Ad Placeholder Image

Kenali Penyakit Lato-Lato yang Dapat Menyerang Hewan Ternak

6 menit
Ditinjau oleh  dr. Budiyanto, MARS   25 Februari 2026

“Penyakit lato-lato atau lumpy skin disease merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi lumpy skin disease virus (LSDV). Penyakit ini dapat menyerang hewan ternak khususnya sapi dan kerbau.”

Kenali Penyakit Lato-Lato yang Dapat Menyerang Hewan TernakKenali Penyakit Lato-Lato yang Dapat Menyerang Hewan Ternak

DAFTAR ISI


Menjelang Hari Raya Idul Adha, kamu pasti ingin memastikan bahwa hewan kurban yang kamu miliki sedang dalam kondisi sehat. Namun sayangnya, penyakit lato-lato kini kian menyebar di hewan ternak.

Penyakit lato-lato atau lumpy skin disease umumnya menyerang sapi atau kerbau, dan terkadang bisa menyebabkan kematian. Jika hewan sudah terserang penyakit ini, maka dagingnya tidak layak dikonsumsi.

Apa Itu Penyakit Lato-Lato?

Penyakit lato-lato adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi LSDV, yang merupakan bagian dari genus capripoxvirus dan famili poxviridae. Virus ini dapat menginfeksi hewan ternak seperti sapi dan kerbau. Namun, kasusnya pada kambing dan domba belum ditemukan.

Virus lumpy skin disease disebarkan melalui serangga penghisap darah seperti lalat, nyamuk, dan kutu spesies tertentu. Penularannya di antara hewan ternak dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Penularan secara langsung terjadi jika sapi yang sehat terkena lesi kulit, air liur, darah, dan susu, oleh sapi yang terinfeksi. 

Sementara itu, penularan secara tidak langsung bisa disebabkan karena penggunaan peralatan kandang atau jarum suntik yang terkontaminasi virus. Meski sangat menular, penyakit lato-lato tidak akan menginfeksi manusia. Ketahui juga penyakit lainnya yang dapat menginfeksi hewan ternak di sini, “Ini Jenis Hewan Ternak yang Bisa Terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku.”

Mengenal Gejala Penyakit Lato-lato

Masa inkubasi biasanya berlangsung antara 4 hingga 14 hari pasca infeksi. Namun, pada beberapa kasus, periode ini bisa berlangsung lebih lama mencapai 28 hari. Gejala klinisnya bergantung pada umur, ras, dan status imun hewan ternak. 

Meski begitu, umumnya gejala yang akan muncul meliputi:

  • Demam tinggi: Suhu tubuh hewan bisa naik drastis, mencapai 40-41 derajat Celcius. Demam ini seringkali merupakan tanda awal infeksi.
  • Benjolan keras di kulit (nodul): Ini adalah gejala paling mencolok dari LSD. Benjolan berukuran sekitar 2–5 cm muncul dan bisa tersebar di kepala, leher, punggung, tungkai, ekor, dan bagian tubuh lainnya, termasuk alat kelamin dan ambing. Nodul ini terasa padat saat diraba.
  • Lesi kulit yang pecah: Benjolan ini bisa pecah dan membentuk luka terbuka (ulserasi) yang bernanah jika infeksi bertambah parah. Luka ini dapat menarik lalat dan memperburuk kondisi hewan.
  • Kotoran mata dan hidung: Hewan yang sakit seringkali mengeluarkan kotoran mata dan hidung yang berlebihan. Hal ini disertai dengan hewan yang tampak lemah dan lesu.
  • Penurunan nafsu makan dan produksi: Hewan yang terinfeksi akan kehilangan nafsu makan, menyebabkan penurunan berat badan yang drastis. Pada sapi perah, produksi susu akan menurun signifikan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening: Kelenjar getah bening superfisial, terutama di area leher dan kaki, dapat membengkak.
  • Pincang dan masalah pernapasan: Dalam beberapa kasus, hewan dapat menunjukkan gejala pincang akibat lesi pada kaki atau mengalami masalah pernapasan karena benjolan pada saluran pernapasan atas.
  • Kematian: Pada kasus yang serius, terutama pada anak sapi atau hewan dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit ini dapat berujung pada kematian.

Bagaimana Virus Lumpy Skin Disease Menular?

Penularan virus LSD terjadi melalui beberapa jalur, dengan serangga menjadi vektor utama. Pemahaman jalur penularan ini krusial untuk implementasi langkah-langkah pencegahan.

  • Vektor serangga: Virus LSD ditularkan terutama lewat serangga pemakan darah, seperti lalat (termasuk lalat kandang dan lalat penggigit), nyamuk, dan kutu. Serangga ini menghisap darah dari hewan yang terinfeksi dan kemudian menularkannya ke hewan sehat saat menggigit.
  • Kontak langsung: Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung antara hewan sakit dan hewan sehat. Ini meliputi kontak dengan darah, air liur, cairan dari lesi kulit yang pecah, atau bahkan melalui feses dan urin yang terkontaminasi.
  • Peralatan dan lingkungan terkontaminasi: Peralatan kandang, jarum suntik, dan pakaian pekerja yang terkontaminasi virus juga dapat menjadi media penularan. Lingkungan kandang yang kotor dan tidak higienis meningkatkan risiko penyebaran.
  • Dari induk ke anak: Penularan vertikal dari induk yang terinfeksi ke janin dalam kandungan atau melalui susu juga memungkinkan, meskipun tidak sering.

