
Jika Kusta Tak Diobati, Ini 4 Komplikasi yang Dialami Tubuh
Kusta adalah infeksi bakteri kronis yang dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen dan kecacatan jika tidak segera diobati.

DAFTAR ISI
- Komplikasi Kusta yang Bisa Terjadi
- Gejala Khas dan Tanda Awal Penyakit Kusta
- Mekanisme Penularan Bakteri Mycobacterium Leprae
- Langkah Pencegahan dan Penghapusan Stigma Sosial
- FAQ
Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang berkembang dengan lambat yang disebut Mycobacterium leprae. Penyakit ini bisa menyebabkan luka di kulit yang parah dan kerusakan saraf di lengan, kaki dan area kulit di sekujur tubuh pengidap.
Namun, bila terdeteksi dan diobati sedini mungkin, kusta bisa disembuhkan. Orang yang terkena infeksi bakteri ini bisa terus bekerja dan menjalani kehidupan yang aktif selama dan setelah perawatan. Sebaliknya, bila tidak segera diobati, kusta bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang parah.
Komplikasi Kusta yang Bisa Terjadi
Kusta adalah penyakit progresif yang memengaruhi terutama saraf ekstremitas, kulit, lapisan hidung, dan saluran pernapasan bagian atas.
Penyakit yang disebut juga penyakit Hansen ini sudah ada sejak dulu dan pernah ditakuti sebagai penyakit yang mematikan dan menular.
Namun, sekarang sudah diketahui bahwa penyakit tersebut tidak mudah menular.
Kamu bisa tertular hanya bila kamu terpapar dalam jarak dekat dan berulang kali dengan percikan hidung dan mulut dari orang yang terinfeksi kusta dan tidak diobati.
Selain itu, diagnosis dan pengobatan dini efektif untuk menyembuhkan penyakit tersebut.
Akan tetapi, jika tidak didiagnosis dan diobati segera, kerusakan saraf permanen bisa terjadi.
Neuropati atau kerusakan saraf yang terjadi pada pengidap kusta adalah penyebab mereka mengalami komplikasi berupa kecacatan atau kelumpuhan. Dan hal ini tidak bisa dihindari maupun diobati.
Komplikasi kusta bukan disebabkan oleh efek mikobakteri itu sendiri, melainkan karena kompresi saraf sekunder akibat reaksi imun inang.
Jadi, reaksi sistem kekebalan tubuh pengidap terhadap kusta bisa terjadi selama, sebelum atau setelah pengobatan kusta. Hal itu bisa memperburuk neuropati kecuali segera diobati.
Reaksinya melibatkan peningkatan rasa sakit, peradangan, dan infiltrasi. Semua ini harus dikelola untuk mencegah kerusakan saraf yang bisa mengakibatkan hilangnya sensorik, yang pasti mengarah pada kelumpuhan tangan, kaki dan lain-lain.
Berikut beberapa komplikasi kusta yang bisa terjadi bila tidak segera diobati:
1. Komplikasi neurologis
Bakteri kusta bisa menyerang batang saraf tepi yang akan menyebabkan neuritis (peradangan pada saraf perifer). Hal itu ditandai dengan nyeri tekan, penebalan, dan ketidakteraturan saraf, serta keterlibatan sensorimotor.
Pada kebanyakan pengidap, terjadi neuropati campuran atau sensorimotor. Ini melibatkan saraf tunggal.
Akibatnya, kelenjar terkait dan folikel rambut bisa mati, yang mengakibatkan kulit kering, pecah-pecah, dan korengan atau borok. Nyeri neuropatik juga dapat terjadi.
Sedangkan keterlibatan saraf wajah bisa menyebabkan kesulitan menutup kelopak mata, mukosa hidung menjadi kering dan konjungtiva.
2. Komplikasi pada mata
Penyakit kusta dapat menyebabkan kerusakan mata baik akibat keterlibatan cabang saraf fasialis yang mempersarafi mata maupun melalui infeksi langsung pada kulit atau mata.
Kerusakan mata yang bisa terjadi, antara lain:
- Kesulitan menutup kelopak mata (lagophthalmos).
- Radang kornea mata karena tidak adanya air mata atau kekeringan.
- Iritis (peradangan pada iris mata).
- Glaukoma, penyakit mata yang menyebabkan kerusakan pada saraf optik.
- Kebutaan.
3. Deformitas dan kelumpuhan tangan dan kaki
Keterlibatan saraf ulnaris atau median bisa menyebabkan mati rasa pada tangan dan kelumpuhan otot intrinsik tangan.
Hal ini menyebabkan deformitas tangan membentuk seperti cakar, yang terjadi akibat sendi tertekuk.
Selain itu, pengidap juga bisa mengalami kelumpuhan pada fleksor jari dan pergelangan tangan, serta hilangnya ibu jari.
Hilangnya fungsi fleksor ini membuat mereka sulit untuk memegang benda, atau mengangkat benda yang lebih kecil.
Keterlibatan saraf radial jarang terjadi, tapi ini bisa menyebabkan pergelangan tangan jatuh karena kelumpuhan ekstensor. Alhasil, ini bisa membuat pengidap sulit untuk memegang benda.
Tidak hanya pada tangan, kelumpuhan pada pergelangan kaki dan jari kaki juga bisa terjadi tergantung kerusakan saraf yang terjadi.
Pengidap bisa mengalami atrofi otot yang bisa menyebabkan penyusutan bagian depan dan samping kaki.
