidak hanya menekan angka kematian anjing, namun secara drastis menurunkan insiden gigitan rabies yang fatal pada manusia.

Konsultasi dengan Dokter Hewan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Hewan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Small Animal Veterinary Association (WSAVA). Diakses pada 2024. Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats.
American Veterinary Medical Association (AVMA). Diakses pada 2024. Pet vaccines and vaccination schedules.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Rabies.
Merck Veterinary Manual. Diakses pada 2024. Routine Vaccination Strategies for Dogs.

FAQ

1. Berapa harga rata-rata vaksin anjing?

Harga vaksin anjing sangat bervariasi tergantung dari jenis klinik hewan, wilayah tempat tinggalmu, dan jenis vaksin (Eurican 4, Eurican 6, Vanguard, dll). Secara umum, biaya satu kali dosis vaksin berkisar antara Rp200.000 hingga Rp450.000. Sangat disarankan untuk langsung menghubungi klinik hewan terdekat untuk estimasi harga pastinya.

2. Apa yang terjadi jika anjing melewatkan jadwal vaksin tahunannya?

Jika jadwal booster tahunan terlewat cukup lama (lebih dari beberapa bulan), tingkat antibodi anjing bisa menurun drastis sehingga mereka kembali rentan terhadap infeksi. Dokter hewan mungkin perlu mengulang seri pemberian dua dosis awal untuk membangun kembali sistem kekebalan tubuh yang optimal.

3. Apakah anjing betina yang sedang hamil boleh divaksin?

Secara umum, vaksinasi rutin, terutama vaksin yang mengandung virus hidup yang dilemahkan (modified live vaccines), tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anjing yang sedang hamil. Vaksinasi pada masa kehamilan dapat membahayakan perkembangan janin. Waktu terbaik memvaksin anjing betina adalah sebelum mereka dikawinkan (masa persiapan kehamilan).

4. Bisakah anjing tetap terkena penyakit meskipun sudah divaksin?

Tidak ada vaksin yang memberikan perlindungan 100%. Terkadang ada kondisi yang dinamakan kegagalan vaksin, yang bisa disebabkan oleh sistem imun anjing yang buruk saat divaksin, paparan virus yang terlalu tinggi, atau infeksi sebelum vaksin bekerja tuntas. Namun, jika anjing yang sudah divaksinasi tetap terinfeksi, gejala yang dialami akan jauh lebih ringan dan tingkat kelangsungan hidupnya jauh lebih tinggi dibandingkan anjing yang tidak divaksin.