
Ini Kebutuhan Protein Harian Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
“Protein sangat penting untuk membuat organ tubuh berfungsi dengan baik. Namun, masih banyak orang yang tidak mengetahui berapa banyak jumlah protein yang tepat untuk tubuh.”

DAFTAR ISI
- Mengenal Fungsi Protein bagi Tubuh
- Kebutuhan Minimal Protein Harian Berdasarkan Usia
- Sumber Protein Terbaik untuk Menu Harian
- Dampak Jika Kebutuhan Protein Harian Tidak Terpenuhi
- Studi Mengenai Asupan Protein dan Sarcopenia
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Menjaga pola makan bergizi seimbang adalah kunci utama untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar. Salah satu makronutrien yang mutlak dibutuhkan oleh tubuh setiap harinya adalah protein. Sayangnya, masih banyak orang yang lebih fokus pada pengurangan karbohidrat atau lemak, namun mengabaikan seberapa banyak minimal protein harian yang sebenarnya harus dikonsumsi.
Protein sering dijuluki sebagai “blok pembangun” tubuh manusia. Nutrisi ini terdiri dari rantai asam amino yang berperan penting dalam menyusun otot, tulang, kulit, rambut, hingga berbagai enzim dan hormon. Tanpa asupan protein yang cukup, sel-sel tubuh yang rusak tidak akan bisa beregenerasi dengan optimal, dan sistem kekebalan tubuh pun akan melemah. Oleh karena itu, memastikan asupan minimal protein harian sangatlah krusial untuk mencegah berbagai masalah kesehatan klinis.
Banyak masyarakat Indonesia yang asupan makanannya masih didominasi oleh karbohidrat. Jika kamu merasa pola makanmu kurang seimbang dan kesulitan memenuhinya dari makanan utuh, mencari tambahan suplemen kesehatan dan vitamin bisa menjadi salah satu opsi pendukung yang aman. Namun, jika kamu sudah mengalami gejala kelelahan kronis dan rambut rontok parah akibat malnutrisi, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Nah, mau tahu apa saja aturan dan pedoman untuk memenuhi minimal protein harian kamu? Berikut ulasan lengkap dan panduan medisnya!
Mengenal Fungsi Protein bagi Tubuh
Sebelum kita membahas angka pasti terkait minimal protein harian, penting untuk memahami mengapa tubuh sangat bergantung pada nutrisi yang satu ini. Berbeda dengan lemak dan karbohidrat yang bisa disimpan oleh tubuh sebagai cadangan energi, tubuh manusia tidak memiliki “tangki penyimpanan” khusus untuk protein. Inilah sebabnya, kamu wajib mengonsumsinya setiap hari.
Protein dibentuk oleh 20 jenis asam amino. Dari jumlah tersebut, ada 9 asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga wajib didapatkan dari makanan. Fungsi utama protein meliputi perbaikan dan pertumbuhan jaringan otot, memproduksi antibodi untuk melawan infeksi virus dan bakteri, serta menjaga keseimbangan cairan tubuh. Selain itu, protein juga berfungsi sebagai pembawa oksigen dalam darah (hemoglobin) dan pengatur metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Kebutuhan Minimal Protein Harian Berdasarkan Usia
Kebutuhan protein setiap orang bisa berbeda-beda, sangat bergantung pada usia, jenis kelamin, berat badan, kondisi medis, dan tingkat aktivitas fisik. Secara umum, standar medis merekomendasikan asupan protein harian sebesar 0,8 gram per kilogram berat badan untuk orang dewasa yang kurang aktif (sedentari). Jadi, jika berat badanmu 60 kilogram, kamu membutuhkan setidaknya 48 gram protein setiap harinya agar tubuh dapat berfungsi normal.
Namun, di Indonesia, patokan ini sering disesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Berikut adalah rincian rata-rata kebutuhan minimal protein harian yang perlu kamu perhatikan:
1. Anak-anak dan Remaja
Masa kanak-kanak dan remaja adalah fase pertumbuhan emas. Oleh karena itu, rasio kebutuhan protein mereka relatif lebih tinggi dibandingkan orang dewasa jika dihitung per kilogram berat badannya. Bayi dan balita umumnya membutuhkan sekitar 15 hingga 20 gram protein per hari. Memasuki usia sekolah dasar, kebutuhannya meningkat menjadi 25 hingga 35 gram. Saat mencapai usia remaja awal (10-14 tahun), anak laki-laki membutuhkan sekitar 50 gram, sedangkan perempuan sekitar 55 gram protein per harinya.
