Ad Placeholder Image

Ini Penyebab Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP)

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   05 Juni 2026

ITP adalah gangguan autoimun yang menyebabkan jumlah trombosit menurun sehingga meningkatkan risiko perdarahan.

Ini Penyebab Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP)Ini Penyebab Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP)

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu menemukan memar kebiruan di kulit padahal tidak merasa terbentur benda keras? Atau mungkin kamu sering mengalami mimisan yang sulit berhenti? Kondisi ini bisa jadi bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan tanda dari Immune Thrombocytopenic Purpura atau yang lebih dikenal dengan ITP. ITP adalah gangguan kesehatan yang berkaitan erat dengan sistem kekebalan tubuh dan kadar trombosit dalam darah.

Dalam kondisi normal, trombosit atau keping darah berfungsi untuk membantu proses pembekuan darah saat terjadi luka. Namun, pada pengidap ITP, jumlah trombosit menurun drastis karena dihancurkan oleh sistem imun tubuh sendiri. Hal ini menyebabkan darah sulit membeku dan memicu perdarahan, baik di bawah kulit maupun perdarahan internal yang lebih serius.

Memahami penyebab dan gejala ITP sangatlah penting agar kamu bisa mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini. Karena kondisi ini melibatkan sistem hematologi (darah) dan imunologi, penanganannya memerlukan pengawasan medis yang ketat. Jika kamu mengalami gejala yang mencurigakan, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis awal yang akurat.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai apa yang memicu kondisi ini dan bagaimana cara mengelolanya? Berikut ulasannya!

Apa Itu ITP?

Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP) adalah kelainan darah yang ditandai dengan penurunan jumlah trombosit secara abnormal (trombositopenia). Nama penyakit ini berasal dari mekanismenya: “Immune” karena disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh, “Thrombocytopenic” karena rendahnya kadar trombosit, dan “Purpura” merujuk pada bintik-bintik ungu atau memar yang muncul di kulit akibat perdarahan pembuluh darah kecil.

Secara medis, ITP dikategorikan menjadi dua jenis berdasarkan durasinya:

  • ITP Akut: Biasanya terjadi pada anak-anak setelah mengalami infeksi virus, seperti flu atau gondongan. Kondisi ini umumnya sembuh dengan sendirinya dalam waktu kurang dari 6 bulan tanpa pengobatan yang kompleks.
  • ITP Kronis: Lebih sering dialami oleh orang dewasa, terutama wanita. Gejalanya bertahan lebih dari 6 bulan dan sering kali membutuhkan pemantauan medis jangka panjang serta pengobatan rutin untuk menjaga kadar trombosit tetap stabil.

Gejala ITP yang Perlu Diwaspadai

Gejala ITP bisa bervariasi mulai dari yang sangat ringan hingga berat. Beberapa pengidap bahkan mungkin tidak menyadari adanya gejala sampai mereka menjalani tes darah rutin. Namun, secara umum, tanda-tanda yang muncul meliputi:

  • Petechiae: Munculnya bintik-bintik merah kecil seukuran ujung jarum di kulit, biasanya di area kaki atau lengan. Bintik ini tidak hilang saat ditekan.
  • Memar (Purpura): Kulit mudah memar meski hanya terkena sentuhan ringan. Warna memar biasanya keunguan atau kebiruan.
  • Mimisan: Perdarahan hidung yang sering terjadi atau berlangsung lama.
  • Gusi Berdarah: Terutama saat menyikat gigi atau melakukan prosedur medis di mulut.
  • Darah pada Urine atau Tinja: Ini menandakan adanya perdarahan di saluran kemih atau pencernaan.
  • Menstruasi Berlebih: Wanita dengan ITP sering mengalami volume darah haid yang sangat banyak dan durasi yang lebih lama dari biasanya.
  • Kelelahan: Rasa lemas yang terus-menerus meski sudah cukup istirahat.
Pentingnya Memantau Kadar Trombosit
  1. Lakukan tes darah lengkap jika sering mengalami lebam tanpa sebab.
  2. Hindari aktivitas fisik berat atau olahraga kontak yang berisiko memicu benturan.
  3. Pastikan asupan nutrisi seimbang untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.

Penyebab Utama ITP

Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa sistem kekebalan tubuh tiba-tiba menyerang trombosit sendiri belum diketahui secara pasti (idiopatik). Namun, para ahli telah mengidentifikasi beberapa faktor pemicu yang sering dikaitkan dengan ITP:

1. Kerusakan Sistem Imun (Autoimun)

Pada ITP, sistem imun memproduksi antibodi yang menempel pada trombosit. Antibodi ini salah mengenali trombosit sebagai benda asing yang berbahaya. Akibatnya, organ limpa yang berfungsi menyaring darah akan menghancurkan trombosit-trombosit yang telah ditempeli antibodi tersebut.

