Ad Placeholder Image

Kenali Syok Septik, Komplikasi Sepsis yang Berakibat Fatal

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 23 Juni 2026

“Infeksi merupakan sumber dari segala komplikasi kesehatan termasuk sepsis. Nah, jika tidak segera ditangani, maka sepsis dapat menyebabkan syok septik yang meningkatkan risiko kematian.”

Kenali Syok Septik, Komplikasi Sepsis yang Berakibat FatalKenali Syok Septik, Komplikasi Sepsis yang Berakibat Fatal

DAFTAR ISI


Infeksi adalah masalah kesehatan yang sangat umum terjadi, mulai dari batuk pilek ringan hingga luka gores yang meradang. Biasanya, sistem kekebalan tubuh manusia dirancang dengan sangat cerdas untuk melawan bakteri, virus, atau jamur penyebab infeksi tersebut, melokalisirnya, dan menyembuhkan tubuh. Namun, tahukah kamu bahwa dalam beberapa kasus, respons pertahanan tubuh ini bisa menjadi senjata makan tuan yang mematikan?

Kondisi di mana sistem imun bereaksi terlalu ekstrem terhadap infeksi hingga mulai merusak jaringan dan organ tubuhnya sendiri disebut dengan sepsis. Sepsis adalah kegawatdaruratan medis. Jika tidak segera tertangani dengan tepat, sepsis dapat berkembang memburuk menjadi tahap yang jauh lebih kritis, yang dikenal dengan istilah syok sepsis atau septic shock.

Banyak orang awam yang belum memahami betapa berbahayanya kondisi ini. Sebagai seorang apoteker dan tenaga medis, penting bagi saya untuk menekankan bahwa syok sepsis bukanlah kondisi yang bisa ditangani secara mandiri di rumah dengan obat-obatan bebas (OTC) atau obat warung. Ini adalah situasi gawat darurat yang membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit. Tidak ada produk suplemen atau obat bebas yang mampu mengobati syok sepsis.

Oleh karena itu, artikel ini tidak akan merekomendasikan obat-obatan untuk dibeli secara mandiri terkait penanganan syok sepsis. Fokus utama kita adalah mengenali gejala awal, memahami berbahayanya kondisi ini, dan mengetahui kapan kamu harus segera mencari pertolongan medis profesional di Unit Gawat Darurat (UGD). Mari kita bahas lebih dalam mengenai syok sepsis.

Apa Itu Syok Sepsis?

Banyak masyarakat yang bertanya, sebenarnya syok sepsis adalah kondisi seperti apa dan mengapa bisa sangat fatal? Secara medis, syok sepsis didefinisikan sebagai komplikasi paling parah dari sepsis, di mana kelainan seluler dan metabolisme di dalam tubuh yang mendasarinya cukup parah untuk secara signifikan meningkatkan risiko kematian.

Secara sederhana, ketika patogen (seperti bakteri) masuk ke aliran darah, tubuh melepaskan bahan kimia (sitokin) secara massal ke dalam darah untuk melawan infeksi tersebut. Sayangnya, pelepasan bahan kimia ini memicu peradangan sistemik (seluruh tubuh). Peradangan hebat ini menyebabkan pembuluh darah melebar (vasodilatasi) dan menjadi bocor.

Akibatnya, tekanan darah pasien akan turun secara drastis ke tingkat yang sangat berbahaya. Meskipun pasien sudah diberikan cairan intravena (infus) dalam jumlah banyak, tekanan darah tetap tidak bisa naik ke batas normal. Penurunan tekanan darah yang ekstrem ini (hipotensi) menyebabkan jantung tidak mampu memompa cukup darah yang kaya oksigen ke organ-organ vital seperti otak, jantung, ginjal, dan hati. Tanpa oksigen yang cukup, organ-organ ini mulai gagal berfungsi (kegagalan multi-organ).

Dalam kondisi syok sepsis, tubuh juga mengalami kelainan metabolisme, di mana kadar asam laktat dalam darah meningkat tajam (asidosis laktat) karena sel-sel tubuh mulai menghasilkan energi tanpa oksigen. Kombinasi dari hipotensi berat dan asidosis laktat inilah yang membuat tingkat kematian akibat syok sepsis bisa mencapai lebih dari 40%.

Penyebab dan Faktor Risiko Syok Sepsis

Setiap jenis infeksi—baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, maupun parasit—dapat berujung pada sepsis dan syok sepsis. Namun, sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi bakteri, baik bakteri Gram-positif (seperti Staphylococcus aureus atau Streptococcus pneumoniae) maupun bakteri Gram-negatif (seperti Escherichia coli atau Klebsiella).

Beberapa lokasi infeksi awal yang paling sering berkembang menjadi syok sepsis meliputi:

  • Paru-paru: Infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia berat adalah penyebab paling umum dari sepsis.
  • Saluran Kemih: Infeksi ginjal atau infeksi saluran kemih (ISK) yang tidak diobati dengan baik, terutama jika melibatkan pemasangan kateter.
  • Perut dan Saluran Pencernaan: Infeksi usus buntu yang pecah (apendisitis perforasi), infeksi pada kantung empedu, rongga perut (peritonitis), atau infeksi hati.
  • Kulit dan Jaringan Lunak: Luka bakar yang parah, ulkus selulitis, atau infeksi dari pemasangan kateter pembuluh darah (IV line).
  • Sistem Saraf Pusat: Infeksi pada selaput otak atau sumsum tulang belakang (meningitis).

Meski siapa saja bisa terkena sepsis dari infeksi ringan, ada kelompok orang dengan faktor risiko tinggi yang sistem imunnya lebih rentan mengalami reaksi ekstrem ini, di antaranya:

  • Orang lanjut usia (berusia 65 tahun ke atas).
  • Bayi prematur dan anak-anak berusia di bawah 1 tahun, karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sempurna.
  • Pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, pasien yang sedang menjalani kemoterapi kanker, atau penerima transplantasi organ yang mengonsumsi obat imunosupresan.
  • Penderita penyakit kronis jangka panjang, seperti diabetes mellitus, penyakit ginjal kronis, atau sirosis hati.
  • Pasien yang baru saja menjalani prosedur operasi besar atau sedang dirawat di ruang perawatan intensif (ICU).
  • Orang yang memiliki luka bakar parah atau trauma fisik hebat.
Tanda Bahaya Sepsis yang Pantang Diabaikan
  1. Kebingungan parah, disorientasi, atau penurunan kesadaran tiba-tiba.
  2. Napas sangat cepat dan terasa sesak (takipnea).
  3. Detak jantung berdebar sangat kencang (takikardia).
  4. Kulit terasa dingin, lembap, atau tampak pucat dan berbintik-bintik kebiruan.
  5. Tidak buang air kecil sama sekali selama lebih dari 12 jam.

Gejala Syok Sepsis yang Harus Diwaspadai

Perjalanan dari infeksi lokal menjadi syok sepsis bisa terjadi sangat cepat, terkadang hanya dalam hitungan jam. Oleh karena itu, mengenali gejalanya sedini mungkin adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa.

Gejala awal sepsis meliputi demam tinggi (atau sebaliknya, suhu tubuh sangat rendah/hipotermia), menggigil, dan kelelahan ekstrem yang tidak biasa. Namun, ketika kondisi ini memburuk menjadi syok sepsis, tanda-tanda kegagalan sirkulasi dan organ mulai mendominasi:

1. Hipotensi Berat (Tekanan Darah Rendah)

Ini adalah tanda khas syok sepsis. Pasien akan mengalami pusing parah, merasa seperti akan pingsan, atau bahkan pingsan saat mencoba berdiri. Tekanan darah sistolik biasanya berada di bawah 90 mmHg, atau turun lebih dari 40 mmHg dari tekanan darah normal pasien, dan tidak membaik meskipun sudah diberikan cairan infus yang banyak.

2. Perubahan Status Mental dan Kesadaran

Karena otak tidak mendapatkan cukup aliran darah dan oksigen, penderita syok sepsis sering kali tampak sangat bingung (delirium), meracau, tidak mengenali lingkungan sekitar, gelisah, mengantuk terus-menerus (letargi), hingga pada tahap akhir bisa jatuh ke dalam kondisi koma.

3. Gangguan Pernapasan

Napas menjadi sangat cepat dan dangkal (bisa lebih dari 22-30 kali per menit). Pada tahap yang lebih parah, cairan dapat menumpuk di paru-paru (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS) sehingga pasien kesulitan bernapas secara mandiri dan membutuhkan bantuan ventilator mekanik.

4. Penurunan Produksi Urine (Oliguria)

Ginjal adalah salah satu organ yang sangat sensitif terhadap penurunan tekanan darah. Ketika aliran darah ke ginjal berkurang, fungsi penyaringan ginjal menurun drastis, sehingga produksi urine berkurang drastis atau bahkan berhenti sama sekali.

