Ad Placeholder Image

Ini Jenis Kateter dan Prosedur untuk Menggunakannya

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Mei 2026

Kateter urine terdiri dari tiga jenis utama.

Ini Jenis Kateter dan Prosedur untuk MenggunakannyaIni Jenis Kateter dan Prosedur untuk Menggunakannya

Apa Itu Kateter Urin?

Kateter urin adalah alat medis berupa selang fleksibel yang digunakan untuk mengosongkan kandung kemih dan menampung urin ke dalam kantong drainase. Alat ini umumnya terbuat dari bahan lateks, silikon, atau teflon yang dirancang agar aman dimasukkan ke dalam tubuh. Penggunaan selang kencing ini bersifat medis dan harus melalui prosedur yang steril guna meminimalkan risiko infeksi.

Pemasangan alat ini dilakukan ketika seseorang mengalami kesulitan untuk buang air kecil secara alami atau saat kandung kemih tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. Prosedur ini sangat umum ditemukan pada pasien yang menjalani operasi, penderita gangguan saraf, atau pasien dengan keterbatasan mobilitas di rumah sakit. Dalam istilah medis, tindakan ini dikenal sebagai kateterisasi urin.

Berdasarkan durasi penggunaannya, alat ini terbagi menjadi kateter sementara dan kateter menetap. Pemilihan jenis kateter disesuaikan dengan kondisi klinis dan kebutuhan jangka panjang pasien. Keamanan dan kenyamanan pasien menjadi prioritas utama dalam setiap prosedur pemasangan selang drainase urin ini.

Gejala yang Memerlukan Kateter Urin

Gejala utama yang memerlukan penggunaan kateter urin adalah retensi urin akut, yakni ketidakmampuan untuk mengeluarkan urin meskipun kandung kemih terasa penuh. Kondisi ini sering disertai dengan rasa nyeri pada perut bagian bawah dan sensasi tekanan yang hebat. Penggunaan selang diperlukan untuk mencegah kerusakan ginjal akibat tekanan balik urin.

Selain retensi, inkontinensia urin atau ketidakmampuan mengontrol keluarnya urin juga menjadi indikasi penting. Kondisi ini sering dialami oleh lansia atau pasien dengan gangguan neurologis. Selang kencing membantu menjaga kebersihan kulit dan mencegah iritasi akibat paparan urin yang terus-menerus pada area genital.

Beberapa tanda lain yang menunjukkan diperlukannya bantuan alat ini meliputi:

  • Aliran urin yang sangat lemah atau tersendat-sendat.
  • Nyeri hebat saat mencoba buang air kecil (disuria).
  • Pembengkakan pada area kandung kemih yang teraba keras.
  • Frekuensi buang air kecil yang sangat rendah meskipun asupan cairan cukup.
  • Kebutuhan pemantauan output urin yang akurat pada pasien kritis.

Penyebab Penggunaan Kateter Urin

Penyebab penggunaan kateter urin meliputi berbagai kondisi medis yang menghalangi aliran urin normal atau merusak sistem saraf kandung kemih. Salah satu penyebab paling umum pada pria adalah pembesaran prostat jinak (BPH) yang menekan saluran uretra. Hal ini mengakibatkan urin terperangkap di dalam kandung kemih dan memerlukan bantuan selang untuk dikeluarkan.

Faktor lain mencakup kerusakan saraf akibat cedera sumsum tulang belakang, stroke, atau komplikasi diabetes yang menyebabkan kandung kemih neurogenik. Pada kondisi ini, sinyal saraf untuk berkemih tidak sampai ke otak atau otot kandung kemih tidak mampu berkontraksi. Penggunaan kateterisasi menjadi solusi jangka panjang bagi pasien dengan gangguan saraf permanen.

“Penyumbatan saluran kemih dapat terjadi akibat adanya batu ginjal, tumor pada area panggul, atau striktur uretra (penyempitan saluran kencing) yang menghambat proses ekskresi alami.” — Kemenkes RI, 2022

Kondisi medis lainnya meliputi pasca operasi area panggul atau perut yang memerlukan pengosongan kandung kemih secara pasif selama masa pemulihan. Pemberian obat-obatan tertentu yang memengaruhi kontraksi otot kandung kemih juga dapat memicu perlunya pemasangan selang kencing sementara.

Diagnosis dan Indikasi Medis

Diagnosis untuk menentukan penggunaan kateter urin dilakukan melalui evaluasi fisik oleh dokter spesialis urologi atau tenaga medis ahli. Dokter akan melakukan palpasi pada area perut bawah untuk memeriksa adanya distensi kandung kemih. Selain itu, pemeriksaan riwayat medis lengkap diperlukan untuk memahami pola berkemih pasien.

Pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG) kandung kemih sering digunakan untuk mengukur volume residu urin setelah pasien mencoba berkemih secara alami. Jika volume residu melebihi batas normal (biasanya di atas 100-200 ml), indikasi pemasangan kateter menjadi sangat kuat. Prosedur diagnostik ini memastikan bahwa intervensi dilakukan secara tepat sasaran.

