Ad Placeholder Image

Ini Rumus untuk Menghitung Laju Filtrasi Glomerulus (GFR)

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Pemeriksaan GFR secara berkala penting untuk deteksi dini penyakit ginjal.

Ini Rumus untuk Menghitung Laju Filtrasi Glomerulus (GFR)Ini Rumus untuk Menghitung Laju Filtrasi Glomerulus (GFR)

DAFTAR ISI


Ginjal adalah organ vital yang bekerja tanpa henti untuk menyaring limbah dari darah dan membuangnya melalui urine. Namun, bagaimana kita tahu apakah ginjal kita masih bekerja dengan optimal? Salah satu parameter medis yang paling akurat untuk mengukur fungsi ginjal adalah Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) atau yang secara internasional dikenal sebagai Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR).

eGFR bukanlah hasil pengukuran langsung, melainkan sebuah estimasi yang dihitung menggunakan rumus matematika tertentu. Angka ini menunjukkan berapa mililiter darah yang dapat disaring oleh glomerulus (pembuluh darah kecil di ginjal) setiap menitnya. Memahami rumus eGFR sangat penting bagi pengidap diabetes, hipertensi, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga agar dapat melakukan deteksi dini sebelum kondisi memburuk.

Pemeriksaan ini biasanya diawali dengan tes darah sederhana untuk mengukur kadar kreatinin serum. Jika kamu merasa sering lemas, urin berbusa, atau mengalami pembengkakan di area kaki, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan. Kamu juga bisa mendapatkan kebutuhan vitamin pendukung kesehatan ginjal dengan beli obat online di Halodoc yang produknya dijamin 100% asli.

Nah, mau tahu apa saja rumus yang digunakan tenaga medis untuk menghitung fungsi ginjalmu? Berikut ulasannya!

Apa Itu eGFR dan Mengapa Penting?

Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) adalah angka yang digunakan dokter untuk menentukan stadium penyakit ginjal kronis (PGK). Laju filtrasi ini mencerminkan volume cairan yang disaring dari kapiler glomerulus ginjal ke dalam kapsul Bowman per unit waktu. Pada orang dewasa sehat, nilai GFR normal biasanya berada di atas 90 mL/menit/1,73 m².

Pentingnya eGFR terletak pada kemampuannya mendeteksi penurunan fungsi ginjal bahkan sebelum gejala fisik muncul. Ginjal memiliki cadangan fungsional yang besar, artinya kerusakan seringkali tidak terasa sampai fungsinya hilang lebih dari 50 persen. Dengan menggunakan rumus eGFR, intervensi medis dapat dilakukan lebih awal untuk mencegah gagal ginjal total yang memerlukan dialisis (cuci darah) atau transplantasi.

Peran Kreatinin dalam Rumus eGFR

Kreatinin adalah produk limbah kimia yang dihasilkan oleh metabolisme otot dan sisa pemecahan protein makanan. Ginjal yang sehat akan menyaring kreatinin dari darah dan mengeluarkannya melalui urine. Jika fungsi ginjal menurun, kadar kreatinin dalam darah akan meningkat karena tidak tersaring dengan sempurna.

Meskipun kadar kreatinin adalah indikator utama, angka mentah kreatinin saja tidak cukup untuk menggambarkan fungsi ginjal secara akurat. Hal ini dikarenakan kadar kreatinin dipengaruhi oleh massa otot, usia, berat badan, dan jenis kelamin. Oleh karena itu, para ahli mengembangkan rumus eGFR untuk menyesuaikan variabel-variabel tersebut guna mendapatkan gambaran fungsi ginjal yang lebih presisi.

Berbagai Jenis Rumus eGFR

Terdapat beberapa evolusi rumus dalam dunia medis untuk menghitung estimasi fungsi ginjal. Berikut adalah tiga rumus yang paling sering digunakan:

1. Rumus Cockcroft-Gault

Ditemukan pada tahun 1973, rumus ini adalah salah satu yang tertua dan awalnya digunakan untuk menyesuaikan dosis obat yang dikeluarkan melalui ginjal. Rumus ini mempertimbangkan usia, berat badan, jenis kelamin, dan kreatinin serum.

Meskipun masih digunakan untuk beberapa keperluan farmakologis, rumus ini mulai ditinggalkan untuk diagnosis penyakit ginjal kronis karena cenderung tidak akurat pada pasien yang sangat gemuk atau sangat kurus, karena ketergantungannya pada berat badan total.

2. Rumus MDRD (Modification of Diet in Renal Disease)

Rumus MDRD dikembangkan pada tahun 1999 dan diperbarui pada tahun 2006. Rumus ini tidak memerlukan variabel berat badan, melainkan fokus pada kreatinin serum, usia, jenis kelamin, dan ras. MDRD terbukti lebih akurat daripada Cockcroft-Gault dalam mengidentifikasi pasien dengan penurunan fungsi ginjal (GFR di bawah 60).

Namun, MDRD memiliki kelemahan yaitu cenderung memberikan hasil yang lebih rendah dari aslinya pada orang dengan fungsi ginjal normal atau mendekati normal.

3. Rumus CKD-EPI (Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration)

Ini adalah standar emas terbaru yang direkomendasikan oleh banyak organisasi kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Rumus CKD-EPI dikembangkan untuk memberikan akurasi yang lebih baik pada seluruh spektrum fungsi ginjal, baik pada tingkat GFR yang rendah maupun tinggi.

Rumus ini menggunakan variabel yang sama dengan MDRD tetapi dengan perhitungan matematika yang lebih kompleks untuk mengurangi bias pada pasien sehat. Jika kamu menerima hasil laboratorium saat ini, kemungkinan besar perhitungan eGFR yang tertera menggunakan rumus CKD-EPI ini.

Siapa yang Berisiko Mengalami Penurunan eGFR?
  1. Pengidap diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang tidak terkontrol.
  2. Seseorang dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) kronis.
  3. Orang dengan riwayat keluarga penderita penyakit ginjal.
  4. Lansia di atas usia 60 tahun yang mengalami degenerasi fungsi organ.

Cara Membaca Hasil dan Stadium Ginjal

Setelah rumus eGFR diaplikasikan, hasilnya akan dikategorikan ke dalam stadium Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Berikut adalah panduannya:

  • Stadium 1 (eGFR > 90): Kerusakan ginjal dengan fungsi ginjal normal.
  • Stadium 2 (eGFR 60-89): Penurunan fungsi ginjal ringan.
  • Stadium 3a (eGFR 45-59): Penurunan fungsi ginjal ringan hingga sedang.
  • Stadium 3b (eGFR 30-44): Penurunan fungsi ginjal sedang hingga berat.
  • Stadium 4 (eGFR 15-29): Penurunan fungsi ginjal berat (persiapan cuci darah).
  • Stadium 5 (eGFR < 15): Gagal ginjal (memerlukan cuci darah atau transplantasi).

Jika hasil pemeriksaan kamu menunjukkan angka di bawah 60 selama lebih dari tiga bulan, hal tersebut merupakan tanda kuat adanya penyakit ginjal kronis. Sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan analisis medis lebih lanjut dan rencana penanganan yang tepat.

Tips Menjaga Kesehatan Ginjal

Menjaga eGFR tetap stabil adalah kunci panjang umur. Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan antara lain mengontrol tekanan darah agar tetap di bawah 130/80 mmHg, membatasi asupan garam, serta menjaga kadar gula darah bagi pengidap diabetes. Selain itu, hindari penggunaan obat antinyeri golongan NSAID (seperti ibuprofen atau natrium diklofenak) dalam jangka panjang tanpa pengawasan medis, karena dapat menurunkan aliran darah ke ginjal.

Studi Mengenai Akurasi Rumus eGFR

Annals of Internal Medicine menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa rumus CKD-EPI secara signifikan lebih akurat daripada rumus MDRD, terutama dalam mengklasifikasikan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian pada individu dengan eGFR tinggi. Studi ini melibatkan ribuan partisipan dan menjadi dasar mengapa laboratorium modern beralih ke CKD-EPI.

Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan rumus yang tepat sangat memengaruhi keputusan klinis. Dengan akurasi yang lebih baik, dokter dapat menghindari diagnosis berlebih (overdiagnosis) pada orang sehat sekaligus memberikan peringatan yang lebih tepat pada mereka yang benar-benar berisiko.

Punya Kekhawatiran Soal Fungsi Ginjal? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan seperti urin berubah warna atau nyeri pinggang, tapi bingung harus periksa apa? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Apakah rumus eGFR bisa berbeda hasilnya di tiap lab?

Ya, hasil bisa sedikit berbeda tergantung pada rumus yang digunakan (MDRD vs CKD-EPI) dan metode kalibrasi alat pengukur kreatinin di laboratorium tersebut. Selalu periksa rumus apa yang dicantumkan pada lembar hasil lab kamu.

2. Berapa nilai eGFR yang normal untuk lansia?

Seiring bertambahnya usia, fungsi ginjal menurun secara alami. Meskipun begitu, nilai eGFR di bawah 60 tetap dianggap tidak normal dan memerlukan evaluasi medis meskipun pada lansia.

3. Apakah puasa memengaruhi hasil hitungan rumus eGFR?

Puasa tidak secara langsung mengubah rumus, namun dehidrasi saat puasa dapat menyebabkan peningkatan kreatinin sementara, yang membuat hasil eGFR seolah-olah turun. Disarankan cukup minum sebelum tes darah.

4. Bisakah nilai eGFR kembali normal?

Jika penurunan eGFR disebabkan oleh kondisi akut (seperti infeksi atau dehidrasi), nilai tersebut bisa membaik. Namun, pada penyakit ginjal kronis, tujuannya biasanya adalah untuk menjaga nilai tetap stabil dan mencegah penurunan lebih lanjut.


Referensi:
National Kidney Foundation. Diakses pada 2026. Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR).
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Glomerular filtration rate (GFR) test.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Kidney Function Tests: Types & Normal Range.
Levey AS, et al. (2009). A New Equation to Estimate Glomerular Filtration Rate. Annals of Internal Medicine.