Kenali Prosedur URS (Ureteroskopi): Manfaat, Proses, dan Risiko
Ureteroskopi (URS) digunakan untuk mengatasi berbagai masalah pada saluran kemih bagian atas.

DAFTAR ISI
- Indikasi Ureteroskopi: Kapan Prosedur Ini Diperlukan?
- Persiapan Sebelum Ureteroskopi
- Bagaimana Prosedur Ureteroskopi Dilakukan?
- Pemulihan Pasca-Ureteroskopi
- Risiko dan Komplikasi Ureteroskopi
- Keunggulan Ureteroskopi Dibandingkan Metode Lain
Ureteroskopi adalah prosedur medis minimal invasif yang memungkinkan dokter untuk melihat dan menangani masalah di dalam ureter dan ginjal tanpa memerlukan sayatan besar.
Ureter adalah saluran yang menghubungkan ginjal ke kandung kemih. Prosedur ini menggunakan ureteroskop, yaitu alat seperti teleskop kecil yang dimasukkan melalui uretra (saluran kemih dari luar tubuh), naik ke kandung kemih, dan kemudian masuk ke ureter.
Dengan ureteroskop, dokter dapat melihat langsung kondisi di dalam saluran kemih dan melakukan tindakan yang diperlukan.
Indikasi Ureteroskopi: Kapan Prosedur Ini Diperlukan?
Ureteroskopi direkomendasikan untuk berbagai kondisi yang memengaruhi saluran kemih bagian atas. Beberapa indikasi utama meliputi:
- Batu Ginjal dan Batu Ureter: Batu yang menyebabkan nyeri, infeksi, atau penyumbatan aliran urine. Ureteroskopi memungkinkan penghancuran atau pengangkatan batu.
- Tumor Saluran Kemih: Biopsi atau pengangkatan tumor di ureter atau ginjal.
- Striktur Ureter: Penyempitan ureter yang menyebabkan gangguan aliran urine.
Berikut Ini Dokter Spesialis untuk Pengobatan Masalah Ginjal untuk kamu hubungi.
Persiapan Sebelum Ureteroskopi
Persiapan yang baik sangat penting untuk kelancaran prosedur ureteroskopi. Beberapa langkah persiapan meliputi:
- Konsultasi dengan Dokter: Diskusi mengenai riwayat kesehatan, alergi, dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
- Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium: Meliputi tes urine, tes darah, dan pemeriksaan lainnya sesuai kebutuhan.
- Puasa: Biasanya pasien diminta untuk tidak makan atau minum beberapa jam sebelum prosedur.
- Pembersihan Usus: Mungkin diperlukan untuk memastikan visualisasi yang lebih baik selama prosedur.
- Penghentian Obat-obatan Tertentu: Dokter akan memberikan instruksi mengenai obat-obatan yang perlu dihentikan sementara, seperti obat pengencer darah.
Bagaimana Prosedur Ureteroskopi Dilakukan?
Prosedur ureteroskopi biasanya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
- Anestesi: Pasien diberikan anestesi (bius), bisa lokal, regional, atau umum, tergantung pada kondisi pasien dan rekomendasi dokter.
- Posisi Pasien: Pasien berbaring telentang dengan kaki diangkat.
- Pemasukan Ureteroskop: Dokter memasukkan ureteroskop melalui uretra, melewati kandung kemih, dan masuk ke ureter.
- Visualisasi Saluran Kemih: Kamera pada ureteroskop mengirimkan gambar ke layar, memungkinkan dokter melihat kondisi di dalam saluran kemih.
- Tindakan Medis: Jika ditemukan batu, dokter dapat menghancurkannya dengan laser atau alat lainnya. Tumor atau jaringan abnormal lainnya dapat diambil untuk biopsi atau diangkat.
- Pemasangan Stent (Opsional): Setelah tindakan, dokter mungkin memasang stent ureter untuk memastikan aliran urine yang baik dan mempercepat penyembuhan.
Prosedur ini biasanya memakan waktu antara 30 menit hingga 2 jam, tergantung pada kompleksitas kasus.