5. Perubahan pada Kulit

Kulit, terutama pada bagian kaki dan tangan, akan terasa dingin, basah, atau lembap (clammy). Kulit juga bisa tampak pucat, kebiruan (sianosis), atau memiliki bercak-bercak kemerahan/keunguan yang disebut mottled skin (kulit marmer). Hal ini terjadi karena tubuh mengalihkan aliran darah dari kulit ke organ vital (jantung dan otak) sebagai respons pertahanan.

Diagnosis dan Penanganan Medis Syok Sepsis

Mendiagnosis syok sepsis harus dilakukan dengan cepat. Dokter biasanya menggunakan pedoman evaluasi klinis yang ketat. Beberapa tes yang umum dilakukan di UGD meliputi:

  • Tes Darah Lengkap: Untuk melihat jumlah sel darah putih yang menandakan adanya infeksi berat.
  • Kultur Darah: Pengambilan sampel darah untuk dibiakkan di laboratorium guna mengidentifikasi bakteri secara spesifik, sehingga dokter tahu antibiotik jenis apa yang paling tepat.
  • Tes Kadar Laktat: Kadar asam laktat yang tinggi (lebih dari 2 mmol/L) menunjukkan bahwa organ-organ kekurangan oksigen.
  • Cek Fungsi Organ: Tes kreatinin untuk ginjal, bilirubin untuk hati, dan profil koagulasi untuk memeriksa masalah pembekuan darah.
  • Pencitraan: Rontgen dada, USG, atau CT Scan dilakukan untuk mencari sumber utama infeksi (seperti radang paru, batu empedu, atau abses perut).

Penanganan Syok Sepsis Harus di ICU

Syok sepsis adalah musuh yang berpacu dengan waktu. Dalam dunia medis, ada istilah “Golden Hour”. Penanganan yang dilakukan dalam 1-3 jam pertama sangat menentukan tingkat kelangsungan hidup pasien. Mengingat kondisinya yang kritis, pasien WAJIB dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU). Tidak ada pengobatan yang bisa dibeli bebas untuk kondisi ini.

Adapun protokol medis yang biasa dilakukan meliputi:

1. Pemberian Antibiotik Spektrum Luas

Sebelum hasil kultur darah keluar (yang memakan waktu beberapa hari), dokter akan segera memberikan antibiotik spektrum luas melalui infus intravena. Antibiotik ini dirancang untuk membunuh berbagai jenis bakteri umum secepat mungkin. Semakin cepat antibiotik diberikan, semakin tinggi peluang pasien untuk selamat.

2. Resusitasi Cairan Intravena

Untuk menaikkan tekanan darah yang drop, dokter akan memasukkan cairan infus (kristaloid) dalam jumlah yang cukup banyak dan cepat (sekitar 30 mL/kg berat badan dalam 3 jam pertama). Tujuannya adalah menambah volume darah untuk memastikan organ kembali teraliri.

3. Pemberian Obat Vasopresor

Jika tekanan darah tetap rendah setelah diberikan cairan infus, ini adalah tanda sah syok sepsis. Dokter akan memberikan obat-obatan vasopresor (seperti Norepinefrin, Epinefrin, atau Vasopresin). Obat ini bekerja dengan cara menyempitkan pembuluh darah yang melebar akibat infeksi, sehingga tekanan darah kembali naik dan darah bisa didorong menuju otak dan ginjal.

4. Terapi Oksigen dan Dukungan Organ

Pasien sering kali membutuhkan masker oksigen atau bahkan intubasi (pemasangan selang pernapasan ke paru-paru) dan ventilator. Jika ginjal sudah mengalami gagal fungsi, pasien mungkin memerlukan terapi cuci darah (dialisis) darurat. Dokter juga mungkin memberikan obat kortikosteroid intravena jika respons tekanan darah sangat buruk, untuk membantu menstabilkan tubuh.

Bagi pasien yang kondisinya sudah membaik dan diperbolehkan pulang, menjaga imunitas tetap kuat adalah hal yang sangat krusial. Meskipun tidak untuk mengobati syok sepsis, pemulihan jangka panjang pasca-infeksi dapat dibantu dengan menjaga pola makan dan asupan gizi yang baik. Jika perlu, kamu bisa beli obat, suplemen, atau multivitamin di Halodoc, produk dijamin 100% asli dan langsung diantar ke rumah untuk mendukung daya tahan tubuh harianmu secara umum.

