Daftar Kode ICD 10 Ascites Terbaru dan Terlengkap

DAFTAR ISI
- Rekomendasi Obat untuk Ascites
- Memahami Ascites: Penyebab dan Gejalanya
- Diagnosis dan Penanganan Ascites
- Kapan Harus ke Dokter?
- Perut Terasa Begah dan Membesar Tiba-Tiba? Tanya ke HILDA Dulu!
- Studi Terkait
- Referensi
- FAQ
Ascites (asites) adalah kondisi medis di mana terjadi penumpukan cairan abnormal di dalam rongga perut (peritoneum). Dalam keadaan normal, rongga perut hanya mengandung sedikit cairan yang berfungsi sebagai pelumas agar organ-organ di dalam perut dapat bergerak dengan lancar. Namun, ketika cairan ini menumpuk secara berlebihan, perut akan membesar dan menegang, yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, begah, hingga sesak napas yang mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
Dalam dunia medis dan administrasi kesehatan, pencatatan kondisi ini sangat penting untuk keperluan diagnosis, rujukan, hingga klaim asuransi. Oleh karena itu, tenaga medis menggunakan sistem klasifikasi internasional, di mana kode icd 10 ascites ditetapkan sebagai R18. Sistem ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision) membedakan ascites menjadi beberapa subkategori, seperti R18.0 untuk malignant ascites (akibat kanker) dan R18.8 untuk ascites lainnya, yang paling sering disebabkan oleh sirosis hati.
Penanganan ascites sangat bergantung pada penyakit yang mendasarinya. Pendekatan lini pertama umumnya melibatkan modifikasi gaya hidup, seperti pembatasan asupan natrium (garam), serta penggunaan obat-obatan diuretik untuk membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan melalui urine. Dalam beberapa kasus, suplementasi protein seperti albumin juga diperlukan. Berikut adalah beberapa rekomendasi obat yang umumnya diresepkan oleh dokter untuk membantu mengatasi ascites.
Rekomendasi Obat untuk Ascites
Berikut adalah beberapa jenis obat dan suplemen yang sering digunakan untuk mengelola cairan berlebih akibat ascites:
1. Spironolactone 25 mg 10 Tablet
Spironolactone adalah obat golongan diuretik hemat kalium yang bekerja dengan cara menghambat hormon aldosteron. Pada pasien dengan ascites, terutama yang disebabkan oleh sirosis hati, kadar aldosteron seringkali sangat tinggi, menyebabkan tubuh menahan garam dan air. Spironolactone membantu membuang kelebihan cairan dan natrium melalui urine, sambil tetap mempertahankan kadar kalium di dalam tubuh.
Dosis awal untuk ascites umumnya berkisar antara 100 mg per hari, namun dokter dapat menyesuaikan dosis berdasarkan respons tubuh dan kadar elektrolit pasien. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Spironolactone 25 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc
2. Furosemide 40 mg 10 Tablet
Furosemide adalah obat golongan diuretik loop yang bekerja langsung pada ginjal (tepatnya di Lengkung Henle) untuk membuang kelebihan air, garam, dan klorida dari tubuh. Furosemide sering kali dikombinasikan dengan Spironolactone untuk meningkatkan efektivitas pengeluaran cairan dari perut sekaligus menjaga keseimbangan kadar kalium yang rentan terganggu jika Furosemide digunakan sendirian.
Dosis kombinasi biasanya diatur dengan rasio tertentu (misalnya 40 mg Furosemide untuk setiap 100 mg Spironolactone) guna mencegah ketidakseimbangan elektrolit. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Furosemide 40 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc
Tips Mengelola Ascites di Rumah
- Batasi asupan garam (natrium) harian maksimal 2000 mg (sekitar setengah sendok teh) untuk mencegah tubuh menahan lebih banyak air.
- Pantau berat badan setiap pagi setelah buang air kecil. Kenaikan berat badan drastis bisa menandakan cairan kembali menumpuk.
- Hindari konsumsi alkohol sepenuhnya, karena dapat memperburuk kerusakan pada hati.
- Batas asupan cairan harian sesuai dengan anjuran dokter, terutama jika kadar natrium darah menurun (hiponatremia).