Urodinamik merupakan tes lain yang mungkin dilakukan untuk mengevaluasi seberapa baik kandung kemih menyimpan dan melepaskan urin. Melalui diagnosis yang komprehensif, tim medis dapat menentukan apakah pasien memerlukan kateter intermiten (sementara) atau kateter indwelling (menetap) guna mendukung fungsi sistem perkemihan secara optimal.

Jenis dan Prosedur Penggunaan Kateter Urin

Jenis kateter urin yang paling umum digunakan adalah kateter indwelling atau sering disebut kateter foley. Alat ini dilengkapi dengan balon kecil di ujungnya yang dikembangkan dengan air steril agar selang tetap berada di dalam kandung kemih. Jenis ini digunakan untuk jangka waktu lama dan dihubungkan ke kantong urin yang dipasang di kaki atau tempat tidur.

Jenis kedua adalah kateter intermiten yang hanya digunakan saat ingin mengosongkan kandung kemih dan segera dilepas setelah urin habis. Prosedur ini sering dilakukan secara mandiri oleh pasien dengan gangguan saraf kronis. Selain itu, terdapat kateter suprapubik yang dimasukkan melalui sayatan kecil di perut bagian bawah, langsung menuju kandung kemih.

Prosedur pemasangan harus mengikuti langkah-langkah aseptik sebagai berikut:

  1. Pembersihan area genital menggunakan cairan antiseptik untuk mencegah kuman masuk.
  2. Pemberian gel pelumas yang mengandung anestesi lokal pada ujung kateter agar masuk dengan lancar dan mengurangi nyeri.
  3. Penyisipan selang secara perlahan melalui uretra hingga mencapai kandung kemih sampai urin mulai mengalir.
  4. Pengembangan balon pengunci (untuk jenis indwelling) guna memastikan posisi selang tidak bergeser.
  5. Penyambungan selang ke kantong drainase urin dan fiksasi selang pada paha pasien untuk menghindari tarikan yang menyakitkan.

Perawatan Kateter di Rumah

Perawatan kateter urin di rumah memerlukan disiplin tinggi untuk mencegah komplikasi. Kantong urin harus dikosongkan secara berkala sebelum penuh (sekitar 2/3 bagian) untuk menjaga aliran tetap lancar. Area di sekitar tempat masuknya selang harus dibersihkan setiap hari dengan air sabun yang lembut tanpa menarik selang secara paksa.

Pencegahan Komplikasi Akibat Kateter Urin

Pencegahan komplikasi akibat kateter urin difokuskan pada minimalisasi risiko Infeksi Saluran Kemih Terkait Kateter (CAUTI). Komplikasi ini merupakan risiko tertinggi yang dapat menyebabkan demam hingga urosepsis jika tidak ditangani. Menjaga sistem drainase tetap tertutup dan memastikan kantong urin selalu berada lebih rendah dari kandung kemih adalah langkah pencegahan fundamental.

Asupan cairan yang cukup sangat dianjurkan bagi pengguna kateter untuk membantu “membilas” bakteri dari saluran kemih secara alami. Hindari menekuk atau menghimpit selang karena hambatan aliran urin dapat memicu pertumbuhan bakteri dengan cepat. Penggunaan bahan kateter yang berkualitas seperti silikon murni juga dapat mengurangi risiko iritasi dan pembentukan kerak mineral.

“Implementasi teknik aseptik yang ketat selama pemasangan dan perawatan kateter dapat menurunkan insiden infeksi saluran kemih hingga 50 persen pada lingkungan perawatan kesehatan.” — WHO, 2021

Pasien juga disarankan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh perangkat kateter. Penggantian selang secara rutin sesuai jadwal yang ditetapkan dokter sangat penting untuk mencegah biofilm bakteri. Jangan menggunakan bedak atau losion di sekitar area pemasangan kateter karena dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme.

Kapan Harus Menghubungi Tenaga Medis?

Menghubungi tenaga medis segera sangat diperlukan jika muncul tanda-tanda infeksi sistemik seperti demam tinggi yang disertai menggigil. Perubahan warna urin menjadi sangat keruh, berdarah (hematuria), atau berbau menyengat merupakan sinyal adanya masalah pada saluran kemih. Gejala-gejala ini tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.

Masalah mekanis pada alat juga menjadi alasan mendesak untuk mencari bantuan medis. Jika urin berhenti mengalir ke dalam kantong drainase selama lebih dari 4 jam padahal asupan cairan cukup, kemungkinan besar terjadi penyumbatan atau dislokasi selang. Rasa nyeri yang menusuk di area perut bawah atau kebocoran urin di sekitar selang juga memerlukan evaluasi segera.

Segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja jika ditemukan pembengkakan pada uretra atau jika selang kateter terlepas secara tidak sengaja. Penanganan yang cepat dapat mencegah kerusakan jaringan permanen dan memastikan fungsi ekskresi urin kembali berjalan normal.

Kesimpulan

Kateter urin adalah instrumen medis vital bagi pasien yang mengalami gangguan pengosongan kandung kemih akibat berbagai kondisi kesehatan. Penggunaannya memerlukan teknik sterilisasi dan perawatan yang teliti guna menghindari risiko infeksi saluran kemih yang serius. Pemahaman mengenai jenis kateter dan cara perawatannya sangat membantu meningkatkan kualitas hidup pengguna selama masa pemulihan atau perawatan jangka panjang. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.