Ketahui Gejala Awal Seseorang Terkena Tetanus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ketahui Gejala Awal Seseorang Terkena Tetanus

Halodoc, Jakarta – Tetanus terjadi akibat infeksi bakteri Clostridium tetani yang menyerang saraf tubuh dengan mengeluarkan racun berbahaya. Bakteri tersebut umumnya masuk ke tubuh melalui luka yang kotor misalnya, luka akibat cedera, digigit hewan, luka bakar, dan luka akibat menginjak paku berkarat. Jika tak segera ditangani, tetanus bisa menyebabkan komplikasi seperti pneumonia aspirasi, laringospasme, kejang-kejang, gagal ginjal akut hingga kematian.

Waspada Gejala Awal dari Tetanus

Saat memasuki tubuh, spora Clostridium tetani berkembang biak untuk melepaskan racun yang menyerang sistem saraf (neurotoksin). Racun ini yang mengacaukan kinerja sistem saraf, sehingga berpotensi menyebabkan kejang atau kekakuan otot. Rahang pengidap tetanus akan mengatup rapat dan sulit dibuka (lockjaw), serta menjadi sulit menelan. Gejala lainnya berupa demam, berkeringat terus-menerus, tekanan darah meningkat, dan jantung berdenyut lebih cepat. Lantas, faktor apa yang membuat seseorang rentan terinfeksi tetanus?

  • Belum pernah menerima vaksin tetanus atau proses vaksinasi tetanus tidak lengkap.

  • Ada benda asing pada luka, seperti serpihan kayu, karat atau kuku.

  • Luka yang terpapar tanah, debu dan kotoran hewan.

  • Luka penetrasi dalam, seperti luka akibat tertusuk paku berkarat atau kotor.

  • Orang yang menindik atau membuat tato tubuh dengan alat kurang steril.

  • Tali pusar bayi baru lahir yang mengalami infeksi karena ibu tidak divaksinasi tetanus secara memadai.

Segera Pergi ke Dokter Jika Mengalami Gejala Tetanus

Diagnosis tetanus ditentukan oleh manifestasi klinis, yaitu melalui wawancara tentang riwayat penyakit dan vaksinasi pengidap, serta jenis vaksinasi yang pernah diterima dan gejala yang dialami. Jika datang ke dokter dalam keadaan kejang, pengidap akan mendapat pertolongan pertama dan dirujuk ke rumah sakit agar mendapat perawatan intensif berupa:

  • Pemberian obat pelemas otot dan obat penenang. Tujuannya untuk meredakan kejang dan menenangkan pengidap.

  • Pembersihan luka. Yakni dengan menyingkirkan kotoran, jaringan mati atau benda tajam yang menempel pada luka. Tujuannya memusnahkan spora dan bakteri tetanus.

  • Pemberian obat antimikroba dan antibiotik untuk menghentikan produksi neurotoksin yang dikeluarkan oleh bakteri Clostridium tetani.

  • Penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator) jika tetanus berdampak pada otot-otot pernapasan.

  • Pemberian nutrisi melalui selang atau infus untuk mencegah dehidrasi dan kekurangan nutrisi.

  • Pemberian vaksinasi tetanus, terutama bagi pengidap yang belum pernah mendapat vaksinasi atau riwayat vaksinasi yang belum lengkap.

Cegah Tetanus dengan Vaksinasi Sejak Dini

Vaksinasi sebaiknya dilakukan sebelum infeksi tetanus terjadi. Pemberian vaksinasi tetanus bisa dilakukan sejak dini, sebab vaksin jenis ini masuk ke dalam lima jenis imunisasi wajib untuk anak. Proses vaksinasi biasanya diberikan dalam 5 tahap, yakni pada usia 2, 4, 6, 18 bulan dan 4 - 6 tahun.

Pada anak yang berusia lebih dari 7 tahun, tersedia vaksin Td yang memberikan perlindungan terhadap infeksi tetanus dan difteri. Agar perlindungan maksimal, vaksinasi ulang diperlukan tiap 10 tahun sekali (booster). Upaya pencegahan lainnya adalah menjaga kebersihan luka agar cepat sembuh dan tidak mengalami infeksi. Pemberian tetanus toksoid bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi tetanus pada luka.

Itulah gejala awal tetanus yang perlu diwaspadai. Kalau kamu mengalami gejala di atas, segera bicara pada dokter Halodoc untuk mendapat rekomendasi penanganan yang tepat. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk bicara pada dokter via Chat, dan Voice/Video Call kapan saja dan dimana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: