“Ada beberapa cara yang dinilai efektif dalam mengatasi anak tantrum. Salah satunya adalah mengabaikan dan meninggalkan anak sejenak ketika dirinya marah.”

DAFTAR ISI
- Apa itu Tantrum pada Anak?
- Penyebab Anak Mengalami Tantrum
- Cara Menghadapi Anak Tantrum dengan Tepat
- Kapan Tantrum Menjadi Masalah Serius?
- Studi Terkait
- FAQ
Menghadapi anak yang sedang tantrum seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Tantrum adalah kondisi di mana anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang, berteriak, meronta-ronta, hingga berguling di lantai. Kondisi ini sebenarnya adalah bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada usia balita (1-3 tahun), karena mereka belum memiliki kemampuan komunikasi yang cukup untuk menyampaikan keinginan atau perasaan mereka.
Sebagai orang tua, kamu mungkin merasa malu, marah, atau bahkan putus asa saat menghadapi situasi ini, terutama jika tantrum terjadi di tempat umum. Namun, penting untuk diingat bahwa cara kamu merespons tantrum akan sangat memengaruhi perkembangan emosional anak di masa depan. Penanganan yang salah justru bisa membuat frekuensi tantrum meningkat atau merusak ikatan antara orang tua dan anak.
Memahami akar penyebab dan menerapkan strategi yang tepat adalah kunci utama dalam mengelola perilaku ini. Dengan pendekatan yang tenang dan konsisten, kamu bisa membantu anak belajar mengelola emosi mereka dengan lebih baik. Jika perilaku tantrum anak dirasa sangat ekstrem atau tidak wajar, kamu bisa segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc untuk mendapatkan arahan dari psikolog atau dokter spesialis anak.
Nah, mau tahu apa saja tips dan cara efektif menghadapi anak yang sedang tantrum? Berikut ulasannya!
Apa itu Tantrum pada Anak?
Secara medis, tantrum adalah ledakan emosional yang biasanya dikaitkan dengan anak-anak dalam masa perkembangan. Hal ini sering terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara emosi yang kuat dan kemampuan bahasa yang masih terbatas. Anak merasa frustrasi karena tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan atau tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan.
Tantrum biasanya memuncak pada usia 2 tahun, yang sering disebut dengan istilah “terrible twos”. Pada fase ini, anak mulai belajar tentang kemandirian dan ingin mengontrol lingkungan di sekitarnya. Namun, karena koordinasi motorik dan kemampuan kognitifnya belum sempurna, mereka mudah merasa gagal dan meluapkannya dalam bentuk tantrum.
Penyebab Anak Mengalami Tantrum
Ada berbagai alasan mengapa seorang anak bisa mengalami tantrum. Memahami pemicunya dapat membantu kamu melakukan pencegahan lebih awal. Beberapa penyebab umum meliputi:
- Kelelahan: Anak yang kurang tidur atau terlalu banyak aktivitas cenderung lebih mudah marah.
- Lapar: Rasa lapar bisa membuat anak menjadi “hangry” (hungry and angry), di mana kontrol emosinya menurun drastis.
- Frustrasi Komunikasi: Anak tahu apa yang mereka inginkan, tapi mereka belum tahu kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya.
- Menginginkan Perhatian: Terkadang, anak menggunakan tantrum sebagai cara untuk mendapatkan perhatian instan dari orang tuanya.
- Perasaan Tidak Berdaya: Anak ingin melakukan sesuatu sendiri (seperti memakai sepatu), namun gagal, sehingga memicu rasa kesal.
Tips Mencegah Tantrum Sebelum Terjadi
- Pastikan jadwal tidur dan makan anak teratur setiap hari.
- Beri anak pilihan yang terbatas (misal: “Mau pakai baju merah atau biru?”) untuk memberinya rasa kontrol.
- Berikan pujian ketika anak mampu menunjukkan perilaku yang baik atau mampu menenangkan diri.
Cara Menghadapi Anak Tantrum dengan Tepat
Strategi Menenangkan Anak yang Mengamuk
1. Tetap Tenang dan Jangan Ikut Marah
Kunci utama menghadapi tantrum adalah ketenangan orang tua. Jika kamu ikut berteriak atau marah, anak akan merasa bahwa kemarahan adalah cara yang valid untuk merespons situasi sulit. Tarik napas dalam-dalam dan bicaralah dengan nada rendah yang menenangkan.
2. Abaikan Perilaku yang Mencari Perhatian
Jika tantrum dilakukan murni untuk mendapatkan sesuatu yang dilarang atau sekadar mencari perhatian, cara terbaik adalah mengabaikannya selama anak berada dalam lingkungan yang aman. Saat anak menyadari bahwa tangisannya tidak membuahkan hasil, dia akan belajar bahwa metode tersebut tidak efektif.
3. Validasi Perasaan Anak
Setelah anak mulai agak tenang, dekati dia dan validasi perasaannya. Kamu bisa mengatakan, “Ibu tahu kamu kesal karena tidak boleh beli mainan itu, tapi kita harus pulang sekarang.” Ini membantu anak mengenali emosi yang sedang ia rasakan.
4. Alihkan Perhatian (Distraksi)
Anak balita memiliki rentang perhatian yang pendek. Kamu bisa mencoba mengalihkan perhatiannya ke hal lain yang menarik, misalnya dengan menunjuk burung di luar jendela atau menawarkan aktivitas lain yang ia sukai.
5. Berikan Pelukan Menenangkan
Beberapa anak merasa lebih aman jika dipeluk saat tantrum. Pelukan yang erat dapat memberikan rasa nyaman secara fisik dan membantu menurunkan hormon stres pada anak. Namun, pastikan anak memang sedang membutuhkan pelukan dan bukan sedang ingin sendirian.
Kapan Tantrum Menjadi Masalah Serius?
Meskipun normal, ada kalanya tantrum menjadi tanda adanya masalah yang lebih mendalam, seperti gangguan pemrosesan sensori, ADHD, atau gangguan spektrum autisme. Kamu harus waspada jika:
- Tantrum terjadi sangat sering (lebih dari 5 kali sehari).
- Anak melukai dirinya sendiri atau orang lain saat marah.
- Tantrum berlangsung sangat lama (lebih dari 25 menit secara konsisten).
- Anak tetap menunjukkan perilaku agresif meski sedang tidak tantrum.
Jika hal ini terjadi, disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk menunjang kesehatan saraf dan otak anak, pastikan nutrisinya tercukupi. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen vitamin anak yang mendukung perkembangan kognitifnya.
Studi Mengenai Perilaku Tantrum
The Journal of Pediatrics menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa tantrum pada anak usia prasekolah merupakan manifestasi dari ketidakmatangan prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas regulasi emosi. Studi ini menekankan bahwa konsistensi pola asuh dan kehadiran figur otoritas yang tenang sangat krusial dalam membantu mempercepat pematangan fungsi otak tersebut.
Selain itu, penelitian dari University of Wisconsin-Madison menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan validasi emosi dari orang tuanya saat tantrum cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi saat dewasa. Mereka belajar bagaimana meregulasi perasaan negatif tanpa harus meledak-ledak.
FAQ
1. Apakah memukul anak saat tantrum diperbolehkan?
Sangat tidak disarankan. Memberikan hukuman fisik saat anak tantrum justru akan meningkatkan rasa takut dan agresi anak, serta tidak mengajarkan cara mengelola emosi yang benar.
2. Berapa lama biasanya anak mengalami fase tantrum?
Umumnya fase ini dimulai di usia 18 bulan dan akan mulai berkurang secara signifikan setelah usia 4 tahun, seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasa anak.
3. Mengapa anak tantrum hanya di depan ibunya?
Hal ini sering terjadi karena anak merasa paling aman dan nyaman dengan ibunya. Ia merasa bisa melepaskan semua emosinya tanpa takut kehilangan kasih sayang.
4. Apakah tantrum berhubungan dengan pola makan?
Ya, lonjakan gula (sugar rush) atau kekurangan zat besi tertentu dapat memengaruhi mood anak. Pastikan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Si Kecil Sering Mengamuk dan Bunda Bingung Menghadapinya? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan terkait perilaku si kecil atau kesehatan anak, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.



