Ad Placeholder Image

Kenali Bentuk Gambar Virus Rabies Serta Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 01 Juli 2026

Mengenal Bentuk Gambar Virus Rabies dan Cara Penularannya

Kenali Bentuk Gambar Virus Rabies Serta Cara MencegahnyaKenali Bentuk Gambar Virus Rabies Serta Cara Mencegahnya

DAFTAR ISI


Rabies, atau yang sering dikenal oleh masyarakat awam sebagai penyakit anjing gila, merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang paling mematikan di dunia. Penyakit ini menyerang sistem saraf pusat pada manusia dan mamalia berdarah panas lainnya. Jika tidak segera ditangani sebelum gejalanya muncul, infeksi ini hampir selalu berujung pada kematian. Oleh karena itu, edukasi mengenai penyakit ini sangat krusial bagi keselamatan masyarakat.

Mungkin kamu pernah melihat gambar virus rabies di buku pelajaran biologi atau saat mencari informasi di internet. Memahami seperti apa bentuk morfologi virus ini beserta karakteristiknya bukanlah sekadar pengetahuan sains semata, melainkan kunci untuk memahami mengapa tindakan pencegahan seperti mencuci luka dengan sabun sangatlah efektif dalam membunuh virus tersebut sebelum masuk lebih jauh ke dalam tubuh.

Kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) seperti anjing, kucing, dan kera masih sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Untuk itu, mari kita kenali lebih dalam anatomi mikroskopis dari virus ini, bagaimana cara kerjanya merusak sistem saraf, serta langkah-langkah pencegahan dan penanganan medis darurat yang wajib kamu ketahui.

Mengenal Struktur dan Bentuk Virus Rabies

Jika kamu mengamati gambar virus rabies melalui lensa mikroskop elektron, kamu akan melihat bentuk yang sangat unik dan spesifik. Virus ini tidak berbentuk bulat seperti virus influenza atau virus corona. Rabies memiliki bentuk memanjang yang menyerupai peluru senapan (bullet-shaped). Karakteristik bentuk ini adalah ciri khas dari keluarga virus Rhabdoviridae, tepatnya pada genus Lyssavirus.

Secara anatomis, virus rabies memiliki ukuran panjang sekitar 180 nanometer dan diameter sekitar 75 nanometer. Berikut adalah susunan struktur utama dari virus mematikan ini:

  • Envelope (Selubung Lipid): Bagian terluar dari virus ini dilapisi oleh selubung lipid ganda (lemak). Keberadaan lapisan lemak inilah yang membuat virus rabies sangat rentan terhadap sabun, deterjen, dan cairan disinfektan. Sabun dapat menghancurkan lapisan lemak ini, sehingga virus mati seketika.
  • Glycoprotein Spikes (Protein G): Pada permukaan selubung lipid, terdapat tonjolan-tonjolan yang disebut spikes. Protein G ini berfungsi seperti “kunci” yang digunakan virus untuk menempel dan menembus masuk ke dalam sel saraf tubuh inang (manusia atau hewan).
  • Nukleokapsid: Di dalam selubung, terdapat struktur heliks yang menyimpan materi genetik virus, yaitu RNA untai tunggal (single-stranded RNA). Bagian ini dilindungi oleh protein nukleoprotein (N), fosfoprotein (P), dan polimerase (L) yang bertugas untuk memperbanyak diri setelah berhasil masuk ke dalam sel target.

Bagaimana Virus Rabies Menyerang Tubuh?

Setelah mengetahui bentuknya, penting juga untuk memahami bagaimana patogenesis atau perjalanan virus ini di dalam tubuh. Penularan utama terjadi ketika air liur hewan yang terinfeksi masuk ke dalam jaringan tubuh manusia melalui gigitan, cakaran yang dalam, atau jilatan pada area kulit yang sedang terluka (bahkan luka goresan kecil sekalipun).

Setelah masuk melalui otot atau jaringan di bawah kulit, virus tidak langsung menyebar melalui aliran darah. Virus akan berdiam diri dan bereplikasi secara perlahan di jaringan otot dekat area gigitan. Setelah itu, dengan menggunakan protein G pada permukaannya, virus akan mengikatkan diri pada reseptor saraf tepi.

Virus kemudian bergerak merambat naik melalui serabut saraf tepi menuju ke sumsum tulang belakang, hingga akhirnya mencapai otak (sistem saraf pusat). Proses perjalanan inilah yang disebut sebagai masa inkubasi, yang biasanya memakan waktu antara 2 hingga 3 bulan, namun bisa lebih cepat atau lebih lambat tergantung seberapa dekat lokasi gigitan dengan otak.

Ciri-Ciri Hewan Penular Rabies yang Harus Diwaspadai
  1. Perubahan perilaku yang drastis, hewan jinak bisa menjadi sangat agresif, atau sebaliknya, hewan liar menjadi sangat jinak dan diam.
  2. Mengeluarkan air liur secara berlebihan (hipersalivasi) karena otot rahang dan tenggorokannya mengalami kelumpuhan.
  3. Terlihat gelisah, takut pada cahaya (fotofobia), dan takut pada air (hidrofobia).
  4. Suka menyendiri di tempat yang gelap dan menggigit benda-benda di sekitarnya secara sembarangan.
  5. Mengalami kejang, kelumpuhan (terutama pada kaki belakang), yang berujung pada kematian hewan dalam waktu 10 hingga 14 hari.

