Ad Placeholder Image

Ini Pilihan Makanan Tinggi Protein yang Baik untuk Kesehatan

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 Juni 2026

Ada beberapa pilihan makanan tinggi protein untuk mencukupi kebutuhan harian, seperti telur, keju, daging, dan ikan.

Ini Pilihan Makanan Tinggi Protein yang Baik untuk KesehatanIni Pilihan Makanan Tinggi Protein yang Baik untuk Kesehatan

DAFTAR ISI


Protein adalah salah satu dari tiga makronutrien utama, selain karbohidrat dan lemak, yang memiliki peran sangat krusial bagi kelangsungan hidup manusia. Secara medis, protein tersusun atas rantai panjang asam amino yang berfungsi sebagai “batu bata” pembangun tubuh. Mulai dari pembentukan massa otot, perbaikan jaringan tubuh yang rusak, produksi enzim pencernaan, hingga sintesis hormon, semuanya membutuhkan asupan protein yang optimal setiap hari.

Sayangnya, masih banyak orang yang sering mengabaikan pentingnya kecukupan gizi ini dalam pola makan harian mereka. Kekurangan protein dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang serius, seperti penyusutan massa otot (sarkopenia), penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat seseorang lebih mudah jatuh sakit, hingga terhambatnya proses penyembuhan luka. Pada anak-anak, defisiensi makronutrien ini bahkan dapat menyebabkan stunting atau gangguan pertumbuhan yang berdampak pada kualitas hidup mereka di masa depan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami dan memilih sumber makanan sehari-hari yang tepat. Banyak yang mengira bahwa untuk memenuhi kebutuhan protein harian membutuhkan biaya yang mahal atau persiapan makanan yang sangat merepotkan. Kenyataannya, ada banyak sekali variasi sumber nabati dan hewani yang mudah didapat, lezat, serta memiliki profil asam amino yang sangat baik untuk mendukung vitalitas tubuh secara keseluruhan.

Nah, mau tahu apa saja pilihan makanan yang berprotein tinggi? Berikut ulasan lengkapnya!

Rekomendasi Makanan Tinggi Protein yang Ampuh Penuhi Gizi Harian

Memasukkan sumber pangan padat nutrisi ke dalam menu harian adalah langkah awal yang sangat baik untuk menjaga kesehatan. Makanan yang berprotein tinggi tidak hanya penting untuk binaragawan atau atlet, tetapi juga bagi pekerja kantoran, lansia, ibu hamil, dan anak-anak dalam masa pertumbuhan. Berikut ini adalah beberapa pilihan terbaik yang bisa kamu konsumsi sehari-hari:

1. Telur Utuh

Telur adalah salah satu superfood paling padat nutrisi yang mudah ditemukan di mana saja. Satu butir telur berukuran besar umumnya mengandung sekitar 6 gram protein murni dengan nilai biologis yang sangat tinggi, yang berarti seluruh asam amino di dalamnya sangat mudah diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh manusia.

Selain protein, telur juga kaya akan berbagai vitamin dan mineral esensial lainnya. Bagian kuning telur sering kali dihindari karena dianggap tinggi kolesterol, padahal bagian ini justru menyimpan sebagian besar nutrisi penting seperti vitamin D, vitamin B12, selenium, dan kolin yang sangat penting bagi fungsi otak dan kesehatan saraf.

Kandungan antioksidan lutein dan zeaxanthin dalam telur juga bermanfaat besar dalam menjaga kesehatan mata, terutama dalam mencegah degenerasi makula yang sering terjadi seiring pertambahan usia. Mengonsumsi 1 hingga 2 butir telur utuh per hari sangat direkomendasikan dan aman bagi sebagian besar individu sehat.

2. Dada Ayam

Dada ayam telah lama menjadi primadona bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan sekaligus membangun massa otot tanpa tumpukan lemak. Makanan ini sangat populer karena proporsi proteinnya yang sangat tinggi namun sangat rendah kalori dan lemak jenuh, asalkan dikonsumsi tanpa kulitnya.

Dalam setiap 100 gram dada ayam matang tanpa kulit, terdapat sekitar 31 gram protein berkualitas tinggi. Angka ini sudah bisa memenuhi lebih dari separuh kebutuhan protein harian rata-rata orang dewasa. Tidak hanya itu, dada ayam juga merupakan sumber vitamin B kompleks yang sangat baik, terutama niasin (vitamin B3) dan piridoksin (vitamin B6).