2. Orang Dewasa
Untuk pria dewasa dengan tingkat aktivitas normal, kebutuhan rata-ratanya berkisar antara 60 hingga 65 gram per hari. Sementara itu, wanita dewasa membutuhkan asupan sekitar 55 hingga 60 gram per hari. Perlu diingat, angka ini adalah batas “minimal” untuk mencegah defisiensi (kekurangan). Jika kamu rutin berolahraga angkat beban, sedang dalam program penurunan berat badan, atau merupakan seorang atlet, kebutuhan protein harianmu bisa meningkat tajam menjadi 1,2 hingga 2,0 gram per kilogram berat badan.
3. Ibu Hamil dan Menyusui
Kondisi kehamilan dan fase menyusui menuntut asupan gizi yang jauh lebih besar karena ibu tidak hanya memberi nutrisi pada tubuhnya sendiri, tetapi juga untuk perkembangan janin atau bayi. Ibu hamil umumnya disarankan untuk menambahkan sekitar 20 gram protein ekstra dari kebutuhan harian normalnya, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Hal ini sangat krusial untuk mencegah risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan mendukung pembentukan plasenta yang sehat.
Sumber Protein Terbaik untuk Menu Harian
Memenuhi minimal protein harian bukan hanya tentang “berapa banyak”, tetapi juga tentang “kualitas” protein tersebut. Kualitas protein biasanya dinilai dari kelengkapan profil asam amino esensialnya. Berdasarkan sumbernya, protein dibagi menjadi dua jenis utama:
1. Protein Hewani
Protein hewani sering disebut sebagai protein lengkap karena mengandung 9 asam amino esensial dalam jumlah yang proporsional. Makanan dari sumber hewani sangat mudah diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Beberapa contoh terbaik meliputi: dada ayam (mengandung sekitar 31 gram protein per 100 gram), telur utuh (6 gram protein per butir), ikan laut seperti salmon dan tuna, susu sapi, serta daging sapi tanpa lemak. Bagi kamu yang tidak memiliki alergi, memasukkan setidaknya satu hingga dua porsi protein hewani setiap hari sangat direkomendasikan.
2. Protein Nabati
Bagi vegetarian, vegan, atau mereka yang sedang mengurangi konsumsi daging, protein nabati adalah jawabannya. Meskipun sebagian besar protein nabati (kecuali kedelai dan quinoa) tidak memiliki profil asam amino yang lengkap, kamu bisa mengakalinya dengan mengombinasikan berbagai jenis makanan nabati, misalnya makan nasi putih bersama tempe, atau roti gandum bersama selai kacang. Sumber protein nabati yang sangat baik dan murah di Indonesia antara lain tempe, tahu, kacang hijau, edamame, almond, dan lentil.
Tips Praktis Memenuhi Minimal Protein Harian
- Selalu sertakan makanan berprotein tinggi di setiap piring makan utama (sarapan, makan siang, makan malam).
- Jadikan camilan berprotein seperti telur rebus, greek yogurt, atau kacang edamame rebus sebagai pengganti keripik atau camilan manis.
- Bagi sumber proteinmu dengan rasio yang seimbang antara hewani dan nabati untuk menjaga kesehatan jantung dan asupan serat.
- Jika kamu berolahraga intens, pertimbangkan minum susu atau mengonsumsi sumber protein cair setelah latihan untuk mempercepat pemulihan otot.
Dampak Jika Kebutuhan Protein Harian Tidak Terpenuhi
Mengabaikan kebutuhan minimal protein harian dalam jangka panjang dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan yang serius. Kondisi kekurangan protein parah di dunia medis dikenal dengan istilah kwashiorkor atau marasmus, yang sering terjadi pada anak-anak penderita gizi buruk. Namun, pada orang dewasa, defisiensi protein ringan hingga sedang sering kali tidak disadari karena gejalanya muncul secara perlahan.