Komplikasi Jangka Panjang dan Pencegahan

Berhasil melewati masa kritis syok sepsis adalah sebuah pencapaian medis, namun perjuangan belum berakhir. Banyak survivor sepsis mengalami apa yang disebut Post-Sepsis Syndrome (Sindrom Pasca-Sepsis). Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, yang meliputi:

  • Kelemahan otot yang parah dan mudah lelah.
  • Nyeri sendi kronis.
  • Gangguan memori, penurunan konsentrasi, dan kesulitan berpikir jernih (masalah kognitif).
  • Gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), hingga sering mengalami mimpi buruk.
  • Kerusakan organ permanen, misalnya fungsi ginjal yang tidak kembali 100% sehingga memerlukan cuci darah rutin, atau amputasi jari/tungkai kaki jika sempat terjadi kematian jaringan (gangren) akibat aliran darah yang sangat buruk saat masa syok.

Karena pengobatan syok sepsis sangat menantang, langkah terbaik adalah mencegah terjadinya infeksi sejak awal, atau mencegah infeksi ringan berkembang menjadi sepsis. Berikut langkah-langkah pencegahannya:

  1. Vaksinasi Lengkap: Pastikan kamu dan keluarga, terutama anak-anak dan lansia, mendapat vaksin untuk mencegah infeksi penyebab sepsis, seperti vaksin influenza, pneumonia (Pneumokokus), dan COVID-19.
  2. Obati Infeksi dengan Tuntas: Jika dokter meresepkan antibiotik untuk infeksi saluran kemih atau luka infeksi, habiskan sesuai dosis yang dianjurkan. Jangan menghentikan pengobatan sendiri meskipun merasa sudah sembuh.
  3. Menjaga Kebersihan Tubuh: Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, atau setelah merawat orang sakit.
  4. Perawatan Luka yang Benar: Bersihkan setiap luka sayat, gores, atau gigitan dengan antiseptik dan tutup dengan perban bersih untuk mencegah bakteri masuk ke aliran darah. Jangan biarkan luka terbuka menjadi bernanah.
  5. Kontrol Penyakit Kronis: Penderita diabetes harus menjaga kadar gula darah agar tetap stabil, karena gula darah tinggi dapat melemahkan fungsi sel darah putih dalam melawan bakteri.

Studi Terkait Sepsis dan Syok Sepsis

JAMA (The Journal of the American Medical Association) menerbitkan sebuah konsensus penting yang dikenal sebagai “Sepsis-3” pada tahun 2016 yang menjelaskan pembaruan definisi dan kriteria klinis untuk sepsis dan syok sepsis.

Studi ini menekankan bahwa syok sepsis bukan lagi sekadar sepsis yang disertai tekanan darah rendah, melainkan kondisi di mana kelainan peredaran darah, seluler, dan metabolik begitu dalam sehingga memicu risiko kematian yang jauh lebih besar daripada sepsis biasa. Studi ini menyoroti pentingnya identifikasi cepat dan resusitasi cairan agresif di jam-jam pertama kedatangan pasien di IGD untuk mencegah perburukan organ.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sepsis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Sepsis – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Septic Shock: Causes, Symptoms & Treatment.
Surviving Sepsis Campaign. Diakses pada 2024. Guidelines on the Management of Sepsis and Septic Shock.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. What is Sepsis?

FAQ

1. Apakah syok sepsis bisa menular?

Syok sepsis itu sendiri tidak bisa menular dari satu orang ke orang lain, karena ini merupakan reaksi internal tubuh. Namun, patogen atau mikroorganisme (seperti bakteri penyebab pneumonia atau virus penyebab COVID-19) yang awalnya memicu infeksi dan berujung pada sepsis, sangat mungkin menular.

2. Siapa yang paling berisiko mengalami syok sepsis?

Kelompok yang paling rentan meliputi bayi di bawah satu tahun, lansia berusia 65 tahun ke atas, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah (misalnya penderita HIV atau pasien kanker), penderita penyakit kronis seperti diabetes, dan mereka yang sedang dirawat di ICU atau baru menjalani operasi besar.

3. Berapa lama proses pemulihan dari syok sepsis?

Pemulihan bisa sangat bervariasi. Beberapa orang mungkin pulih secara fisik dalam beberapa minggu, sementara yang lain bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun akibat efek samping yang disebut Post-Sepsis Syndrome, yang melibatkan kelelahan otot, nyeri sendi kronis, dan gangguan fungsi kognitif.

4. Bisakah syok sepsis disembuhkan sepenuhnya?

Syok sepsis dapat disembuhkan jika terdeteksi dan diobati sangat dini dengan antibiotik intravena, cairan, dan penanganan di ICU. Namun, karena ini adalah kondisi yang sangat parah, ada kemungkinan organ-organ tubuh tertentu (seperti ginjal atau paru-paru) akan mengalami kerusakan jangka panjang yang memerlukan perawatan lanjutan meski infeksinya sudah hilang.