Vitamin B ini bekerja aktif di dalam tubuh untuk mengubah makanan yang kamu konsumsi menjadi energi yang bisa digunakan untuk beraktivitas. Untuk mempertahankan profil kesehatannya, sebaiknya dada ayam diolah dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang menggunakan sedikit minyak zaitun alih-alih digoreng (deep fried).

3. Kacang Almond

Bagi kamu yang lebih menyukai camilan sehat atau mencari alternatif berbasis tumbuhan (plant-based), kacang almond adalah pilihan makanan yang berprotein tinggi yang tak boleh dilewatkan. Setiap 28 gram (sekitar satu genggam kecil) almond mengandung sekitar 6 gram protein.

Kacang almond merupakan camilan yang sangat mengenyangkan karena kombinasi apik antara protein, serat makanan, dan lemak sehat. Lemak yang dominan di dalam kacang ini adalah lemak tak jenuh tunggal yang terbukti secara ilmiah baik untuk kesehatan jantung dan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam darah.

Sebagai tambahan, almond adalah salah satu sumber vitamin E terbaik di dunia. Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan kuat yang melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat paparan radikal bebas dan stres oksidatif, yang merupakan akar dari berbagai penyakit kronis dan penuaan dini.

Manfaat Mengonsumsi Makanan Tinggi Protein Secara Rutin
  1. Meningkatkan Metabolisme Tubuh: Memiliki Thermic Effect of Food (TEF) yang lebih tinggi dibandingkan lemak dan karbohidrat, sehingga tubuh membakar lebih banyak kalori saat mencernanya.
  2. Menjaga Massa Otot: Mencegah hilangnya massa otot, terutama saat kamu sedang menjalani diet defisit kalori atau ketika memasuki usia lanjut.
  3. Mengurangi Nafsu Makan: Mampu memicu pelepasan hormon kenyang seperti GLP-1 dan cholecystokinin, sekaligus menekan ghrelin (hormon lapar).
  4. Menurunkan Tekanan Darah: Beberapa studi menunjukkan bahwa diet yang diformulasikan dengan nutrisi ini dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.
  5. Mempercepat Pemulihan Luka: Nutrisi ini adalah blok bangunan utama yang akan meregenerasi sel dan jaringan yang rusak setelah cedera atau operasi.

4. Ikan Tuna

Tuna merupakan jenis ikan pelagis yang sangat populer di seluruh dunia, baik dalam bentuk segar maupun kalengan. Ikan ini masuk dalam kategori makanan yang sangat rendah kalori dan lemak namun memuat kadar asam amino pembangun otot yang sangat tinggi. Per 100 gram ikan tuna segar yang dimasak mengandung hampir 28 gram protein.

Keunggulan utama dari ikan tuna bukan hanya dari jumlah proteinnya, tetapi juga keberadaan asam lemak Omega-3 rantai panjang (EPA dan DHA). Omega-3 terbukti secara empiris mampu mengurangi inflamasi atau peradangan kronis di dalam tubuh, menjaga kelenturan pembuluh darah, dan menurunkan risiko serangan jantung.

Meskipun menyehatkan, kamu perlu bijak dalam memilih jenis tuna karena ada beberapa varietas yang mungkin memiliki paparan merkuri lebih tinggi jika dikonsumsi berlebihan. Pilihlah jenis light tuna atau tuna cakalang (skipjack) yang dinilai lebih aman untuk dikonsumsi dua hingga tiga kali dalam seminggu, terutama bagi ibu hamil.

5. Yoghurt Yunani (Greek Yogurt)

Berbeda dengan yoghurt biasa, yoghurt Yunani (Greek yogurt) melewati proses penyaringan berulang kali yang bertujuan memisahkan sebagian besar whey cair dan laktosanya. Hasilnya adalah produk susu bertekstur kental, creamy, dengan konsentrasi gizi yang hampir dua kali lipat lebih padat dari yoghurt biasa.

Satu porsi standar (170 gram) Greek yogurt murni (tanpa pemanis tambahan) dapat menyumbang hingga 17 gram protein. Produk olahan susu ini sebagian besar terdiri dari kasein, jenis protein yang dicerna secara lambat oleh tubuh. Hal ini akan menyuplai otot dengan aliran asam amino yang stabil selama beberapa jam, membuatnya ideal dikonsumsi sebagai camilan malam.

Greek yogurt juga dibekali dengan probiotik atau bakteri baik (seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium) yang esensial untuk memelihara keseimbangan mikrobioma usus. Pencernaan yang sehat berdampak langsung pada penyerapan nutrisi yang lebih optimal dan sistem kekebalan tubuh yang lebih responsif terhadap patogen.