Beberapa tanda awal bahwa tubuhmu kekurangan protein meliputi penyusutan massa otot. Saat tubuh tidak mendapatkan asam amino dari makanan, tubuh akan terpaksa “memakan” otot rangka untuk memenuhi fungsi biologis yang lebih penting. Akibatnya, kamu akan merasa terus-menerus lemas, mudah lelah, dan kehilangan kekuatan fisik. Selain itu, karena antibodi dibentuk oleh protein, orang yang kekurangan makronutrien ini akan lebih rentan terserang penyakit infeksi seperti flu atau radang tenggorokan.
Dampak lainnya juga sangat terlihat secara fisik. Rambut menjadi rapuh, kering, rontok parah, dan kehilangan warna alaminya. Kulit bisa menjadi mudah mengelupas, kering, hingga muncul pembengkakan (edema) pada area perut atau kaki karena ketidakseimbangan cairan intravaskular (kondisi yang dipengaruhi oleh kadar albumin/protein dalam darah). Proses penyembuhan luka pun akan menjadi sangat lambat jika asupan proteinmu rendah.
Studi Mengenai Asupan Protein dan Sarcopenia
Journal of the American College of Nutrition menerbitkan studi di tahun 2018 yang menjelaskan bahwa peningkatan asupan protein sangat krusial dalam mencegah sarcopenia pada lansia.
Sarcopenia adalah kondisi medis berupa penurunan massa dan kekuatan otot seiring bertambahnya usia, yang dapat menyebabkan kelemahan fisik dan peningkatan risiko jatuh pada orang tua. Studi tersebut membuktikan bahwa lansia yang memenuhi minimal protein harian di atas standar konvensional (mengonsumsi 1,0 hingga 1,2 gram per kilogram berat badan) terbukti memiliki retensi otot yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih mandiri dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi 0,8 gram per kilogram berat badan. Hal ini menekankan bahwa standar minimal protein harus selalu disesuaikan dengan fase kehidupan seseorang.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah asupan minimal protein harian bisa menyebabkan kerusakan ginjal?
Bagi orang dengan ginjal yang sehat, mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi (hingga 2 gram per kilogram berat badan) terbukti aman dan tidak merusak ginjal. Namun, bagi individu yang sudah memiliki riwayat penyakit ginjal kronis, asupan protein memang harus dibatasi dan diawasi ketat oleh dokter gizi agar beban kerja ginjal tidak semakin berat.
2. Bisakah kebutuhan minimal protein harian terpenuhi hanya dari tumbuhan?
Bisa. Seorang vegan atau vegetarian dapat memenuhi kebutuhan proteinnya dengan baik asalkan mereka mengonsumsi beragam sumber nabati setiap hari. Menggabungkan kacang-kacangan, biji-bijian, tahu, tempe, dan gandum utuh akan membentuk profil asam amino esensial yang lengkap seperti halnya daging.
3. Kapan waktu terbaik untuk mengonsumsi protein harian?
Secara medis, waktu konsumsi tidak sepenting jumlah total harian. Namun, membagi asupan minimal protein harian secara merata di setiap waktu makan (sekitar 20-30 gram per sesi makan) sangat direkomendasikan. Hal ini terbukti lebih efektif untuk merangsang sintesis protein otot secara maksimal dibandingkan mengonsumsi protein dalam jumlah besar hanya pada satu waktu makan saja.
4. Apakah suplemen bubuk protein wajib untuk memenuhi minimal protein harian?
Tidak wajib. Makanan utuh harus selalu menjadi prioritas utama karena selain protein, makanan utuh juga mengandung vitamin, mineral, dan serat. Suplemen bubuk seperti whey atau soy protein hanya disarankan jika kamu kesulitan memenuhi target minimal protein harian dari makanan biasa, atau sedang membutuhkan pemulihan cepat setelah olahraga berat.
Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Protein and amino acid requirements in human nutrition.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Are you getting too much protein?
Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses pada 2026. The Nutrition Source: Protein.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2026. Dietary Reference Intakes for Macronutrients.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


