• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jenis Pengobatan untuk Atasi Difteri

Jenis Pengobatan untuk Atasi Difteri

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Bagaimana cara mengobati difteri? Pengobatan difteri dapat dilakukan dengan menggunakan antitoksin difteri untuk menghentikan racun (toksin). Kemudian, antibiotik untuk membunuh dan menyingkirkan bakteri. 

Pengidap difteri biasanya tidak dapat menginfeksi orang lainnya 48 jam setelah mereka mulai minum antibiotik. Namun, penting untuk menyelesaikan konsumsi antibiotik untuk memastikan bakteri dikeluarkan sepenuhnya dari tubuh. Setelah pasien menyelesaikan perawatan penuh, dokter akan melakukan tes untuk memastikan bakteri tidak ada dalam tubuh pasien lagi.

Diagnosis Difteri dan Pencegahan

Dokter biasanya memutuskan apakah seseorang memang benar mengidap difteri dengan mencari tanda dan gejala umum. Untuk diagnosis klinisnya dokter akan menggunakan swab dari belakang tenggorokan dan melakukan pengujian jenis bakteri yang menyebabkan difteri. 

Dokter juga dapat mengambil sampel dari lesi kulit (seperti luka) dan mencoba melakukan uji apakah bakteri bisa tumbuh di dalam lesi kulit tersebut. Jika bakteri tumbuh, dokter dapat memastikan pasien memiliki difteri. 

Baca juga: Ketahui Gejala Awal Seseorang Terkena Tetanus

Penting untuk memulai perawatan sesegera mungkin untuk menghindari akibat fatal dari komplikasi. Selengkapnya mengenai diagnosis difteri bisa ditanyakan langsung ke HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk kamu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa kapan dan di mana saja memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Untuk menghindari penyebaran penyakit ini, orang dengan difteri perlu diisolasi sampai mereka dinyatakan bebas dari penyakit. Demikian juga kontak dengan pengidap difteri perlu dibatasi. Pemberian imunisasi adalah satu-satunya kontrol yang efektif. 

Vaksin difteri diberikan melalui program imunisasi nasional. Dosis pertama vaksin difteri biasanya dikombinasikan dengan vaksin lain. Biasanya diberikan ketika bayi sudah berusia 6 minggu. 

Untuk remaja dan dewasa, kombinasi vaksin difteri, tetanus, pertusis lebih disukai, jika tidak diberikan sebelumnya, karena memberikan perlindungan tambahan terhadap batuk rejan (pertusis).

Orang yang melakukan perjalanan ke negara di mana difteri sedang menjadi epidemi, harus menerima imunisasi penuh dan mempertimbangkan dosis tambahan vaksin dalam diskusi dengan dokter.

Memahami Gejala Difteri

Setiap orang bisa saja mengalami gejala yang berbeda, tetapi biasanya gejala-gejala yang umum adalah sebagai berikut. Untuk difteri pernapasan, ketika seseorang terinfeksi difteri, bakteri biasanya berkembang biak di tenggorokan yang mengarah ke difteri pada pernapasan. 

Baca juga: Tertusuk Paku, Inilah Cara Cegah Tetanus

Ketika itu terjadi, selaput dapat terbentuk di tenggorokan dan amandel, sehingga mengakibatkan sakit tenggorokan. Gejala umum lain dari difteri pernapasan mungkin termasuk:

  1. Kesulitan bernapas karena adanya membran.

  2. Suara serak.

  3. Pembesaran kelenjar getah bening.

  4. Detak jantung meningkat.

  5. Suara napas terdengar melengking saat menarik napas.

  6. Hidung meler.

  7. Pembengkakan langit-langit mulut (atap mulut).

  8. Sakit tenggorokan.

  9. Demam ringan.

  10. Badan terasa tidak enak demikian juga sensasi pada indra pengecap.

Orang-orang dapat mati karena sesak napas ketika membran menghalangi pernapasan. Komplikasi lain dari difteri pernapasan disebabkan oleh toksin difteri yang dilepaskan dalam darah. Hal ini menyebabkan gagal jantung atau ginjal dan masalah saraf.

Sedangkan pada difteri kulit (kulit, gejalanya biasanya lebih ringan dan mungkin termasuk bintik-bintik kuning atau luka (mirip dengan impetigo) pada kulit. Gejala-gejala difteri bisa jadi menyerupai kondisi medis lainnya. Karena itu, segera diskusikan masalah kesehatanmu apalagi untuk ibu yang memiliki anak kecil.

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. Diagnosis and Treatment Diphtheria.
Government of South Australia. Diakses pada 2019. Diphtheria - including symptoms, treatment and prevention.