6. Daging Sapi Tanpa Lemak

Banyak orang menghindari daging merah karena khawatir akan risiko kesehatan kardiovaskular. Namun, jika kamu memilih potongan daging sapi tanpa lemak (seperti bagian sirloin atau tenderloin) dengan porsi yang terkontrol, bahan pangan ini justru memberikan banyak keuntungan kesehatan.

Dalam porsi 100 gram daging sapi matang tanpa lemak, terdapat sekitar 26 gram asam amino komplit. Daging sapi menempati posisi teratas sebagai penyumbang zat besi heme yang paling optimal. Zat besi jenis ini jauh lebih mudah diserap oleh pencernaan manusia dibandingkan zat besi non-heme yang berasal dari sayur-sayuran.

Selain mencegah anemia defisiensi besi, daging sapi kaya akan zinc dan vitamin B12. Vitamin B12 ini mutlak diperlukan dalam pembentukan sel darah merah baru dan menjaga selubung mielin saraf otak agar tetap berfungsi dengan sempurna, sehingga kamu tidak mudah lelah atau mengalami kabut otak (brain fog).

7. Quinoa

Secara botani, quinoa sebenarnya diklasifikasikan sebagai biji-bijian (pseudocereal), bukan sereal gandum murni. Quinoa diakui oleh komunitas gizi global sebagai salah satu sumber nabati paling unik. Berbeda dari kebanyakan tanaman, quinoa menyimpan ke-9 jenis asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, menjadikannya complete protein.

Satu cangkir (sekitar 185 gram) quinoa yang sudah matang menawarkan sekitar 8 gram protein yang solid, disertai dengan 5 gram serat makanan berkualitas. Tingginya kadar serat membuatnya memiliki indeks glikemik yang relatif rendah, sehingga sangat direkomendasikan bagi penderita diabetes yang ingin menjaga gula darah tetap stabil.

Lebih jauh lagi, quinoa secara alami bebas gluten. Ini adalah alternatif sumber karbohidrat dan pembangun sel yang sempurna bagi orang-orang yang memiliki penyakit Celiac atau sensitivitas terhadap gluten, yang biasanya tidak bisa mengonsumsi gandum, barley, atau gandum hitam.

8. Kacang Lentil

Bagi mereka yang menganut gaya hidup vegan atau vegetarian, mencari makanan yang berprotein tinggi kadang terasa menantang. Di sinilah kacang lentil mengambil peran utama. Lentil adalah legum kecil yang bentuknya menyerupai lensa dan merupakan sumber tenaga nabati yang menakjubkan.

Satu cangkir penuh (198 gram) kacang lentil matang bisa memberikan pasokan hingga 18 gram protein. Angka ini sangat tinggi untuk sebuah bahan pangan berbasis tanaman. Tidak hanya unggul dari segi protein, lentil mengandung serat prebiotik dalam jumlah melimpah yang berfungsi sebagai makanan bagi bakteri baik di dalam usus besar.

Lentil juga membanggakan kandungan folat (vitamin B9), mangan, magnesium, dan tembaga. Folat sangat krusial, utamanya pada trisemester awal kehamilan, guna mencegah cacat tabung saraf pada janin yang sedang berkembang di dalam kandungan.

Tanda Tubuh Kekurangan Protein

1. Massa Otot Menyusut dan Cepat Lelah

Otot adalah cadangan asam amino paling besar di tubuh. Ketika asupan harianmu kurang, tubuh akan terpaksa “memakan” jaringan otot rangka tersebut demi mendapatkan asam amino guna mendukung fungsi vital organ lain. Gejala awalnya berupa rasa lelah kronis dan penurunan tenaga fisik yang signifikan.

2. Masalah pada Kulit, Rambut, dan Kuku

Kolagen, keratin, dan elastin adalah komponen utama pembentuk kulit, rambut, dan kuku yang kesemuanya merupakan senyawa protein. Defisiensi yang berlanjut akan membuat rambut rapuh dan mudah rontok (alopesia), kuku bergelombang, hingga kulit menjadi kering, bersisik, atau bahkan mengelupas.

Kapan Harus ke Dokter?