Jika saraf tibialis posterior rusak, telapak kaki menjadi mati rasa, otot intrinsik kaki lumpuh, dan deformitas kaki membentuk cakar. Bisul dan kehilangan jari kaki juga mungkin terjadi.
4. Perubahan sistemik
Sistemik dalam tubuh juga bisa rusak akibat reaksi kusta, atau lebih jarang karena infeksi oleh bakteri dalam aliran darah.
Banyak organ bisa terpengaruh, tapi yang paling sering adalah kerusakan ginjal. Hal itu sering terjadi ketika kusta berlangsung kronis dengan banyak reaksi terjadi dan sedang diobati.
Kerusakan ginjal bisa bermanifestasi sebagai glomerulonefritis, nefritis interstitial, atau kondisi ginjal lainnya. Akibatnya, gagal ginjal bisa terjadi.
Selain itu, tuberkulosis paru juga sering terjadi. Pada banyak kasus, saluran napas bagian atas pengidap terpengaruh.
Gejala Khas dan Tanda Awal Penyakit Kusta
Identifikasi dini penyakit kusta sangat bergantung pada pengamatan perubahan pada kulit dan fungsi sensorik. Gejala yang paling menonjol adalah munculnya bercak pada kulit yang berwarna lebih terang (hipopigmentasi) atau kemerahan (eritematosa).
Bercak tersebut memiliki karakteristik unik, yakni mati rasa atau baal (anestesi) terhadap sentuhan, tekanan, maupun suhu. Selain perubahan warna kulit, area yang terdampak biasanya tidak mengeluarkan keringat (anhidrosis) dan pertumbuhan rambut pada bercak tersebut sering kali rontok.
Jika bakteri mulai merusak saraf perifer, pasien mungkin merasakan kesemutan, nyeri tajam, hingga kelemahan otot secara bertahap pada area tangan dan kaki.
Apabila mengalami gejala di atas, Ini Rekomendasi Dokter Spesialis Kulit di Halodoc yang bisa kamu hubungi.
Mekanisme Penularan Bakteri Mycobacterium Leprae
Penularan penyakit kusta terjadi melalui percikan cairan pernapasan atau droplet saat penderita yang belum diobati batuk atau bersin. Meskipun menular, tingkat penularan bakteri ini tergolong rendah. Penularan tidak terjadi melalui kontak singkat seperti bersalaman, duduk bersama, atau berbagi makanan dengan penderita.
Risiko penularan meningkat signifikan pada individu yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dalam jangka waktu lama (berbulan-bulan hingga bertahun-tahun) dengan penderita tipe kusta basah (multibasiler) yang belum mendapatkan pengobatan. Setelah memulai dosis pertama pengobatan MDT, penderita kusta tidak lagi menularkan bakteri tersebut kepada orang lain.
Sistem kekebalan tubuh memainkan peran vital dalam menentukan apakah seseorang yang terpapar akan berkembang menjadi sakit atau tidak. Sebagian besar manusia (sekitar 95%) memiliki kekebalan alami terhadap bakteri M. leprae. Oleh karena itu, menjaga kesehatan daya tahan tubuh tetap menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit menular.
Langkah Pencegahan dan Penghapusan Stigma Sosial
Pencegahan utama kusta adalah melalui deteksi dini dan pengobatan segera pada penderita aktif di lingkungan sekitar. Pemberian profilaksis dosis tunggal Rifampisin bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita kusta juga dapat menurunkan risiko penularan hingga 50-60%.
Selain aspek medis, penghapusan stigma sosial sangat penting. Diskriminasi terhadap penderita kusta sering kali membuat mereka takut untuk memeriksakan diri, yang justru mempercepat penyebaran penyakit dan risiko kecacatan.
Edukasi masyarakat bahwa kusta tidak mudah menular dan dapat disembuhkan adalah kunci utama eliminasi kusta. Penderita kusta yang sedang dalam pengobatan dapat beraktivitas normal seperti biasa tanpa perlu diisolasi.
Dukungan psikologis dari lingkungan sekitar membantu mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien pasca-sembuh.
Ketahui juga informasi mengenai Perawatan Kulit – Cara dan Jenis Sesuai Tipe Kulit agar senantiasa terjaga kondisinya.
Itulah beberapa komplikasi kusta yang bisa terjadi. Jadi, bila kamu mengalami gejala seperti luka di kulit atau benjolan yang tidak kunjung sembuh, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Apabila punya pertanyaan lain terkait kusta, hubungi dokter spesialis kulit di Halodoc saja!
Mereka bisa memberikan informasi dan saran perawatan yang tepat sekaligus meresepkan obat.
Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
News Medical Life Science. Diakses pada 2026. Leprosy Complications.
Healthline. Diakses pada 2026. Leprosy.
WebMD. Diakses pada 2026. Leprosy (Hansen’s Disease)
FAQ
1. Apakah kusta bisa sembuh?
Ya, kusta bisa sembuh total dengan pengobatan MDT yang teratur. Pengobatan dini mencegah terjadinya kecacatan permanen.
2. Apakah kusta menular melalui sentuhan singkat?
Tidak. Penularan memerlukan kontak erat dan lama dalam hitungan bulan hingga tahunan dengan penderita yang belum diobati.
3. Di mana saya bisa mendapatkan obat kusta?
Obat kusta (MDT) disediakan gratis oleh pemerintah dan tersedia di Puskesmas atau Rumah Sakit umum pemerintah.