2. Infeksi Virus dan Bakteri

Banyak kasus ITP akut pada anak-anak dipicu oleh infeksi virus seperti cacar air (varicella), campak, atau virus pernapasan lainnya. Pada orang dewasa, infeksi kronis seperti Hepatitis C, HIV, atau bakteri Helicobacter pylori (penyebab sakit maag) juga diketahui dapat memicu respon imun yang berujung pada ITP.

3. Efek Samping Obat-obatan

Beberapa jenis obat tertentu dapat mengganggu fungsi trombosit atau memicu reaksi imun. Meskipun jarang, obat seperti kina, antibiotik tertentu, atau obat jantung bisa menjadi pemicu trombositopenia sekunder yang menyerupai ITP.

Faktor Risiko dan Komplikasi

Siapa saja bisa terkena ITP, namun ada kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi:

  • Wanita: ITP kronis 2-3 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, terutama sebelum usia 40 tahun.
  • Anak-anak: Biasanya terjadi setelah sembuh dari infeksi virus.
  • Pengidap Penyakit Autoimun Lain: Orang yang memiliki penyakit seperti lupus (SLE) atau rheumatoid arthritis lebih rentan mengalami ITP.

Komplikasi paling serius dari ITP adalah perdarahan internal. Meskipun jarang terjadi, perdarahan di otak (intrakranial) bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, menjaga kadar trombosit tetap berada di batas aman adalah prioritas utama pengobatan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga mengalami gejala perdarahan yang tidak wajar, jangan menunda untuk memeriksakan diri. Diagnosis ITP dilakukan dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari rendahnya trombosit, seperti leukemia atau efek samping pengobatan tertentu.

Penanganan ITP biasanya melibatkan pemberian obat-obatan seperti kortikosteroid, imunoglobulin intravena (IVIG), atau dalam kasus berat, prosedur pengangkatan limpa (splenektomi). Kamu juga bisa beli obat online di Halodoc untuk kebutuhan suplemen pendukung atau obat-obatan sesuai resep yang diberikan oleh dokter spesialis hematologi.

Studi Mengenai ITP

The Lancet Haematology menerbitkan studi di tahun 2019 yang menjelaskan bahwa penggunaan agonis reseptor trombopoietin terbukti efektif meningkatkan produksi trombosit secara signifikan pada pasien ITP kronis yang tidak merespons pengobatan lini pertama.

Penelitian ini menunjukkan bahwa fokus pengobatan ITP kini tidak hanya pada penghentian penghancuran trombosit, tetapi juga pada stimulasi sumsum tulang untuk memproduksi lebih banyak keping darah. Hal ini memberikan harapan baru bagi pasien dengan kondisi yang resisten terhadap steroid.

Mengelola ITP membutuhkan kesabaran dan komunikasi yang baik dengan tim medis. Dengan pemantauan rutin, pengidap ITP tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal. Jangan lupa untuk selalu mengonsumsi makanan bergizi dan menghindari obat-obatan yang dapat mengencerkan darah, seperti aspirin, kecuali atas petunjuk dokter.

Selain berkonsultasi, kamu juga bisa memenuhi kebutuhan kesehatan seperti vitamin atau alat kesehatan lainnya melalui Toko Kesehatan Halodoc dengan produk yang 100% asli dan diantar langsung ke rumah.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP).
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2026. What Is Immune Thrombocytopenia?.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP).
Journal of Clinical Medicine. Diakses pada 2026. Recent Advances in the Management of Immune Thrombocytopenia.

FAQ

1. Apakah ITP bisa sembuh total?

Pada anak-anak, ITP akut sering kali sembuh total dalam beberapa bulan. Namun, pada orang dewasa, ITP cenderung menjadi kronis dan memerlukan pengelolaan jangka panjang agar gejalanya tidak kambuh.

2. Apa makanan yang harus dihindari penderita ITP?

Penderita ITP sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang mengandung kina (seperti air tonik). Selain itu, hindari suplemen pengencer darah seperti bawang putih dosis tinggi, jahe berlebih, atau ginkgo biloba tanpa saran dokter.

3. Apakah ITP menular?

Tidak, ITP bukan penyakit menular. Ini adalah kondisi autoimun di mana tubuh menyerang dirinya sendiri, bukan disebabkan oleh penularan bakteri atau virus antar manusia.

4. Bolehkah penderita ITP berolahraga?

Olahraga diperbolehkan, namun disarankan memilih jenis yang minim risiko benturan (low-impact) seperti jalan santai atau berenang. Hindari olahraga kontak seperti sepak bola atau karate karena risiko perdarahan internal akibat benturan sangat tinggi.


Khawatir dengan Gejala Memar Tanpa Sebab? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu sering menemukan memar di tubuh atau bintik merah tanpa tahu penyebabnya? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.