Pertolongan Pertama pada Gigitan Hewan

Mengingat struktur virus rabies yang dilindungi oleh lapisan lemak, tindakan pertolongan pertama yang cepat dan tepat adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa. Jika kamu digigit atau dicakar oleh hewan penular rabies, lakukan langkah-langkah darurat berikut sebelum pergi ke fasilitas kesehatan:

1. Cuci Luka dengan Sabun dan Air Mengalir
Ini adalah langkah paling krusial. Cuci area gigitan atau cakaran dengan sabun di bawah air mengalir tanpa henti selama minimal 15 menit. Gesekan air dan sifat kimiawi sabun akan merusak selubung lipid virus, membunuh dan melunturkan virus yang menempel pada luka sebelum sempat masuk ke saraf.

2. Berikan Cairan Antiseptik
Setelah dicuci bersih dan dikeringkan dengan kassa bersih, segera oleskan cairan antiseptik yang mengandung povidone-iodine atau alkohol 70 persen pada area luka untuk membunuh sisa-sisa patogen.

3. Jangan Tutup Luka Secara Rapat
Biarkan luka terbuka atau tutup perlahan dengan kassa steril yang longgar. Jangan menjahit luka gigitan hewan kecuali atas instruksi medis yang ketat, karena dapat mendorong virus masuk lebih dalam ke jaringan saraf.

4. Segera Menuju Pusat Layanan Kesehatan (Rabies Center)
Pertolongan pertama saja tidak cukup. Kamu wajib mendapatkan evaluasi medis untuk pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan, jika lukanya berisiko tinggi, Serum Anti Rabies (SAR) yang berisi antibodi siap pakai untuk menetralkan virus.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu baru saja digigit, dicakar, atau dijilat pada area kulit yang terluka atau pada area mukosa (mata, hidung, mulut) oleh hewan liar maupun hewan peliharaan yang status vaksinasinya tidak jelas, jangan tunda untuk mencari pertolongan medis. Segera konsultasi dengan Dokter Umum di Halodoc untuk mendapatkan arahan awal, dan segeralah kunjungi IGD atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan suntikan profilaksis pasca-pajanan (PEP) rabies secepat mungkin.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis! 
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan. 
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.

Studi Terkait

Sebuah studi medis terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Emerging Infectious Diseases and Virology pada tahun 2026 menyoroti pentingnya pencitraan morfologi virus. Penelitian tersebut menemukan bahwa pemetaan 3D (tiga dimensi) pada struktur glikoprotein (protein G) dari gambar mikroskopis virus rabies mampu mempercepat pengembangan vaksin rekombinan generasi terbaru. Vaksin generasi baru ini terbukti merangsang pembentukan antibodi penetral hingga dua kali lebih cepat dibandingkan vaksin kultur sel konvensional, memberikan perlindungan yang sangat vital dalam masa inkubasi kritis setelah terjadinya gigitan.

Referensi

  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Rabies – Fact Sheets.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Buku Saku Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Rabies: Symptoms and Causes.
  • PubMed Central. Diakses pada 2024. Morphology and Pathogenesis of Rabies Virus: A Comprehensive Review.

FAQ

1. Apakah penyakit rabies bisa disembuhkan?
Jika gejala klinis rabies (seperti hidrofobia, demam, dan kejang) sudah muncul, penyakit ini hampir 100% berakibat fatal dan tidak bisa disembuhkan. Oleh karena itu, pencegahan berupa cuci luka dan pemberian vaksin (VAR/SAR) sebelum gejala muncul sangatlah mutlak.

2. Hewan apa saja yang paling berisiko menularkan rabies?
Di Indonesia, sekitar 98% kasus penularan rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing. Namun, hewan mamalia lain seperti kucing, kera/monyet, dan kelelawar juga bisa membawa dan menularkan virus ini melalui air liurnya.

3. Berapa lama masa inkubasi virus rabies di dalam tubuh?
Masa inkubasi rabies sangat bervariasi, umumnya berkisar antara 2 hingga 3 bulan. Namun, bisa juga sangat cepat (kurang dari 2 minggu) jika luka gigitan sangat parah, berjumlah banyak, atau berlokasi di dekat kepala dan leher karena jarak ke otak lebih dekat.

4. Apakah gigitan tikus dapat menularkan rabies?
Berdasarkan data kesehatan global, hewan pengerat berukuran kecil seperti tikus, mencit, hamster, dan tupai sangat jarang terinfeksi rabies dan belum pernah dilaporkan menularkan rabies kepada manusia. Meski begitu, gigitan tikus tetap memerlukan penanganan untuk mencegah infeksi bakteri tetanus atau penyakit lainnya.