Langkah Pencegahan dan Pengendalian Lumpy Skin Disease

Pencegahan adalah kunci utama dalam menghadapi Lumpy Skin Disease. Implementasi strategi pencegahan yang komprehensif dapat meminimalkan risiko penularan dan dampak kerugian.

  • Vaksinasi: Vaksinasi adalah metode pencegahan yang paling efektif. Vaksin LSD tersedia dan sangat direkomendasikan untuk melindungi ternak. Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus menggalakkan program vaksinasi massal. Menurut WHO, “Vaksinasi yang terkoordinasi dan luas adalah salah satu pilar utama dalam pengendalian penyakit menular pada hewan.”
  • Pengendalian vektor (serangga): Mengurangi populasi serangga pemakan darah di sekitar kandang sangat penting. Ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, membersihkan genangan air, menggunakan insektisida yang aman untuk ternak, dan memasang kelambu atau jaring di area kandang.
  • Biosekuriti ketat: Menerapkan biosekuriti yang ketat di peternakan. Ini termasuk membatasi akses orang dan kendaraan asing ke area kandang, mendisinfeksi kendaraan dan peralatan yang masuk, serta memastikan pekerja menggunakan pakaian khusus peternakan yang bersih.
  • Isolasi hewan sakit: Hewan yang menunjukkan gejala LSD harus segera diisolasi dari ternak sehat untuk mencegah penyebaran virus.
  • Sanitasi kandang: Menjaga kebersihan dan sanitasi kandang secara rutin. Kandang harus dibersihkan dari kotoran dan disemprot disinfektan secara berkala.
  • Pengawasan dan pelaporan: Peternak harus secara aktif memantau kondisi kesehatan ternaknya. Jika ditemukan gejala yang mencurigakan, segera laporkan kepada dinas peternakan setempat agar tindakan penanganan dan pengendalian dapat segera dilakukan.
  • Manajemen ternak yang baik: Memastikan ternak mendapatkan nutrisi yang cukup dan kondisi lingkungan yang nyaman untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka terhadap penyakit.

Cara Mendiagnosis Penyakit Lato-lato

Untuk melakukan diagnosis, dokter hewan akan mengamati dulu gejala khususnya dan nodul kulit pada sapi. Namun, untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan metode diagnostik, seperti histopatologi, isolasi virus, dan Polymerase Chain Reaction (PCR). 

Dari ketiganya, isolasi virus dan PCR adalah metode terbaik untuk mendiagnosis penyakit. Alasannya kedua metode tersebut melibatkan tes laboratorium yang menentukan jenis virus yang ada. Metode ini penting dilakukan karena virus penyebab adalah karakteristik utama dari penyakit ini.

Cara Merawat Hewan Ternak yang Terjangkit Penyakit Lato-lato

Sayangnya belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi lumpy skin disease. Pengobatan biasanya dilakukan untuk mengatasi gejalanya dan mendukung kondisi hewan ternak. Berikut perawatan pendukung yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi hewan:

  • Semprotan luka. Produk ini digunakan untuk mengobati lesi kulit agar tidak infeksi.
  • Antibiotik. Dokter hewan mungkin akan meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi dan pneumonia, yaitu komplikasi fatal akibat penyakit ini.
  • Obat penghilang rasa sakit. Membantu mengurangi rasa sakit sehingga mendorong hewan untuk mau makan lagi.
  • Cairan IV. Memberikan nutrisi tambahan dan meringankan gejalanya. Namun, banyak dokter hewan yang tidak merekomendasikannya karena kurang praktis dan efisien.

Apakah Daging Hewan yang Terinfeksi Dapat Dikonsumsi?

Penyakit lato-lato dapat menyerang baik sapi perah maupun sapi pedaging. Mengonsumsi susu dari sapi yang terinfeksi relatif aman sebab penyakit ini tidak termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia. 

Sementara itu, daging sapi yang berdekatan atau terkena nodul kulit harus dibuang karena tidak layak dikonsumsi. Akan tetapi, daging yang tidak menjadi area munculnya nodul masih diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Itulah fakta seputar penyakit lato-lato atau lumpy skin disease. Jika kamu membutuhkan informasi kesehatan lainnya kamu bisa mengunjungi artikel Halodoc atau tanyakan langsung pada dokter. 

Tak hanya itu, lewat Halodoc kamu juga bisa mengakses obat dan vitamin secara lebih mudah tanpa perlu ke apotek. Tunggu apa lagi, yuk download Halodoc sekarang. 

Referensi:
Agriculture Victoria. Diakses pada 2026. About lumpy skin disease.
Diamond Hoof Care. Diakses pada 2026. What Is Lumpy Cow Skin Disease?
DMICC. Diakses pada 2026. Lumpy Skin Disease ( LSD ) in Cows.
BBVET Wates Ditjenpkh. Diakses pada 2026. Lumpy Skin Disease: Ancaman Baru Sapi dan Kerbau Indonesia.