Simak informasi lebih dalam tentang Penyakit Ginjal – Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya agar kamu semakin waspada.
Pemulihan Pasca-Ureteroskopi
Masa pemulihan setelah ureteroskopi bervariasi, tetapi umumnya meliputi:
- Observasi di Rumah Sakit: Pasien mungkin perlu menginap semalam di rumah sakit untuk observasi.
- Nyeri dan Ketidaknyamanan: Nyeri ringan atau ketidaknyamanan saat buang air kecil adalah kondisi yang umum terjadi. Dokter akan meresepkan obat pereda nyeri jika diperlukan.
- Minum Banyak Cairan: Untuk membantu membersihkan saluran kemih dan mencegah infeksi.
- Antibiotik: Dokter mungkin meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi.
- Aktivitas Fisik: Hindari aktivitas fisik berat selama beberapa hari setelah prosedur.
- Follow-up: Kontrol rutin dengan dokter untuk memantau kondisi dan memastikan pemulihan berjalan lancar.
Risiko dan Komplikasi Ureteroskopi
Seperti semua prosedur medis, ureteroskopi memiliki risiko komplikasi, meskipun jarang terjadi. Beberapa risiko meliputi:
- Infeksi Saluran Kemih: Dapat dicegah dengan pemberian antibiotik.
- Perdarahan: Biasanya ringan dan dapat diatasi dengan sendirinya.
- Kerusakan Ureter: Jarang terjadi, tetapi bisa memerlukan tindakan perbaikan lebih lanjut.
- Striktur Ureter: Penyempitan ureter akibat jaringan parut.
- Nyeri: Nyeri atau ketidaknyamanan setelah prosedur adalah umum, tetapi biasanya dapat diatasi dengan obat pereda nyeri.
Pasien harus segera menghubungi dokter jika mengalami demam, nyeri hebat, perdarahan yang berlebihan, atau kesulitan buang air kecil setelah prosedur.
Keunggulan Ureteroskopi Dibandingkan Metode Lain
Ureteroskopi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan metode lain dalam penanganan masalah saluran kemih, di antaranya:
- Minimal Invasif: Tidak memerlukan sayatan besar, sehingga mengurangi risiko dan mempercepat pemulihan.
- Visualisasi Langsung: Dokter dapat melihat langsung kondisi di dalam saluran kemih.
- Tingkat Keberhasilan Tinggi: Efektif dalam menghancurkan atau mengangkat batu ginjal dan ureter.
- Dapat Dilakukan untuk Berbagai Ukuran Batu: Fleksibilitas ureteroskop memungkinkan penanganan batu dengan berbagai ukuran dan lokasi.
Dengan persiapan yang baik dan perawatan pasca-prosedur yang tepat, pasien dapat memperoleh manfaat yang signifikan.
Jika kamu engalami gejala yang mencurigakan pada saluran kemih, segera konsultasikan dengan dokter di Halodoc dengan cara klik banner di bawah ini!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Ureteroscopy.
U.S. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Diakses pada 2025. Cystoscopy & Ureteroscopy.
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2025. Ureteroscopy.
FAQ
1. Apakah ureteroskopi menyakitkan?
Prosedur ini biasanya dilakukan dengan anestesi, sehingga pasien tidak merasakan sakit selama tindakan. Setelah prosedur, mungkin ada sedikit nyeri atau ketidaknyamanan, yang dapat diatasi dengan obat pereda nyeri.
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih setelah ureteroskopi?
Waktu pemulihan bervariasi, tetapi sebagian besar pasien dapat kembali beraktivitas normal selama beberapa hari setelah prosedur.
3. Apakah saya memerlukan stent setelah ureteroskopi?
Pemasangan stent tergantung pada kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan. Dokter akan memutuskan apakah stent diperlukan untuk memastikan aliran urine yang baik.
4. Kapan saya harus menghubungi dokter setelah ureteroskopi?
Hubungi dokter jika mengalami demam, nyeri hebat, perdarahan berlebihan, kesulitan buang air kecil, atau gejala lain yang mengkhawatirkan.