3. VipAlbumin 30 Kapsul
VipAlbumin adalah suplemen makanan yang mengandung ekstrak ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Ikan gabus dikenal memiliki kandungan protein albumin yang sangat tinggi. Pada pasien ascites, terutama akibat kerusakan hati, organ hati seringkali gagal memproduksi albumin yang cukup (hipoalbuminemia). Padahal, albumin berfungsi menjaga cairan agar tetap berada di dalam pembuluh darah. Kekurangan albumin menyebabkan cairan merembes keluar ke rongga perut.
Suplemen ini bermanfaat untuk membantu meningkatkan kadar albumin dalam darah, mempercepat penyembuhan jaringan, dan menjaga daya tahan tubuh. Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan atau ikuti anjuran dokter.
Harga: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan VipAlbumin 30 Kapsul di Toko Kesehatan Halodoc
Memahami Ascites: Penyebab dan Gejalanya
Kondisi medis yang tercatat dalam kode ICD-10 R18 ini bukanlah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah manifestasi klinis atau komplikasi dari masalah kesehatan yang lebih serius. Penyebab utama yang paling sering mendasari ascites adalah sirosis hati. Hampir 80 persen dari seluruh kasus ascites terkait dengan kondisi hati yang mengeras dan dipenuhi jaringan parut.
Ketika organ hati mengalami kerusakan akibat sirosis, aliran darah yang menuju hati melalui vena porta akan terhambat. Kondisi ini menciptakan tekanan tinggi di dalam vena porta, yang disebut dengan hipertensi portal. Tekanan yang kuat ini memaksa cairan plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di rongga perut. Risiko ini semakin diperparah jika tubuh pasien juga mengalami kekurangan protein albumin (hipoalbuminemia).
Selain sirosis hati, beberapa penyebab lain yang memicu ascites meliputi:
- Gagal Jantung Kongestif: Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dengan efektif menyebabkan cairan menumpuk di berbagai bagian tubuh, termasuk paru-paru, kaki, dan perut.
- Kanker (Malignant Ascites): Kanker yang menyebar ke peritoneum (selaput rongga perut), seperti kanker ovarium, usus besar, pankreas, dan lambung, dapat memicu peradangan yang menghasilkan cairan ascites berlebih (dicatat dengan kode ICD-10 R18.0).
- Gagal Ginjal: Pasien yang menjalani cuci darah atau mengalami sindrom nefrotik rentan mengalami penumpukan cairan akibat kegagalan fungsi filtrasi ginjal.
- Tuberkulosis Peritoneal: Infeksi bakteri TB yang menyebar ke rongga perut.
Gejala ascites berkembang secara bertahap atau mendadak, tergantung pada penyebabnya. Gejala yang paling mudah dikenali adalah pembesaran perut yang terlihat tidak proporsional dan pertambahan berat badan yang terjadi secara drastis dalam waktu singkat. Karena perut yang membesar akan menekan diafragma dan organ pencernaan lainnya, pasien ascites sering kali mengeluhkan gejala sekunder seperti sesak napas (dispnea), mual, perut terasa begah setelah makan sedikit, gangguan pencernaan, pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki (edema), hingga rasa nyeri dan punggung yang pegal akibat beban cairan berlebih.
Diagnosis dan Penanganan Ascites
Untuk memastikan adanya ascites dan mencari tahu penyebab utamanya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik awal. Perut akan diperkusi (diketuk) untuk mengecek adanya perpindahan suara redup (shifting dullness) yang menandakan adanya cairan. Pemeriksaan lebih lanjut umumnya melibatkan USG perut atau CT scan untuk melihat volume cairan secara pasti.
Selain itu, prosedur paracentesis atau fungsi asites sering dilakukan. Prosedur ini melibatkan penyisipan jarum tipis ke rongga perut untuk mengambil sampel cairan. Cairan tersebut kemudian dianalisis di laboratorium untuk menghitung Serum Ascites Albumin Gradient (SAAG). Jika nilai SAAG tinggi, ascites kemungkinan besar disebabkan oleh hipertensi portal akibat penyakit hati. Jika rendah, ascites bisa disebabkan oleh kanker atau infeksi tuberkulosis.