1. Muncul Edema atau Pembengkakan

Kekurangan nutrisi berat dapat menyebabkan kadar albumin dalam darah merosot drastis. Albumin bertanggung jawab untuk menahan cairan di dalam pembuluh darah. Bila kadarnya rendah, cairan akan merembes ke jaringan di sekitarnya dan memicu bengkak (edema) pada kaki atau perut. Apabila kamu mengalami gejala bengkak tanpa sebab yang jelas atau memiliki keluhan malnutrisi lainnya, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter gizi untuk diagnosis yang akurat.

2. Imunitas Anjlok dan Pemulihan Lambat

Antibodi yang melawan infeksi virus dan bakteri terbuat dari protein. Jika kamu merasa menjadi jauh lebih sering terserang flu, demam, atau luka goresan yang butuh waktu berminggu-minggu untuk mengering, ini pertanda jelas bahwa sistem imunmu kekurangan bahan baku utama. Jika dari makanan sehari-hari dirasa kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan yang tinggi tersebut, kamu bisa mempertimbangkan untuk mendapatkan suplemen protein yang aman dan bersertifikasi di platform Halodoc.

Studi Mengenai Diet Tinggi Protein

The American Journal of Clinical Nutrition menerbitkan studi komprehensif di tahun 2015 yang menjelaskan bahwa diet tinggi protein memiliki dampak yang sangat positif dalam program pengelolaan berat badan klinis.

Studi observasional klinis tersebut mengungkapkan bahwa individu yang meningkatkan asupan protein mereka hingga 25-30% dari total kalori harian mengalami peningkatan pembakaran kalori otomatis sebesar 80 hingga 100 kalori per hari. Selain itu, partisipan juga melaporkan adanya penurunan rasa lapar di malam hari hingga setengahnya, yang membuat mereka sukses mempertahankan massa otot bebas lemak sembari menurunkan kadar jaringan adiposa (lemak tubuh).

Kebutuhan nutrisi masing-masing individu tentu bisa berbeda tergantung dari berat badan, intensitas aktivitas fisik, hingga kondisi medis penyerta yang dimiliki. Penting untuk selalu mempertimbangkan keragaman sumber makanan agar tubuh tidak hanya menerima protein, melainkan juga vitamin, serat, serta mikronutrien lain.

Kamu bisa mendapatkan obat-obatan, multivitamin, maupun suplemen penunjang nutrisi dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis terkait masalah gizi dan pencernaan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2024. 20 Delicious High Protein Foods.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Are you getting too much protein?
PubMed Central. Diakses pada 2024. The role of protein in weight management.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Benefits of High-Protein Diet.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi Masyarakat Indonesia.

FAQ

1. Berapa banyak kebutuhan protein harian untuk orang dewasa normal?

Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG), rata-rata orang dewasa sehat dengan gaya hidup sedenter (tidak banyak bergerak) dianjurkan untuk mengonsumsi sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan. Namun, jika kamu rutin berolahraga berat atau sedang dalam masa pemulihan medis, angka ini bisa meningkat menjadi 1,2 hingga 2,0 gram per kilogram berat badan per hari.

2. Apakah mengonsumsi makanan yang berprotein tinggi secara berlebihan itu berbahaya?

Konsumsi makronutrien ini secara berlebihan bagi orang dengan kondisi ginjal sehat umumnya masih dapat ditoleransi oleh tubuh. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit ginjal kronis, beban kerja ginjal akan menjadi semakin berat saat menyaring sisa metabolisme asam amino (urea). Hal ini berpotensi memperburuk kerusakan pada fungsi ginjal di kemudian hari.

3. Apa yang dimaksud dengan “protein tidak lengkap” atau incomplete protein?

Protein tidak lengkap adalah sumber makanan yang kekurangan satu atau lebih dari sembilan asam amino esensial yang diperlukan tubuh manusia. Sebagian besar sumber nabati (seperti kacang-kacangan, beras, gandum) masuk dalam kategori ini. Oleh karena itu, bagi vegan, penting untuk menggabungkan berbagai jenis makanan (misalnya kacang merah dan nasi) agar profil asam aminonya menjadi saling melengkapi (komplementer).

4. Kapan waktu terbaik untuk makan makanan tinggi protein jika sedang latihan angkat beban?

Banyak ahli olahraga dan praktisi nutrisi merekomendasikan untuk mengonsumsi nutrisi ini secara merata sepanjang hari (misalnya 20-30 gram setiap kali makan utama). Namun, untuk mengoptimalkan sintesis otot (muscle protein synthesis), mengonsumsi porsi kaya asam amino dalam jendela waktu sekitar dua jam setelah latihan beban dinilai sangat efektif untuk mempercepat pemulihan dan pertumbuhan jaringan otot rangka yang rusak.