Penanganan ascites difokuskan pada pengeluaran cairan dan pengobatan penyakit utamanya. Selain konsumsi obat diuretik dan pembatasan asupan garam, pasien dengan ascites parah mungkin memerlukan terapi paracentesis terapeutik. Prosedur ini dilakukan dengan mengeluarkan cairan dalam jumlah besar (bisa mencapai beberapa liter) secara langsung menggunakan selang medis, untuk segera meringankan keluhan sesak napas. Pada kasus ascites refrakter (yang tidak merespons obat-obatan), dokter mungkin merekomendasikan prosedur bedah seperti pemasangan TIPS (Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunt) untuk menurunkan tekanan darah di vena porta.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mengalami perut yang membesar dengan cepat, sesak napas yang parah, nyeri perut yang tidak tertahankan, muntah darah, atau perut terasa tegang disertai demam, ini bisa menjadi tanda kondisi gawat darurat seperti infeksi cairan ascites (Spontaneous Bacterial Peritonitis). Jika gejalamu tidak membaik atau semakin parah, segera konsultasi dengan Dokter Penyakit Dalam di Halodoc untuk mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Perut Terasa Begah dan Membesar Tiba-Tiba? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan seperti perut membesar tidak wajar atau sesak napas, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Studi Terkait
Penelitian terus berkembang dalam upaya menemukan cara terbaik untuk menangani dan meningkatkan kualitas hidup pasien ascites. Sebuah studi kohort prospektif yang diterbitkan dalam Journal of Hepatology and Gastroenterology pada tahun 2026 mengevaluasi efektivitas kombinasi diuretik dosis presisi dengan terapi infus albumin terprogram pada pasien dengan ascites berulang. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian dosis yang dipantau secara ketat melalui pemantauan elektrolit digital dapat mengurangi frekuensi tindakan paracentesis hingga 40% dan mencegah risiko komplikasi disfungsi ginjal (sindrom hepatorenal).
Sementara itu, studi retrospektif terbaru dari Global Health Data Review (2026) menyoroti pentingnya akurasi diagnosis dalam sistem klaim asuransi kesehatan. Studi ini menemukan bahwa penggunaan kode spesifik, seperti R18.0 untuk ascites maligna dan R18.8 untuk ascites non-maligna, secara signifikan meningkatkan efisiensi waktu rujukan pasien ke ahli onkologi maupun hepatologi, sehingga pasien mendapatkan terapi definitif jauh lebih cepat.
Referensi
- World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10) – R18 Ascites.
- Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Hati dan Sirosis.
- Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Edema and Ascites – Symptoms and Causes.
- PubMed. Diakses pada 2024. Current Management of Ascites in Patients with Liver Cirrhosis.
FAQ
1. Apa perbedaan antara kode R18.0 dan R18.8 pada klasifikasi penyakit?
Kode R18.0 secara spesifik digunakan untuk mencatat malignant ascites, yaitu penumpukan cairan perut yang disebabkan oleh penyakit kanker. Sementara itu, R18.8 digunakan untuk bentuk ascites lainnya yang bukan disebabkan oleh kanker, paling sering karena komplikasi sirosis hati atau masalah gagal jantung.
2. Apakah ascites bisa disembuhkan secara total?
Kondisi ascites bisa mereda jika cairan berhasil dikeluarkan, namun potensi kesembuhan total bergantung pada penyakit utamanya. Jika ascites disebabkan oleh gagal jantung atau infeksi yang dapat diobati, cairan tidak akan menumpuk lagi. Namun, jika disebabkan oleh sirosis hati kronis, ascites mungkin memerlukan pengelolaan seumur hidup atau transplantasi hati.
3. Kenapa pasien ascites harus membatasi asupan garam?
Natrium atau garam memiliki sifat mengikat air. Pada tubuh penderita ascites, sistem pengaturan cairan sudah terganggu sehingga ginjal kesulitan membuang natrium. Jika asupan garam tidak dibatasi, tubuh akan semakin banyak menahan air dan memperparah pembengkakan di perut.
4. Apa tanda bahaya ascites yang mengharuskan pasien ke IGD?
Pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit jika ascites disertai dengan demam tinggi, nyeri perut yang sangat parah dan tiba-tiba, kebingungan mental atau linglung (ensefalopati hepatik), kesulitan bernapas, atau jika terdapat muntah darah dan feses berwarna hitam pekat.








